
"Pastikan kuda-kudamu kuat saat dalam posisi di serang. Kalau lemah, sebentar saja nyawamu pasti melayang!" ucap Cesar sambil menepuk kuat kedua paha Gracia. Dia menggeretakkan gigi saat mendengar suara dengusan gadis ini. "Kau dengar tidak?"
"Dengar," sahut Gracia cetus.
"Dengar tidak?" ulang Cesar.
"DENGAR. AKU MENDENGARNYA, CESAR. PUAS KAU!"
Kalau saja yang baru meneriakinya bukan adiknya Adam, Cesar pasti sudah membungkam mulutnya dengan satu pukulan. Sungguh, mengajari Gracia ilmu bela diri membuat Cesar serasa sedang uji nyali. Benar-benar menguras emosi.
"Cesar, ini sudah malam. Kapan latihan kita akan berakhir?" tanya Gracia. Dia sudah hampir mati lemas karena terus di paksa berlatih sejak jam empat sore tadi. "Aku lapar,"
"Bukan urusanku!" jawab Cesar. Dia kemudian menendang kedua kaki Gracia yang sedang berdiri tegak agar kembali ke posisi semula. Pelatihan belum selesai, tapi gadis ini sudah berani mengeluh. Tentu saja Cesar merasa sangat kesal, dia merasa tak di hargai.
"Tentu saja ini adalah urusanmu, bodoh. Kalau aku sampai mati gara-gara kelaparan bagaimana? Mau kau di amuk oleh Kak Adam dan kakak ipar? Hem?"
Cesar memicingkan mata. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke depan wajah Gracia, merasa muak karena gadis ini terus saja banyak bicara.
"Gracia, aku bersedia melatihmu seperti ini bukan berarti kau bisa bermanja-manja padaku. Mengancam ingin melaporkan aku pada Adam dan Rose? Bahkan sebelum sempat kau menyebut nama mereka, aku bisa langsung mematahkan tenggorokanmu. Jadi jangan kau kira kau bisa semudah itu mendapatkan jam istirahat saat sedang berlatih bersamaku ya? Aku ... tidak sebaik itu untuk kau bersikap seenaknya. Paham?"
__ADS_1
Kenapa Cesar seram sekali ya saat sedang serius begini? Ah, tapi tidak apa-apa. Sikapnya yang seperti ini malah membuatku semakin bersemangat untuk mendapatkan cintanya. Kau lihat saja, tuan sombong. Cepat atau lambat kau pasti akan jatuh ke pelukanku. Haha.
Tak ingin Cesar semakin marah padanya, Gracia akhirnya lanjut berlatih. Sebisa mungkin dia menghafal gerakan yang sudah di ajarkan oleh Cesar. Jujur, semenjak Gracia tinggal bersama dengan kedua kakaknya, dia tak lagi berselera untuk kuliah. Gracia hanya ingin menjadi kuat agar bisa terus berada di sisi kakaknya. Bahkan Gracia hampir melupakan tentang ayah dan ibunya yang sudah cukup lama tidak di temuinya. Gracia masih kecewa pada mereka.
"Tajamkan pendengaranmu. Kau bisa membaca gerakan musuh hanya dengan mendengar gerak kakinya!" teriak Cesar kembali memberi arahan.
Melihat fokus Gracia yang masih berantakan, Cesar memutuskan untuk menyerangnya. Ini perlu untuk dilakukan agar Gracia bisa teliti lagi dalam berlatih. Dengan gerakan yang sangat cepat, Cesar langsung mengarahkan tinju ke wajah Gracia. Dan pukulan ini ternyata mampu di tepis Gracia dengan gerakan yang lumayan memukau. Awalnya Cesar pikir Gracia hanya akan menghindari serangannya saja, tapi ternyata gadis ini berani untuk memberikan serangan balik. Cesar mengelak ke samping saat Gracia mengarahkan satu tendangan ke arahnya. Dan menariknya, Gracia mampu melakukan tendangan berputar hingga membuat leher Cesar nyaris menjadi korbannya.
"Satu kosong!" ucap Gracia seraya tersenyum kecil.
"Lumayan,"
Melihat Gracia yang merajuk membuat Cesar terkekeh pelan. Dia lalu mengacungkan jari telunjuk, meminta Gracia untuk diam saat ponsel miliknya berdering.
"Halo, Tuan?" sapa Cesar.
"Ces, aku dan yang lainnya sudah sampai di Negara N. Kapan kau dan Rose datang kemari? Aku tidak sabar ingin segera bertemu dengannya,"
"Kemungkinan lusa kami baru akan berangkat ke Negara N, Tuan. Oh ya, Tuan. Tugas yang anda berikan telah selesai saya lakukan, apakah mungkin masih ada tugas lain yang perlu di urus sebelum kami semua berangkat ke sana?" tanya Cesar dengan raut wajah yang begitu serius. Bicara dengan Tuannya tak boleh main-main, resikonya terlalu mengerikan.
__ADS_1
"Tidak ada. Kau cukup menjaga baik-baik apa yang seharusnya kau jaga. Kalau begitu sampai berjumpa di Negara N, Cesar. Kau ... bersenang-senanglah dengan gadis itu dulu!"
Dan, klik. Panggilan terputus. Cesar lalu menghela nafas, menatap layar ponselnya yang sudah kembali menggelap.
Mungkin di antara kalian ada yang bertanya-tanya mengapa Cesar bisa mengenal Tuan yang selama ini memiliki hubungan dekat dengan Rose. Ini jawabannya. Sebenarnya, Cesar adalah seseorang yang bisa di katakan hidup di antara perintah Adam dan juga Rose. Jika kalian berpikir apa yang terjadi selama ini adalah sebuah kebetulan, maka kalian salah besar. Semuanya sudah masuk ke dalam satu scenario yang di rancang oleh Tuan-nya ini. Tapi kelompok Ma Queen tidak termasuk di dalamnya. Walaupun Cesar memiliki hubungan yang tak biasa dengan pemimpin kelompok itu, Cesar tak bisa sepenuhnya mengetahui isi dari kelompok yang begitu di takuti oleh banyak orang. Yang Cesar tahu Rose dan anak buahnya adalah petaka bagi orang-orang yang berani memprovokasi. Juga karena sang Tuan sudah memberi peringatan kalau Rose adalah salah satu rekannya yang paling berbahaya. Jadilah Cesar hanya menjalankan tugas dari Tuan Philippe untuk menjaga Adam, sekaligus memperhatikan Rose dari kejauhan.
"Siapa yang menelponmu barusan?" tanya Gracia penasaran. Dia menatap lekat ke arah Cesar yang sedang berdiri diam sambil memandangi layar ponselnya.
"Ada pepatah yang mengatakan kalau orang yang banyak ingin tahu urusan orang lain, mereka tidak akan memiliki umur yang panjang," sahut Cesar dingin. "Dan kau baru saja mengantarkan nyawa karena lancang bertanya seperti itu padaku. Kau harus ingat, Gracia. Sedekat apapun aku dengan Adam, itu belum tentu berlaku untukmu juga. Jadi jangan pernah bersikap sok posesif seolah aku ini adalah milikmu. Di mataku kau hanyalah seorang wanita yang merepotkan!"
Kesal, itu sudah pasti. Tapi bukan Gracia namanya jika tidak keras kepala. Alih-alih merasa takut setelah mendapat teguran seperti itu dari Cesar, Gracia malah dengan santainya menghampiri Cesar kemudian menatapmya dari jarak yang sangat dekat. Dia lalu tersenyum.
"Tuan Cesar yang terhormat, memang benar kalau kau adalah orangnya Kak Adam. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan kalau suatu saat nanti kau akan menjadi orangku juga. Aku akui kalau sekarang aku hanyalah seseorang yang merepotkanmu, tapi bukan berarti aku akan selamanya menjadi orang yang lemah. Aku Gracia Clarence, adik dari Adamar Clarence. Pantang untukku tidak mendapatkan apa yang aku mau. Dan kau ... aku pastikan akan menjadi milikku suatu hari nanti. Camkan itu!" ucap Gracia dengan penuh percaya diri.
Setelah berkata seperti itu Gracia berjalan pergi meninggalkan Cesar. Dia lalu menunggu pria itu di samping mobil, membiarkan angin malam menyapu wajahnya yang masih di penuhi keringat.
Oh ya, saat ini Gracia dan Cesar sedang berada di pinggiran hutan. Tempat ini kini menjadi tempat khusus untuk Gracia melatih kemampuan. Jika di pagi hari Gracia akan di jemput dan di bawa ke sebuah tempat khusus untuk latihan bela diri, saat sore hari Cesar akan membawanya ke hutan ini. Dan di sinilah Gracia terkadang di perlakukan seperti seorang budak oleh Cesar di mana dia sering di siksa untuk berlari mengelilingi beberapa titik lokasi pelatihan di dalam hutan. Sering Gracia merasa takut, tapi Cesar bilang dia sudah tidak di izinkan untuk merasa takut setelah memutuskan ingin terus bersama dengan kedua kakaknya.
"Kalau kau sampai merasa takut, aku akan dengan senang hati menggalikan lubang kubur untukmu. Menjadi bagian dari Adam dan Rose, kau bahkan harus memegang prinsip kalau kau tidak boleh mati sebelum menyelesaikan semua tugas yang di dapat. Ingat, Gracia. Rasa takutmu hanya akan mempercepat kematianmu saja karena di dunia ini tidak ada tempat untuk seorang pengecut. Paham kau!"
__ADS_1
*******