
"Hai, Mona."
Mona yang sedang berbaring sambil menatap langit-langit kamar langsung menoleh ke arah pintu begitu ada yang memanggil. Untuk beberapa saat lamanya dia hanya terdiam sambil memandangi orang tersebut, tapi setelah itu dia tersenyum. Sedikit di paksakan sih karena Mona masih merasa canggung dengan kehadiran orang ini.
"Wajahmu kenapa masam sekali, Mona. Tidak suka ya aku datang kemari?" tanya Brenda curiga.
"A-ah b-bukan seperti itu, Brenda. Ak-aku ....
Saat Mona sedang tergagap dengan ucapannya, Brenda dengan usil membisikkan kata yang membuat wajah gadis ini memerah karena malu.
"Tenang saja, rahasiamu aman di tanganku. Mulutku tidak bocor kok, paling hanya berlubang sedikit. Hehe."
Brenda menyeringai senang setelah berbisik seperti itu. Setelahnya dia duduk di samping Mona, menelan ludah saat menyaksikan luka-luka bekas penganiayaan yang terjadi malam itu.
"Kalau takut jangan di lihat, Brenda. Nanti kau tidak bisa tidur," ucap Mona yang tanggap akan kengerian di wajah Brenda.
"Ck, memang menakutkan. Tapi aku sudah terlanjur melihat semuanya secara langsung saat kau di siksa dan di arak oleh mereka ke dekat perapian, Mon. Sungguh, malam itu adalah siaran live terseram yang pernah aku tonton seumur hidup. Aku tidak tahu harus menyebut mereka seperti apa. Benar-benar sangat kejam!" sahut Brenda sambil bergidik takut.
"Lho, memangnya kau ada di sana saat aku di bawa ke hutan?" tanya Mona kaget. "Seingatku kau dan Rolland kan ada di kamar kosnya Rose. Lalu bagaimana caranya kau tahu kalau aku di arak oleh Tuan Agler dan anak buahnya?"
"Tentu saja aku tahu, Mona. Begini, saat kau berlari keluar aku langsung menyusulmu. Lalu aku tidak sengaja melihatmu di bius oleh orang-orang asing yang tidak kukenal. Untung saja waktu itu ada seorang paman yang mau memberiku tumpangan. Jadi aku bisa tahu kemana mereka membawamu pergi. Kalau saja malam itu aku tidak mengikutimu, calon suami dan adik iparku pasti tidak akan bisa menyelamatkanmu. Kau tahu tidak, Mon. Aku melihat semua yang terjadi padamu sambil berkamuflase menjadi seekor bunglon. Sampai pada akhirnya aku jatuh pingsan karena tidak kuat melihat tubuhmu yang sedang di iris seperti kue ulang tahun. Aku rasa ruh di dalam tubuhku sangat syok kemudian memutuskan mati suri untuk beberapa saat. Tapi untunglah Rose dan Kak Oland tiba tepat waktu untuk menyelamatkan kita dari sana. Hehehe."
Brenda seperti tak punya dosa saat menceritakan bagaimana cara dia mengikuti Mona yang di bawa ke hutan. Setelah itu barulah dia ingat kalau demi mendapatkan ponsel milik paman yang menolongnya dia harus rela kehilangan sepasang anting berlian yang dia pakai malam itu.
"Oh, satu lagi Mona. Malam itu aku memberikan anting berlian yang aku pakai pada si paman agar dia mau memberikan ponsel miliknya. Paman itu juga memberitahuku informasi tentang orang-orang aneh yang tinggal di hutan tersebut. Bahkan sebelumnya pernah ada beberapa warga desa yang penasaran dengan aktifitas di sana lalu memutuskan untuk mengintip. Namun mereka tak pernah kembali dan jasad mereka pun tak pernah di temukan. Kita benar-benar beruntung karena bisa selamat dari orang-orang kanibal itu, Mon. Huhfftt, lega rasanya."
__ADS_1
Tatapan mata Mona menjadi sendu. Ingatannya langsung melayang pada apa yang dilakukan Tuan Agler malam itu. Sebagai seorang wanita, Mona merasa sudah tidak punya harga diri lagi. Dia di t*lanjangi di hadapan puluhan laki-laki, di arak tanpa mengenakan pakaian dalam, bahkan tubuhnya di gerayangi oleh puluhan atau bahkan ratusan tangan saat dia akan di naikkan ke atas meja. Belum lagi dengan pelecehan yang dia alami ketika masih kecil. Mona merasa begitu rendah. Sangat-sangat rendah hingga membuatnya ingin mati.
"Oh ya Mona, besok aku dan Kak Oland akan kembali ke Negara N. Kau ingin meminta sesuatu sebagai hadiah perpisahan tidak?" tanya Brenda sambil mengguncang pelan lengan Mona yang sedang melamun.
"Kalian mau pulang?" sahut Mona balik bertanya. Pikirannya masih sedikit terombang-ambing dalam lamunan.
"Iya. Tapi tenang saja, hanya aku dan Kak Oland saja yang akan pulang. Mama Izel, Daddy Drax, Nenek Liona dan Kakek Greg, mereka semua masih ada di sini. Uncle-uncle yang lain juga masih akan tinggal, jadi kau tidak perlu takut. Oke?" jawab Brenda kemudian tersenyum.
"Em Brenda, tadi kalau tidak salah kau menyebut Rolland sebagai calon suami. Apakah kalian akan menikah?"
Senang sekali. Andai saja Mona bisa ada di posisi yang sama seperti Brenda, dia pasti akan merasa sangat bahagia bisa bersatu dengan Rose. Sayangnya semua itu tidak akan pernah terjadi karena mereka tidak mungkin untuk bersama. Dan Mona sangat amat sadar akan hal tersebut.
"Tentu saja kami akan menikah, Brenda. Aku sudah mengincarnya sejak kecil, aku juga sudah menandainya sebagai calon suamiku sejak dulu. Kemarin Kak Oland bilang padaku kalau kami akan benar-benar menikah setelah aku lulus kuliah. Dan nanti saat Dantian Group berulang tahun dia akan mengumumkan tentang pertunangan kami berdua. Kak Oland sangat romantis bukan?"
"Waahhh, selamat ya. Aku turut bahagia mendengar kabar baik ini, Brenda. Kau beruntung sekali."
"Mona, kau belum menjawab pertanyaanku tadi," rengek Brenda.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Mona bingung. Tatapan matanya sendu, sangat jelas menggambarkan kalau suasana hati Mona sedang dalam mode sedih. Ya, dia sedih karena memikirkan cintanya yang kemungkinan besar tidak akan pernah bisa menjadi satu.
"Haissh kau ini. Aku itu tadi bertanya apakah kau menginginkan hadiah perpisahan sebelum aku kembali ke Negara N atau tidak," jawab Brenda sambil mengerucutkan bibir.
"Oh, itu. Sebentar ya, aku pikirkan dulu."
Brenda menanti dengan sangat tidak sabar hal apa yang akan diminta oleh wanita ini. Sekilas sebuah rasa prihatin muncul di benak Brenda. Mona sangatlah cantik, tapi sayang nasib cintanya tidak berada di jalur yang benar. Brenda yakin kalau Mona bisa menyadarkan perasaannya yang salah, pasti dia akan menjadi rebutan pria-pria di luaran sana. Wanita ini hanya perlu di poles dengan sedikit make-up kemudian memilih pakaian yang serasi dengan warna kulitnya, maka bisa Brenda pastikan akan ada banyak pria yang tergila-gila padanya.
__ADS_1
"Brenda, bagaimana kalau nanti malam kau, aku dan Rose makan malam bersama saja. Aku ingin memiliki moment indah seperti itu sebelum berpisah dengan kalian," ucap Mona setelah berpikir sekian lama.
"Moment sebelum berpisah dengan kami? Maksudnya apa, Mona? Kata-katamu ambigu sekali.Memangnya kau mau pergi kemana?" cecar Brenda keheranan.
"Oh, aku salah bicara. Maksudnya sebelum kau pergi dari meninggalkan kami aku ingin memiliki moment bersamamu dan juga Rose. Begitu," jelas Mona yang baru tersadar kalau dia salah bicara.
"Huft, aku pikir apa. Kau membuatku kaget, Mona. Hampir saja aku terkena serangan jantung, ada-ada saja sih."
"Maaf-maaf."
"Ya sudah, nanti aku akan menghubungi Rose dan memintanya untuk makan malam di sini bersama kita berdua. Tapi apa kau yakin hanya kita bertiga saja?"
"Iya. Hanya kau, aku dan Rose. Tidak boleh ada orang lain lagi selain kita bertiga."
"Baiklah."
Setelah itu Mona dan Rose sibuk membahas makanan apa saja yang akan mereka makan nanti malam. Kedua wanita ini menjadi begitu akrab berkat Brenda yang sangat pandai mencairkan kecanggungan di antara mereka.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...Warning: Part ini mengandung spoiler sedikit ๐ ...
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss๐ช๐ช๐ช...
__ADS_1
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...