Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Ajakan Bergabung


__ADS_3

"Aarrgghh, lepaskan!" teriak seorang pria yang sedang berontak ingin melepaskan diri dari cengkeraman seseorang.


"Jangan berisik. Nona kami tidak menyukai orang-orang yang suka membuat kegaduhan!" ucap Resan memberi peringatan.


"Siapa Nona kalian, hah! Ada urusan apa dia denganku!"


"Banyak, urusan di antara kau dengan Nona kami sangat banyak. Terutama tentang kau yang menguntit suami Nona kami."


Dengan kasar Resan meninju perut pria ini hingga membuatnya jatuh terjerembab ke lantai. Dia kemudian menekan tombol untuk membuka tirai yang menutupi sebuah tabung kaca dimana Flyn berada. Dan begitu tirai terbuka, mata pria yang tadi di pukulnya langsung melotot lebar. Di hadapannya sekarang terlihat seorang pria tanpa busana tengah berdiri dengan tangan dan kaki terikat. Terlihat di sana ada lilitan perban di bagian pinggangnya dan juga lidah yang meneteskan darah. Keadaan mengerikan ini membuat si pria beringsut ketakutan. Wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya.


"Kenapa? Takut ya?" ejek Resan.


"S-s-siapa kalian? B-bagaimana bisa kalian membiarkan orang itu berada di dalam sana dengan keadaan terluka parah? A-apa k-kalian adalah sekumpulan para psikopat?"


Tak mau menjawab, Resan malah berteriak memanggil penjaga. Dia lalu memerintahkan mereka untuk menggantung pria tersebut di tempat khusus yang sudah di persiapkan sebelumnya. Setelahnya, Resan segera menghubungi nonanya untuk memberitahu kalau musuh sudah berhasil di tangkap.


"Ada apa?"


"Nona, orang yang membuntuti Tuan Adam sudah berada di markas. Perintah apa yang ingin Nona berikan pada kami?" tanya Resan sambil memperhatikan Flyn yang terus bergerak seperti meminta pertolongan.


Sebagai anggota sekte, Flyn langsung tahu kalau pria yang tadi di bawa masuk ke ruangan ini adalah salah satu anggota dari sekte lain. Hal ini dia ketahui ketika baju yang di pakai oleh pria itu tersibak hingga memperlihatkan sebuah tato khusus di bagian dada. Flyn tahu, sangat tahu kalau pria ini adalah anggota dari sekte Son of God dimana anggota mereka adalah pria-pria yang masih melajang. Dia sebenarnya ingin memberitahu Resan kalau sekte ini memiliki koneksi yang sangat besar. Mereka tidak bisa hilang meski sudah ratusan kali di musnahkan. Namun, sepertinya Resan tidak bisa memahami kode yang coba dia sampaikan. Terbukti karena pria kejam itu hanya melihatnya sekilas sambil terus berbicara pada orang yang sedang di telponnya.


"Kalian jangan melakukan apapun pada orang itu. Aku butuh suaranya untuk menjawab beberapa pertanyaan."


"Baik, Nona!" sahut Resan kemudian mematikan panggilan.


Karena tidak memiliki tugas apapun lagi, Resan akhirnya memutuskan untuk memeriksa saham milik nonanya yang berada di beberapa perusahaan. Dia perlu tahu apakah perusahaan tersebut masih bisa di andalkan atau tidak.


Sementara itu di kampus, Zidane yang sejak tadi terus mengawasi gerak-gerik Adam dan Rose terlihat cukup lega karena tidak ada tanda yang memperlihatkan kalau mereka menjalin suatu hubungan. Dia kemudian meminta anak buahnya untuk memanggilkan Rose.


"Katakan padanya aku ingin bertemu."


"Baik, Tuan."


Adam bersikap santai saat sang ayah ingin menemui istrinya. Dia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya setelah meninggalkan Rose yang masih menahan rasa sakit ketika berada di belakang panggung tadi. Awalnya Adam menolak untuk pergi, tapi Rose terus memaksa karena orang-orang ayahnya mulai berkeliaran. Adam benar-benar sudah muak dengan petak umpet ini. Dia merasa sangat menyesal karena tidak jujur pada keluarganya kalau dia telah menikah dengan Rose.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau pikirkan, Dam?" tanya Zidane curiga. "Kau terlihat seperti orang yang sedang mengkhawatirkan sesuatu. Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa, Pa. Aku hanya sedang pusing memikirkan beberapa pekerjaan. Waktu itu terjadi kekacauan besar di resort yang sedang aku bangun dengan Dantian Group. Aku khawatir akan ada kekacauan susulan yang bisa membuat proyek ini terhenti," jawab Adam berkilah.


"Jangan khawatir, Papa yakin semuanya pasti masih bisa di handle dengan baik oleh mereka."


"Semoga saja."


Tak lama kemudian, Rose datang bersama dengan orang kepercayaan Zidane. Dada Adam terasa sedikit sesak saat istrinya bersikap seperti orang lain di hadapan dia dan ayahnya.


"Halo Nona Rose. Senang bertemu denganmu," sapa Zidane sambil menatap lekat kecantikan di wajah gadis tersebut.


"Halo, Tuan Zidane," sahut Rose balik menyapa.


"Wow, ternyata suaramu begitu lembut, Nona. Aku suka mendengarnya."


"Aku tidak suka basa-basi, Tuan Zidane. Langsung saja ke intinya."


Dan seperti biasa, Rose tidak suka berada di dekat orang asing. Meski Zidane adalah ayah mertuanya, dia tetap merasa tidak nyaman. Toh Adam juga belum memperkenalkannya secara resmi, jadi Rose masih beranggapan kalau Zidane adalah orang asing, sama seperti yang lain.


"Aku ingin kau bergabung dengan CL Group, Nona Rose. Aku ingin kau membantu putraku memajukan bisnis perusahaan," ucap Zidane dengan nada yang sangat serius.


"Aku rasa kau sudah tahu apa konsekuensinya. Banyak orang yang bilang kalau kesempatan baik itu tidak datang dua kali."


Satu seringai muncul di bibir Rose saat dia menerima ancaman dari ayah mertuanya. Namun bukan Rose namanya jika tidak berani melawan ancaman tersebut. Dengan gayanya yang dingin, Rose maju mendekat hingga wajahnya hampir setara dengan wajah ayahnya Adam.


"Apa aku terlihat seperti gadis yang akan langsung tunduk pada ancamanmu, Tuan Zidane Clarence yang terhormat?"


Sial. Gadis ini ternyata memiliki nyali juga untuk menantangku. Tapi tidak apa-apa. Dengan mental sekuat ini aku yakin Rose pasti bisa membuat perusahaan semakin berkembang. Aku yakin itu.


"Oke. Apa syarat yang kau butuhkan agar mau bergabung dengan CL Group?" tanya Zidane melunak.


"Mona, dia akan ikut bersamaku. Dan ingat, aku tidak menerima bayaran kecil. Jika mau, aku ingin meminta posisi sebagai sekretaris pribadi Tuan Adamar Clarence. Tidak ada bantahan," jawab Rose singkat, padat, dan jelas.


"Deal. Tapi kenapa kau memilih untuk menjadi sekertaris pribadi putraku?"

__ADS_1


Rose melirik ke arah suaminya.


"Alasannya ... hanya aku yang tahu."


"Tapi....


"Tidak ada penawaran."


Tangan Zidane terkepal kuat melihat kesombongan di diri gadis ini. Namun dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menunjukkan emosinya sekarang. Apapun caranya Zidane harus bisa membuat Rose masuk ke perusahaan. Karena gadis ini adalah mesin mencetak uang yang akan membuatnya semakin kaya raya.


Tanpa ba-bi-bu lagi, Rose langsung pergi meninggalkan suami dan ayah mertuanya. Dia berkeliling kampus untuk mencari keberadaan Mona. Sahabatnya itu sejak tadi tidak bisa dia temukan batang hidungnya. Padahal Rose tahu kalau tadi itu Mona ikut menyaksikan pertunjukan piano. Khawatir terjadi sesuatu, Rose langsung mengirim pesan pada Resan untuk melacak ponsel Mona. Dia khawatir kalau gadis culun itu di tangkap oleh anggota sekte yang sedang berkeliaran di kampus ini.


Saat Rose sedang sibuk kesana kemari, Grizelle dan Liona sedang berbincang serius di dalam mobil. Mereka tengah mendengarkan laporan Hansen yang baru saja kembali dari rumah Kakek Frans.


"Aku rasa kematian tidak akan cukup untuk membalas perbuatan Flyn, Bu. Dia sungguh tega mencelakai putriku sampai seperti ini," geram Grizelle dengan mata berkilat marah.


"Tenanglah. Flyn sekarang sudah berada di tangan orang yang tepat. Ibu yakin Rose tidak akan mungkin membiarkannya mati dengan mudah. Kita tunggu dan lihat apa yang akan Rose lakukan begitu mendengar hal ini. Amarahnya pasti akan sangat membara!" sahut Liona kemudian meminta sopir untuk melajukan mobil menuju hotel.


"Hon, kita tidak pulang bersama Rosalinda?" tanya Greg.


Liona menggeleng.


"Dia memiliki urusan penting dengan orang yang tadi di bawa oleh Resan. Kemungkinan besar malam ini kita juga tidak akan bisa bertemu dengannya."


"Apa putriku sedang dalam bahaya, Bu?" tanya Drax cemas.


"Bukan putrimu, tapi mereka yang berada dalam bahaya karena sudah menyinggung orang yang salah."


Semua orang yang berada di dalam mobil sama-sama tersenyum senang. Tidak ada gunanya mereka mengkhawatirkan seseorang yang memiliki kekuatan mengerikan di belakangnya. Jadilah mereka semua kembali ke hotel dengan raut penuh kepuasan. Sementara Rolland, pria itu sedang di buat sakit kepala oleh rengekan Brenda yang terus memaksanya ikut pergi jalan-jalan menikmati suasana negara ini.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss...

__ADS_1


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2