
Mona meringkuk di sudut kamar dalam kondisi yang sangat kacau. Matanya membengkak dan ujung hidungnya memerah karena terlalu lama menangis. Meski sudah memakan es krim buatan sang nenek, rasa manis dari makanan tersebut masih belum bisa menutupi rasa sakit dari patah hatinya. Mona sangat membutuhkan Rose detik ini juga. Dia butuh obatnya.
"Apa kau tahu kalau sekarang aku sedang sangat menderita, Rose? Karena Adam, sekarang kau tidak memiliki waktu lagi untuk memperhatikanku. Hari itu kau bilang ingin menjengukku, tapi sampai aku sembuh kau tidak kunjung menepati janji yang kau buat sendiri. Apa semudah itu kau membuangku, Rose? Salahku apa?" gumam Mona dengan tatapan kosong.
Kedekatan yang terjalin antara Mona dengan Rose membuatnya menjadi sangat ketergantungan. Mona selalu mencari Rose setiap rasa itu datang. Rasa menyakitkan yang hanya dia sendiri yang mengetahuinya. Tapi sekarang, Mona sudah tidak memiliki hak lagi untuk sekedar bermanja pada sahabatnya itu. Dia sudah terasingkan. Dia sendirian, sama seperti yang telah dia alami beberapa tahun lalu.
"Aku tidak tahu kalau rasanya akan sesakit ini, Rose. Aku tidak tahu kalau rasanya akan sepahit ini. Kenapa? Apa kekuranganku? Selama ini aku selalu menutup mata atas segala yang kau lakukan. Aku selalu menjadikanmu prioritas di atas segala kebutuhanku. Tapi Rose, tapi kenapa kau membalasku dengan begini kejam? Kau serakah, Rose. Kau serakah!" amuk Mona mulai tak terkendali.
Tok tok tok
Tepat ketika Mona hendak menyakiti dirinya sendiri, tiba-tiba dari arah luar terdengar suara ketukan jendela. Seketika Mona langsung menelan ludah. Pikiran buruk mulai menghantui di saat Mona mulai menerka siapakah orang yang berani datang di waktu hari telah malam.
"S-siapa?" tanya Mona memberanikan diri.
"Aku."
Suara ini... Astaga, itu suaranya Rose.
Dengan cepat Mona segera berlari ke arah jendela. Saking senangnya, dia sampai lupa untuk merapihkan penampilannya yang sangat berantakan. Perasaan Mona langsung membuncah begitu melihat sahabatnya tengah berdiri di luar jendela. Meski wajahnya sangat datar, hal itu tidak membuat Mona merasa kecewa. Baginya sudah cukup dengan bertatapan mata dengan gadis yang sangat di sukainya ini.
"Cengeng!"
Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Rose masuk ke kamar Mona dengan cara melompati jendela. Dia lalu menatap ke sekeliling kamar. Tatapannya menyendu merasakan betapa dinginnya suasana di dalam kamar ini.
"R-Rose, kenapa kau masuk lewat jendela. Kenapa tidak lewat pintu depan saja," tanya Mona sambil meremas ujung bajunya. Dia sangat takut kalau-kalau Rose akan membuka lemari tempat dia menyimpan ribuan foto. Iya foto. Foto candid yang dia gunakan untuk memenuhi fantasinya.
"Aku ingin menjadi kelelawar," sahut Rose asal.
"Ke-kelelawar?"
__ADS_1
Rose mengangguk. Dia kemudian berbalik, memperhatikan keadaan gadis culun ini yang terlihat sangat menyedihkan. Tak tega melihat kondisi Mona yang seperti ini, dengan penuh kasih Rose memberinya pelukan. Dia tahu kalau temannya ini tengah di landa badai perasaan.
"Jangan di pendam. Ceritakan saja padaku."
"Apa maksudmu, Rose?" sahut Mona sambil memejamkan mata.
Pelukan ini adalah obat dari segala obat. Rasa sakit yang tadi di rasakan oleh Mona bagai melebur begitu Rose memeluknya. Ini yang tidak bisa Mona asingkan dari pikirannya. Karena hanya pelukan ini yang bisa membuatnya merasa aman dan nyaman.
"Kau kemana tadi siang? Aku berkeliling mencarimu tapi tidak kutemukan. Kau marah padaku?" tanya Rose sebelum akhirnya mengurai pelukan.
"Aku ... aku," ....
"Mona!" panggil Rose dengan suara pelan. Dia benci melihat orang gagap.
"Ak-aku, itu ... tadi itu mendadak aku merasa tidak enak badan. Jadi aku langsung pulang begitu kau selesai bermain piano. Maaf ya Rose, aku tidak sempat berpamitan padamu karena badanku sudah tidak bisa di ajak kompromi," jawab Mona berkilah.
Iya Rose, aku marah. Aku marah karena melihat Adam begitu perhatian padamu. Aku marah karena sekarang kau memiliki orang lain selain aku. Aku sangat marah, Rose. Aku marah!
"Rosee!"
Rose tersenyum kecil melihat temannya merajuk. Dia lalu membimbing Mona untuk berbaring di ranjang. Bagai seorang kakak, dengan telaten Rose menyelimuti tubuh Mona kemudian duduk di sampingnya. Dia lalu menatap Mona yang terus menggenggam tangannya dengan sangat erat.
"Lepaskan tanganku. Kita tidak sedang ingin melewati jembatan ke neraka!" ucap Rose dingin.
"Ck, bisa tidak sih kau jangan menakut-nakuti aku terus, Rose. Kau pikir hal-hal semacam itu bisa seenaknya di jadikan candaan!" protes Mona yang merinding saat Rose menyebut kata neraka.
"Siapa juga yang bercanda. Aku serius!"
"Aihhh, Rose!"
__ADS_1
Mona tertegun saat Rose membelai rambutnya. Damai, aman, dan juga bahagia. Jika seperti ini bagaimana caranya Mona bisa melupakan dan merelakan Rose untuk Adam. Dia terlalu mencintai gadis ini. Mona lebih memilih untuk mati jika harus menjauh dari Rose, dia tidak sanggup.
"Mon, ada kalanya manusia tersesat dalam satu kesalahan. Tapi bukan berarti sudah tidak ada jalan untuk pulang. Aku tahu kau sedang patah hati, kau terluka. Tapi jangan korbankan dirimu hingga terlihat seperti anjing yang menyedihkan. Cobalah untuk kuat, yakinkan hatimu kalau kau bisa melewati semua ini. Kau tahu bukan kalau aku benci wanita yang lemah? Aku benci melihatmu yang kalah dengan perasaanmu sendiri!" ucap Rose sarat akan suatu maksud.
"K-kenapa kau bicara seperti ini, Rose? A-apa kau mengenal seseorang yang sudah membuatku patah hati?" tanya Mona gugup. Dia mulai gelisah.
Tatapan mata Rose begitu dalam ketika dia melihat ke arah foto yang tergantung di dinding kamarnya Mona. Di dalam foto itu ada dia dan seorang gadis culun yang tengah duduk di samping piano. Senyum gadis culun tersebut terlihat sangat manis, berbeda dengannya yang hanya memperlihatkan ekpresi datar.
"Mengenal atau tidak aku tak peduli. Yang jelas, aku benci melihatmu lemah begini. Jadilah Mona si gadis culun yang selalu ceria setiap hari. Kalau sikapmu terus seperti ini, maka aku tidak akan pernah mau untuk mengenalmu lagi. Aku tidak akan mau!" jawab Rose tegas.
Bola mata Mona bergerak gelisah. Nafasnya juga tidak teratur saat mendengar hal tersebut. Mona bingung harus bagaimana cara mengatasi rasa sakit di hatinya. Dia tentu saja tidak mau jika Rose sampai membencinya.
"Renungkan kata-kataku dengan baik, Mona. Dan satu lagi," ....
Rose berdiri dari duduknya kemudian menatap lama ke arah Mona yang masih terlihat bingung.
"Kau dan aku akan bergabung di CL Group setelah kita wisuda. Ini yang kau mau bukan?"
Mona tidak mampu mengatakan apapun lagi saat Rose pergi dari kamarnya melalui jendela. Bahagia, itu sudah pasti. Namun kebahagiaan itu langsung hilang begitu Mona sadar kalau CL Group adalah perusahaan milik Adamar Clarence. Yang tak lain adalah suaminya Rose.
"Haruskah aku masuk ke tempat yang akan membuat hatiku semakin sakit?"
Air mata kembali menetes di sudut mata Mona ketika dia membayangkan hubungan Rose dan Adam yang akan semakin dekat begitu mereka bekerja di dalam satu perusahaan yang sama. Dan di sini orang yang akan berkorban perasaan adalah dirinya. Mampukah Mona melakukan pengorbanan sebesar itu hanya demi agar dirinya bisa terus berada di dekat Rose? Ataukah dia harus berhenti di titik ini sebelum perasaannya kian membesar. Mona bimbang, dia tidak tahu arah mana yang harus dia pilih.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
__ADS_1
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...