Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Memutuskan Untuk Memendam


__ADS_3

Di markas Queen Ma....


Mona tersenyum kecut melihat sang nenek yang dengan sangat hati-hati membantu menyeka tubuhnya. Dia lalu meringis pelan saat lukanya tidak sengaja tersentuh.


"Maaf-maaf. Nenek tidak sengaja, sayang," ucap Nenek Shiren dengan raut wajah bersalah.


"Tidak apa-apa, Nek. Sekujur tubuhku di penuhi luka, Nenek pasti kesulitan saat membersihkannya. Iya kan?" tanya Mona mencoba untuk bergurau. Dia tahu kalau tangan sang nenek sejak tadi terus gemetar. "Oh iya Nek, Kakek dimana?"


Nenek Shiren mencoba bersikap biasa saja ketika hendak menatap wajah cucunya. Jujur, sejak semalam Nenek Shiren terus di hantui perasaan bersalah karena tidak memahami perasaan cucunya yang ternyata jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Sebenarnya Nenek Shiren ingin sekali membahas hal ini dengan Mona. Akan tetapi dia tidak sanggup untuk mengatakannya. Jadilah dia sekarang gugup sendiri, di tambah lagi setelah menyaksikan banyaknya luka mengerikan di sekujur tubuh gadis ini. Membuat perasaan Nenek Shiren semakin tidak menentu.


"Nek, jika ada sesuatu yang mengganggu perasaan Nenek, sebaiknya di tanyakan saja langsung. Aku tahu Nenek sangat ingin mengetahui sesuatu tentangku, bukan?" cecar Mona dengan suara pelan.


Mona bukannya tidak tahu kalau neneknya ini pasti sudah mengetahui tentang perasaannya pada Rose. Hal ini bisa dia lihat dengan jelas karena sang nenek sama sekali tidak mau menatapnya sejak Mona membuka mata.


"Mona, kau dan Rose ....


Tercekat. Suara Nenek Shiren bagai terhenti di tenggorokan. Dia tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya yang ingin bertanya tentang rasa terlarang yang di pendam oleh sang cucu.


Tok tok tok


"Apa aku mengganggu?" tanya Rose sembari menatap ke arah ranjang dimana Mona dan neneknya berada.


Ada binar kebahagiaan di mata Mona begitu dia melihat kedatangan Rose. Rasa terhimpit yang tadi dia rasakan langsung hilang seketika saat Rose tersenyum manis ke arahnya. Biarlah jika memang rasa ini salah, Mona tidak peduli. Baginya asal masih bisa melihat senyum wanita ini, itu sudah lebih dari cukup. Mona masih begitu mencintai Rose, nama wanita ini masih melekat erat di hatinya.


"Masuklah, Rose. Kau sama sekali tidak mengganggu kami," ucap Nenek Shiren mempersilahkan.


Ya Tuhan, tolong jangan tumbuhkan rasa yang jauh lebih dalam lagi di hati cucuku. Rose sudah berkeluarga, aku tidak mau Mona menjadi orang ketiga di dalamnya.


"Apa yang sedang Nenek lakukan?" tanya Rose setelah duduk di tepi ranjang. Dia lalu melirik sekilas ke arah Mona yang terus menatapnya.

__ADS_1


"Hmm ... Nenek sedang membantu Mona menyeka tubuhnya," jawab Nenek Shiren seraya mendesah panjang. "Luka di tubuhnya terlalu banyak. Dan tadi Nenek tidak sengaja menyentuhnya. Lihat, sampai sekarang tangan Nenek masih gemetaran."


Rose tersenyum kecil melihat tangan neneknya Mona yang memang sedang gemetaran. Tadi, saat Nenek Shiren ingin membahas tentang perasaan Mona, Rose dengan cepat mengetuk pintu kamar ini. Dia tidak mau neneknya Mona mengungkit sesuatu yang bisa menimbulkan efek tak terduga di diri Mona. Bukannya apa, Rose sekarang tengah mencari seorang psikiater yang bisa membantu memulihkan ingatan Mona yang sempat terhapus. Juga ingin membantunya menyadari kalau rasa yang di pendamnya adalah sesuatu yang salah.


"Mona adalah gadis yang kuat. Luka-luka seperti ini harusnya tidak membuat Mona merengek kesakitan. Benar tidak?" ucap Rose mencoba mencairkan suasana.


"Aku hanya mengaduh sebentar, Rose. Tidak sampai menjerit kesakitan," sahut Mona membela diri. Tatapan matanya benar-benar tak bisa lepas dari wajahnya Rose.


Kenapa Rose terlihat pucat ya? Apa dia sakit?


"Kalau kau sampai mengaduh maka aku akan menuangkan air garam ke atas luka-luka ini. Kau tahu bukan kalau aku tidak suka berteman dengan orang yang cengeng?"


"Ck, kau jahat sekali, Rose. Aku ini baru saja melewati jurang kematian, teganya kau bicara seperti itu," keluh Mona saat Rose kembali dalam mode dinginnya.


"Biar saja, aku tidak peduli. Lagipula siapa yang menyuruhmu kabur dari tempat kosku malam itu. Kalau kau tidak bandel, semua ini pasti tidak akan menimpamu. Dasar bo doh!" ejek Rose sambil mengusap luka menganga yang ada di lengan Mona. "Setelah apa yang terjadi apa kau merasa takut?"


"Tadinya aku takut, tapi sekarang sudah tidak lagi karena kalian ada bersamaku. Terima kasih sudah menolongku malam itu."


"Apa kau mengingat sesuatu? Tentang kejadian di masa lalu mungkin?" tanya Rose menyelidik.


Jika sesuai dengan dugaan, harusnya pikiran Mona bisa kembali mengingat tentang kejadian kelam yang menjadi cikal-bakal di targetkannya Mona sebagai tumbal dalam sekte yang di pimpin oleh Agler. Dan Rose sangat mengharapkan hal itu. Jika benar Mona bisa mengingat tentang masa lalu itu, maka bisa di pastikan kalau rasa terlarang ini bisa di hentikan.


"Kejadian di masa lalu? Maksudnya apa ya, Rose. Aku kurang paham," jawab Mona bingung.


Andai saja ada yang bisa raut wajahnya Mona, orang itu pasti akan tahu kalau Mona sedang menutupi sesuatu. Ya, Mona sebenarnya sudah mengingat semuanya. Tapi lagi-lagi dia menyembunyikannya. Mona ... dia tidak ingin rasa itu hilang. Dia ingin tetap mencintai Rose, tak peduli meski cintanya tidak akan pernah bersambut.


"Ya sudahlah kalau memang kau tidak ingat," ucap Rose sedikit merasa kecewa.


"Rose, apa anak buahnya Tuan Agler sudah benar-benar di musnahkan? Mereka ... mereka tidak akan bisa menggangu Mona lagi kan?" tanya Nenek Shiren memastikan. Dia begitu mengkhawatirkan keselamatan cucunya.

__ADS_1


"Nenek tenang saja. Aku pastikan tidak akan ada yang bisa menyakiti Mona lagi setelah ini. Mungkin kelompok mereka sekarang sudah berhasil aku singkirkan, tapi tidak menutup kemungkinan akan terlahir sekte baru yang di ketuai oleh orang yang berbeda. Jaringan kelompok seperti mereka sangat besar, Nenek Shiren. Tidak semudah itu untuk membasmi sampai ke akar-akarnya," jawab Rose datar.


"Apa itu artinya kalau nyawa Mona masih dalam bahaya?"


Mona menelan ludah. Haruskah dia kembali mengulang tragedi mengerikan seperti malam itu? Membayangkan betapa gilanya Tuan Agler membuat bulu kuduk Mona berdiri. Sungguh, dia sangat tidak mau berada dalam situasi yang sama seperti malam itu. Terlalu menyeramkan.


"Tidak akan ada yang bisa menyentuh Mona selama aku masih hidup, Nenek Shiren. Baik itu adalah anggota sekte atau orang jahat sekalipun. Aku pastikan keselamatan Mona akan terus berada dalam pengawasanku."


Tepat ketika Rose selesai bicara, Reina melangkah masuk ke dalam kamar. Dia lalu membisikkan kabar penting yang dia dapatkan semalam.


"Apa mereka masih ada di sini?" tanya Rose dengan tatapan yang sedikit aneh.


"Nenek dan Mommy Izel belum datang kemari, Rose. Mungkin sebentar lagi," jawab Reina. "Apa kau ingin mereka juga ikut mendengarkan hal ini?"


"Ya, itu harus. Karena bagaimanapun Adam adalah bagian dari mereka. Aku tidak mau mereka sampai salah mengartikan."


Setelah itu Reina ikut bergabung sembari menunggu kedatangan orang-orang dari keluarga Ma dan keluarga Osmond. Sedangkan Rose, ketua dari kelompok Queen Ma itu terlihat resah. Rose tidak terlalu menyimak pembicaraan antara Reina, Mona dan juga Nenek Shiren karena benaknya sedang di penuhi berbagai macam pertanyaan.


Adam, jadi kau anak siapa?


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan vote, like, dan comment...


...ya gengss๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2