Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Tangis Di Pemakaman


__ADS_3

Kakek Niel dan Nenek Shiren panik karena tidak bisa menemukan cucu mereka sejak Rose selesai tampil di atas panggung. Mereka sudah mencoba menghubunginya, tapi ponsel Mona mati. Hal ini membuat keduanya kian khawatir. Mereka sangat takut terjadi sesuatu padanya.


"Bagaimana ini, Niel. Mona tidak bisa di hubungi dan kita tidak tahu dia pergi kemana. Bagaimana jika dia di bawa pergi oleh orang jahat?" tanya Nenek Shiren sambil menahan tangis.


"Jangan berpikiran buruk dulu, sayang. Bisa saja Mona sudah kembali ke rumah kita kan? Atau dia sedang bersama Rose dan ponselnya mati jadi tidak bisa mengabari kita," jawab Kakek Niel menenangkan istrinya. Padahal sendirinya juga sedang sangat cemas sekarang.


"Jika benar dia sedang bersama Rose, harusnya kan Rose tidak bertanya pada kita. Kau lupa ya kalau tadi Rose juga sedang mencari-cari keberadaan Mona? Tidak mungkinkan dia tidak tahu kalau memang benar Mona ada bersamanya?"


Kakek Niel terdiam. Saking paniknya dia sampai lupa kalau tadi Rose sempat menanyakan keberadaan cucunya ketika akan pulang dari kampus. Dia kemudian mengira-ngira akan kemana cucunya pergi selain kembali ke rumah. Kakek Niel kemudian terpikir apakah mungkin cucunya pergi ke pemakaman karena biasanya Mona akan melakukan hal ini jika sedang merasa sedih tiada terkira.


"Sayang, bagaimana kalau kita pergi ke pemakaman untuk melihat apakah Mona ada di sana atau tidak. Tadi saat di kampus aku tidak sengaja melihat Mona terus memperhatikan Adam yang sedang menatap Rose di atas panggung. Kemungkinan besar dia merasa sakit hati jadi memutuskan untuk pergi ke makam tanpa memberitahu siapapun."


"Astaga, kenapa aku tidak ingat kalau Mona menyukai Adam ya. Gadis itu pasti merasa sangat sakit hati tadi," sahut Nenek Shiren kaget. "Ya sudah ayo kita pergi ke sana, Niel. Kasihan Mona, dia sendirian di sana."


Setelah tragedi kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtua Mona, Kakek Niel sengaja memindahkan makam mereka dari Negara N ke negara S. Ini dia lakukan karena Mona seringkali menangis dan meminta di bawa ke makam untuk menemui rumah peristirahatan ayah dan juga ibunya. Awalnya semuanya berjalan seperti biasa, tapi kebiasaan Mona terhenti setelah kejadian suram itu. Dia seperti mengalami phobia akut dan selalu menolak untuk pergi sendirian. Namun kali ini sepertinya Mona telah kembali ke kebiasaan lamanya yang akan mencurahkan seluruh isi hati di atas makam ayah dan ibunya.


Di sebuah komplek pemakaman, terlihat seperti gadis culun tengah duduk bersimpuh di antara dua makam. Dialah Mona, gadis tidak beruntung yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Hati Mona sangat hancur. Hancur hingga tak berbentuk lagi sejak dia tahu kalau orang yang di sukainya telah menikah dengan orang lain. Saat Mona mengetahui kalau Rose telah menikah, ingin rasanya dia membunuh Adam malam itu juga. Dia merasa kalau pria ini telah menghancurkan kebahagiaannya bersama Rose. Mona benci, dia benar-benar sangat benci karena Adam menjadi orang ketiga dalam kedekatan yang dia bangun bersama Rose.


Bagi Mona, Rose adalah dunianya. Rose adalah satu-satunya orang yang mau mengulurkan tangan di saat semua orang pergi menjauh. Segalanya di hidup Mona hanya tentang Rose.


"Rose, tidak bisakah kau hanya menjadi milikku saja? Tidak cukupkah aku untuk menjadi teman hidupmu? Aku sangat mencintaimu, Rose. Aku tidak bisa jika tidak ada dirimu. Kenapa kau menduakan aku, Rose. Apa kekuranganku!" ratap Mona dengan berlinang air mata.

__ADS_1


Di mata Mona, Rose adalah seorang penyelamat. Selama ini Mona sering melihat Rose melakukan sesuatu yang sangat mengerikan. Contohnya pembunuhan yang terjadi di taman ketika ada segerombolan pria brengsek ingin melecehkan mereka berdua. Tapi Mona tak pernah sekalipun berpikir untuk menjauhinya. Justru perasaan Mona kian membesar karena dia beranggapan kalau itu adalah salah satu cara Rose mencintainya. Dia pikir Rose memiliki perasaan yang sama sepertinya. Namun kehadiran Adam membuat harapan Mona menjadi hancur. Dia baru tahu kalau ternyata Rose tidak pernah mencintainya. Jika tahu akan begini jadinya, sejak awal Mona akan mengungkapkan tentang perasaan yang dia pendam. Mona akan mengaku di hadapan Rose kalau dia sangat mencintainya dan ingin hidup bersama selamanya.


"Maaf Rose, maaf karena aku sudah mencintaimu. Aku tahu ini salah, aku sadar kalau ini tidak benar. Tapi aku tidak bisa menahan perasaanku. Kau terlalu berharga dalam hidupku, Rose. Aku mencintaimu... Aku mencintaimu ROSEEEE!!" jerit Mona sambil memukuli dadanya yang terasa begitu sesak.


Kakek Niel dan Nenek Shiren yang kebetulan baru sampai di pemakaman terkejut saat mendengar suara jeritan Mona. Mereka kemudian bergegas menghampiri Mona yang kini tengah memukuli dadanya sambil menangis histeris.


"Ya Tuhan sayang, kau kenapa Nak? Kenapa kau kacau begini?" cecar Nenek Shiren seraya memeluk tubuh cucunya yang sedang gemetaran.


"Hikss... Rose Nek, Rose. Dia... dia dan Adam....


Suara Mona tercekat. Meski sangat hancur, Mona masih bisa mengendalikan emosi untuk tidak memberitahu kakek dan neneknya kalau orang yang dia sukai bukanlah Adam, melainkan Rose, gadis yang selama ini menjadi sahabatnya. Mona tidak memiliki keberanian untuk mengakui hal tersebut karena sadar kalau perasaan yang dia miliki untuk Rose adalah sesuatu yang salah. Kakek dan neneknya pasti akan menyalahkan dan mengolok-olok Mona karena sudah jatuh cinta pada sesama jenis. Dan Mona tidak siap untuk hal ini.


"Hatiku sakit sekali, Nek. Rasanya seperti aku akan mati detik ini juga," sahut Mona dengan tatapan kosong.


"Mona, tidak boleh bicara seperti itu, sayang. Semua orang pasti akan mengalami yang namanya rasa sakit, tapi bukan berarti kau di izinkan untuk menyerah. Yang Kakek tahu cucu Kakek adalah gadis yang sangat kuat. Mona yang Kakek kenal adalah gadis yang selalu bahagia meski tak mempunyai teman. Jadi jangan putus asa begini ya, Nak. Ingat Mona, pria yang baik tidak hanya Adam seorang. Masih ada ribuan laki-laki yang bahkan jauh lebih baik jika di bandingkan dengan seorang Adamar Clarence. Mona-nya Kakek sangat cantik. Kakek yakin setelah ini pasti akan datang seorang pangeran tampan yang akan menggantikan posisi Adam di hatimu. Percaya dengan ucapan Kakek ya!" ucap Kakek Niel tak tega.


Tapi satu-satunya orang baik yang aku inginkan adalah Rose, Kek. Aku mencintainya, dan aku sangat menginginkannya. Tidak bisakah kalian memahami perasaanku? Aku ingin bersama Rose, Kek. Aku ingin bersamanya.


"Hari sudah sore, sebaiknya kita segera pulang ke rumah. Nanti di rumah Nenek akan membuatkan makanan kesukaanmu. Bagaimana? Mau tidak?" tanya Nenek Shiren mencoba mengajak cucunya untuk pergi dari pemakaman.


"Aku ingin makan es krim, Nek," sahut Mona sambil menahan sesenggukan.

__ADS_1


"Es krim? Baiklah. Ingin Nenek yang membuat atau kita beli saja saat perjalanan pulang?"


"Di buat saja. Aku rindu masakan Nenek."


Nenek Shiren mengangguk. Dia kemudian meminta Kakek Niel untuk membantu Mona berdiri. Setelah itu mereka memeluk dari sisi kanan dan sisi kiri Mona agar gadis ini tidak jatuh ke tanah. Mereka berjalan dengan perlahan menuju mobil sebelum akhirnya pergi meninggalkan pemakaman.


Di kejauhan, ada dua orang manusia yang sejak tadi terus memperhatikan keberadaan Mona beserta kakek dan neneknya. Mereka baru pergi dari sana setelah mobil yang di naiki oleh Mona menghilang dari pandangan.


"Awasi mereka!"


"Baik!"


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2