Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Kepanikan Zidane


__ADS_3

Di kediaman Clarence saat ini penghuninya sedang berkumpul di meja makan. Zidane, Gracia dan juga Vanya tengah menikmati sarapan pagi mereka. Namun ada yang aneh di sana. Ada salah satu di antara mereka yang terlihat seperti sedang melamun. Orang tersebut menikmati sarapan pagi dalam kondisi pikiran melayang kemana-mana.


"Pa, ada apa? Wajah Papa terlihat begitu pucat. Papa sakit?"


Sejak Gracia bergabung di meja makan, dia terus di buat heran dengan sikap sang ayah yang terus diam tanpa bicara sepatah katapun. Hal serupa juga Gracia lihat di diri sang ibu. Akan tetapi ibunya masih bisa menikmati makanan dengan lahap, tidak seperti ayahnya yang hanya mengaduk-aduk makanan di atas piring.


"Pa, Papa kenapa?" ulang Gracia kembali bertanya.


"Ha?"


Zidane membeo. Dia kaget saat mendengar suara putrinya.


"Papa sakit?"


"T-tidak. Papa ... Papa baik-baik saja," jawab Zidane terbata-bata.


"Tapi wajah Papa sangat pucat. Papa yakin Papa baik-baik saja?"


Vanya langsung melihat ke arah suaminya begitu mendengar pertanyaan Gracia. Dia lalu mengernyitkan kening. Wajah suaminya terlihat begitu pucat, seolah tidak ada darah yang mengalir di sana. Khawatir suaminya mati cepat, Vanya berpura-pura iba dan merasa cemas. Dia khawatir bukan karena melihatnya yang seperti sedang sakit, melainkan khawatir karena suaminya ini belum menetapkan pada siapa semua harta keluarga Clarence akan di wariskan.


"Zid, Gracia benar. Wajahmu sangat pucat seperti zombie. Aku panggilkan dokter ya?" ucap Vanya dengan lembut.


"Aku tidak perlu dokter dan aku baik-baik saja," sahut Zidane sedikit membentak.


Entahlah, setelah apa yang terjadi semalam, Zidane seperti hidup di dua alam. Pikirannya sangat tidak tenang. Dia takut kalau Rose dan teman-temannya akan mengungkapkan jati dirinya ke media. Zidane sangat tidak siap jika semua orang di negara ini tahu kalau dia adalah seorang g*y. Catat, g*y. Untuk ukuran seorang konglomerat sepertinya, hal seperti itu merupakan aib yang begitu hina. Zidane sangat sadar kalau orang-orang di negara ini masih sangat tabu dengan hubungan sejenis yang dia sembunyikan. Terlebih lagi Zidane berasal dari keluarga terpandang yang begitu menjaga nama baik dan harga diri keluarga. Zidane dan keluarganya pasti akan langsung menjadi bahan cemoohan semua orang jika mereka sampai melihat penampilannya yang menyerupai seorang wanita. Hal inilah yang membuat Zidane tidak bisa tidur semalaman hingga membuat wajahnya menjadi sangat pucat seperti sekarang.


"Pa, tolong jangan keras kepala. Papa sakit kan?" desak Gracia.


"Papa bilang Papa baik-baik saja, Grace. Jangan bertanya lagi!" bentak Zidane sambil membanting sendok ke atas meja.


Vanya dan Gracia sama-sama berjengit kaget melihat hal tersebut. Mereka kemudian saling melemparkan pandangan, tapi setelahnya segera membuang muka karena teringat tentang pertengkaran mereka semalam.

__ADS_1


"Besok malam Adamar akan membawa pulang seorang wanita untuk di kenalkan pada kita semua. Aku harap kalian berdua bisa menjaga sikap dengan baik," ucap Zidane menyampaikan pesan putranya pada Vanya dan juga Gracia.


"Apakah itu Gheana?" tanya Vanya dengan mata berbinar.


"Aku tidak tahu. Dia hanya bilang kalau wanita itu adalah orang yang sangat dia cintai."


"Aku yakin wanita itu pasti dari keluarga Lutfer. Ah, senangnya hatiku karena Adamar akhirnya mau menikah dengan wanita pilihan kita, Zid!"


Gracia menggigit bibir bawahnya saat sang ibu mengira kalau wanita yang akan di bawa pulang oleh kakaknya adalah Gheana. Padahal yang sebenarnya bukan dia, melainkan Rose. Gadis cantik yang dulu menjadi musuh bebuyutannya di kampus, dimana sekarang gadis tersebut telah resmi menjadi kakak iparnya. Rose adalah istri Kak Adamar, yang artinya adalah menantu di keluarga Clarence. Gracia tidak bisa membayangkan betapa terkejutnya ayah dan ibunya nanti saat tahu kalau kakaknya ternyata sudah menikah. Rumah ini pasti akan langsung di hantam badai besar mengingat standar ayah dan ibunya yang begitu mengidamkan menantu dari keluarga terpandang.


Apa sebaiknya aku pergi menemui Rose untuk membahas hal ini sebelum Kak Adamar membawanya pulang kemari ya? Aku khawatir dia akan syok berat jika mendengar makian yang keluar dari mulut Papa. Biar bagaimana pun sekarang Rose adalah kakak iparku, dan dia juga pernah menolongku dari jurang kehancuran. Aku tidak bisa tinggal diam melihat semua ini.


"Kalian sarapan berdua saja. Aku ingin kembali ke kamar untuk beristirahat!" ucap Zidane memutuskan untuk pergi dari sana. Dia terlalu panik hingga tak bisa mengontrol emosinya.


"Aku antar ya Pa?" sahut Gracia kemudian segera mendekati sang ayah yang hendak melangkah pergi.


"Tidak usah. Kau habiskan saja sarapanmu."


"Aku tidak akan makan sebelum memastikan Papa sampai ke kamar," ucap Gracia kekeh pada keinginannya. Dia bahkan tidak peduli ketika sang ayah memelototkan mata ke arahnya. "Jangan marahlah, Pa. Aku tidak patuh karena khawatir Papa kenapa-napa. Jadi biarkan aku menjadi anak baik yang berbakti pada orangtua ya? Please."


"Keluarlah."


"Pa?"


"Hm?"


Gracia menggigit bibir bawahnya. Dia sedikit takut saat ingin mengatakan apa yang dia mau.


"Ada apa?" tanya Zidane.


"Em, itu ," jawab Gracia gugup.

__ADS_1


"Apa?"


"Bolehkah aku pergi ke apartemen Kak Adam? Aku ... aku perlu banyak bimbingan darinya supaya nanti tidak kebingungan ketika masuk ke perusahaan," ucap Gracia dalam sekali tarikan nafas. Dia sengaja beralasan seperti ini agar sang ayah mengizinkannya untuk pergi.


"Ke rumah kakakmu lagi?" tanya Zidane curiga.


"Iya, Pa. Aku ingin mulai belajar bisnis dari Kak Adamar."


Zidane menghembuskan nafas dengan kuat. Putrinya ini masih belum lulus dari kuliahnya. Jadi bagaimana mungkin dia ingin bergabung di CL Group? Zidane jadi merasa ragu kalau tujuan Gracia datang ke apartemen Adamar bukanlah untuk tujuan yang dia maksud. Melainkan ada niat lain yang tidak dia ketahui. Mata Zidane terbuka lebar saat menyadari ada luka robek di sudut bibir putrinya. Namun dia kembali tenang begitu teringat kalau luka tersebut berasal dari tamparan tangan Vanya saat keduanya bertengkar tadi malam.


"Minta sopir untuk mengantarmu pergi ke sana. Dan ingat Gracia, pulang sebelum matahari terbenam. Jika terlambat, jangan harap kau bisa pergi menemui kakakmu lagi," ucap Zidane akhirnya memberikan izin.


Gracia mengangguk dengan cepat. "Terima kasih banyak, Pa. Aku janji sebelum matahari terbenam aku sudah akan berada di rumah. Kalau begitu aku pamit ya, Pa."


Setelah berpamitan pada sang ayah Gracia pun bergegas pergi dari sana. Namun sesampainya Gracia di luar kamar, dia harus berpapasan dengan ibunya yang baru saja datang.


"Grace," ....


"Jangan bicara apapun padaku dulu, Ma. Hatiku masih sakit dengan apa yang Mama lakukan semalam," sahut Gracia menyela ucapan ibunya.


"Tolong dengarkan Mama dulu, sayang. Mama melakukan ini semua ada alasannya. Mama ....


Perkataan Vanya terpaksa harus terhenti saat Gracia tiba-tiba berlari menuruni anak tangga. Dia lalu mendesah panjang sambil memandangi telapak tangan yang semalam dia gunakan untuk menampar pipi putrinya.


"Maafkan Mama, Grace. Mama tahu Mama salah, Mama semalam tidak sengaja menamparmu karena malu kau mengetahui sisi gelap yang selama ini Mama lakukan. Tolong maafkan Mama, Nak. Mama sangat menyesal," ratap Vanya lirih kemudian masuk ke dalam kamar. Dia berniat pergi menemui Gheana untuk mengatakan jika Adam akan mengajaknya datang ke rumah dan memperkenalkannya sebagai calon istri.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote like, dan comment...


...ya gengss๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...

__ADS_1


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2