
"Sayang, besok adalah hari ulang tahunmu. Kau ingin meminta hadiah apa dari Kakek dan Nenek?"
Mona yang saat itu tengah melamun di pinggir jendela menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara sang nenek. Sejak dia tidak sadarkan diri malam itu, pikiran Mona terus di penuhi oleh kejadian-kejadian aneh yang membuatnya menjadi bingung. Dia mendengar suara jerit memilukan, dada yang begitu sakit seperti terbakar, juga terus di bayangi oleh sesosok gadis kecil dengan tatapan kosong. Mona tidak mengerti kenapa semua bayangan itu bisa muncul di pikirannya. Padahal seingat Mona, Mona tidak pernah mengalami kejadian seperti itu. Ini sangat aneh.
"Mona, apa yang sedang kau pikirkan, hm?" tanya Nenek Shiren seraya membelai rambut sang cucu yang hanya diam menatapnya.
"Nenek, saat aku kecil apakah pernah terjadi sesuatu yang buruk padaku? Sejak kemarin malam pikiranku terus di hantui oleh suara gadis kecil yang berteriak kesakitan. Gadis itu ... gadis itu terus memegangi dadanya yang berdarah. Tapi aku tidak tahu apa yang membuatnya bisa seperti itu. Bisa tolong beritahu aku tidak Nek apa maksud semua ini? Aku ... aku hampir gila memikirkannya!" ucap Mona balas bertanya.
Deg
Elusan tangan Nenek Shiren langsung terhenti saat Mona bertanya seperti itu. Sesak, itu yang dia rasakan sekarang. Nenek Shiren tentu belum lupa dengan kejadian bullying yang di alami oleh cucunya sewaktu kecil. Kejadian terburuk yang membuat mental cucunya jadi bermasalah. Untung saja waktu itu Mona di tolong oleh seorang pria asing yang tidak sengaja melihatnya sedang di bully. Jika tidak, Nenek Shiren tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada cucunya waktu itu.
"Nek, Nenek tahu sesuatu kan?"
"Em, em ... sayang, kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti ini? Apa kau mengingat sesuatu?" tanya Nenek Shiren tergagap.
Mona mengangguk. Sedetik kemudian dia menggeleng.
"Aku tidak tahu, Nek. Yang jelas, pikiranku di penuhi oleh suara gadis kecil itu. Kasihan dia, dia terlihat sangat kesakitan."
"Lalu apalagi yang kau ingat?"
"Hanya itu. Dan juga seorang gadis kecil yang memiliki tatapan kosong. Gadis itu seperti orang linglung, Nek. Dia hanya duduk diam tanpa ekpresi ketika gadis di sebelahnya berteriak kesakitan. Aku bingung, ini ada apa. Siapa kedua gadis kecil itu dan kenapa mereka bisa muncul di pikiranku. Apa hubungannya aku dengan mereka, Nek. Apa!"
Melihat cucunya yang mulai emosional, Nenek Shiren pun segera memeluknya. Gadis kecil yang di maksud oleh Mona sebenarnya adalah gadis yang membully-nya. Gara-gara gadis kecil itu Mona sampai harus di rawat oleh seorang psikiater. Dan lagi-lagi keberuntungan tersebut datang dari orang yang telah menemukan cucunya. Tuan Agler, ya, nama dewa penolong itu adalah Tuan Agler. Dari orang ini jugalah Nenek Shiren mendapat rekomendasi seorang psikiater hebat yang telah berhasil menyembuhkan trauma yang di alami oleh Mona.
__ADS_1
"Sayang, mungkin bayangan yang kau lihat adalah kejadian dimana saat kau di bully oleh salah seorang temanmu dulu. Tapi mengenai gadis yang menjerit kesakitan Nenek tidak tahu dia siapa. Karena menurut penjelasan Tuan Agler, saat itu kau di serang oleh seorang gadis kecil hingga jatuh tak sadarkan diri di parit pinggir jalan. Itu saja!" ucap Nenek Shiren mencoba memberi penjelasan.
Eh, Tuan Agler? Kenapa nama ini sedikit familiar ya? Dimana aku pernah mendengarnya? Batin Mona.
"Mona sayang, ada apa?" tanya Nenek Shiren khawatir melihat raut wajah cucunya yang terlihat sedikit aneh.
"Em, tidak apa-apa," jawab Mona. "Nek, aku pamit pergi ke rumahnya Rose dulu ya. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya!"
"Tapi ini sudah sore, sayang. Apa tidak sebaiknya besok pagi saja baru pergi. Sekalian ajak dia dan suaminya untuk makan malam di sini!" sahut Nenek Shiren khawatir. Entah kenapa perasannya mendadak terasa tidak enak.
Mona menggeleng. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres dengan Tuan Agler yang di maksud oleh sang nenek. Sambil berbenah diri, Mona terus memikirkan kemungkinan besar terhubungnya Tuan Agler dengan bayangan-bayangan yang terus muncul selama dua hari ini. Membuatnya memutuskan untuk segera memberitahukan hal ini pada Rose.
"Nek, aku pergi dulu ya. Aku janji sebelum jam sepuluh malam aku sudah akan kembali ke rumah!" pamit Mona seraya memeluk sang nenek.
"Tapi Mona ....
Dengan berat hati Nenek Shiren terpaksa melepas kepergian cucunya. Tubuhnya yang sudah tua mendadak terasa lemas, dia gelisah. Tak ingin terbawa perasaan, Nenek Shiren kemudian melangkah keluar dari dalam kamar. Namun ketika dia melewati lemari cucunya yang sedikit terbuka langkahnya jadi terhenti. Semalam dia tidak sengaja mendengar pembicaraan suaminya di telepon yang membahas tentang rahasia di dalam lemari tersebut.
"Sebenarnya apa yang sedang di sembunyikan Niel dariku? Kenapa juga dia harus membicarakan tentang lemarinya Mona. Memangnya ada benda penting apa di sana?" gumam Nenek Shiren sembari memandangi lemari milik Mona.
Karena penasaran, Nenek Shiren akhirnya memutuskan untuk membuka lemari tersebut. Sejak Mona masuk ke bangku kuliah, gadis itu tidak mengizinkan siapapun untuk membuka lemari ini. Semua pakaian miliknya dia sendiri yang menyusun. Namun Nenek Shiren tak pernah menaruh curiga padanya. Dia berpikiran mungkin saja cucunya itu ingin memiliki privasi sendiri. Akan tetapi sekarang berbeda. Dia jadi penasaran setelah tidak sengaja mendengar pembicaraan suaminya.
"Semoga saja Mona tidak menyimpan sesuatu yang berbahaya di dalam lemari ini," gumam Nenek Shiren sedetik sebelum dia membuka lebar pintu lemari.
Hanya ada tumpukan pakaian yang tertata dengan sangat rapi ketika lemari tersebut di buka. Hal ini membuat Nenek Shiren mengerutkan kening. Selain pakaian tidak ada apapun lagi di sini. Sepertinya dia salah mengartikan ucapan suaminya semalam.
__ADS_1
"Hmm, ada apa dengan pikiranku. Kenapa juga aku harus menaruh curiga pada cucu dan suamiku sendiri. Ada-ada saja," ucap Nenek Shiren sambil terkekeh pelan.
Namun, ketika Nenek Shiren hendak menutup pintu lemari tangannya tidak sengaja menggeser deretan gaun yang tergantung di dalam sana. Dan ketika dia ingin merapihkan pakaian tersebut, Nenek Shiren melihat satu pemandangan yang membuat jantungnya seperti berhenti berdetak. Di dalam sana ....
"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!"
Ratusan foto Rose tertempel rapi di dinding lemari yang tersembunyi di balik pakaian.Di sana juga ada banyak tulisan-tulisan di atas kertas berbagai warna yang menyebut kata " I Love You, Rose". Sungguh, ini adalah suatu kenyataan yang tidak terduga-duga. Dengan tangan gemetaran, Nenek Shiren mengambil sebuah buku diari kecil yang tergeletak di bagian bawah lemari. Dia lalu membacanya.
"Mona ... bagaimana mungkin ini terjadi. Cucuku!" ratap Nenek Shiren syok setelah membaca buku diari yang isinya hanya tentang Rose. Segala isi dari buku diari tersebut hanya tentang perasaan terpendam Mona pada sahabatnya sendiri.
Nenek Shiren sangat tidak menyangka kalau cucunya telah jatuh cinta pada sesama jenis. Sambil berlinang air mata, tubuh Nenek Shiren luruh ke lantai. Dia tersedu-sedu, hatinya hancur setelah mengetahui fakta mengerikan ini.
"Mona, jadi kau patah hati bukan karena Adam. Melainkan kau terluka karena wanita yang kau cintai menikah dengan pria lain. Kenapa Mona, kenapa. Apa yang terjadi padamu sampai-sampai kau jatuh cinta pada sahabatmu sendiri? Apa yang terjadi padamu, Nak?" ratap Nenek Shiren sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
Setelah sekian tahun rahasia Mona tertutup rapi, akhirnya tiba juga waktu bagi sang nenek untuk mengetahuinya. Dan lebih buruknya lagi, rahasia ini terbongkar tepat ketika menjelang hari pergantian usianya. Entah ini pertanda dari Tuhan atau bagaimana, yang jelas malam ini adalah malam terakhir untuk Mona hidup menderita. Dia akan terlepas dari jerat seorang Agler, si hamba sesat yang sangat amat memuja keabadian. Akankah Mona selamat, atau dia akan meninggal di atas meja persembahan?
Hanya author lah yang tahu. Hahaa ππ
πππππππππππππππππ
...πΉJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss πͺπͺπͺ...
...πΉIg: rifani_nini...
__ADS_1
...πΉFb: Rifani...