Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Berbuah Kebaikan


__ADS_3


πŸ“’JANGAN LUPA BOM KOMENTAR DI NOVEL


- Love Story ( Gabrielle & Eleanor)


- My Destiny ( Clara & Eland)


- Pesona Si Gadis Desa


- Ma Queen Rose


BOM KOMENTAR SEBANYAK-BANYAK BESTIE πŸ’œ


πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—


Di pagi hari, Rose dan Adam datang pagi-pagi sekali ke markas Queen Ma. Hari ini keluarga besar Rose akan kembali ke Negara N, jadi mereka berniat mengantarkan keluarga besar tersebut ke bandara.


"Oh, good morning, kesayanganku!" sapa Reina begitu melihat Rose keluar dari dalam mobil. Dia lalu mencebikkan bibirnya melihat Adam yang langsung merengkuh pinggang Rose dengan begitu posesif.


"Selamat pagi kembali, Reina. Kau cantik sekali hari ini," sahut Rose seraya melayangkan pujian untuk Reina. Dia lalu tersenyum samar melihat aura permusuhan yang menguar kuat antara suami dengan sahabatnya.


Hmmm, seperti anjing dan kucing saja mereka. Tapi itu sangat lucu dan menghibur.


"Tidak usah menatapku seperti itu!" tegur Adam ketika melewati Reina.


"Cih, jangan terlalu percaya diri kau, Adam. Siapa juga yang sedang menatapmu," sahut Reina kesal.


"Anggaplah aku buta karena sudah melihat seorang wanita gatal sedang memperhatikanku barusan!"

__ADS_1


"Sungguh sialan!"


Adam dan Reina tak lagi berdebat ketika rombongan Liona and the gengs muncul. Rose yang saat itu masih di peluk oleh Adam segera melepaskan diri kemudian menghampiri sang ibu lalu memeluknya. Hangat, perasaan ini mulai muncul setiap kali Rose berada dekat dengan wanita ini. Sayang, ingatan masa kecilnya masih belum kembali juga. Membuatnya jadi mulai merasa bersalah karena melupakan tentang wanita ini.


"Sayang, Mommy akan segera pulang. Kau akan baik-baik saja kan di sini?" tanya Grizelle sembari membelai rambut panjang putrinya. Rasanya sungguh tidak rela pergi meninggalkan putrinya di sini.


"Tentu saja aku akan baik-baik saja, Mom. Adam dan yang lainnya akan menjagaku dengan sangat baik di sini," jawab Rose. "Jangan khawatir. Aku akan segera datang mengunjungimu beberapa hari lagi. Kita akan segera bertemu kembali di sana."


"Hmmm, beberapa hari yang kau maksud rasanya bagaikan ribuan tahun, sayang. Mommy sebenarnya masih ingin menemanimu di sini, tapi Mommy juga tidak mungkin membiarkan kakakmu sendirian menyiapkan acara ulang tahun perusahaan. Kasihan dia. Belum lagi kakakmu yang akan menyiapkan acara pertunangannya dengan Brenda, Mommy khawatir kakakmu keteteran di sana," ucap Grizelle kemudian mengurai pelukan. "Tidak apa-apa kan Mommy pulang?"


"Pulanglah. Bantu dan temani Rolland menyiapkan acara pertunangannya," sahut Rose seraya tersenyum kecil. Dia lalu mengurai pelukan, menatap ke sekeliling ruangan mencari keberadaan seseorang.


"Kakek Frans belum selesai bersiap. Dia masih di dalam kamarnya," ucap Liona tanggap akan siapa yang sedang di cari oleh cucunya.


"Tolong perlakukan Kakek Frans sebaik yang kalian mampu, Nek. Karena dialah aku hidup, dan tanpa pengorbanannya kita tidak akan pernah bisa berkumpul seperti sekarang," sahut Rose sembari memeluk neneknya. "Aku berhutang banyak pada Kakek Frans. Jaga dan lindungi dia selama berada di Negara N. Sedikit saja tubuhnya tergores, aku akan meminta pertanggung jawaban dari kalian semua. Nenek tidak keberatan bukan?"


"Sama sekali tidak, sayang," jawab Liona. Dia melepaskan pelukan kemudian mengelus pelan perutnya Rose. Liona tersenyum, calon cicitnya ada di sana. "Yang berhutang pada Kakek Frans bukan hanya kau saja, Rose. Tapi kita semua, terutama Nenek. Kalau saja malam itu Nenek bisa menyelamatkanmu, kau dan Kakek Frans pasti tidak akan menjalani kehidupan yang menyakitkan. Nenek minta maaf ya, sayang?"


"Honey, kau kenapa?" tanya Adam panik melihat Rose yang tiba-tiba menjerit kesakitan.


"Tolong aku, Dam. Ini ... sangat sakit!" sahut Rose sambil mencengkeram rambutnya dengan sangat kuat.


"RESAN!"


Secepat kilat Resan berlari masuk ke dalam ruangan khusus obat-obatan untuk mengambil pil yang biasa di gunakan untuk meredam rasa sakit sang ketua. Setelah itu dia kembali dengan membawa sebutir pil dan juga segelas air.


"Ini obatnya, Hon. Minumlah, pelan-pelan,"


Dengan tangan gemetaran Rose segera menelan pil itu kemudian meneguk habis air di dalam gelas. Dan di saat yang bersamaan, Kakek Frans muncul sambil menenteng sebuah tas kecil di tangannya. Melihat Rose yang pucat pasi sedang di kerumuni banyak orang membuat Kakek Frans panik seketika. Dia melempar asal tas miliknya kemudian berlari mendekat ke arah Rose.

__ADS_1


"Tenanglah, Kakek Frans. Rose tidak apa-apa," ucap Greg tak tega melihat Kakek Frans yang berbicara dengan suara tidak jelas. Sungguh begitu besar pengorbanannya, membuat Greg serasa tak berguna sebagai kakek kandungnya Rose.


"Iya, Kek. Aku baik-baik saja. Sungguh," timpal Rose sembari mengelus pipi tua kakeknya.


Adam yang melihat ada celah untuk memberitahu Kakek Frans tentang pernikahan dan juga kehamilannya Rose, segera mengatakan kebenarannya di hadapan semua orang. Bukannya tidak bisa melihat situasi, hanya saja Adam berpikir dengan dia memberitahu Kakek Frans, orangtua ini tidak akan terlalu merasa khawatir lagi.


"Kakek Frans, perkenalkan. Namaku Adamar Clarence, suaminya Rose. Maaf aku baru memperkenalkan diri sekarang karena ada beberapa hal yang perlu aku urus dulu sebelum mengatakan hal ini!"


Kakek Frans terhenyak kaget. Dia lalu menatap dalam ke arah Rose, menelisik akan kebenaran dari pengakuan pria yang menyebut dirinya sebagai suami dari sang cucu.


"Adam benar, Kek. Dia adalah suami sekaligus ayah dari bayi yang sedang ku kandung," ucap Rose memberikan jawaban atas tatapan mata sang kakek. "Kakek jangan khawatir. Adam sangat mencintaiku, dan dia juga telah menjaga dan melindungiku dengan sangat baik. Jadi Kakek tidak perlu cemas kalau dia akan menyakitiku. Ya?"


"Rose, hari itu ada seorang wanita datang menemui Kakek di rumah. Dia bilang kau melakukan pekerjaan tidak baik dengan menjadi simpanan seorang laki-laki. Apa pria ini adalah orangnya?"


Adam dan Rose saling melempar pandangan setelah membaca tulisan milik Kakek Frans. Rupanya sang kakek sedang membahas tentang Gheana, wanita bodoh yang kini berada di tangan Gerald.


"Kek, aku dan Adam menikah secara resmi. Akan tetapi karena ada masalah di beberapa hal, kami terpaksa merahasiakan pernikahan kami dulu. Dan saat menikah pun status kami sama-sama masih single. Benar begitu, Dam?"


"Iya, Kakek. Justru wanita yang menemui Kakek itu yang ingin merusak rumah tangga kami. Dia datang dan menghasut pikiran Kakek dengan tujuan kalau Kakek akan memarahi Rose lalu memintanya agar meninggalkan aku. Begitu kejadian yang sebenarnya," jawab Adam dengan jujur.


"Kakek Frans, selama ini kau telah mendidik putriku dengan begitu baik. Apakah mungkin kau akan percaya kalau Rose bisa melakukan hal serendah itu, hem? Tidak 'kan?" timpal Grizelle ikut meyakinkan Kakek Frans yang masih terlihat ragu akan status pernikahan Rose dan Adamar.


Kakek Frans terdiam. Dia lalu mengelus pipi Rose dengan mata berkaca-kaca. Kalau keluarganya Rose saja sudah sebegitu yakin pada Adam, berarti pria ini memang benar adalah suami cucunya. Terharu, itu sudah pasti. Dan Kakek Frans sangat amat mengerti alasan mengapa pernikahan keduanya terpaksa harus dirahasiakan. Apalagi alasannya kalau bukan karena ancaman bahaya yang selama ini selalu membayangi hari-hari mereka. Sungguh kasihan cucunya ini. Bahkan untuk bahagia saja harus ada aral yang membatasi.


Rose, semoga setelah ini hidupmu bisa benar-benar bahagia bersama Adam ya, Nak. Kakek tidak tega melihatmu hidup dalam bayang-bayang orang jahat itu. Dan juga sekarang kau sudah bertemu dengan keluarga kandungmu. Jadi kau harus benar-benar bahagia ya, sayang.


Mata Liona dan Grizelle sampai berkaca-kaca mendengar doa tulus yang di ucapkan oleh Kakek Frans. Setelah itu mereka pun mengajak semua orang untuk pergi ke ruang makan karena sebentar lagi mereka sudah harus kembali ke Negara N. Apa yang kita tabur, itulah yang akan rasakan di suatu hari nanti. Dan begitu pula dengan nasib Kakek Frans sekarang. Dia rela pasang badan demi melindungi seorang anak kecil yang tidak mempunyai hubungan apapun dengannya. Dan sebagai gantinya, kini kenyamanan dan keamanan hidup Kakek Frans akan di jamin oleh satu keluarga yang memiliki kuasa begitu besar dan juga menakutkan. Bersyukur, itu sudah pasti. Akan tetapi ada satu hal yang tak akan pernah bisa kembali lagi di hidup Kakek Frans. Yaitu anak dan menantunya.


Evon, menantuku. Sekarang tugas Ayah untuk menjaga Rose telah selesai. Tunggu kedatangan Ayah di surga sana ya. Ayah janji tidak lama lagi kita berempat pasti bisa berkumpul bersama. Ayah merindukan kalian semua,...

__ADS_1


*****


__ADS_2