Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Kematian Para Sampah


__ADS_3

"Ikuti mereka!" perintah Adam pada Cesar.


"Oke!"


Sekembalinya Cesar dan Adam dari mengantarkan Rose pulang ke apartemen, mereka bergegas pergi ke perusahaan Gheana untuk mengikuti jejak para preman yang tadi sempat menyerang Gracia. Dan sekarang mereka berdua tengah membuntuti ketiganya untuk melakukan sesuatu hal. Apalagi memangnya kalau bukan untuk menghabisi mereka semua. Adam dan Cesar tentu tahu kalau Gheana pasti akan mencari tahu siapa yang telah menggagalkan pekerjaan anak buahnya. Dan terbukti, wanita sinting itu langsung menghubungi Cesar untuk memastikan akan seperti apa responnya ketika menerima panggilan.


"Ck, kenapa mereka terus berputar-putar di jalanan sih. Leherku jadi pegal!" keluh Cesar yang sebenarnya sudah sangat tidak sabar untuk meniadakan preman-preman gadungan suruhan Gheana.


"Pepet mobil mereka, Ces. Di depan ada jalan menikung, buat mereka berbelok ke arah sana!" sahut Adam malas.


"Benarkah? Waahhh, ini pasti akan menjadi sangat seru, Dam. Aku jadi tidak sabar ingin segera bermain dengan mereka!" sahut Cesar kegirangan.


Adam hanya tersenyum samar melihat betapa antusiasnya Cesar saat ingin menghilangkan nyawa orang lain. Dia tentu saja sangat hafal kalau Cesar adalah maniak cairan yang berwarna pekat itu. Semenjak Adam menikah dengan Rose, mereka berdua sudah jarang turun tangan langsung untuk menghabisi plankton-plankton yang mengganggu mata. Alasannya sangat klise, takut Rose tahu siapa Adam dan Cesar sebenarnya.


Cciiittttt.... brraakkk


"Owhhh sh*ttt!! Ternyata mereka pandai mengelak juga, Dam. Aku suka ini!" ucap Cesar seraya mengumpat halus saat mobil para preman masih baik-baik saja setelah dia tabrak bagian belakangnya.


"Jangan terlalu lama bermain, Ces. Malam ini kau masih harus pergi menemui Gheana. Usahakan tiga cecunguk itu sudah tersingkirkan dalam waktu tidak kurang dari tiga puluh menit!"


"Tiga puluh menit? Lama sekali. Aku bahkan berani mempertaruhkan kepalaku kalau mereka akan segera mati dalam waktu sepuluh menit. Bagaimana? Mau bertaruh denganku tidak?" tanya Cesar dengan gembiranya membuka taruhan.


"Terserah kau saja. Yang jelas aku ingin segera pulang ke apartemen untuk menemani calon anak dan istriku!" jawab Adam acuh.


Satu seringai licik menghiasi bibirnya Cesar sebelum dia kembali menabrak mobil yang ada di depannya. Dan seperti yang di katakan oleh Adam, di depan ada sebuah tikungan yang akan mengarahkan jalan menuju sebuah jembatan. Namun sayangnya proyek pembangunan jembatan tersebut mangkrak karena mandornya membawa kabur semua uang yang ada hingga terpaksa pembangunnya di hentikan terlebih dahulu.


"Wow, tempat yang sangat unik untuk menghabisi mereka semua, Dam. Kita hanya tinggal menjentikkan jari maka mereka akan langsung menjadi tumbal dari jembatan mangkrak ini. Tidak kusangka ada tempat seperti ini di tengah-tengah kota!" ucap Cesar sambil terus menggiring mobil para preman agar masuk menuju jembatan yang di maksudkan.


"Ini akibatnya jika bekerja sama dengan orang yang gila uang, Ces. Demi mengenyangkan burung dan perutnya, mereka rela menelantarkan sarana yang harusnya di gunakan masyarakat biasa untuk berlalu lalang. Hmmm, membicarakan orang-orang seperti mereka membuatku jadi ingin mengejar lalu mengecor tubuh mereka agar menjadi tiang pondasi jembatan itu. Menjijikkan!" sahut Adam dengan tatapan yang begitu marah.


Sadar kalau atmosfer di dalam mobil mulai berubah, Cesar tak lagi berani bercanda. Dia memilih untuk fokus menyudutkan mobil di depannya agar semakin cepat sampai di tempat yang akan menjadi saksi nafas terakhir mereka.

__ADS_1


Brruukkkk


"Brengsek! Siapa sebenarnya kalian hah? Kenapa sejak tadi terus menabrak mobil kami. Bosan hidup ya, hah!" teriak salah satu preman sambil menyembulkan kepala melalui jendela mobil.


"Benar, kami memang sedang cari mati. Karena itulah keluarlah kalian dan hadapi kami berdua. Cepatlah, aku sudah tidak sabar ingin segera mati!" sahut Cesar balas berteriak.


Tak menunggu lama, mobil yang dinaiki para preman berhenti tepat di samping jembatan. Adam dan Cesar yang melihat sambutan tersebut pun tak ingin membuang waktu lagi. Setelah mematikan mesin mobil, mereka bergegas keluar dengan raut wajah yang begitu santai.


"Oh, pucuk di cinta ulam pun tiba. Baru saja kami hendak mencari keberadaan kalian, tapi kalian malah sudah lebih dulu datang untuk mengantar nyawa. Kemarilah, kawan. Biarkan kami membalas apa yang telah kalian lakukan pada kami bertiga!"


"Mana belati?" tanya Adam seraya menyodorkan tangan ke arah Cesar. Dia terlalu malas meladeni preman-preman yang terlalu banyak bicara ini. Adam ingin semuanya cepat selesai agar dia bisa segera pulang dan memeluk tubuh candu istrinya.


"Kau yakin ingin mengotori tanganmu untuk membunuh mereka, Dam? Bagaimana kalau nanti Rose sampai mencium aroma darah yang menempel di tubuhmu?" tanya Cesar seraya memberikan belati yang selalu dia bawa kemana-mana.


"Untuk apa aku mengkhawatirkan sesuatu yang bahkan istriku saja sering melakukan?" sahut Adam acuh. Sebelum mengambil belati dari tangan Cesar, Adam tersenyum aneh ke arah tiga orang preman yang tengah berjalan mendekat ke arah mereka. Mendadak dia merasa haus.


"Banyak bicara kalian! Jika ingin mengobrol, maka pergi mengobrol saja di neraka. Dasar pecundang. Hahahaha!"


"Hekkkkk!"


Sunyi.


"Tertawalah sepuas kalian sebelum aku melayangkan belati-belati lain ke bagian leher seperti yang di alami oleh sapi gemuk itu. Ayo, jangan diam saja!" ucap Adam setelah mendaratkan belati ke leher preman yang tadi menertawakannya.


"B-berani-beraninya kau membunuh ketua kami. Rasakan ini!"


Tanpa perlu susah payah mengelak, Adam dengan santai menangkap tangan preman yang hendak memukul wajahnya. Dia lalu memelintir tangannya dengan sangat kuat hingga terdengar suara seperti ranting patah.


"Aarrgggghhhhhhgg! Sakit! Lepaskan, brengsek!" jerit si preman dengan wajah pucat pasi ketika tangannya di patahkan. Dia kesakitan.


Doorrr

__ADS_1


"Maaf, Dam. Waktunya sudah hampir habis!" ucap Cesar sambil mengendikkan bahu setelah melesatkan peluru ke kepala preman yang sedang berkelahi dengan Adam.


"Sisa berapa menit?" tanya Adam seraya menjilat darah yang menempel di dekat bibirnya. "Pahit. Sepertinya para b*jingan ini terlalu banyak melakukan dosa."


"Lima menit dari sekarang, Dam."


Adam mengangguk. Dia langsung menatap datar ke arah preman yang masih tersisa. Dengan langkah lebar Adam segera datang menghampiri preman tersebut kemudian mencekik lehernya dengan sangat kuat.


"Meskipun aku dan Gracia tidak memiliki hubungan darah, tapi di mata publik dia tetaplah adikku. Dan kau dengan lancangnya berani menyentuh, bahkan menyakiti anggota keluarga Clarence. Benar-benar sudah tidak sabar ingin segera pergi ke alam baka ya?" tanya Adam dingin.


"T-Tuan, s-saya ha-hanya menjalankan p-perintah dari N-Nona Gheana saja. T-tolong ampuni saya, Tuan. Saya .... eggghhhhhh!"


Rintih kesakitan terdengar jelas dari mulut si preman ketika Adam dengan kejam menusukkan belati ke bagian ginjalnya. Dari mulut preman tersebut menyembur darah pekat yang mana mengenai wajah dan pakaian Adam. Anyir, itulah aroma yang tercium di sana ketika Adam kembali menghujamkan belati ke arah dada si preman.


Setelah memastikan kalau sampah-sampah itu telah mati semua, Adam dengan santai mengelap darah yang menempel di belati ke wajah preman yang sudah mati dengan mata melotot lebar.


"Minta mereka menyingkirkan mayat-mayat ini. Setelah itu antarkan aku ke rumah, aku perlu merapihkan diri sebelum pulang menemui Rose!"


Cesar mengangguk. Dia kemudian menghubungi anak buahnya lalu meminta mereka untuk membereskan kekacauan yang ada di sini. Sambil bersiul senang, Cesar bergegas menyusul Adam yang sudah masuk ke dalam mobil. Menyeringai tipis ketika melihat pria tersebut tengah membuka kemejanya yang sudah berlumuran darah.


Bandel sih. Jadi kotor kan kau sekarang?


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2