Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Pilihan Sendiri


__ADS_3

"Hiksss ... kakiku!"


Gracia menangis sambil memegangi kedua kakinya yang sangat sakit hingga tidak bisa di gerakan. Kedua lututnya bengkak, juga ada lebam kebiru-biruan yang cukup banyak di sana. Maklum, sebelum ini Gracia adalah gadis yang sangat malas berolahraga. Jadi wajar saja sekalinya di bawa bergerak, semua otot di tubuhnya mengejang, terutama yang di bagian kaki. Dan seperti inilah hasil akhirnya sekarang. Menangis kesakitan setelah kemarin Cesar menyiksanya seharian.


"Hikss, bagaimana ini? Kalau kakak dan kakak ipar tahu, mereka berdua pasti akan sangat kecewa padaku. Tapi ini rasanya benar-benar sangat sakit, tidak mungkin aku berjalan seperti orang normal. Di toel sedikit saja rasanya sudah seperti akan di kuliti, lalu bagaimana caraku berpura-pura?" ucap Gracia bermonolog dengan dirinya sendiri.


Tok tok tok


"S-siapa?" teriak Gracia kaget. Cepat-cepat dia membersihkan air mata di wajahnya.


"Aku!"


Mampus. Kakak ipar yang mengetuk pintu. Gracia jadi panik sendiri saat pintu kamarnya kembali di ketuk. Ingin membukanya, tapi kakinya tidak bisa di gerakkan.


"Grace, kau tidak apa-apa kan? Kenapa tidak membuka pintunya?" tanya Rose dari luar kamar.


"It-itu, kakak ipar. A-aku ... aku," ....


Brraaaakkk


Bola mata Gracia hampir terbang keluar saat pintu kamarnya di dobrak paksa. Dan nafasnya seperti akan berhenti saat tahu kalau kakak iparnya lah yang telah mendobrak pintu kamar tersebut. Kuat sekali.


"Aku pikir kau sedang sekarat!" ucap Rose sarkas seraya menatap datar ke arah Gracia yang sedang tercengang di atas ranjang. Dia kemudian berjalan mendekat sembari membawa satu buah mangkuk kecil di tangannya. "Sadarlah, aku ini masih manusia, bukan hantu!"


"M-maaf, kakak ipar. Aku hanya kaget melihatmu mendobrak pintu kamarku. Emm ... apa kau baik-baik saja?" tanya Gracia khawatir. Dia takut calon bayinya keluar sebelum waktunya tiba.


Rose mengangkat sebelah alisnya ke atas saat mendengar pertanyaan Gracia. Setelah itu dia duduk di sisi ranjang, menatap datar ke arah kaki adik iparnya yang membengkak. Rose tersenyum samar. Bukan hal sulit untuk seorang Rose mendobrak pintu kamar ini yang kebetulan bukan terbuat dari baja.

__ADS_1


"Tidak ada sesuatu hal yang bisa di capai dengan mudah, Grace. Begitu juga dengan tekadmu yang ingin terus berada di sisiku dan sisi kakakmu. Kau harus benar-benar merasakan rasa sakit demi agar dirimu mampu bertahan dari segala bahaya yang datang mendekat. Untuk itu, bersabarlah sebentar. Nanti setelah terbiasa, kau pasti tidak akan menangis kesakitan lagi seperti sekarang. Aku sih bisa saja maklum, tapi Cesar dan kakakmu, mereka tidak akan peduli!" ucap Rose seraya membalurkan obat yang dia letakkan di dalam mangkuk ke kaki bengkaknya Gracia.


"Jadi kakak ipar tahu kalau aku baru saja menangis?" tanya Gracia kaget. Dia malu sekali sekarang.


"Air matamu yang memberitahuku," jawab Rose.


Segera Gracia memeriksa apakah di wajahnya masih ada sisa air mata atau tidak. Dan begitu tangannya menyentuh cairan basah di pojok matanya, dia langsung tersenyum kikuk.


"Hehehe, maaf, kakak ipar. Aku tidak bermaksud untuk bersikap lemah, tapi kakiku rasanya benar-benar sangat sakit. Dan ... aku menangis," ucap Gracia lirih sambil menundukkan kepala.


"Tidak apa-apa, aku bisa mengerti. Tapi lain kali jangan pernah menangis lagi. Kau harus kuat menahan segala pelatihan yang di berikan oleh Cesar!" sahut Rose kembali membalurkan obat di kakinya Gracia. "Ini sudah menjadi pilihanmu sendiri, Gracia. Jadi sesakit apapun rasanya, kau harus bisa bertahan. Karena sekali kau berani berkata menyerah, maka kau akan kehilangan kesempatan untuk bisa terus berada di sisi kakakmu. Hanya dengan kau menjadi gadis yang kuat, maka keberadaanmu akan di akui oleh kakakmu. Paham?"


Gracia mengangguk. Dia memberanikan diri menatap wajah cantik milik kakak iparnya yang sedang sibuk membaluri obat di kakinya. Jujur, semenjak hamil kakak iparnya ini seperti menunjukkan sisi yang berbeda terhadap Gracia. Ya, Rose menjadi sedikit lembut dalam berbicara. Tidak seperti dulu yang selalu saja sarkas dan dingin dalam berucap. Gracia bahkan bisa merasakan kalau Rose begitu memperhatikan dan menyayanginya. Dan tentu saja hal tersebut merupakan berkah yang sangat luar biasa untuk Gracia.


"Hari ini kau istirahat saja di kamar, jangan keluar dulu. Setelah obat ini mulai bereaksi, kau mungkin akan tidak sadarkan diri. Tapi setelah sadar nanti, rasa sakitnya sudah tidak ada. Lusa kau baru bisa kembali melakukan pelatihan bersama Cesar!" ucap Rose kemudian beranjak dari tempat duduknya. Dia berniat kembali ke kamar karena saat dia ke kamar ini suaminya tengah berada di dalam kamar mandi.


"Ada apa?"


"Em, sebelum menjawab aku ingin meminta maaf terlebih dahulu padamu, kakak ipar. Tolong nanti kau jangan tersinggung ya jika kata-kataku ada yang tidak berkenan di hatimu," jawab Gracia hati-hati.


"Ya."


Gracia menarik pelan tangan kakak iparnya agar kembali duduk di ranjang. Dia kemudian mulai bertanya tentang sesuatu yang sangat menggangu pikirannya.


"Kakak ipar, apa benar kau adalah saudara kembarnya Rollando Osmond, anak dari pasangan Tuan Drax Osmond dan Nyonya Grizelle Shaenette Ma?"


"Ya, benar. Kenapa?" jawab Rose jujur.

__ADS_1


"T-tidak apa-apa," sahut Gracia kikuk. Dia menelan ludah sebelum kembali melanjutkan pertanyaannya. "Kalau begitu berarti usiamu bukan berada di bawahku, melainkan di atasku. Benar tidak?"


Rose mengangguk. Dia kemudian melirik ke arah pintu saat tidak sengaja seperti melihat bayangan seseorang yang sedang berdiri di luar kamar.


"Gracia, siapapun aku itu tidak penting untukmu. Yang jelas, kau harus bisa menjaga dirimu sendiri jika ingin tetap tinggal bersamaku dan juga kakakmu. Karena ke depannya nanti, kau akan masuk ke jurang hitam yang penuh bahaya. Ini bukan peringatan, tapi ini sebuah kepastian. Karena dengan aku menikah dengan kakakmu saja sudah membuat banyak orang harus turun tangan untuk melindungiku dan juga bayiku. Jadi aku harap kau jangan terlalu fokus mencari tahu siapa aku dan siapa kakakmu. Tapi fokuslah untuk membuat dirimu menjadi kuat dan pintar agar suatu hari nanti kau tidak mudah di perdayai oleh orang lain. Ingat Grace, di dunia ini segala hal yang berhubungan dengan harta dan kasta tidak akan pernah memandang gender dan juga hubungan darah. Kau akan menjadi musuh, bahkan oleh kakakmu sendiri jika tidak pandai memilah pada siapa kau akan meletakkan kepercayaan. Ingat kata-kataku dengan baik!"


Setelah berkata seperti itu Rose langsung melangkah keluar dari dalam kamar Gracia. Dia kemudian berhenti sesaat sebelum akhirnya menyindir seseorang yang tengah asik menguping pembicaraannya.


"Aku baru tahu kalau kau ternyata suka menguping pembicaraan orang lain, Dam!"


"Hanya kau seorang, Hon. Dan aku melakukannya karena aku suka mendengar suaramu yang merdu. Itu seperti melodi yang sangat mematikan. Indah, tapi penuh dengan duri beracun," jawab Adam. Dia lalu menarik pelan tangan Rose kemudian memeluknya erat. "Aku pikir kau hilang kemana tadi."


"Hanya orang to lol yang berani mengambilku dari mafia kelas kakap sepertimu."


"Hmmm," ....


Dari dalam kamar, Gracia hanya bisa diam memperhatikan keromantisan kakak dan juga kakak iparnya. Kedua orang yang sama-sama memiliki sikap yang dingin dan tidak tersentuh, tidak di sangka mampu bermesraan seperti ini ketika sedang berduaan di dalam rumah. Melihat hal tersebut membuat Gracia jadi memikirkan nasibnya sendiri yang masih belum memiliki kekasih sampai detik ini.


"Aihh, apa-apaan kau, Gracia. Fokus, jangan memikirkan laki-laki dulu. Astaga, kau ini!" omel Gracia sambil memukuli kepalanya sendiri. Setelah itu dia berbaring karena tiba-tiba saja matanya terasa sangat berat. Sepertinya obatnya mulai bekerja.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...

__ADS_1


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2