
Rolland duduk melamun sambil sesekali bibirnya menyunggingkan senyum. Seolah menunjukkan kalau dirinya tengah memikirkan suatu kejadian yang lucu. Wajahnya yang tampan juga terlihat berseri-seri, membuat butiran debu yang berterbangan saling bertanya-tanya ada apa gerangan.
"Brenda-Brenda, bagaimana bisa aku di sukai oleh gadis tidak tahu malu sepertimu? Meski kau sudah mengejarku sejak lama, tapi baru kali ini aku tahu kalau kau ternyata sangat lucu dengan kepolosanmu. Aku jadi tidak yakin kalau kau itu berusia satu tahun lebih muda dariku. Umur dan kelakuanmu sungguh tidak sesuai," ucap Rolland yang ternyata sedang mengenang dinner romantisnya bersama Brenda semalam.
Flashback
"Kak, kenapa sih kau tidak mau membalas perasaanku? Apa kau sudah terlalu nyaman karena aku yang selama ini terus mengejarmu atau bagaimana? Jangan terlalu dinginlah, nanti aku bisa jadi perawan tua."
Rolland yang sedang mengunyah potongan daging tanpa sengaja langsung menelannya secara utuh begitu mendengar pertanyaan Brenda. Wajahnya langsung memerah saat dia kesulitan bernafas karena potongan daging yang cukup besar terhenti di tenggorokan.
"Astaga, minum dulu Kak. Aku tahu aku ini manis, tapi tidak perlulah sampai terbengkal seperti ini. Tenang saja, kecantikanku ini hanya milikmu seorang," ucap Brenda sambil menepuk-nepuk punggung Rolland. Tak lupa juga dia membantu mengambilkan air putih.
Dengan susah payah Rolland akhirnya bisa menelan potongan daging tersebut. Dia lalu menoleh, menatap tajam ke arah gadis yang masih sibuk menepuk punggungnya.
"Duduk!"
"Isshh, baru saja hampir mati karena tersedak, sekarang sudah mulai galak-galak lagi. Aku sungguh heran padamu, Kak. Memang apa sih enaknya marah? Yang ada wajah kita itu cepat keriput karena urat-uratnya selalu tegang. Bagaimana sih!" gerutu Brenda sambil berjalan ke tempat duduknya.
Rolland menarik nafas panjang untuk menormalkan kekesalannya. Tak mau melihat Brenda merajuk, Rolland segera mengambil satu potongan daging lalu mengarahkannya ke mulut gadis tersebut. Ingin rasanya Rolland menjambak rambut Brenda saat melihatnya yang sedang tersenyum-senyum tidak jelas.
"Uwuuuu... calon suamiku perhatian sekali sih. Hatiku kan jadi meleleh kalau begini,"
"Jangan membual. Cepat makan atau aku akan membuangnya ke tempat sampah," sahut Rolland sedikit salah tingkah saat Brenda kembali menyebutnya sebagai calon suami.
Masih sambil tersenyum-senyum sendiri, Brenda akhirnya membuka mulut. Dia mengunyah daging tersebut dengan sangat hati-hati seolah daging tersebut adalah sesuatu yang sangat berharga. Rolland yang melihat kelakuan Brenda hanyalah bisa mendesah pelan. Namun, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ada sedikit kekaguman yang tersimpan untuk gadis ini. Entah sudah berapa tahun Brenda menyukainya, Rolland lupa. Tapi yang jelas, mau sekeras apapun sikapnya, gadis ini tetap saja menempel seperti ulat bulu. Padahal, tak jarang Rolland memperlakukannya dengan sikap dan kata-kata yang cukup kasar. Akan tetapi gadis ini akan tetap kembali meski sudah ratusan kali dia usir. Brenda sudah seperti parasit yang tidak ada obatnya.
"Kak Oland, kau belum menjawab pertanyaanku tadi," desak Brenda malu-malu.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Rolland tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Brenda yang sedikit bersemu.
"Itu, yang aku tanya kenapa Kakak tidak pernah mau membalas perasaanku lho."
__ADS_1
"Ooh,"
Rolland mengulum senyum melihat bibir Brenda mengerucut. Itu lucu sekali, terlihat sangat imut dan juga menggemaskan.
"Ayo jawab. Jangan ah-oh-ah-oh saja seperti orang yang sedang kepedasan. Ayo jawab sekarang juga Kak!"
Astaga Kak Oland, nada oh-mu membuat otakku travelling. Itukan jenis kata yang akan keluar jika sepasang manusia sedang bercinta. Ah, atau jangan-jangan ini adalah kode dari Kak Oland kalau malam ini dia akan mengajakku bersenang-senang? O-em-ji... aku sungguh tidak sabar merasakan bagaimana perkasanya dia saat bermain di atas ranjang. Kak Oland pasti akan berubah seperti kuda liar. Aku yakin itu.
Mendengar isi pikiran Brenda yang kelewat mesum, Rolland mencoba untuk tidak tertawa. Entah bagaimana caranya gadis ini berpikir kalau dia akan mengajaknya bermalam di hotel. Mau dia t*lanjang sekalipun, Rolland tidak akan pernah mau menyentuhnya. Bukan karena dirinya tidak normal, tapi Rolland bukanlah type pria yang akan dengan senang hati merusak harga diri seorang gadis. Dia sudah bersumpah pada dirinya sendiri kalau dia hanya akan menyentuh gadis yang sudah sah menjadi istrinya. Makanya dia merasa tergelitik dengan pemikiran Brenda barusan.
"Cepat habiskan makananmu. Ini sudah hampir jam sembilan, kau mau pergi menonton tidak?" ucap Rolland.
"Aiyoo... apa ini jawaban dari pertanyaanku tadi Kak?" tanya Brenda dengan sorot mata berbinar.
"Maksudmu bagaimana?" tanya Rolland tak paham.
"Aduh-aduh-aduh, jangan pura-pura tidak tahulah calon suami. Kau mengajakku pergi menonton karena ingin supaya kita bisa terus berduaan kan?"
"Mungkin,"
Bolehkah Rolland menganggap kalau ini adalah kebahagiaan yang sangat nyata setelah tujuh belas tahun hatinya membeku karena kehilangan adiknya? Ya, Brenda adalah miliknya, Rolland sadar itu.
Flashback Now
"Kenapa rasanya manis sekali ya? Apa iya secepat ini aku menerima Brenda di hatiku?" gumam Rolland sambil memilin bibir bawahnya.
Brrraaaaakkk
Hampir saja Rolland terjatuh dari tempat duduknya saat terdengar suara dentuman keras yang berasal dari pintu ruangannya. Baru saja Rolland ingin memarahi orang tersebut, dia langsung diam membeku melihat ayahnya yang muncul dengan wajah merah padam.
"Bajingan! Kau kemana saja hah! Daddy terus menelponmu sejak tadi, kenapa kau tidak mengangkatnya hah?!" teriak Drax murka.
__ADS_1
Mata Rolland mengerjap-ngerjap. Dia menelan ludah beberapa kali sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sang ayah.
"Handphoneku sedang dalam mode silent, Dad. Jadi aku tidak tahu kalau ada yang menelpon."
"Alasan saja kau. Tahu tidak kalau sekarang adikmu tengah sekarat? Nenek dan Mommy-mu sedang sangat panik di Negara S. Kakak macam apa kau ini, Land. Adikmu sedang kesakitan tapi di sini kau malah sibuk dengan pekerjaan. Kau ini sebenarnya peduli tidak sih dengan Rosalinda!" sentak Drax seperti tidak sadar memaki putranya sendiri.
"Apaaa???? Rose sekarat?"
Rolland segera berlari menghampiri ayahnya. Wajahnya terlihat sangat panik. Gara-gara dia yang melamunkan Brenda, dia jadi terlambat mengetahui kabar tentang adiknya. Rolland sungguh menyesal karena sudah terlena oleh perasaannya sendiri. Dia benar-benar sangat menyesal sekarang.
"Sekarang bagaimana keadaan Rose, Dad? Bagaimana kalau kita susul mereka saja ke Negara S?" tanya Rolland gelisah.
Drax menarik nafas sedalam mungkin untuk menormalkan emosinya. Dia lalu menepuk bahu Rolland, menyesal karena sudah meneriakinya dengan kasar.
"Daddy minta maaf ya. Tadi itu karena Daddy terlalu panik tidak bisa menghubungimu."
"Jangan pikirkan hal tidak penting itu, Dad. Tolong beritahu aku bagaimana kondisi Rose sekarang. Dia tidak benar-benar sedang sekarat kan?"
Mungkin jika ada yang mengukur, saat ini detak jantung Rolland berpacu ratusan kali lebih cepat dari orang normal kebanyakan. Pikirannya sudah tidak karu-karuan saat menunggu jawaban dari sang ayah.
"Nanti kita bahas hal ini di dalam pesawat saja. Sekarang sebaiknya kita segera pergi ke landasan karena kakekmu sudah menunggu kita sejak tadi!" jawab Drax kemudian menarik tangan putranya untuk pergi dari sana.
Rolland dengan patuh menuruti perkataan ayahnya. Tiba-tiba saja dadanya serasa seperti sedang di remas. Sangat sakit. Rolland kemudian merespon kalau ini adalah rasa sakit yang sedang di rasakan oleh adiknya. Walaupun mereka berada dalam jarak yang jauh, tapi mereka adalah kembar. Ikatan batin mereka berdua sangat kuat.
Tolong bertahanlah, Rose. Aku mohon.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
__ADS_1
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...