Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Mirip


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Rose.


"Seperti yang nona duga kalau kecelakaan itu bukan kecelakaan biasa. Ada orang yang dengan sengaja ingin merusak citra perusahaan milik Tuan Adam dan Tuan Rolland."


Rose menghela nafas. Dia yang hanya memakai kemeja putih milik suaminya sama sekali tidak merasakan hawa dingin ketika angin malam menerpa tubuhnya. Matanya yang tajam tampak menatap jauh ke depan, seolah ingin memberitahu semua orang kalau saat ini dirinya sedang merasa tidak senang.


"Siapa orangnya?.


"Namanya Tuan Kenzo, nona. Menurut data yang berhasil kami retas, dia sepertinya menyimpan dendam pada Dantian Group karena proposal yang dia ajukan tidak mendapat respon baik dari Tuan Rolland. Kemungkinan besar ini adalah pemicunya karena dari sekian banyak perusahaan yang mengajukan kontrak kerjasama dengan Dantian Group hanya perusahaan milik Tuan Kenzo saja yang tak di respon."


"Hancurkan saja. Aku tidak suka dengan orang-orang yang tidak tahu diri dengan posisinya. Harusnya orang ini tidak boleh putus asa hanya karena proposalnya di tolak. Di Negara N masih banyak perusahaan lain yang tak kalah besar dari Dantian Group, sungguh pemikiran yang sangat dangkal. Dia lebih memilih untuk hancur daripada memikirkan cara untuk maju. Tidak berguna!" kesal Rose.


Meski Rose hanya menggunakan identitas palsu untuk terjun ke dunia bisnis, tapi dia cukup tahu kalau tangan semua orang tidak ada yang bersih jika sudah menyangkut keuntungan. Dan saat Adam memberitahunya kalau ada masalah dalam proyek yang sedang dia kerjakan, Rose langsung tahu kalau semua itu bukan kebetulan semata. Dia yakin seratus persen kalau masalah itu pasti di timbulkan oleh seseorang yang memiliki masalah pada Adam atau pun pada Rolland. Dan benar saja, dugaannya tidak salah.


"Baik nona, akan segera kami lakukan. Apakah ada perintah lain lagi?.


"Awasi keluarga Mona selama aku tidak ada di sana. Aku khawatir Grace dan ibunya akan menyasar pada mereka."


"Baik nona."


Rose mendesah panjang setelah panggilan terputus. Tiba-tiba saja ingatan tentang mimpi itu muncul di matanya. Rose jadi penasaran kenapa rekan bisnis suaminya bisa muncul dalam mimpi tersebut. Padahal Rose sama sekali belum pernah bertemu dengan pria yang bernama Rolland. Bibi Grizelle dan Paman Drax, wajah mereka bahkan tidak terlihat jelas tapi Rose bisa mengingat namanya dengan baik. Sungguh aneh, seakan mimpi itu ingin mengingatkannya pada seseorang yang sudah lama dia lupakan.


"Ini tidak bisa di biarkan. Aku harus segera mencari tahu siapa mereka."


Setelah berkata seperti itu, Rose bergegas masuk ke dalam kamar kemudian berganti pakaian. Tak lupa juga dia menggunakan masker untuk menutupi wajahnya. Rose berniat pergi keluar untuk mencari tahu siapa keluarga Rolland sebenarnya. Dia merasa sangat aneh karena tiba-tiba saja nama keluarga itu muncul di dalam mimpinya.


Bruukkkk


Saat Rose sedang berjalan keluar dari dalam lift, dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita yang kini sudah jatuh terduduk di lantai. Walaupun Rose adalah seorang wanita, dia memiliki fisik yang sangat kuat. Itulah kenapa hanya wanita itu yang terjatuh, sementara dia hanya sedikit mundur ke belakang.


"Isshh, bisa tidak sih kalau jalan itu pakai mata!" gerutu Brenda sembari bangkit berdiri.


Brenda menatap sebal kearah orang yang baru saja menabraknya. Dia lalu mencebikkan bibir saat tahu kalau orang yang menabraknya ternyata adalah seorang wanita.


"Nona, apa masker itu menutupi bola matamu sampai-sampai kau tidak melihat orang yang ingin masuk ke dalam lift?.


Rose tak bergeming. Dia hanya diam sambil terus memperhatikan gadis lucu yang entah kenapa membuatnya jadi teringat dengan anjing kecilnya, Mona.


"Nona, kau dengar aku tidak?" tanya Brenda lagi.


Tetap tak ada jawaban dari mulut Rose. Sungguh, gadis ini benar-benar sangat mirip dengan Mona.


"Eh, atau jangan-jangan orang ini tuli ya? Makanya dia diam saja sejak tadi" gumam Brenda sambil mengusap dagu.


Merasa bersalah, dengan cepat Brenda memapah Rose ke arah kursi yang berada di lobi hotel. Dia lalu mengajaknya duduk bersebelahan.


Mau apa gadis ini.


"Bagaimana caranya menggunakan bahasa isyarat ya?" ucap Brenda sambil mengutak-atik mesin pencari di ponselnya.


"Aku tidak cacat" ucap Rose singkat.

__ADS_1


"Oohh, baguslah" sahut Brenda. Sedetik kemudian matanya terbelalak lebar. Dia lalu menatap kaget ke arah wanita yang baru saja bicara. "Jadi kau tidak tuli?.


"Tidak."


"Astaga!.


Saking kesalnya, Brenda sampai berdiri dari tempatnya duduk. Dia lalu berkacak pinggang, menatap penuh selidik ke arah Rose.


"Kalau kau tidak tuli dan bisu, lalu kenapa kau diam saja saat aku bertanya hah?! Kau ingin mempermainkan aku ya?.


"Mungkin" jawab Rose sambil mengulum senyum.


Lucu. Gadis ini benar-benar sangat lucu, dan itu membuat Rose merasa senang.


"Ck!.


Brenda berdecak kesal lalu kembali duduk. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya mengulurkan tangan.


"Brenda!.


Rose diam saja. Dia sedikit malas untuk bersentuhan dengan orang asing.


"Isshhh, namaku Brenda. Kau siapa?" desak Brenda kesal saat perkenalan dirinya di acuhkan.


"Rose!.


Kekesalan di wajah Brenda langsung menghilang. Berganti dengan raut penuh rasa penasaran begitu dia mendengar nama wanita ini.


Tubuh Rose langsung menegang. Ini semua tidak mungkin hanya kebetulan saja bukan? Dia yang tiba-tiba memimpikan Rolland dan keluarganya, dan sekarang dia bertemu dengan Brenda yang juga mengenal Rolland. Rose sedikit banyak mulai paham kalau kedatangannya ke negara ini seperti sudah di gariskan. Tak ingin mati penasaran, Rose akhirnya memutuskan untuk bertanya pada Brenda mengenai siapa Rolland dan keluarganya.


"Siapa Rolland?.


"Eh, kau tidak tahu siapa Rolland?" tanya Brenda kaget.


"Siapa Rolland?" ulang Rose semakin penasaran.


"Dia adalah pemilik hotel ini, Rose. Dia juga adalah pewaris dari kerajaan bisnis milik Keluarga Osmond dan juga L&S Company. Kau tidak tahu itu?.


Rose mendesis kesakitan saat mendengar nama Osmond. Seperti ada serpihan kaca yang menusuki kepalanya.


"Hei Rose, kau kenapa?" pekik Brenda kaget.


"Diamlah!.


Brenda tercengang.


Dia ini manusia atau makhluk dari gurun es sih? Dingin sekali.


Lama Rose menahan rasa sakit di kepalanya hingga membuat wajahnya sedikit memucat. Sambil terus mengatur nafas, Rose menoleh ke arah Brenda yang sedang memperhatikannya sambil mengerucutkan bibir.


"Apa?.

__ADS_1


"Kau itu yang apa. Sudah kesakitan, sok dingin pula. Aku tidak mau ya di tuduh melakukan kejahatan padamu jika tadi kau sampai kenapa-napa!" omel Brenda.


Sudut bibir Rose tertarik ke atas.


"Kau mengenal Rolland?.


"Iyalah,"


"Kau menyukainya?" ledek Rose. Dia jadi gemas sendiri.


"Bukan hanya menyukainya, tapi sangat. Rolland itu calon suamiku, aku sudah memburunya sejak dulu" jawab Brenda dengan semangat berapi-api.


"Berapa usiamu?.


"Dua puluh dua tahun. Kau?.


"Aku pun!.


"Woaahh, keren. Ternyata kita seumuran ya" celoteh Brenda takjub.


Rose tersenyum.


"Bisa tolong ceritakan tentang calon suamimu itu, Brenda? Kalau bisa sekalian saja dengan keluarganya."


Mata Brenda langsung memicing tajam. Alarm tanda bahaya langsung bertalu-talu di dalam otaknya.


"Jangan bilang kau tertarik pada calon suamiku, Rose. Lihat saja, aku akan menggunduli kepalamu saat ini juga!.


"Aku tidak tertarik,"


"Sungguh?.


Brenda masih merasa terancam.


"Aku tertarik pada perempuan" canda Rose.


Whhaaatttt???? Jadi Rose ini l*bian?? Oh my godness, this is crazy.


"Just kidding" lanjut Rose kemudian bangkit berdiri.


"Sialan!" gerutu Brenda. "Kau mau kemana?.


Rose diam tak menjawab. Dia melirik ke arah lengan tangannya yang sudah di gaet oleh Brenda. Sungguh, gadis ini sangat mirip dengan Mona.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...

__ADS_1


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2