Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Mengirim Bantuan


__ADS_3

Resan bergegas pergi ke kamar Nonanya setelah mendapat kabar kalau Reina dan Lorus sedang di serang oleh organisasi gelap yang memang selama ini menjadi musuh bebuyutan dari kelompok Queen Ma. Dia berniat meminta saran apakah harus menghabisi mereka sampai ke akarnya atau hanya membunuh mereka yang menyerang kedua rekannya. Sebelum sampai di kamar sang nona, Resan memerintah anak buahnya untuk bersiap terlebih dahulu agar nanti mereka bisa bergerak langsung begitu sang ketua memberikan perintah.


Tok tok tok


"Nona, Tuan Adam, maaf mengganggu!" ucap Resan sopan sembari menunduk.


Adam yang saat itu tengah memijit telapak kaki istrinya langsung menoleh ke arah Resan. Tatapan matanya begitu dalam, seolah ingin memberitahu Resan kalau kedatangannya sangat amat mengganggu. Namun ketika Adam melihat gelagat tak beres di diri Resan, secepat kilat tatapan dalam itu berubah berganti tatapan penuh rasa penasaran.


"Jangan terlalu keras. Rose baru saja memuntahkan semua makanan yang ada di dalam perutnya. Dia butuh istirahat!" ucap Adam memperingatkan.


Resan mengangguk. Tanpa menunggu di suruh, dia segera berjalan mendekat ke arah ranjang. Sebelum bicara, Resan melirik ke arah sang nona yang tengah terlelap dengan wajah yang sedikit pucat. Teryata mengidam itu adalah sesuatu yang cukup mengerikan juga ya? Buktinya hal tersebut mampu menumbangkan nonanya yang biasanya selalu kuat tak tertandingi.


"Jangan membiasakan diri menatap istri orang dengan tatapan penuh n*fsu, Res. Kau sadar tidak kalau kelakuanmu itu bisa mengirimmu pergi ke neraka dengan cepat!" kesal Adam tak terima saat kecantikan istrinya di nikmati oleh pria lain.


"Ekhmmm!" Resan berdehem. Segera dia mengalihkan pandangan dari wajah sang nona. "Tuan Adam, saya butuh saran dari Nona Rose saat ini juga. Reina dan Lorus sedang dalam bahaya. Mereka di serang oleh sekelompok oraganisasi gelap, dan mereka kalah jumlah."


"Lalu?"


Adam menghentikan pijatan di telapak kakinya Rose. Setelah itu dia menatap Resan dengan sangat serius. Sebagai seseorang yang juga berkecimpung di dunia hitam, Adam tentu saja sangat tahu siapa yang di maksud dengan organisasi gelap. Karena dulunya Adam mempunyai rekan yang tergabung dalam organisasi seperti itu. Tapi sayang, rekannya tersebut sudah mati di tangan anak buah istrinya.


"Saat menelpon tadi Reina bilang keadaan mereka terdesak. Dia meminta agar saya segera mengirim bala bantuan untuk membantunya melawan organisasi itu!" jawab Resan.


"Oh. Ya sudah, biar orang-orangku saja yang menolong mereka. Bukankah mereka belum terlalu jauh dari lokasi rumah sakit tempat Gheana di rawat?" tanya Adam sembari merogoh ponsel di saku celana. Dia kemudian menekan salah satu nomor yang ada di ponselnya.


Resan mengangguk. Dia diam memperhatikan siapa yang akan di hubungi oleh suami dari nonanya ini. Sebenarnya Resan sedikit tidak setuju jika Tuan Adam sampai terlibat dengan masalah ini. Akan tetapi dia jauh lebih tidak tega untuk membangunkan nonanya yang sedang terlelap setelah muntah-muntah. Biarlah, jika nanti nonanya marah, maka Resan siap menanggung hukuman.


"Ces, bantu Lorus dan Reina melawan kelompok dari organisasi gelap yang sedang melakukan penyerangan. Mereka hanya berdua, lekaslah datang sebelum mereka mati terbunuh!" ucap Adam. "Dan tolong perintahkan seseorang untuk mengantarkan kobra yang masih hidup kemari. Jangan lupa bawakan juga orang yang menjadi otak dari penyerangan ini!"


"Oke. Ada perintah lagi?"

__ADS_1


"Seperti yang kita tahu, semua senjata yang mereka bawa pasti mengandung racun. Bawa penawarnya!"


Setelah berkata seperti itu Adam memutuskan panggilan. Dia kemudian melihat ke arah Resan, tersenyum kecil saat menyadari ketidaksukaannya.


"Nona-mu adalah istriku. Wajib bagiku untuk menjaga keselamatannya, termasuk juga dengan kelompok kalian. Aku bukannya ingin melangkahi, tapi aku hanya ingin mempermudah masalah kalian saja. Tapi kalau kau merasa keberatan dengan bantuan yang aku beri, aku akan meminta Cesar untuk tidak pergi menolong Lorus dan Reina. Itu bukan masalah untuk kami!" ucap Adam tegas.


"Tidak perlu, Tuan Adam. Saya percaya apa yang anda lakukan adalah yang terbaik untuk sekarang ini. Kondisi Nona sedang tidak fit, saya akan di bunuh oleh Lorus dan Reina jika tetap memaksakan diri bertanya padanya. Jadi biarlah, terima kasih karena sudah bersedia membantu mereka berdua. Kami berhutang budi kepada anda, Tuan Adam!" sahut Resan kemudian membungkuk hormat.


Adam mengangguk. Dia cukup puas melihat cara Resan berterima kasih padanya. Saat Adam dan Resan hendak melanjutkan obrolan, terdengar suara lenguhan pelan dari mulut wanita yang sedang terlelap di ranjang. Seketika keduanya langsung terdiam, sama-sama menjaga agar wanita ini tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada Lorus dan Reina.


"Resan, kau di sini?" tanya Rose pelan. Dia mengernyit saat perutnya kembali bergejolak.


"Kenapa, Hon? Apa kau mual lagi?" tanya Adam seraya mendudukkan diri di sebelah istrinya. Dia segera mengambil gelas berisi air minum di atas meja kemudian membantu Rose untuk bangun. "Minumlah. Pelan-pelan saja."


Rose dengan patuh meminum air putih untuk membasahi kerongkongannya. Dia tersenyum kecil saat air putih tersebut mampu meredakan rasa mual di perutnya.


"Apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Adam.


"Rujak?"


Rose menggeleng.


"Jus lada dan mangga muda?"


"Iya. Aku mau itu."


Resan menelan ludah.


"Kenapa, Resan? Apa kau keberatan jika aku meminum jus mangga muda yang di campur dengan lada?" tanya Rose seraya menatap dingin ke arah Resan. Dia sedikit tersinggung melihat reaksi di wajah bawahannya ini.

__ADS_1


"Tentu saja saya tidak memiliki hak untuk merasa keberatan, Nona," jawab Resan. Dia segera mengubah ekpresi ngilu di wajahnya, berganti dengan ekpresi tenang yang biasa dia perlihatkan.


Astaga, ternyata wanita yang sedang hamil tingkat kesensitifannya jauh lebih mengerikan. Aku harus sangat berhati-hati dalam bersikap saat berada di dekat Nona. Bisa mati konyol aku kalau sampai menyinggung perasaannya.


"Kalau kau tidak merasa keberatan, bisakah kau membuatkan jus itu untukku? Jangan lupa campurkan lada yang cukup banyak ke dalamnya supaya rasa jusnya jadi jauh lebih segar lagi," ucap Rose sambil menelan air liur. Dia tidak sabar ingin segera menikmati minuman favoritnya ini.


"Dengan senang hati saya akan membuatkannya khusus untuk Nona. Kalau begitu saya permisi. Tuan Adam, saya permisi!" pemit Resan sambil tersenyum. Padahal di dalam hatinya, dia sedang membatin akan seperti apa rasa dari jus yang diminta oleh Nona-nya itu. Pasti rasanya sangat tidak karu-karuan nanti.


Sepeninggal Resan, Adam dengan penuh perhatian kembali memijit telapak kakinya Rose. Dia tersenyum saat istrinya ini terus memandangnya tak berkedip.


"Adam, kenapa kau tampan sekali? Apa kau baru saja melakukan perawatan?" tanya Rose penasaran. Tiba-tiba saja ada hormon aneh muncul di tubuhnya, yang mana membuat Rose jadi ingin memuji Adam.


"Aku tidak melakukan perawatan apa-apa, Honey. Yang membuatku jadi terlihat tampan adalah dirimu. Sikapmu yang sekarang membuatku merasa sangat bahagia," jawab Adam.


"Jadi selama kita menikah kau tidak bahagia, ya?"


"Tentu saja bahagia, Honey. Akan tetapi sekarang jauh lebih bahagia lagi karena di dalam perutmu ada buah cinta kita. Dulu maupun sekarang, aku tetaplah merasa bahagia karena bisa mempunyai istri secantik dan sehebat dirimu. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku ya?"


Pipi Rose merona. Dia mengulum senyum saat Adam tak henti menatapnya. Sungguh aneh hormon wanita yang sedang hamil. Sedetik marah, sedetik kemudian merasa sangat bahagia. Sangat beruntung bagi para wanita yang bisa merasakan masa-masa seperti ini. Dan Rose adalah salah satunya. ๐Ÿฅฐ


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


GENGSS... JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG BARU YA. ADA GIVEAWAY-NYA JUGA LHO DI SANA... ๐Ÿ’œ



...๐ŸŒนJangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...

__ADS_1


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2