
Rose berdiri diam sambil menunggu pelayan di rumah Mona membukakan pintu untuknya. Pagi ini dia sudah meminta izin pada manager restoran untuk tidak masuk bekerja, dia juga sudah menghubungi pihak kampus kalau hari ini dia dan Mona tidak akan masuk kuliah. Dan tadi pihak kampus juga sempat meminta maaf atas kejadian kemarin dimana Tuan Regar menuduhnya telah melakukan kekerasan terhadap Nyonya Vanya Clarence. Namun kata maaf dari mereka hanya di acuhkan begitu saja oleh Rose. Entahlah, dia begitu benci terhadap manusia yang suka mempermainkan ketidakadilan. Dia muak pada orang-orang yang sengaja membutakan mata atas kebenaran yang semestinya.
Ceklek
"Maaf, nona mencari siapa?" tanya pelayan seraya tersenyum ramah.
"Mona,"
Pelayan itu tampak terkejut begitu Rose menyebut nama Mona. Cepat-cepat pelayan tersebut membuka pintu lalu mempersilahkan Rose untuk masuk ke dalam.
"Silahkan duduk, nona. Saya akan panggilkan Nyonya Shiren dan Nona Mona dulu."
Rose mengangguk. Dia meletakkan keranjang buah di atas meja kemudian menatap foto keluarga yang tergantung di dinding. Matanya menyipit.
'Kakeknya Mona kenapa seperti tidak asing ya?.
Saat Rose sedang menatap lekat wajah Kakek Niel, dia mendengar suara teriakan dari atas tangga. Rose menarik nafas, sudah tahu kalau anjing kecilnya yang membuat ulah.
"Roseeeee!!! Akhirnya kau datang juga!" teriak Mona kegirangan.
Nenek Shiren dengan hati-hati memapah Mona saat berjalan menuruni anak tangga. Dia nampak menggelengkan kepala melihat bagaimana cucunya begitu bahagia dengan kedatangan Rose ke rumah ini. Yah, ini adalah pertama kalinya ada orang yang datang untuk bertemu dengan cucunya, wajarlah kalau Mona terlihat begitu antusias sampai rela menahan sakit hanya demi bisa cepat-cepat bertemu dengan sahabatnya itu. Nenek Shiren merasa sangat terharu, juga sangat berterima kasih karena Rose sudah mau bertandang ke rumah mereka.
"Roseee!" teriak Mona lagi.
"Aku tidak tuli" sahut Rose dingin.
"Hehe."
Mona terkekeh.
"Rose perkenalkan, ini nenekku. Namanya Nenek Shiren, cantikkan?.
Rose menatap sejenak kearah neneknya Mona kemudian mengangguk.
"Halo nyonya."
"Panggil nenek saja, Rose" sahut Nenek Shiren seraya tersenyum.
Rose kembali mengangguk.
"Nek, aku mau duduk di sebelah Rose" rengek Mona ketika sang nenek ingin membantunya duduk di sofa lain.
Rose cuek saja ketika Mona bergelayut di lengannya begitu dia duduk. Satu hal yang tidak asing lagi baginya karena parasit betina ini akan terus menempel seperti permen karet.
"Dimana kakekmu?" tanya Rose tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
__ADS_1
"Owh, kau datang terlambat, Rose. Sebenarnya sejak pagi kakek sangat menantikan kedatanganmu. Tapi karena kau lambat jadi kakek sekarang sudah berangkat ke perusahaan" jawab Mona.
"Perusahaan?.
"Iya Rose, hanya perusahaan kecil-kecilan saja. Tidak sebesar yang kau bayangkan" sahut Nenek Shiren ikut menimbrung.
Rose menarik nafas sembari menganggukkan kepala. Padahal dia sangat ingin bertatap muka dengan Kakek Niel. Entahlah, Rose menjadi begitu penasaran setelah melihat foto keluarga yang ada di rumah ini. Wajah tua Kakek Niel seperti pernah dia lihat, tapi Rose lupa dimana tepatnya. Saat Rose terus mencoba untuk mengingat hal itu, tiba-tiba saja kepalanya seperti di hantam batu besar. Sakit, nyeri, pokoknya semua rasa seperti tercampur menjadi satu.
Mona yang menyadari ada yang salah dengan Rose segera memegang tangannya. Matanya membulat lebar begitu merasakan tangan Rose yang terasa sangat dingin seperti es batu.
"Rose, kau kenapa? Tanganmu dingin sekali!.
Nenek Shiren terkejut. Dia segera berpindah duduk kemudian memegang tangan Rose. Benar, tangan gadis ini seperti membeku. Bahkan Nenek Shiren bisa melihat kalau wajahnya Rose sudah di banjiri keringat dan juga terlihat sangat pucat.
"Rose, kau sakit?.
"Tolong ambilkan aku air minum" sahut Rose lirih dengan nafas yang sedikit sesak.
Mona kemudian memanggil pelayan untuk mengambilkan air minum di dapur. Setelah itu dia menyeka keringat di wajahnya Rose sambil menatapnya penuh khawatir.
"Kita pergi ke dokter saja ya" ucap Mona sembari menahan tangis.
Rose menoleh. Alisnya terangkat keatas saat mendapati mata Mona yang sudah berkaca-kaca.
"Untuk apa pergi ke dokter?.
"Kau saja yang pergi" ucap Rose acuh. Sedikit banyak dia sudah bisa mengendalikan rasa sakit yang ada di kepalanya.
Mona berdecak. Ingin rasanya dia memukul kepala wanita dingin ini.
Tak lama kemudian pelayan datang membawakan air minum. Segera Rose mengambil minuman tersebut lalu meneguknya hingga habis tak bersisa. Setelah itu Rose terdiam, dia terbayang wajahnya Adam. Tiba-tiba saja dia ingin merebahkan diri di pelukan tubuh suaminya yang kekar itu.
"Ada apa Rose? Apa ada masalah dengan minumannya?" tanya Nenek Shiren khawatir melihat Rose diam tak berkedip setelah meminum air yang dibawakan oleh pelayan.
"Tidak!" jawab Rose singkat kemudian mengambil ponsel di dalam tas.
Rose: "Adam, bisakah kau kirimkan nomor orang yang akan menjemputku?.
Mona terus memperhatikan Rose yang sedang tersenyum sambil memandangi sesuatu di dalam ponselnya. Penasaran, Mona diam-diam ingin mengintip gambar apa yang sudah membuat Rose bisa tersenyum semanis ini. Namun baru saja dia memicingkan sedikit mata, Mona langsung menelan ludah saat mendapat tatapan tajam dari Rose.
"Ada yang bilang jika terlalu ingin tahu dengan urusan orang lain, maka hal itu bisa memperpendek umurnya!.
Glleekkk
"K-kau bi-bicara apa sih, Rose. Ak-aku hanya ingin tahu apa yang sedang kau lihat!" ucap Mona gugup.
__ADS_1
"Sama saja, bo doh!" sahut Rose dingin kemudian menyimpan ponselnya ke dalam tas.
Nenek Shiren yang melihat interkasi antara Rose dengan cucunya sangat ingin tertawa. Rose begitu dingin dan lidahnya sangat tajam, sementara cucunya begitu bodoh dan juga mudah ketakutan. Pertemanan kedua gadis ini terlihat unik di mata Nenek Shiren. Sangat menggemaskan.
"Oh iya Rose, karena kau sudah datang kemari bagaimana kalau kau makan siang di sini saja. Tadi pagi nenek sudah memasak banyak makanan khusus untukmu" ucap Mona dengan sorot mata berbinar.
"Yakin bukan kau yang memasaknya?" ejek Rose.
"Memangnya kenapa kalau aku yang memasak?" tanya Mona bingung.
"Takutnya kau bukan memasukkan garam, tapi racun."
Untuk seperkian detik Mona seperti kehilangan nyawa. Dia tak mengerti lagi kenapa Rose bisa memiliki lidah seberacun ini.
Rose yang melihat si cupu syok nampak tersenyum kecil. Dia lalu menggandeng tangannya kemudian membantunya berdiri.
"Dimana ruang makannya?.
Mona mengerjapkan mata. Dia yang tadinya ingin mengamuk langsung lupa begitu Rose menanyakan ruang makan yang artinya kalau gadis dingin ini bersedia untuk mencicipi masakan neneknya. Sambil berpegangan erat di tangan Rose Mona segera mengajaknya pergi menuju ruang makan. Dia merasa sangat bahagia saat Rose dengan penuh perhatian memeganginya yang hampir terjatuh karena luka di kakinya yang tiba-tiba berdenyut.
"Hati-hati. Ruang makan di rumah ini tidak akan pindah kemana-mana!" ucap Rose.
"Apa kau tidak punya kata kiasan yang sedikit lebih enak di dengar, Rose?" tanya Mona seraya menarik nafas.
"Tadi itu yang terbaik!.
"Dasar lidah komodo. Racun!.
"Kau biangnya racun,"
"Mana ada!" protes Mona.
Rose menyeringai. Dengan sengaja dia menyepak perban yang membungkus luka di kakinya Mona. Sungguh, Rose benar-benar merasa sangat terhibur melihat si culun terluka karena ulah anak buahnya semalam. Dia sengaja mengerjai Mona karena tak ingin gadis ini terus menunggunya seperti orang bo doh di depan kamar kost.
Suara teriakan Mona membuat Nenek Shiren terperanjat kaget. Dia yang sedang melamunkan mendiang anak dan menantunya segera berlari menuju ruang makan. Namun apa yang dia lihat di sana membuatnya tertegun. Ya, Mona saat ini tengah merengek manja sambil memegangi bahunya Rose yang sedang meniupi luka di kakinya. Sungguh, pemandangan ini membuat Nenek Shiren merasa sangat terharu karena cucunya mempunyai seorang sahabat yang begitu perhatian.
'Terima kasih Tuhan karena sudah mengirimkan Rose untuk cucuku.'
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
__ADS_1
...๐นFb: Rifani...