
Duaarrrrr
Flyn terperanjat kaget saat pintu ruangan labolatorium miliknya meledak. Segera asap putih mengepul memenuhi semua ruangan yang ada di sana. Bahkan Flyn pun sampai terbatuk-batuk saking banyaknya asap yang muncul.
"Yo yo yo... lihat siapa orang itu, Lorus!"
Sambil menyepak serpihan pintu yang hancur berserakan, Reina melangkah masuk ke dalam labolatorium. Dia kemudian berjalan ke arah Flyn yang tengah berdiri sembari menatapnya tajam.
"Siapa kalian? Beraninya mengacau di tempatku!" sentak Flyn murka.
"Heisshhh, pak tua, tolong buka daun telingamu lebar-lebar ya. Namaku Reinadelwis, kesayanganku biasanya memanggil Reina. Dan pria di sebelahku ini bernama Lorus, sedangkan pria yang lainnya adalah anak buah kami. Perkenalan seperti ini harusnya sudah cukup bukan?" ucap Reina memperkenalkan diri.
Reinadelwis? Lorus? Kenapa nama-nama mereka terdengar seperti nama bunga ya? Sepertinya mereka bukan berasal dari Organisasi Grisi, juga tidak mungkin adalah anak buahnya Nyonya Liona. Lalu darimana mereka datang? Aku tidak memiliki musuh lain selain keluarga itu saja. Siapa mereka?
Reina yang melihat targetnya terdiam bingung nampak menyeringai puas. Dia kemudian menyibak gaunnya dimana ada sebuah benda kecil terselip di antara jaring-jaring yang dia pakai.
"Pak tua, kau mau dengan sukarela menyerahkan diri atau aku perlu sedikit memaksamu agar kau patuh?" tanya Reina sembari menggoyahkan benda kecil yang berisi sebuah cairan aneh.
"Apa kau sedang mengancamku?" sahut Flyn balik bertanya.
Flyn bersikap santai saat menyikapi ancaman yang di lontarkan untuknya. Dia dengan tenang berjalan ke arah kursi yang biasanya dia pakai untuk melakukan berbagai macam percobaan. Sambil menyusun barang-barang miliknya, Flyn mencoba memprovokasi wanita tersebut agar mau mengatakan siapa orang yang telah mengirimnya kemari.
"Aku sebenarnya tidak terlalu suka dengan tamu tak di undang, Nona Reinadelwis. Tapi karena kau dan para pria itu sudah sampai di sini, aku berniat menjamu kalian. Bagaimana kalau kita berbincang terlebih dahulu agar lebih akrab?"
Tanpa pikir panjang Reina langsung melangkah mendekati Flyn. Dia tentu saja tahu kalau si tua bangka ini hendak mencari tahu siapa orang yang telah mengirimnya datang ke labolatorium ini. Lorus yang melihat Reina mendekati musuh segera bersiaga. Dia lalu melirik ke arah orang-orangnya Flyn yang juga telah bersiaga di sekitar mereka. Tapi sedetik kemudian Lorus tersentak kaget. Dia terlambat menyadari kalau di sekelilingnya ternyata adalah....
Brengsek! Rupanya di sini tidak ada satupun manusia selain dia sendiri. Kau benar-benar sangat licik, Flyn. Aku harus sangat hati-hati sekarang. Mutan-mutan ini tidak akan mati meski aku menembakinya sampai peluru habis.
"Siapa yang memberitahumu kalau aku berada di negara ini?" tanya Flyn sambil terus mengotak-atik barang miliknya.
"Yang jelas dia adalah manusia. Sangat cantik dan juga manja," jawab Reina. "Ah, aku perlu memberitahumu satu hal tentang kami. Aku, Reinadelwis, adalah wanita tercantik kedua setelah dia."
"Owh, jadi dia itu wanita ya?"
Wanita? Siapa? Apa mungkin Nona Grizelle? Tapi tidak mungkin, dia kan tak pernah melakukan apapun lagi semenjak Rosalinda hilang. Mustahil kalau Nona Grizelle yang memerintahkan Reinadelwis kemari.
"Pak tua, kalau aku boleh tahu kenapa kau memilih bersembunyi di dekat rumah keluarga Osmond? Dari rumor yang aku dengar bukankah kau adalah seorang pengkhianat di organisasi milik mereka? Aku jadi penasaran darimana kau bisa mendapatkan keberanian sebesar ini. Tolong beritahu aku ya?"
Rahang Flyn tampak mengerat saat dirinya di sebut sebagai pengkhianat. Reina yang melihat hal itupun nampak tersenyum misterius. Dia kemudian melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ya ampun pak tua, waktuku sudah hampir habis. Kau ingin ikut baik-baik dengan kami atau perlu kami paksa?!" ucap Reina penuh nada ancaman.
__ADS_1
"Katakan dulu siapa orang yang telah mengirim kalian kemari. Baru nanti aku akan berpikir untuk ikut pergi bersama kalian atau tidak!" kilah Flyn.
Lorus memicingkan mata saat tidak sengaja melihat pergerakan tangan Flyn yang seperti ingin mengambil sesuatu di bawah meja tempatnya berada. Dia kemudian melihat ke arah Reina sembari mengedipkan mata.
"Hihihi... Flyn, apa kau sedang mengambil sesuatu untuk mencelakaiku?" tanya Reina setelah dia mendapat kode dari Lorus. "Jangan jadi orang jahat, Flyn. Karena kau tidak tahu sedalam apa kejahatan yang bisa dilakukan oleh wanita cantik yang ada di depanmu!"
"Apa maksudmu?"
Sial, darimana dia tahu kalau aku ingin mengambil pistol.
"Hmm....
Flyn kaget bukan main saat tiba-tiba Reina melemparkan jarum yang sangat kecil ke keningnya. Seketika tubuhnya kaku, dia tidak bisa bergerak.
"Kalau kau sedang berhadapan dengan musuh, jangan sekali-kali memberinya kesempatan bahkan untuk sekedar menarik nafas. Karena meskipun waktu yang kau beri hanya beberapa detik saja, itu sudah cukup bagi musuhmu untuk melakukan penyerangan. Seperti sekarang. Kau terlalu lama saat ingin menarik senjata dan lebih memilih untuk membiarkan aku menyerang lebih dulu. Dasar bo doh!" ejek Reina kemudian berjongkok untuk melihat senjata apa yang ingin di ambil oleh Flyn. "Ya ampun, pistol!!!"
Lorus memutar bola matanya jengah ketika mendengar suara jeritan Reina. Bisa-bisanya wanita jadi-jadian ini berteriak seperti orang ketakutan di saat tangannya sendiri sedang menggenggam sebotol cairan yang jauh lebih berbahaya daripada senjata api yang dia lihat. Benar-benar sangat konyol.
"Kau b*nci, apa yang sudah kau lakukan padaku, hah!" umpat Flyn dengan kasar. "Cepat beri aku obat penawarnya sebelum anak buahku menghabisi kalian semua!"
"Huhuhu, aku takut sekali!" sahut Reina manja. "Lorus, cepat tolong aku. Pak tua ini mengancam akan menyakitiku."
"Jangan membuang-buang waktu, Rein. Sebaiknya kita semua segera pergi dari sini sebelum Nona mengamuk!" sahut Lorus jengah.
Sambil bersungut-sungut, Reina mengirim pesan pada Resan agar melumpuhkan sistem komputer yang terpasang di leher para mutan. Dia lalu melihat ke arah Flyn yang sedang memelototinya.
"Apa sih?"
"Lepaskan aku, brengsek!" teriak Flyn dengan nafas memburu.
"Iya nanti akan aku lepaskan. Tapi setelah kau bertemu dengan Nona kami dulu."
"Siapa Nonamu?"
"Rose."
Flyn diam berpikir. Rose? Sepertinya dia tidak pernah memiliki musuh yang bernama Rose.
"Bingung ya? Biar ku perjelas... Rose adalah nama panggilan untuk Rosalinda Osmond. Dia adalah orang yang ingatannya kau hilangkan tujuh belas tahun lalu. Sekarang tidak bingung lagi kan?" ucap Reina kemudian memerintahkan Lorus dan yang lainnya untuk membawa Flyn keluar dari sana.
"R-Rosalinda?"
__ADS_1
"Iya, kenapa memangnya?"
Flyn meringis kesakitan saat punggungnya tertancap serpihan pintu yang berceceran di lantai. Ah, jangan kalian pikir Lorus dan anak buahnya membawa Flyn dengan cara di angkat. Tidak seperti itu. Dua orang di antaranya dengan kejam menarik rambut Flyn kemudian menyeretnya sepanjang jalan keluar menuju mobil. Mereka bahkan tak peduli ketika jalan yang di lewati oleh tubuh Flyn di penuhi darah yang keluar dari luka di punggungnya.
"Aarrggg, sakit. Jangan menyeretku seperti ini!" teriak Flyn tak tahan.
"Diam kau, a*jing k*parat! Rasa sakit yang kau rasakan sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit yang di rasakan oleh Nona kami. Jadi sebaiknya kau diam atau kami akan menggantungmu di atas sarang buaya. Mau!" bentak Lorus jengkel.
Reina yang masih berada di dalam labolatorium segera memerintahkan mutan suruhan Nenek Liona untuk membereskan kekacauan di sana. Setelah itu dia menghubungi Resan untuk mengabarkan kalau mereka akan segera kembali ke Negara S.
"Resan, tolong booking-kan salon terbaik untukku ya. Kecantikanku banyak berkurang setelah bertemu dengan para mutan di sini. Sepertinya aura kebangsawananku di sedot habis oleh mereka!" rengek Reina sambil menatap sedih ke arah kukunya yang tergores.
"Akan kulakukan kalau kau sampai di Negara S sebelum matahari terbit."
"Aih, kau memang yang terbaik Resan. Aku mencintaimu. Muacchh!"
Panggilan langsung terputus setelah Reina memberikan kecupan manja pada Resan. Dia buru-buru keluar dari sana saat mendengar suara teriakan Lorus yang memintanya untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Kau benar-benar pria yang sangat kasar, Lorus. Aku benci padamu."
Lorus melengos.
"Dimana binatang buruan kita?" tanya Reina yang tidak melihat keberadaan Flyn di dalam mobil.
"Di bagasi mobil."
"Owh, aku pikir kabur."
"Aku belum mau mati, Rein."
Reina terkekeh. Dia kemudian mengambil perkakas make-upnya dari dalam tas saat mobil mulai bergerak. Reina dengan senangnya berhias sambil terus bersiul tanpa mempedulikan raut wajah Lorus yang terlihat sangat buruk.
Kalau saja kau bukan orang kesayangan Nona Rose, aku pasti sudah memasukanmu ke dalam karung lalu membuangmu ke Samudra Atlantik, Reinadelwis. Hufftt!
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
__ADS_1
...๐นFb: Rifani...