Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Rela Bertekuk Lutut


__ADS_3

"Grace, kau pergilah beristirahat. Yang lain kita bereskan besok saja!" ucap Rose sambil melirik ke arah jendela. Dia tahu kalau anak buahnya ingin bicara.


"Apa Kak Adam tidak akan marah kalau bekas makan malam ini tidak segera di bereskan, Kak? Aku takut di usir pergi dari sini?" tanya Gracia merasa sungkan. Dia dan kedua kakaknya baru saja selesai makan malam bersama. Sesuatu yang hangat yang baru Gracia rasakan di tempat ini.


"Kalau dia marah, maka kita berdua akan sama-sama pergi dari apartemen ini. Kau tenang saja, dia tidak sekejam yang kau pikir. Kakakmu hanya sedikit lebih jahat dari orang-orang normal lainnya," jawab Rose asal.


"Bukankah itu artinya sama saja ya?"


"Benar sekali. Karena itulah sebaiknya kau patuh dan tidak banyak komentar. Pergilah."


Tak ingin melawan, Gracia segera menuruti perintah kakak iparnya agar segera masuk ke dalam kamar. Sambil berjalan pelan, senyum kecil terus menghiasi bibirnya Gracia. Dia merasa sangat bahagia malam ini karena akhirnya bisa merasakan yang namanya makan malam bersama keluarga. Bukannya dia tidak pernah melakukan hal ini bersama Ayah dan Ibunya, hanya saja rasa yang dia dapat sangat berbeda. Bersama dengan Rose dan kakaknya, Gracia bisa merasakan betapa berartinya kasih sayang di sebuah keluarga meski itu hanya dengan bergantian saling mengisi piring dengan lauk. Pokoknya kebahagiaan malam ini sangat sulit untuk di lukiskan dengan kata-kata. Terlalu indah dan sangat berkesan di hati Gracia.


Setelah memastikan adik iparnya masuk ke dalam kamar, ekpresi di wajah Rose langsung berubah. Dia berjalan mendekat ke arah jendela kemudian mengajak bicara orang yang ada di sana.


"Ada apa?" tanya Rose dingin.


"Nona, saat ini Eroz dan Zalina tengah berada di sebuah club. Resan dan kami semua tinggal menunggu intruksi dari anda."


"Kenapa dia tidak menelponku? Dengan kau datang kemari itu hanya akan membuang-buang waktu saja. Apa karena aku sudah jarang melatih kalian, lantas kalian bisa bersikap seceroboh ini, hah?" sentak Rose dengan nada penuh penekanan.


Atmosfer di sekitar ruangan itu langsung berubah mencekam saat Rose tersulut emosi. Dia sedikit kecewa dengan tingkah lambat anak buahnya dalam menyelesaikan misi yang dia atur.


"Maaf, Nona. Resan dan Reina sebenarnya sudah berusaha menghubungi nomor anda, tapi tidak bisa. Mungkin Nona lupa untuk mengisi daya baterai di ponsel Nona. Sebab itulah Resan memerintahkan saya untuk datang kemari. Dia dan Reina tengah sibuk mengawasi Eroz dan Zalina di club."


Astaga, aku baru ingat kalau sejak tadi ponselku mati. Pantas saja sejak tadi tidak ada satupun dari mereka yang menelpon. Kenapa kau ceroboh sekali Rose. Kau bahkan telah salah memarahi orang dimana sebenarnya kau sendirilah yang bersalah. Ya ampun, memalukan.


"Ekhmm, aku menjadi sedikit pelupa setelah hamil. Kau benar, aku memang lupa untuk mencarger ponselku karena keasyikan memasak dengan adik iparku!" ucap Rose berbesar hati mengakui kelalaiannya. "Ya sudah, katakan pada Resan dan Reina untuk melakukan sesuai yang sudah aku beritahukan pada mereka. Dan kalian semua harus bisa memastikan kalau Zidane akan pulang dengan status sebagai Zalina. Jangan sampai gagal. Karena ini adalah malam terakhir Zidane bisa hidup dengan bebas. Paham?"


"Baik, Nona. Kami akan melakukan sesuai dengan apa yang anda perintahkan!"


"Satu lagi. Habisi Eroz dan kirim kepalanya ke kelompok sekte yang dia ikuti. Aku ingin tahu seperti apa rupa dari kelompok sesat itu. Sekalian kalian buat agar Vanya tidak pulang ke rumahnya malam ini. Aku tidak mau tahu, malam ini juga kalian semua harus bisa menemukan dimana Zidane menyembunyikan Mama mertuaku. Jangan pernah temui aku lagi jika sampai kalian gagal membawakan apa yang aku inginkan. Mengerti?"

__ADS_1


"Mengerti, Nona."


"Kalau begitu pergilah."


Rose menghela nafas panjang setelah anak buahnya pergi dari sana. Sambil mengelus-elus perutnya, Rose memikirkan kemungkinan lain yang bisa saja terjadi jika Zidane masih kekeh tak mau menunjukkan dimana keberadaan ibu mertuanya.


Greepp


"Kau membuatku kaget, Adam. Jangan seperti itu!" tegur Rose kaget saat tubuhnya tiba-tiba di peluk dari belakang.


"Honey, kenapa kau tidak biarkan aku saja yang menangani masalah keberadaan Mama? Ingat, kau itu sedang hamil. Bukankah Mommy sudah memberitahumu agar jangan kelelahan?" ucap Adam sembari mengendus tengkuk belakang istrinya.


"Iya, aku ingat pesan itu. Tapi dari awal aku sudah terlanjur mengikuti alur kisah ini, Dam. Jadi akan sangat tanggung jika harus berhenti di tengah jalan. Lagipula sebentar lagi masalahnya juga akan segera selesai begitu Zalina menunjukkan dimana Mama kita berada, jadi apa salahnya kalau malam ini aku masih turut andil dalam menyaksikan kebusukan yang selama ini di tutup rapi olehnya. Benar tidak!" sahut Rose.


"Hmmm... apa yang harus aku lakukan untuk membalas semua kebaikanmu ini, Hon? Aku sampai merasa gagal menjadi seorang laki-laki karena kau jauh lebih cerdik dariku."


Sebelum menjawab, Rose berbalik badan menghadap ke belakang. Dia lalu menatap manik mata suaminya dengan sangat seksama. Sungguh, Rose benar-benar dibuat sangat penasaran dengan topeng yang di pakai oleh suaminya ini. Dari pengamatannya selama ini, Rose sangat tahu kalau semua yang terjadi sudah ada di dalam rencana Adam. Suaminya ini pura-pura lemah, sengaja bersikap demikian dengan tujuan mendorong dirinya agar segera sampai di tempatnya berada. Adam bukan pria bodoh, pria ini telah mengatur semuanya dengan sedemikian apik sedari lama. Hal ini Rose ketahui setelah Resan melaporkan kalau di setiap bisnis dan juga semua masalah yang terhubung dengan kelompok Queen MA, ada satu nama asing yang selalu mengikuti mereka. Dan anehnya, nama asing ini tidak pernah melakukan sesuatu yang salah. Seperti sengaja mengikuti hanya untuk mengawasi pergerakan mereka saja.


"Kapan kau akan menyerah, Dam?" sahut Rose balik bertanya.


"Maksudnya?"


Adam balas menatap manik mata istrinya dengan sangat seksama. Dia tahu, benar-benar tahu maksud dari pertanyaan Rose barusan. Namun dia memilih untuk diam. Bukan karena dia tidak mau jujur, tapi Adam tahu kalau hanya tinggal selangkah lagi Rose akan segera tiba di istana miliknya.


"Kita sama-sama sadar sedang bermain petak umpet. Baik kau maupun aku, tidak ada yang mau mengalah lebih dulu. Aku tahu Dam kalau kau sebenarnya sudah mengetahui segalanya. Namun yang aku tidak bisa pahami adalah alasan kenapa kau tetap jalan di tempat, mengulur waktu dengan berlagak seolah kau begitu tertekan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Benar?" ucap Rose.


"Benar."


"Lalu apa alasanmu melakukan semua ini? Bukankah kau begitu ingin tahu dimana Zidane menyembunyikan jasad Mama?"


"Karena aku menunggumu."

__ADS_1


"Untuk?"


"Menjadi ratu di istanaku."


Rose menarik nafas. Dia tidak puas dengan jawaban ini.


"Honey, jujur. Awalnya aku mengincar kelompokmu. Aku begitu penasaran dengan siapa kalian sebenarnya hingga memutuskan untuk mulai menguntit. Namun di saat aku tahu siapa pemimpin dari kelompok Queen MA, aku berubah haluan. Aku terpesona, dan mataku tersihir oleh segala hal yang melekat padamu. Aku jatuh cinta pada seseorang yang awalnya menjadi target buruanku!" ucap Adam berusaha menjelaskan.


"Termasuk dengan mencari alasan agar kita bisa menikah, begitu?"


"No, itu di luar konteks. Aku tidak sepengecut itu, Hon. Semuanya adalah ulah Cesar."


"Dan kau tidak menolak?"


Adam mengangguk. Dia mencium lama bibirnya Rose sebelum mengakui sesuatu hal yang langsung membuat Rose tersenyum manja.


"Aku tidak berdaya di bawah pesonamu, Hon. Aku bahkan rela bertekuk lutut di hadapanmu jika hal itu memang di perlukan. Kau ratuku, wanita terhormat yang akan melahirkan penerusku. Sejak mengenalmu, semuanya menjadi tidak penting lagi bagiku, Hon. Karena kau adalah yang utama. Apa ini sudah cukup membuatku merasa puas, hm?"


"Malam mulai larut, Dam. Aku ingin pergi ke kamar," ucap Rose penuh nada undangan.


Dan Adam? Jangan di tanya lagi. Otaknya langsung on fire begitu menyadari senyum menggoda di bibir Rose. Dia tanpa membuang waktu lagi segera mengangkat Rose ke dalam gendongan kemudian membawanya masuk ke dalam kamar yang akan menjadi saksi malam panjang mereka. ๐Ÿ’œ


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...GENGGSSS.. JANGAN LUPA BOM KOMENTAR YA BIAR EMAK SEMAKIN SEMANGAT NULIS. BETEWE, MAS ADAM PERLAHAN-LAHAN UDAH MAU TERBUKA YA.....


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...

__ADS_1


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2