
Ciiitttt
Sebuah mobil hitam berhenti di depan sebuah club yang terkenal dengan tamu-tamu besarnya. Sedetik kemudian pintu samping mobil tersebut terbuka, lalu keluarlah sepasang kaki jenjang dengan di hiasi sepatu high heels berwarna merah terang. Para tamu dan juga penjaga yang berada di depan club tersebut nampak ternganga begitu melihat kecantikan dari seorang Reinadelwis, wanita mematikan yang terbungkus dalam suatu kesan seksi nan glamour. Ya, Reina datang ke club ini bukan sebagai pengunjung, melainkan sebagai malaikat cantik pencabut nyawa.
"Haiii, tuan tampan. Apa malam ini kau siap mati bersamaku di atas ranjang?" goda Reina sembari mengedipkan mata ke arah salah satu penjaga yang tengah menatapnya. Dia kemudian mengirim kiss jauh hingga membuat penjaga tersebut menelan ludah.
"Jangan menggoda mereka dulu, Reina. Di dalam club itu kita masih mempunyai misi yang sangat penting!" tegur Resan sambil melangkahkan kaki keluar dari dalam mobil.
"Isshh, mengganggu kesenangan orang saja kau. Aku tahu kok kalau kita datang untuk membereskan masalah dengan mereka," sahut Reina bersungut-sungut.
Resan tersenyum. Dia berjalan memutari mobil kemudian menggandeng tangan Reina sebelum akhirnya membawanya masuk ke dalam club. Dan ketika Reina berpapasan dengan penjaga yang tadi dia goda, Reina menyempatkan diri untuk kembali mengedipkan mata. Dia lalu terkekeh saat penjaga tersebut membalas dengan cara me*emas bokongnya.
"Uhh, gatal sekali dia."
"Kau yang mulai duluan. Jadi jangan salahkan mereka kalau kau di sentuh paksa," sahut Resan santai. Dia sudah terbiasa dengan sikap gatal dari rekannya satu ini.
"Kalau saja yang sedang menggandengku adalah Lorus, penjaga itu pasti sudah babak belur di hajarnya. Dasar kau lemah, Resan. Masa iya kau malah membela mereka alih-alih membelaku. Menyebalkan!"
Tanpa mengambil hati gerutuan yang keluar dari mulutnya Reina, Resan malah membawanya menuju meja di mana ada banyak orang yang tengah duduk berkumpul di sana. Ya, orang-orang ini adalah kelompok yang sedang mereka cari. Dan tujuan Resan dan Reina datang menemui mereka adalah untuk bernegosiasi, itu yang pertama. Sedangkan yang kedua, mereka akan menghabisi orang-orang ini tanpa sisa. Salah siapa mereka membuat pemilik kelompok Ma Queen merasa tidak senang, jadi ya sudah terima saja konsekuensinya yaitu dengan menghadapi mereka.
"Yoo, lihatlah siapa yang datang, teman-teman!" ucap Leonal, ketua dari kelompok yang ada di sana.
Mata semua orang langsung tertuju pada dua anak manusia yang dengan begitu berani mendatangi mereka tanpa pengawalan. Setelah itu Leonal kembali mengolok-olok salah satu dari mereka yang datang dengan penampilan begitu seksi.
"Nona, apa kau datang untuk memanaskan malam-malam kami semua di sini?" tanya Lionel.
Di rendahkan seperti itu tak langsung membuat Reina merasa terprovokasi. Dia dengan santai duduk di pinggiran meja tepat di hadapan semua orang sambil menyilangkan kaki jenjangnya. Setelah itu Reina meraih satu gelas kosong kemudian memecahkannya hingga tinggal menyisakan bagian yang runcing.
"Tuan-Tuan sekalian. Aku sama sekali tidak merasa keberatan jika hanya diminta untuk memanaskan malam kalian. Akan tetapi ....
Lionel dan teman-temannya saling menautkan kening saat wanita seksi ini menggantungkan perkataannya. Resan yang melihat ulah Reina hanya diam memperhatikan sembari mencari keberadaan seseorang. Ya, dia yakin kalau di atas Lionel masih ada orang lain yang menjadi otak penargetan kelompok Ma Queen.
Ya, aku mendapatkanmu, kawan.
Ekor mata Reina melirik ke arah Resan ketika mendengar suara helaan nafasnya. Dia kemudian tersenyum, sadar kalau rekannya ini telah menemukan seseorang yang benar-benar sedang mereka cari. Tak lagi membuang waktu, Reina menyayat ujung jari telunjuknya kemudian menjilat darah yang menetes dari sana.
"Siapa kalian?" tanya Lionel waspada begitu menyadari kalau kedua orang ini bukanlah orang sembarangan.
__ADS_1
"Aku?"
Reina terkekeh. Dia kemudian menunjuk seseorang yang tiba-tiba sudah muncul dengan kondisi wajah tertutup masker serta memakai hoodie berwarna hitam. Jika kalian ingat, ini adalah ciri khas dari ketua kelompok Ma Queen yang selama ini selalu merahasiakan identitasnya. Kalian tidak lupa kan?
"S*ittt! Mereka orang-orang Ma Queen!" teriak Lionel kemudian mundur menjauh sambil menodongkan senjata ke arah wanita yang masih asik menjilati darah di tangannya.
"Santai saja, Lionel. Kami datang kemari bukan untuk baku hantam dengan kalian!" ejek Reina tanpa merasa takut. "Ketua kami ingin bernegosiasi!"
Mungkin semua orang yang ada di club ini tidak ada yang menyadari kalau sebenarnya Reina dan Resan datang dengan pengawalan yang sangat ketat. Hanya saja orang-orang yang datang bersama mereka tidak terlihat karena mereka adalah kelompok misterius yang di kirim oleh Nenek Liona. Ya, Resan telah meminta bantuan dari wanita beraura mengerikan itu sebelum datang kemari. Dan orang yang muncul dengan hoodie hitam bukanlah ketua mereka, melainkan salah satu dari kelompok misterius tersebut. Sangat mengerikan bukan?
"Bernegosiasi? Cihh, tidak di sangka ketua kalian ternyata sepengecut ini. Cuihhhh!" sahut Lionel sambil membuang ludah ke arah bawah kaki Reina.
"Ckck, kau angkuh sekali, Lionel. Hati-hati, aku khawatir malam ini kau akan mati dengan lidah terpotong!" ucap Resan kemudian berjalan menghampiri Reina. "Orangnya yang sedang menjadi bartender di sana, Reina. Pergilah kalau kau ingin menyapa."
"Oh wow, aku suka dengan gayanya yang cool itu, Resan!"
Sambil tersenyum semringah Reina segera pergi menghampiri seseorang yang di maksud oleh Resan. Dia kemudian tertawa saja ketika salah satu anak buahnya Lionel menodongkan senjata ke kepalanya.
"Aduhhh, aku takut sekali, Res. Tolong aku!"
"B*ngsat! Beraninya kalian mengacau di sini. Habisi mereka!" teriak Lionel murka.
"HENTIKAN!"
Lionel dan anak buahnya langsung menatap heran ke arah pria tua yang baru saja meminta mereka untuk tidak menyerang. Meskipun bingung, Lionel dan yang lainnya terpaksa menurunkan senjata saat pria tua tersebut menatap mereka dengan begitu datar.
"Selamat malam, Nona Reina. Apa kabar?" tanya Joshua menyapa dengan sangat ramah pada wanita cantik yang kini sudah duduk di hadapannya.
"Kabarku tentu saja sangat baik, Tuan Joshua. Kau sendiri apa kabar? Apa umurmu semakin bertambah muda setelah mengejar kelompok kami tanpa henti?" sahut Reina balas menyapa dengan sopan. "Oh ya. Ngomong-ngomong darimana kau tahu kalau namaku adalah Reina? Apa kau menguntitku?"
"Aku bahkan tahu kalau anak buahmu sempat meretas keamanan di club ini sebelum kau datang kemari. Apa kau benar?"
"Sangat benar, Tuan Joshua. Tidak di sangka ternyata otakmu pintar juga."
Joshua tersenyum. Dia kemudian menekan tombol yang ada di bawah meja tempatnya bekerja.
Sreeeetttt
__ADS_1
"O o o o ..., tidak semudah itu kau memainkan siasat denganku, Tuan Joshua. Trik yang kau mainkan sangat mudah terbaca, apa kau ingin tahu apa penyebabnya?" tanya Reina sembari menahan samurai yang hampir saja menusuk perutnya. Dia sama sekali tidak merasa meski kini tangannya sudah berlumuran darah.
"Hmmm, kau tidak selemah yang aku bayangkan ternyata," jawab Joshua kemudian mengelap tangannya sampai bersih. Setelah itu dia ikut duduk sambil tangannya menekan tombol agar samurai itu kembali masuk ke tempatnya. "Katakan apa penyebabnya."
"Penyebabnya adalah karena kau yang bodoh dengan menargetkan ketua kami sebagai pelampiasan atas kegagalanmu mendapat pasokan senjata dari kelompok kami. Benar kan?"
"Sebenarnya aku ingin menjawab tidak. Tapi karena kau sudah begitu yakin dengan kata-kata itu, jadi aku akan menjawab iya."
Setelah berkata seperti itu pandangan Joshua beralih pada sosok berhoodie yang sejak tadi hanya diam tanpa bereaksi apapun. Joshua benar-benar merasa sangat penasaran dengan rupa dari kelompok Ma Queen karena selama ini sosok tersebut selalu saja sangat misterius.
"Minta ketuamu untuk menunjukkan wajahnya. Maka aku dan kelompok lainnya akan langsung berhenti untuk tidak mengusik kelompokmu lagi!" ucap Joshua meminta syarat untuk menyelesaikan negosiasi yang di inginkan oleh kelompok ini.
"Apa? Ingin melihat wajah ketua kami?"
Reina menoleh ke arah Resan kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Langkahi dulu mayat kami berdua, baru kau dan anak buahmu yang to lol itu bisa melihat langsung seperti apa rupa dari pemimpin kelompok Ma Queen. Bagaimana?" tanya Reina sembari bertopang dagu.
"Oh, jadi kau ingin menyatakan perang dengan kelompokku, hah?" sahut Joshua terprovokasi. Dia sangat marah sekarang.
"Kenapa tidak? Kalian para bedebah memang sudah sepantasnya untuk di musnahkan. Tunggu apalagi, cepat minta anak buahmu untuk menghabisi kami!" tantang Reina tanpa merasa gentar sama sekali.
Brrraaaaakkkk
"Lionel, bunuh mereka semua sampai tak bersisa. Kecuali dia!" teriak Joshua seraya menunjuk ke arah sosok berhoodie yang kini malah duduk dengan santai di salah satu meja.
"Baik, bos!" sahut Lionel kemudian memerintahkan orang-orangnya untuk mulai menyerang.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1