
Sementara itu di negara N, Gheana yang baru saja sadar langsung terperanjat kaget saat mengetahui tangan dan kakinya terikat kuat di atas sebuah ranjang kecil mirip ranjang operasi. Dia lalu berontak, menggeliat sekuat mungkin untuk membebaskan diri dari tali-tali tersebut. Tak lupa juga Gheana berteriak meminta siapapun yang ada di sana agar datang dan menolongnya.
"Tolooong!! Siapapun tolong akuu! Aku di culik!" teriak Gheana dengan begitu kuat. Dia kemudian mendesis lirih saat tali yang mengikat tangannya menggores kulit hingga membuatnya terkelupas. "Sssshhh, pedih. Tolong aku, please!"
Nihil. Sekeras dan selama apapun Gheana berteriak, tidak ada satupun orang yang datang menolongnya. Hal ini membuat Gheana merasa putus asa. Dan di saat itulah Gheana baru sadar apa yang telah terjadi hingga membuatnya bisa terdampar di ruangan seperti ini.
"Rose, brengsek! Semua ini pasti adalah perbuatan wanita sundal itu. Dasar k*parat kau, Rose. Berani-beraninya ya kau mengirimku ke tempat seperti ini!" geram Gheana dengan tatapan yang begitu bengis.
Namu sesaat kemudian kemarahan di diri Gheana langsung hilang begitu dia kembali teringat kalau posisinya sekarang sudah di gantikan oleh makhluk yang sangat mirip dengannya. Entah apa istilahnya, yang jelas keadaan Gheana sepertinya sudah tidak tertolong lagi. Keluarganya tidak akan mungkin tahu kalau Gheana di culik karena sekarang sudah ada Gheana palsu yang menemani mereka di sana. Sungguh kasihan, nasib Gheana benar-benar di ambang kematian sekarang. Apalagi Gheana juga tidak tahu dia sedang berada di tempat yang seperti apa. Orang gila seperti Rose bisa saja kan mengirimnya pergi ke kandang para psikopat? Astaga, membayangkan kelakuan orang-orang gila itu membuat bulu kuduk Gheana berdiri semua.
Ceklek
"Oh. Aku pikir kau mati!" ucap Gerald sarkas begitu melihat kalau tawanannya sudah sadar. Dia kemudian melangkah masuk sambil menenteng kotak kecil berisi alat-alat bedah.
"S-siapa kau? K-kenapa k-kau bisa ada di sini?" tanya Gheana tergagap. Dia menatap penuh waspada ke arah pria tampan yang mengeluarkan aura bengis dari wajahnya. Gheana ketakutan.
"Aku Gerald," jawab Gerald memperkenalkan diri. "Ketua dari tempat yang kau datangi. Adalagi yang ingin kau ketahui dariku?"
Gheana menelan ludah. Meski sangat takut, Gheana tetap memberanikan diri untuk mengajak pria bernama Gerald ini terus bicara. Dia penasaran ada hubungan apa antara Gerald dengan Rose karena tidak mungkin mereka tidak saling kenal.
__ADS_1
"Apa kau mengenal Rose?"
"Ya?"
Gerald menoleh. "Dia saudaraku. Ada pertanyaan lagi?"
Sh***! Bagaimana mungkin Rose memiliki saudara seperti Gerald? Apa jangan-jangan memang benar kalau Rose itu bukan berasal dari pedesaan terpencil? Mustahil, ini adalah data resmi mengenai latar belakangnya. Tidak mungkin Rose berasal dari keluarga ternama.
"Nona, harusnya kau itu mencari tahu lebih dulu tentang latar belakang seseorang yang ingin kau targetkan. Kalau sudah seperti ini kan kau jadi kaget sendiri jadinya. Benar 'kan?" tanya Gerald sembari menata alat-alat bedah di atas meja. Dia tersenyum samar saat menyadari kalau mangsanya mulai bergerak gelisah di atas ranjang operasi.
"M-mau apa kau, Gerald? Jangan macam-macam ya, atau aku akan melaporkanmu pada pihak kepolisian!" ancam Gheana dengan wajah yang mulai pucat pasi melihat banyaknya alat yang sedang di susun oleh Gerald.
"Polisi?"
"Nona Gheana, apa kau pernah mendengar istilah sama-sama menyelami lautan darah demi keuntungan bersama?" tanya Gerald. "Itulah wajah asli dari para polisi yang kau maksud. Di bagian luar saja mereka membuat semboyan sebagai pelindung masyarakat. Akan tetapi di dalamnya, mereka adalah penjahat yang sesungguhnya. Percaya tidak kalau polisi yang kau maksud tidak akan mau merespon apalagi memberikan pertolongan meski kau mengatakan pada mereka kalau kau telah di culik dan sekarang nyawamu berada dalam bahaya. Inilah kenapa aku bilang padamu agar menyelidiki lebih dulu latar belakang dari orang yang akan kau targetkan. Kalau sudah begini apa yang bisa kau lakukan selain pasrah dan menerima takdir, hm? Berharap belas kasih dari lawan? Itu mustahil, Nona Gheana. Karena di keluarga kami, tidak di izinkan untuk kami lemah hati pada orang yang lancang menyentuh garis kesabaran kami. Terlebih lagi itu adalah Rose, bunga di keluarga Ma dan keluarga Osmond yang begitu di cintai oleh banyak orang. Kali ini kau benar-benar telah salah mencari lawan, Nona Gheana Luther!"
Mungkin ini adalah kata terpanjang yang pernah di ucapkan oleh seorang Gerald Thampson. Ini sengaja Gerald lakukan karena dia merasa sangat heran melihat keberanian Gheana dalam memantik api di diri Bibi Grizelle dan juga Nenek Liona. Sungguh, Gerald benar-benar tidak habis pikir kenapa di dunia ini bisa ada manusia sebodoh Gheana yang dengan suka rela mau mengantarkan tubuhnya untuk menjadi kelinci percobaan di lab ini. Sangat aneh bukan?
"G-Gerald, t-t-tolong biarkan aku pergi dari sini. Aku mohon!" ucap Gheana dengan tubuh yang sudah bergetar hebat. Dia tidak bodoh, dan tentu saja sangat tahu kalau kesalahan yang dia lakukan adalah sangat fatal. Gheana benar-benar keliru karena sudah menganggap Rose sebagai wanita desa yang lemah dan tidak bisa apa-apa. Andai saja dia tahu kalau Rose begitu di lindungi oleh satu keluarga yang begitu mengerikan, matipun dia tidak akan sudi mendekati Adamar. Sungguh.
__ADS_1
"Pergi?"
Gerald tersenyum.
"Tidak semudah itu, Nona Gheana. Kau sendiri bukan yang memutuskan untuk mengantarkan nyawamu kemari?"
"Aku mohon, tolong lepaskan aku. Ak-aku janji, aku janji setelah dari sini aku tidak akan pernah mendekati Rose maupun Adamar lagi. Tolong aku, Gerald. Aku tidak mau mati sia-sia di sini. Aku masih ingin melanjutkan hidupku!"
Bersamaan dengan itu pintu ruangan kembali terbuka. Lalu muncullah dua orang pria dengan wajah yang begitu datar datang mendekat sambil membawa sebuah kotak berwarna biru tua. Kedua orang tersebut melirik sekilas ke arah Gheana lalu menundukkan kepala ke arah Gerald.
"Tuan Gerald, di dalam sini ada satu jantung serigala. Nyonya Liona berpesan agar mencocokkannya dengan jantung yang ada di tubuh Nona Gheana. Jika cocok, beliau ingin anda menggantinya dengan yang ini, lalu yang baru akan kita simpan!"
"Jantung?"
"Benar, Tuan Gerald."
"Hmmm, baiklah. Tinggalkan kotak itu di sini lalu kalian pergilah. Jangan lupa minta satu orang datang kemari untuk membantuku. Aku sedang sedikit malas, jadi butuh bantuan kecil darinya," ucap Gerald seraya menghela nafas. Dia tahu betul kalau sebenarnya kotak ini kosong. Mutan-mutan ini sengaja berkata demikian untuk menakut-nakuti Gheana saja.
Mengerikan? Syok? Takut? Itu sudah pasti. Karena tekanan ketakutan di diri Gheana begitu besar, dia akhirnya kehilangan kesadaran. Gheana tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan hidupnya jika jantung miliknya benar-benar di tukar dengan jantung seekor serigala. Sungguh, dia sangat amat menyesal telah mengusik Rose dan Adamar. Karena ternyata hasil akhir dari tujuannya adalah mati. Ya, Gheana akan segera kehilangan nyawanya hanya dalam hitungan menit ke depan.
__ADS_1
"Oh, dia pingsan."
*****