Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Kematian Yang Setimpal


__ADS_3

Agler yang sedang syok setelah mendapat kiriman kepala dari orang yang dia suruh untuk memata-matai wanita yang datang ke bar, kini kembali di buat syok setelah mendapat kiriman kepala dari anak buahnya yang pergi untuk menjemput Mona. Sungguh, Agler benar-benar tidak mengerti siapa yang telah melakukan semua ini. Dia mulai menerka siapa gerangan yang sudah berani ikut campur hingga sejauh ini.


"Apakah kalian hanya mengirim satu orang saja untuk mengikuti wanita itu?" tanya Agler resah.


"Iya, Tuan. Tapi saya sungguh tidak menyangka kalau j*lang sepertinya mampu berbuat sebrutal ini. Maafkan saya karena sudah meremehkan seseorang dengan mudah."


"Ini bukan salahmu. Yang menjadi masalah adalah siapa mereka. Kenapa mereka bisa sebegini terus terang dengan mengirimkan kepala kemari? Tidakkah kau merasa kalau ke empat orang tadi datang ke bar hanya untuk mencari tahu sesuatu tentang kita?"


Tidak ada satupun anak buah Agler yang berani membuka suara. Mungkin mereka semua masih sangat terkejut dengan apa yang terjadi. Dua kepala teman mereka kini tergeletak di dalam kardus tanpa anggota tubuh yang lain. Membuat mereka bergidik ngeri membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.


"Tunggu, di lihat dari cara mereka memenggal leher, sepertinya mereka berasal dari kelompok yang sama. Ya, benar. Coba kalian lihat, mereka memotong lehernya tepat di titik yang sama, mereka juga membuat kedua kepala ini sama-sama tidak mengalami pendarahan!"


Agler kemudian meminta anak buahnya untuk memeriksa apakah yang dia katakan itu benar atau tidak. Dan ternyata tebakan Agler tidak salah. Kedua kepala ini memang di penggal oleh orang yang sama.


"Yang anda katakan benar, Tuan Agler. Gaya mereka dalam memenggal leher benar-benar sangat mirip. Ini artinya mereka adalah orang yang sama atau berasal dari satu kelompok yang sama. Tapi siapa? Tidak mungkin ini adalah ulah dari ke empat orang yang datang ke bar tadi kan? Karena jika di perhatikan dengan baik ke empat orang tadi sepertinya tidak pernah muncul di kelompok manapun. Benar tidak?"


"Ya, aku setuju denganmu. Tapi jika mereka bukan berasal dari salah satu kelompok, lalu darimana mereka mendapat kartu anggota untuk bisa masuk ke bar? Malam ini adalah malam khusus untuk para anggota saja, orang luar di larang masuk. Rasanya mustahil jika mereka memakai kartu duplikat!" jawab Agler keheranan.


Tidak ada satupun orang yang menyadari kalau di antara kepala-kepala itu ada seekor nyamuk kecil yang sibuk berputar-putar. Mereka terlalu asik dengan pembicaraan tersebut sampai tidak menyadari kalau sejak tadi mereka tengah di awasi oleh satu kematian yang tengah menanti mereka dari tempat lain.


Di markas Queen Ma, Rose yang sedang bersantai menghabiskan minuman bersama nenek dan ibunya nampak tersenyum kecil ketika melihat video yang terputar di layar besar. Rasanya sungguh lucu bisa mendengar secara langsung rencana para musuh yang sedang bertanya-tanya tentang siapa yang telah mengirimkan dua kepala ke bar itu.

__ADS_1


"Rose, Adam baik-baik saja bukan?" tanya Grizelle yang tiba-tiba mengkhawatirkan menantunya. Dia sudah mendengar kalau menantunya itu baru saja menerima hukuman karena telah berkata bohong pada putrinya.


"Seharusnya dia tidak mati," jawab Rose dingin sembari memutar-mutarkan minuman di dalam gelas.


"Apakah harus sampai sejauh ini? Tidak bisakah kau memaafkannya saja tanpa harus memberinya hukuman? Adam sangat mencintaimu, sayang. Dia pasti punya alasan kuat kenapa menyembunyikan hal itu darimu."


Begitu Rose mendengar ucapan ibunya, dia langsung melayangkan tatapan tajam. Dia benci urusan pribadinya di campuri, terlebih lagi urusan dengan yang namanya kebohongan. Rose bukannya tidak mau menghargai kecemasan sang ibu, tapi dia melakukan hal ini dengan persiapan yang matang. Rose hanya ingin memberitahu Adamar kalau membohonginya adalah sesuatu yang fatal karena dia sudah pernah memberinya kesempatan untuk bicara jujur. Tapi kalian tahu sendirilah kalau suaminya itu lebih memilih untuk menikmati hukuman menyakitkan ketimbang mengatakan segala rahasia yang dia pendam. Jadi ya sudah, begini lebih baik.


"Jangan marah. Mommy hanya sedikit mengkhawatirkan keadaan Adam saja," ucap Grizelle cepat-cepat memberi penjelasan.


"Aku sudah pernah memberinya kesempatan untuk berkata jujur, tapi dia lebih memilih jalan seperti ini. Jangan khawatir, suamiku tidak selemah yang kalian pikir," sahut Rose berusaha melunak.


"Lalu bagaimana dengan racun itu? Apa efeknya akan sangat berbahaya?"


"Yang jelas Adam tidak akan mati karena obat itu. Dia selamat, karena sebelum pergi anak buahku sudah memberikan obat penawar pada Cesar. Mungkin dia hanya akan sakit selama satu atau dua hari saja," jawab Rose kemudian kembali fokus menonton video.


"Bu, apa menurut Ibu Adam akan baik-baik saja? Rose terlihat begitu marah, aku takut dia tidak sadar dengan tindakannya sendiri," batin Grizelle bertanya pada sang ibu.


Grizelle menarik nafas panjang saat sang ibu menggenggam tangannya alih-alih memberi jawaban. Dia kemudian mencoba untuk fokus menonton video ketika ibunya melayangkan tatapan agar dia tak banyak bicara lagi.


"Menurut kalian kematian seperti apa yang pantas di terima oleh Agler?" tanya Rose tiba-tiba. Dia meneguk habis vodka di dalam gelasnya kemudian melemparkan gelas tersebut ke depan layar yang masih menyala.

__ADS_1


Prraaannggg


"Aku ... benar-benar sudah tidak sabar ingin segera menghabisinya. Bajingan itu, harus mati dengan cara yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Aku ingin dia pergi menyusul dewa sesembahannya dengan cara yang sangat mengerikan!" geram Rose dengan mata berkilat marah.


"Habisi dia dengan cara yang sama seperti yang mereka lakukan pada para korbannya. Jika mereka menjadikan para gadis yang tidak bersalah sebagai tumbal di detik-detik terakhir hidup mereka, Nenek rasa dengan menyiksanya secara perlahan merupakan balasan yang cukup setimpal. Dan nanti di detik terakhir, mari kita jadikan Agler persembahan dengan membakarnya hidup-hidup. Kita saksikan bersama bagaimana Agler dan kelompoknya akan mengerang kesakitan di saat malaikat maut datang menjemput!" jawab Liona dengan santai.


"Apa begitu sudah cukup? Tidak adakah cara yang jauh lebih menyakitkan lagi?" cecar Rose masih kurang puas dengan jawaban sang nenek.


"Nenek rasa itu sudah lebih dari cukup, Rose. Ada yang bilang kalau manusia akan mati sesuai dengan apa yang dia perbuat semasa hidup. Pembalap akan mati di arena tanding, pencuri akan mati di hakimi, pembunuh akan mati dengan cara dibunuh, dan pemuja sesat seperti Agler ... dia pun harusnya mati dengan cara yang sering dia gunakan untuk mendapat keabadian. Arwah gadis-gadis yang tidak bersalah pasti akan bersorak bahagia jika mereka melihat seseorang yang telah menjadikan mereka sebagai tumbal mati dengan cara yang sama, bahkan seratus kali lebih menyakitkan dari apa yang mereka terima. Namun ini hanya dari sudut pandang Nenek saja, Rose. Kalau kau merasa belum puas, kau bebas menentukan kematian seperti apa yang paling pantas di terima oleh Agler. Nenek hanya membantumu memberi saran!"


Setelah neneknya selesai bicara, Rose langsung menatap ke arah sang ibu. Dia butuh jawaban dari wanita ini juga.


"Biarkan para anggota Agler meminum darahnya sebelum mereka semua kita bakar hidup-hidup. Agler adalah ketua, darah yang ada di tubuhnya pasti akan sangat berharga di mata para pemuja sekte itu. Pembunuh akan mati di bunuh, dan Agler akan menjemput maut dengan mengorbankan nyawanya untuk mengabadikan para anggotanya sendiri!"


Rose, Grizelle, dan Liona sama-sama menyeringai puas dengan rencana tersebut. Sungguh epik, dan luar biasa. Kini mereka hanya perlu menanti hari itu tiba dimana Rose akan menghancurkan cikal-bakal berdirinya kelompok Queen Ma.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...

__ADS_1


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2