Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Ketakutan Mona


__ADS_3

Nafas Mona terengah-engah ketika dia berlari keluar dari dalam taxi. Telapak kakinya yang terluka membuat langkah Mona kian tertatih.


"Hiksss, aku takut sekali" gumam Mona sambil terus menoleh kearah belakang.


Tadi, di saat Mona sedang menunggu Rose di tempat kosnya tiba-tiba saja dia di hampiri oleh seorang pria asing. Awalnya pria itu hanya sendirian, tapi tak lama kemudian muncul empat orang pria lagi yang langsung datang menggodanya. Mona yang masih trauma dengan kejadian di taman saat dia berjalan-jalan dengan Rose tentu saja langsung panik ketika para pria asing itu mulai berseloroh kotor. Beralasan ingin pergi ke kamar mandi, Mona lari terbirit-birit untuk menghindari bahaya itu hingga tak sadar sebelah sepatunya hilang.


Sebenarnya Mona bisa saja berteriak meminta tolong, tapi mendadak lidahnya terasa kelu. Yang ada di dalam pikirannya hanya bagaimana cara agar dirinya bisa lolos dari kejaran pria asing yang sedang membuntutinya. Dan untungnya di saat yang bersamaan ada sebuah taxi yang melintas. Mona dengan gilanya berlari ke tengah jalan untuk menghentikan taxi tersebut kemudian bergegas memaksa sang supir untuk mengantarkannya ke rumah. Selama di dalam taxi, Mona mati-matian menahan air kencingnya agar tidak keluar. Kebiasaan buruk yang akan selalu terjadi setiap kali dirinya merasa panik dan ketakutan.


"Hiksss, Kakek, Nenek!....


Tok, tok, tok


"Kek, Nek, tolong buka pintunya. Aku takut sekali!" cicit Mona sambil terus mengetuk pintu rumah.


Kakek Niel yang kebetulan sedang duduk di ruang tamu segera berjalan kearah pintu saat mendengar suara ketukan. Dan begitu pintu terbuka, mata Kakek Niel membulat lebar mendapati sang cucu yang sedang terisak dalam kondisi berantakan.


"Ya Tuhan Mona! Apa yang terjadi padamu Nak?!" pekik Kakek Niel. "Shireen, cepat kemari. Lihat cucu kita!.


Dari dalam rumah terdengar langkah yang cukup tergesa. Nenek Shiren, dia langsung menutup mulutnya kaget melihat keadaan sang cucu yang sangat kacau.


"Astaga Mona, apa yang terjadi padamu sayang? Kenapa kau bisa sampai seperti ini?.


Bukannya menjawab, Mona malah menangis histeris. Dia jatuh terduduk di lantai, yang mana membuat kakek dan neneknya kembali memekik kaget begitu melihat luka di telapak kakinya.


"Ya Tuhan Niel, cepat panggil pelayan untuk membantu Mona masuk ke dalam rumah!" teriak Shireen panik.


Kakek Niel mengangguk. Dia segera berteriak dengan sangat kencang memanggil para pelayan. Setelah itu Kakek Niel pun menghubungi dokter pribadi keluarga mereka.


"Hiksss Nek, aku takut sekali" cicit Mona setelah sampai di dalam kamar.


"Tenang ya sayang, tidak apa-apa. Di sini kau aman" sahut Nenek Shiren sambil menciumi puncak kepala cucunya yang sedang ketakutan. "Mona, memangnya tadi kau itu darimana?.


Mona menengadahkan wajah menatap sang nenek. Airmatanya menetes.

__ADS_1


"Aku menunggu Rose pulang, Nek. Dia sedang marah dan aku khawatir Rose melakukan sesuatu yang buruk!.


"Marah? Rose marah kenapa Nak?" tanya Nenek Shiren bingung.


"Tadi saat di kampus terjadi masalah yang cukup besar, Nek. Nyonya Vanya Clarence datang melabrak Rose. Mereka kemudian bertengkar hebat di depan pintu masuk universitas. Setelah itu aku dan Rose tidak masuk ke kelas, dia malas bertemu dengan anaknya Nyonya Vanya yang bernama Grace. Lalu saat kami akan akan pulang, Tuan Regar menegur kami dan menuduh Rose telah melakukan tindak kekerasan terhadap Nyonya Vanya. Rose tersinggung, dia marah besar pada Tuan Regar kemudian pergi meninggalkan aku. Aku sangat khawatir, Nek. Jadi aku memutuskan untuk menunggunya di tempat kos. Tapi-tapi....


Ucapan Mona terhenti. Tubuhnya sampai menggigil saking takutnya saat membayangkan wajah para pria yang tadi mengejarnya.


"Tapi apa Mona? Apa setelah itu orang-orangnya Nyonya Vanya menyakitimu makanya kau jadi ketakutan seperti ini!" tanya Nenek Shiren curiga.


"Bukan Nek. Saat aku sedang menunggu Rose tiba-tiba saja ada berandalan yang datang menghampiriku. Mereka mengatakan hal-hal yang tak senonoh sambil menggangguku. Aku panik Nek, jadi aku pergi melarikan diri sampai sepatuku hilang satu. Aku takut sekali tadi Nek, sangat takut!.


Tak berselang lama, Kakek Niel muncul bersama seorang dokter. Raut tuanya nampak begitu mengkhawatirkan keadaan sang cucu.


"Dokter, tolong periksa cucuku dengan benar. Kakinya berdarah!" ucap Kakek Niel tergesa.


"Baik, Tuan Niel!.


Di saat yang bersamaan, ponsel milik Mona berdering. Dia pun segera mengambilnya sambil menahan perih ketika dokter mulai membersihkan lukanya.


"Rose yang menelpon, Nek. Syukurlah, semoga saja dia baik-baik saja" jawab Mona semringah kemudian segera mengangkat panggilan. "Halo Rose, kau dimana? Aku sejak tadi terus menunggumu di tempat kos tapi kau tak pulang-pulang. Tahu tidak kalau tadi itu aku di serang oleh penjahat? Sekarang aku terluka, Rose. Hiksss...."


"Apanya yang terluka?.


"Telapak kakiku robek karena tergores kayu dan aspal saat aku mencoba lari dari para begundalan itu. Untung saja aku selamat. Jika tidak kau tidak akan memiliki sahabat sebaik aku lagi, Rose" jawab Mona mengadukan tentang kondisinya.


Kakek Niel dan Nenek Shiren tersenyum melihat gaya mengobrol antara Rose dengan cucunya. Mereka bisa melihat dengan jelas betapa Mona sangat manja pada gadis yang katanya sangat dingin itu.


"Kau matipun aku tidak akan merasa kehilangan."


Bibir Mona langsung mengerucut begitu mendengar kata-kata beracun dari mulut sahabatnya. Mona sama sekali tidak merasa tersinggung, dia sudah terbiasa dengan mulut tajamnya Rose.


"Istirahatlah dengan baik. Besok aku akan datang berkunjung."

__ADS_1


Belum sempat Mona menjawab, panggilan sudah di putus sepihak. Dengan mata berbinar-binar Mona menatap kakek dan neneknya.


"Kakek, Nenek, Rose bilang besok dia akan datang berkunjung. Tolong siapkan makanan yang lezat-lezat ya Nek. Kasihan Rose, dia pasti belum pernah memakan makanan yang enak karena uangnya habis untuk biaya kuliah dan kebutuhan sehari-harinya. Kasihan dia Nek!" ucap Mona menghiba.


"Astaga, kau tidak harus memohon sampai seperti ini, sayang. Tenang saja, besok Nenek pastikan kalau si Rose akan betah berada di rumah kita. Jika perlu Nenek juga akan membujuknya agar dia bersedia untuk menginap di sini. Bagaimana? Ide Nenek sangat bagus bukan?" tanya Shiren ikut merasa senang dengan kunjungan Rose.


"Sangat bagus, Nek. Nenek yang terbaik!" jawab Mona sambil mengacungkan jempol. "Awwww dokter, sakit!.


"Ini hanya akan sakit sebentar saja, Nona Mona. Setelah itu lukanya tidak akan terasa nyeri lagi. Tapi tolong usahakan untuk beberapa hari ke depan jangan terkena air dulu ya. Tunggu lukanya mengering, oke?" pesan dokter.


Mona mengangguk. Setelah dokter selesai mengobati luka di kakinya, Kakek Niel menemaninya pergi keluar. Sedangkan Nenek Shiren, beliau dengan sangat telaten menyeka tubuh cucunya yang masih bermandikan keringat.


"Mona, apa Rose cantik?.


"Dia sangat cantik, Nek. Bahkan tidak ada satupun pria di universitas yang tidak menyukai Rose. Meskipun dia sangat dingin pada semua orang, nyatanya hal itu tidak mengurangi pesonanya. Malah para mahasiswa bilang kalau Rose terlihat sangat badas dan semakin bersinar dengan sikap dinginnya itu. Sahabatku sangat luar biasa kan Nek?" jawab Mona penuh bangga.


Nenek Shiren tersenyum. Sungguh beruntung cucunya yang introvert ini bisa memiliki seorang teman yang luar biasa seperti Rose.


"Tapi Nek, Rose itu sepertinya menyimpan banyak rahasia. Dia itu sangat takut pada hujan dan petir. Oh satu lagi, dia juga sangat phobia terhadap air laut. Aneh kan?.


"Takut pada hujan, petir, dan air laut?" tanya Nenek Shiren heran.


"Iya. Sejauh ini sih hanya itu yang aku tahu, Nek. Tapi tetap saja aku merasa kalau Rose itu menyimpan sebuah rahasia yang sangat besar. Dia penuh misteri, Nek" jawab Mona menggebu.


"Apapun itu sebaiknya kau jangan ikut campur ya. Ingat, persahabatan kalian jauh lebih penting di bandingkan dengan rahasia yang Rose sembunyikan. Kau harus tahu batasan-batasan selama berteman dengannya ya sayang. Jangan sampai membuatnya merasa terkhianati, nanti kau yang akan menyesal!" ucap Nenek Shiren mengingatkan.


Mona mengangguk patuh. Bagi Mona, Rose adalah segalanya. Dia bisa menikmati hidup dengan begini indah semenjak menjadi temannya Rose. Jadi sekalipun Rose adalah seorang penjahat, Mona akan tetap menjadi temannya. Dia akan terus menjaga persahabatan mereka sampai akhir hayat. Mona janjikan itu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...

__ADS_1


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2