Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Tersadar


__ADS_3

Perlahan-lahan mata yang terpejam itu mulai terbuka. Pemandangan yang pertama kali di lihatnya adalah langit-langit plafon. Juga ruangan yang terasa begitu dingin dan tenang.


Mona, dia baru saja tersadar setelah melewati waktu kritis yang cukup lama. Dari sudut matanya, tampak menetes cairan bening yang mengalir ke bawah. Entah itu mimpi atau bukan, yang jelas Mona seperti melihat dengan jelas bayangan dimana ada dua orang gadis yang tengah menerima pelecehan dari beberapa pria. Dan sialnya Mona mengenali satu dari kedua gadis kecil tersebut.


Kenapa aku? Hiksss, kenapa aku harus menerima takdir yang begitu buruk bahkan ketika usiaku masih begitu muda. Kenapa Tuhan?


Di saat yang bersamaan, pintu ruangan terbuka. Karena masih terlalu lemah, Mona belum bisa menggerakkan tubuhnya. Dia hanya diam menunggu ketika ada suara langkah kaki mendekat.


"Mona, kau sudah sadar?"


Suara ini... suara ini adalah suara milik seseorang yang sangat berarti di hidup Mona. Air mata Mona kembali menetes saat dia teringat dengan kejadian buruk yang pernah menimpanya. Ada perasaan takut di benak Mona kalau akan pergi meninggalkannya jika sampai mengetahui tentang hal menjijikkan itu. Dia tidak mau di tinggalkan.


"Mona, jangan memikirkan apa-apa dulu ya. Kau baru tersadar, jangan paksa otakmu untuk memikirkan sesuatu yang berat. Aku tidak mau kau kenapa-napa lagi," ucap Rose dengan suara tercekat.


Rose langsung berlari masuk ke ruangan ini saat dia melihat Mona mulai membuka mata. Dia lega karena dewi penolongnya ini akhirnya berhasil melewati masa kritis yang membuat semua orang menjadi sangat khawatir. Sambil menahan tangis, Rose mendekat ke wajah Mona. Dia lalu menghapus air mata yang membasahi wajah pucatnya.


"Semua baik-baik saja. Oke?"


"Hiksss ....


"Jangan menangis. Aku dan yang lainnya sudah membunuh orang-orang yang telah menyakitimu. Jadi kau jangan takut lagi ya?" ucap Rose.


Lama-kelamaan pertahanan Rose akhirnya runtuh juga. Dia tak kuasa melihat betapa Mona sangat menderita setelah apa yang dia alami malam itu. Meski sangat sedih dan terluka, Rose berusaha untuk menekan suara tangisnya. Dia tidak ingin membuat sahabatnya merasa khawatir.


"R-Rose ... m-maaf," bisik Mona dengan suara yang sangat kecil. Dia bermaksud menyampaikan permintaan maaf atas pengungkapan rasa yang dia katakan pada Rolland. Mona takut Rose akan salah paham.


"Ssstttt, jangan katakan apapun dulu untuk sekarang. Tenang ya."


Dari arah pintu, masuklah Kakek Niel dan juga Nenek Shiren. Kedua orang tua itu terlihat sangat khawatir, bahkan mata keduanya nampak berkaca-kaca ketika melihat ke arah Mona.


"Mona sayang, kau baik-baik saja, Nak?" tanya Nenek Shiren dengan suara bergetar. Dia membungkam mulutnya ketika melihat banyaknya luka yang ada di tubuh gadis malang ini.


"Mana yang sakit Nak, hm. Maafkan Kakek tidak bisa melindungimu ya. Kakek salah," imbuh Kakek Niel sambil menahan tangis. Tangannya sampai gemetaran melihat bekas sayatan yang hampir memenuhi sekujur tubuh cucunya. Benar-benar biadap.

__ADS_1


Air mata Mona kembali menetes saat dia melihat wajah tua kakek dan neneknya. Hatinya hancur, dia tidak bisa membayangkan jika seandainya kakek dan neneknya tahu kalau Mona sudah sangat kotor. Ingin rasanya Mona memeluk mereka, tapi dia tidak bisa melakukannya karena tubuhnya sendiri masih begitu lemah. Dia seperti tidak memiliki tenaga bahkan untuk sekedar menggerakkan jarinya saja.


"Sebaiknya kalian jangan terlalu banyak mengajak Mona bicara dulu. Dia baru saja tersadar, tubuhnya pasti masih sangat lemah," ucap Rose tanggap akan ketidakberdayaan temannya ini.


"Rose, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Nenek Shiren.


"Tidak bisa."


"Sebentar saja. Ya?"


Rose menggeleng. Saat ini dia sedang tidak ingin bicara dengan siapapun. Selain karena dia yang masih mengkhawatirkan Mona, juga karena tubuhnya yang sudah sangat kelelahan. Ya, sejak Rose tersadar dari pingsannya, tak sedetikpun dia memejamkan mata. Rose hanya berdiri diam sambil memandangi Mona dari luar ruangan. Berharap kalau Tuhan akan memberi keajaiban dengan membiarkan Mona melewati masa kritisnya. Dan untungnya Tuhan menjawab do'anya Rose. Mona-nya sudah sadar.


"Rose, kau butuh istirahat sayang. Sekarang Mona sudah sadar, kau tidur ya?" bujuk Nenek Shiren iba.


Wajah cantik gadis ini terlihat begitu pucat dan lesu. Nenek Shiren khawatir kalau-kalau Rose jatuh sakit setelah menunggui cucunya selama beberapa hari. Sudah cukup baginya melihat Mona tak berdaya, dia tak mau lagi ada kesedihan di sini.


"Tapi aku ingin menemani Mona di sini," sahut Rose lirih. Suaranya begitu kecil hingga hampir tak terdengar.


Meski enggan, Rose akhirnya menuruti apa yang di katakan oleh Nenek Shiren. Dengan langkah yang sedikit sempoyongan, dia berjalan keluar dari sana. Dan tanpa di sangka-sangka, rupanya Adam sudah menunggunya di depan pintu. Rose kemudian menatapnya dalam, seolah ingin menyampaikan kalau semua masalah telah terlewati dengan baik.


"Honey, kau baik-baik saja?" tanya Adam lembut. Dia sangat tidak tega melihat kondisi istrinya yang seperti ini.


"Adam, aku ingin pulang. Aku lelah," jawab Rose.


Adam tanggap. Dia segera memeluk Rose kemudian menciumi puncak kepalanya penuh sayang.


"Kau ingin pulang kemana, hm? Ke kost atau ke apartemen kita?"


"Terserah. Sekarang aku hanya ingin tidur dalam pelukanmu. Tubuhku benar-benar sangat lemah, Dam."


Dan setelah Rose berkata seperti itu, matanya pun langsung terpejam. Sadar kalau istrinya sudah tertidur, dengan hati-hati Adam mengangkat tubuh Rose ke dalam gendongannya. Dia lalu berjalan menghampiri kedua mertuanya yang terlihat begitu cemas.


"Mom, Dad, kami pulang dulu ya."

__ADS_1


"Adam, Rose tidak apa-apa kan?" tanya Grizelle panik.


"Tidak, Mom. Dia tertidur karena sudah sangat kelelahan. Kami pulang dulu ya, kasihan dia," jawab Adam kemudian menunduk menatap wajah istrinya yang terlihat begitu tenang meskipun pucat.


"Iya iya, pulanglah. Nanti sore Mommy dan yang lainnya akan datang ke kosnya Rose. Mommy tidak tenang sebelum memastikan kesehatannya."


"Mom, aku akan membawa Rose pulang ke apartemen. Mulai sekarang dia dan aku akan tinggal di sana karena di kos itu terdapat banyak kenangan buruk selama ini. Aku tidak ingin Rose terus terkenang dengan semua itu. Dia harus bahagia mulai sekarang."


Drax tersenyum. Dia berjalan mendekat kemudian menepuk bahu menantunya. Sebagai orangtua, Drax tentu bangga mempunyai menantu yang sangat bertanggung jawab seperti Adam. Karena itu menandakan kalau putrinya tidak salah memilih suami walaupun pernikahan mereka terbilang cukup aneh.


"Daddy titipkan Rose padamu ya. Tolong temani dia melewati masa-masa sulit ini. Kami semua mengandalkanmu, Adam."


"Tentu, Dad. Rose adalah istriku, dan aku sangat mencintainya. Semoga apa yang terjadi sekarang adalah akhir dari semua kesedihannya selama ini. Aku pamit!" ucap Adam kemudian mulai berjalan keluar meninggalkan markas Queen Ma.


Reina yang saat itu berada di luar markas segera membukakan pintu mobil saat melihat Adam yang sedang menggendong Rose. Dengan tatapan yang sangat iba dia memperhatikan wajah kesayangannya yang begitu pucat. Reina kemudian menahan tangan Adam yang ingin menyalakan mesin mobil.


"Rose-ku baik-baik saja kan?"


"Dia akan baik-baik saja setelah cukup beristirahat. Tolong kau jaga Mona dengan baik, Rose sangat mengkhawatirkannya," jawab Adam sesaat sebelum pergi dari sana.


"Hati-hati."


"Ya."


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2