Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Sedikit Bermain


__ADS_3

"Nona, Gheana sepertinya sudah berhasil menghasut pikiran Kakek Frans. Anak buah kita bilang dia pergi dengan membawa senyum merekah di bibirnya!" lapor Lorus setelah menerima panggilan dari anak buahnya.


"Biarkan saja. Biarkan dia tertawa sampai puas sebelum aku mengirim seseorang untuk memberinya pelajaran!" sahut Rose santai. "Ingin menghasut kakekku? Cihh, hanya Tuhanlah yang mampu membuat Kakek mau percaya pada perkataan orang lain jika sudah menyangkut tentangku. Dasar to lol!"


Adam hanya diam mendengarkan sambil mengelus perut istrinya. Rasanya sungguh sangat menyenangkan mempunyai istri yang cerdik seperti Rose.


"Apa Nona memiliki tugas lain untuk kami? Menghancurkan mobil wanita itu, mungkin? Tangan saya sudah sangat gatal ingin menggaruk ginjalnya," tanya Lorus dengan tampang bak orang kelaparan.


"Kerjai saja, Lorus. Lumayan juga untuk meredakan urat leherku yang sempat menegang setelah menghadapi pria gemulai itu!" ucap Adam menimpali.


Sebelah alis Lorus terangkat ke atas. Dia tak serta-merta langsung menyetujui keinginan suami dari Nona-nya. Lorus kemudian melihat ke arah wanita yang hanya diam saja sambil menatap lurus ke arah depan. Dia ingin meminta persetujuan darinya.


"Bagaimana, Nona?"


"Terserah kau saja ingin melakukan apa. Hanya perlu pastikan kalau aku mau Gheana tetap hidup sampai waktunya tiba dia mengetahui siapa aku sebenarnya. Nenek Liona sudah mengirim pesanan yang aku minta, jadi kau jangan coba-coba merusak rencana yang sudah kubuat. Paham?" ucap Rose.


"Paham, Nona."


"Kalau begitu bermainlah. Ajak Reina juga, dia pasti akan sangat senang jika mendapat mainan baru."


Lorus mengangguk. Setelah itu dia pamit undur diri untuk pergi bersenang-senang dengan yang lain. Adam yang melihat Lorus pergi dengan raut wajah penuh kegembiraan pun tak kuasa untuk tidak tersenyum. Bermain dengan nyawa manusia, tidakkah ini terlalu sadis? Tapi ya sudahlah. Toh hal ini terjadi karena orang lain yang lebih dulu memulai.


"Kenapa kau diam saja, Dam? Apa kau keberatan kalau Lorus sedikit bermain dengan Gheana, hm?" tanya Rose santai.


"Hanya ketika otakku rusak aku baru akan merasa keberatan melihat Lorus bermain dengan wanita menjijikkan itu, Hon. Kau ini!" jawab Adam sebal.


Yang benar saja. Bahkan jika di izinkan, Adam mungkin sudah lebih dulu menyingkirkan Gheana dari muka bumi ini. Dia muak setiap kali teringat dengan kepura-puraannya waktu itu.


"Hmmm, sayang sekali ya wanita secantik dan sekelas Gheana harus berurusan dengan anak buahku. Coba saja dia sadar akan batasan, hidupnya pasti tidak akan terancam bahaya seperti ini. Sungguh miris."


"Itulah manusia, Honey. Mereka tidak akan puas dengan apa yang mereka miliki sekarang. Menurutku Gheana sudah sangat sempurna dengan segala kemewahan yang dia miliki dalam hidupnya. Tapi yaitu, dia ternyata masih haus juga pada yang namanya kasta dan status. Sangat menjijikkan sekali, bukan?"


"Sangat."

__ADS_1


Adam dan Rose sama-sama terkekeh pelan setelah membicarakan Gheana. Sedetik kemudian Rose teringat dengan Cesar yang mendapat tugas untuk mendidik Gracia, adik iparnya yang bodoh itu. Sambil mengalungkan tangan ke leher Adam, Rose mengajaknya bicara tentang adik mereka.


"Dam, kau yakin Cesar tidak akan membunuh Gracia?"


"Aku tidak peduli Hon. Itu terserah dia ingin melakukan apa pada gadis lemah itu. Satu-satunya orang yang aku pedulikan hanya kau dan bayi kita saja. Selebihnya aku masa bodo!" jawab Adam acuh.


"Lalu Mama Karina? Apa dia bukan orang yang penting dalam hidupmu, hm?" tanya Rose meledek.


"Tentu saja sangat penting, Honey. Tapi tetap saja, kau dan bayi kita yang paling utama."


Rose tersenyum. Tiba-tiba saja Rose terfikir betapa enaknya jika sekarang dia bisa menikmati rujak buah yang dia makan langsung di pinggir jalan. Adam yang melihat istrinya terus menelan ludah langsung tanggap kalau istrinya ini sedang mengidamkan sesuatu. Segera dia menanyakan makanan apa yang di inginkan oleh bayi mereka.


"Hmmm, sepertinya ada yang sedang mengidam. Kira-kira makanan apa ya yang sedang di bayangkan?" ledek Adam sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


"Apa itu terlihat sangat jelas, Dam?" tanya Rose kaget.


"Tentu saja. Kau bahkan tidak berhenti menelan ludah, Hon," jawab Adam sambil tersenyum gemas melihat ekpresi di wajah cantik istrinya ini. "Katakan, kau ingin makan apa, hm? Ingin es kelapa lagi tidak?"


Rose menggeleng.


"Rujak."


Sebelah alis Adam terangkat ke atas.


Bukankah ini adalah makanan khas para wanita hamil ya? Ya Cesar, kenapa kau begitu paham pada hal-hal seperti ini? Untung saja kau sudah memberitahuku sebelumnya. Jika tidak, sekarang aku pasti sedang pusing tujuh keliling mencari tahu makanan apa yang bernama rujak. Huffttt ....


"Dan aku ingin makan di tempatnya langsung, Dam. Boleh kan?"


"Tentu saja sangat boleh, Honey. Memangnya apa sih yang tidak aku berikan untukmu. Ayo berangkat. Jangan sampai bayi kita meneteskan air liur karena aku terlambat memenuhi keinginannya. Ayo!" ajak Adam kemudian membimbing Rose agar beranjak dari atas pangkuannya.


Hati wanita hamil mana yang tidak berbunga-bunga saat di manjakan oleh suami mereka. Dan hal inilah yang sedang di rasakan oleh Rose sekarang. Adam begitu perhatian dan sangat siaga. Membuatnya jadi merasa begitu di cintai, dan pastinya hal tersebut sangat berpengaruh pada kehamilannya. Para emak-emak yang pernah hamil, benar tidak perkataan Rose barusan? Tolong komentar di paragraf ini ya?


Saat Adam ingin membawa Rose pergi dari markas Queen Ma, mereka berpapasan dengan Nenek Liona yang sedang berjalan bersama Mona. Keduanya kemudian berhenti untuk berpamitan.

__ADS_1


"Kalian mau pergi kemana? Sebentar lagi Mommy kalian datang membawa makan malam untuk kita semua. Apa tidak sebaiknya di tunggu saja?" tanya Liona.


"Nek, Rose ingin makan rujak langsung di tempatnya. Bayi kami sedang mengidam," jawab Adam seraya melirik sekilas ke arah Mona yang hanya diam tak bersuara.


"Oh begitu. Ya sudah sana, hati-hati. Tapi nanti kalian kembali lagi ke sini kan? Mommy kalian bisa merajuk kalau kalian tidak ada di sini."


"Iya, Nek. Aku dan Adam akan kembali lagi ke sini setelah mendapatkan rujak," sahut Rose. "Mona, kau ingin ikut pergi bersama kami tidak?"


Mona sedikit terhenyak kaget saat Rose tiba-tiba bertanya kepadanya. Telapak tangannya sampai mengeluarkan keringat dingin saking gugupnya dia sekarang.


"T-tidak usah, Rose. Aku di sini saja bersama Nenek Liona dan yang lain. Kau pergilah dengan Adam. Jangan lupa perhatikan jalanmu di sana nanti," jawab Mona berusaha legowo. Berat memang, tapi harus tetap dia lakukan demi kebahagiaannya.


"Ya sudah kalau begitu kami pergi dulu ya. Nek, nanti tolong katakan pada Mommy aku dan Adam keluar sebentar!" pamit Rose.


Liona mengangguk. Satu tangannya dia gunakan untuk mengelus punggung Mona yang tengah berjuang menghilangkan perasaannya terhadap Rose. Kasihan, tapi Mona harus tetap melewati masa-masa menyakitkan seperti ini demi lembaran baru di hidupnya. Dan Liona sudah berjanji akan selalu berada di belakang gadis malang ini untuk memberikan dukungan. Salah satunya seperti yang sedang dia lakukan sekarang.


"Nenek, kami pergi dulu!" pamit Adam kemudian mengajak Rose keluar menuju mobil mereka.


Dengan penuh perhatian Adam membukakan pintu mobil untuk istri tercintanya. Setelah itu dia menutupi kepala Rose agar tidak terantuk bagian atas mobil.


"Kita berangkat?"


"Baiklah. Air liurku sudah menetas sejak tadi, Dam. Bayi kita benar-benar tidak suka menunggu," ucap Rose sambil menelan ludah.


Adam tersenyum mendengar pengakuan Rose. Segera dia melajukan mobil dengan perlahan sambil sesekali melirik ke arah Rose yang terus mengusap perutnya.


Honey, kenapa kau jadi menggemaskan begini sih kalau sedang mengidam. Aku kan jadi tidak tahan melihatnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...

__ADS_1


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2