Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Aku Datang


__ADS_3

"Adam, Rose. Kita mau pergi kemana sekarang?" tanya Cesar sambil mengetuk-ngetuk stir mobil.


"Pulang ke rumah utama saja. Hari ini aku belum bertemu dengan k*parat itu, sayang kalau waktu berharga ini di buang cuma-cuma. Iya kan, Honey?" jawab Adam sembari membelai pinggang Rose yang sedang berada di pelukannya.


"Terserah kau saja. Yang penting sebelum pulang aku ingin kembali memakan rujak dulu. Jika tidak, maka aku akan memilih untuk ikut mobilnya Reina saja," sahut Rose seraya menelan ludah. Dia butuh sesuatu sekarang.


"Kau dengar itu, Ces? Pergi ke penjual rujak langganan kami sekarang juga."


"Haihhh, wanita hamil benar-benar aneh ya. Setiap waktu selalunya hanya ingin makan makanan yang asam, tapi anehnya perut mereka baik-baik saja. Hmm!" keluh Cesar sedikit kaget mendengar keinginan Rose.


"Buka pintu mobilnya!"


Ngeeenggg


Secepat kilat Cesar langsung melajukan mobil begitu mendengar suara Rose yang begitu dingin. Lagi-lagi dia kalah telak sekarang. Walaupun sangat ingin, tapi Cesar tidak memiliki keberanian lebih untuk memantik kekesalan di diri wanita hamil ini. Jadi seberat apapun tantangannya, Cesar akan dengan sangat senang hati menuruti apa yang di ucapkan oleh Rose. Pengecut sekali bukan? Bukan sebenarnya, tapi Cesar hanya sedikit takut saja. Hehe.


"Honey, kapan kau akan pergi berkunjung ke labolatorium Grisi?" tanya Adam. Dia tak peduli meski sekarang Cesar melajukan mobil seperti orang kesetanan.


"Seminggu lagi," jawab Rose. "Dantian Group akan berulang tahun. Aku ingin menjadikan moment ini sebagai moment untuk menyaksikan kehebatan apa saja yang dimiliki oleh keluargaku."


"Termasuk pulau harta karun pemberian Kakek dan Nenek Ma?"


"Ya."


Rose menoleh. Dia mengusap pelan pipi Adam seraya tersenyum miring. "Kenapa? Apa kau begitu takut aku akan memutuskan untuk tinggal bersama mereka? Atau kau panik memikirkan aku yang bisa saja membangun kerajaan untuk kelompokku sendiri? Hm?


Adam memejamkan mata menikmati usapan lembut di wajahnya. Sambil tersenyum kecil, Adam memberikan tanggapan atas statemen yang di ucapkan oleh Rose barusan. Istrinya ini terlalu menyukai teka-teki, yang mana membuat Adam menjadi sangat tertantang karenanya.


"Honey, mau sejauh apapun kau pergi, kau hanya akan tetap kembali padaku. Jikapun benar kau akan membangun sesuatu di pulau itu, maka dengan senang hati aku akan ikut tinggal di sana bersamamu."


"Why?"


"Karena kau adalah ratuku. Ma Queen Rose, yang selamanya hanya akan menjadi miliknya Marcellino. Kau tahu itu bukan?"


Rose mengangguk. Dia kemudian melirik ke arah kaca spion di mana Cesar tengah menatapnya penuh maksud. Adam yang melihat interaksi diam-diam antara Rose dengan Cesar hanya bisa menghela nafas pelan. Dia tahu betul kalau di antara kedua orang ini memang terlibat sesuatu yang tidak biasa.

__ADS_1


"Nah, itu penjual rujaknya!" ucap Cesar sembari menepikan mobil ke pinggiran jalan.


"Tunggu sebentar ya. Aku akan segera kembali dan membawakan apa yang kau inginkan!" ucap Adam


"Iya."


Sebelum keluar, Adam menyempatkan diri untuk mencium keningnya Rose terlebih dahulu. Setelah itu dia bergegas keluar, mendekati penjual rujak yang beberapa waktu terakhir ini menjadi tempat yang paling sering dia kunjungi. Rose yang berada di dalam mobil terus saja memperhatikan suaminya. Dia kemudian tersenyum lebar ketika melihat Adam kembali sambil menenteng beberapa bungkus rujak di tangannya.


"Yeahh, he's coming."


"Ya ampun, Rose. Adan itu hanya membelikan rujak, tapi kenapa kau terlihat begitu bahagia?" tanya Cesar heran.


"Karena dia milikku!"


Cesar memutar bola matanya jengah. Setelah itu dia segera melajukan mobil setelah Adam masuk ke dalam. Tak berapa lama kemudian sampailah mereka di kediaman keluarga Clarence. Ada dengan cepat keluar dari dalam mobil berjalan memutar ke samping untuk membukakan pintu bagi ratunya. Dia kemudian mengulurkan sebelah tangan, lalu menutupi bagian atas dalam mobil untuk melindungi kepala Rose.


"Hati-hati!"


"Terima kasih."


"Ada apa, hm? Apa kau takut pada nenek sihir bodoh itu?" tanya Adam iseng.


"Iya aku sangat takut. Sangat takut sampai aku ingin tertawa kencang melihatnya," jawab Rose.


"Hei, kalian berhentilah mengumbar kemesraan seperti ini. Ingat, aku tidak memiliki pasangan!" protes Cesar. "Ck, wanita itu lagi. Apa yang ingin dia lakukan dengan menatap kita seperti itu? Dia ingin menemani si Zidane itu apa bagaimana? Heran."


Adam terkekehmendengar keluhan Cesar. Setelah itu dia mengajak Rose untuk masuk ke dalam, membiarkan Cesar mengikuti di belakang mereka sambil terus menggerutu.


"Adam, apa kau tahu kemana Grace pergi?" tanya Vanya. Dia mengabaikan keberadaan Rose dengan cara hanya menegur Adamar saja.


"Kenapa kau malah menanyaiku?" sahut Adam dingin.


"Karena kau adalah kakaknya."


"Kau ibunya."

__ADS_1


Vanya kikuk. Dia diam seribu bahasa ketika Adam membawa Rose pergi melewatinya begitu saja. Niat hati ingin membuat Rose merasa tak di anggap, malah harus berakhir dengan dia yang di abaikan. Vanya kemudian buru-buru masuk ke dalam rumah ketika Cesar menatapnya dengan tatapan yang begitu aneh. Semacam singa kelaparan yang ingin segera menerkam mangsanya.


"Halo Adamar. Halo, Rose!" sapa Zidane seraya tersenyum ramah.


"Halo juga, Papa!" sahut Adam dan Rose berbarengan.


Melihat cara suaminya menyapa, Vanya sampai terbengang-bengang di buatnya. Dia mulai berpikir sejak kapan Zidane kehilangan harga dirinya yang setinggi langit itu? Aneh, ini bukan seperti sikap suaminya yang dia kenal. Tapi jika Zidane bukan suaminya, lalu dia siapa? Atau jangan-jangan ada sesuatu yang telah terjadi yang mana tidak di ketahui oleh Vanya? Astaga, ini membingungkan.


Apa Rose dan Adamar telah mengancam Zidane ya? Kenapa sikapnya jadi aneh begitu? Selama ini kan dia sangat membenci Rose, tapi kenapa sekarang sikapnya berbeda sekali? Ini apa yang sebenarnya terjadi? batin Vanya kebingungan.


"Melamun di hari siang menjelang sore begini itu sangat tidak baik, Nyonya Vanya. Kau bisa di rasuki arwah orang gila nanti!" bisik Cesar usil. Dia tentu sangat tahu apa yang sedang di pikirkan oleh wanita ini. Apalagi jika bukan perbedaan sikap di diri Tuan Zidane. Suami yang dulu di kenalnya sangat amat menentang hubungan Rose dan Adamar, kini dengan senyum ramahnya menyambut kedatangan mereka berdua. Sudah pasti otak wanita ini sampai berdenyut-denyut memikirkan penyebabnya.


"Sialan kau! Menyingkir dariku!" hardik Vanya sambil memelototkan mata ke arah Cesar. Kurang ajar sekali orang ini.


"Aku bukan sialan, Nyonya Vanya. Tapi aku adalah Cesar."


"Sama saja. Awas!"


Setelah berkata seperti itu Vanya memutuskan untuk pergi ke kamarnya saja. Dia menapaki anak tangga sambil terus melirik ke arah Zidane yang tengah berbincang hangat bersama dengan putra dan menantunya.


"Sejak aku menginap di hotel malam itu sikap Zidane jadi berubah banyak. Dia tidak hanya menjadi orang yang sangat irit bicara, tapi dia juga mendadak jadi begitu dekat dengan dua anak sialan itu. Belum lagi dengan Gracia yang tiba-tiba menghilang. Sebenarnya ada apa sih di rumah ini? Kenapa aku selalu merasa kalau aku sedang di awasi oleh seseorang dari balik dinding? Astaga, pusing sekali. Ah, masa bodo. Lebih baik sekarang aku istirahat saja untuk mengumpulkan tenaga supaya nanti malam aku puas bersenang-senang. Hehehe," gumam Vanya yang akhirnya memilih untuk bersikap masa bodo akan keanehan yang terjadi di rumahnya.


Sementara itu di sofa, Adam dan Rose tengah menonton sebuah video yang di berikan oleh Zidane palsu. Keduanya tersenyum penuh kepuasan melihat bagaimana Zidane asli di permainkan olehnya. Sungguh, ini adalah satu kesenangan yang sudah sangat mereka nanti-nantikan sebelumnya.


"Adam, Rose. Maaf jika aku lancang. Bukankah akan sangat baik jika dia mendapatkan seorang teman yang akan menemaninya di dalam ruangan itu? Sebelum ini dia memiliki kekasih bukan?"


"Selama bertahun-tahun Mamaku di sekap dan di siksa di dalam sana sendirian. Jadi aku merasa keberatan dengan ide yang kau katakan barusan," jawab Adam.


"Oh, baiklah."


"Dam, bisakah kau bermain-main sekarang? Aku bosan berada di sini," tanya Rose.


"Tentu. Kalau begitu aku pergi menjenguknya dulu ya. Kau tunggulah sebentar. Oke, Honey?" jawab Adam kemudian mencium kilat bibirnya Rose. Dia kemudian bergegas menghampiri lokasi di mana permainannya sudah menunggu untuk segera dimainkan.


Aku datang, Zidane.

__ADS_1


*****


__ADS_2