Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Kemeja Dan Mawar Putih


__ADS_3

Dengan langkah lebar Adam berjalan menuju kamar apartemennya. Dia sudah tidak sabar ingin segera melihat wajah istrinya yang cantik itu.


"Rose pasti akan sangat suka dengan hadiah ini. Hmmm, sangat cantik. Sama seperti kecantikannya yang membuatku tergila-gila," gumam Adam sembari menatap hadiah di tangannya.


Ya, ketika Adam melewati sebuah toko bunga saat dalam perjalanan pulang, dia meminta Cesar untuk singgah di sana. Adam tiba-tiba saja ingin membelikan istrinya seikat bunga yang memiliki kesamaan nama dengannya. Rose adalah istrinya, sedangkan hadiah yang dia bawa adalah sebuket bunga mawar berwarna putih. Nama yang sama dengan keindahan yang sama pula. Sungguh estetik ๐Ÿ’œ


"Apa kau sedang dalam mode romantis, Dam? Dan apa kau yakin kalau Rose akan menyukai hadiah pemberianmu ini? Aku rasa tidak. Karena yang aku dengar, istrimu itu tidak menyukai bunga meskipun namanya sendiri berasal dari bunga-bungaan. Tapi ya sudahlah, terserah kau saja. Aku hanya bisa mendoakan semoga hadiahmu ini bisa di terima dengan baik olehnya. Hehe."


Kurang lebih seperti itulah ejekan yang di layangkan oleh Cesar saat melihatnya membeli sebuket bunga mawar putih. Sebenarnya Adam sendiri merasa ragu apakah Rose akan menyukai hadiah seperti ini atau tidak. Karena memang benar faktanya kalau Rose tidak menyukai hal-hal yang berbau romantis seperti ini karena istrinya itu adalah tipe wanita yang to the point. Atau bisa kita sebut sebagai orang yang lebih suka membuktikan melalui tindakan secara langsung daripada melakukan hal-hal sepele seperti ini. Tapi biarpun demikian, Adam tetap ingin melakukannya. Sesekali dia ingin mengubah suasana yang hot dan panas menjadi sesuatu yang manis dan berkesan.


"Hmmm, semoga saja kau suka dengan hadiahku ini, Hon," ucap Adam kemudian mencium bunga yang dia bawa. "Sialan, kenapa dadaku jadi berdebar-debar seperti ini sih. Aku dan Rose kan sudah menikah, masa iya aku merasa malu. Seperti remaja saja kau, Dam."


Adam terkikik geli setelah berargumen sendiri. Dia lalu menarik nafas dalam-dalam sesaat sebelum masukkan pin untuk membuka pintu apartemennya.


Ceklek


"Kau sudah pulang?"


Rose yang memang sudah menunggu kepulangan Adam langsung berdiri untuk menyambutnya. Matanya tampak melirik ke arah tangan suaminya yang di sembunyikan di belakang punggung.


"Apa ada yang salah?" tanya Rose pelan.


Adam berdehem. Dia lalu berjalan mendekat ke arah Rose kemudian merengkuh pinggangnya.


"I miss you," bisiknya.


"Hmm," ...


"Tidak mau membalasku, hem?" tanya Adam gemas mendengar respon istrinya yang hanya hm saja.


"Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku, Dam," jawab Rose dengan suara yang sedikit manja.


Sepulang dari menemui ayahnya Adam, Rose langsung memuntahkan seluruh makanan yang masuk ke dalam perutnya. Dan setelah itu dia langsung di dera perasaan aneh, yaitu merindukan aroma tubuh suaminya. Tak tahan menunggu kepulangan Adam, Rose lalu memutuskan untuk memakai kemeja putih milik suaminya untuk menghalau perasaan tersebut. Dia bahkan hampir tertidur saking perasaannya menjadi sangat tenang begitu membaui aroma parfum suaminya yang melekat di kemeja putih tersebut.


"Hei, aku baru sadar kau memakai kemejaku, Hon. Kenapa? Apa kau begitu merindukan aku?" tanya Adam yang baru menyadari kalau istrinya ini memakai salah satu kemeja miliknya.


"Iya," jawab Rose jujur.


"Lalu kenapa tadi kau tidak membalas ucapan rindu dariku?"

__ADS_1


Rose tersenyum. Dia lalu merebahkan kepalanya ke dada Adam, menghirup dalam-dalam aroma maskulin yang menguar kuat dari tubuh suaminya ini. Sedetik kemudian melintas di pikiran Rose tentang percakapannya dengan Tuan Zidane. Seketika mood Rose langsung berubah. Antara marah dan juga iba, kedua perasaan tersebut bercampur menjadi satu yang mana membuat kedua tangan Rose memeluk pinggang Adam dengan sangat kuat. Dia merasa bimbang sekarang.


Eh, kenapa Rose memelukku dengan begini erat? Ini jelas bukan pelukan yang seperti biasanya. Apakah ada hal buruk yang terjadi saat aku tidak ada?


"Honey, you oke?" tanya Adam khawatir. Dia sampai lupa untuk memberikan hadiah yang dia bawa.


"Tidak!" jawab Rose. "Aku tidak sedang baik-baik saja, Dam."


Dengan cepat Adam melepaskan pelukan Rose kemudian menangkup kedua pipinya. Barulah dia terkenang dengan bunga yang dia bawa saat Rose seperti terpana melihat apa yang ada di tangannya.


"Apa bunga itu untukku?" tanya Rose sambil tersenyum manis.


"Tentu saja bunga ini untukmu, Honey. Maaf, sedikit terlupakan tadi," jawab Adam kemudian menyerahkan buket bunga tersebut pada istrinya. "Aku tidak tahu kau akan menyukainya atau tidak. Mawar putih ini aku beli saat tidak sengaja melihat toko bunga dalam perjalanan pulang kemari."


"Aku suka. Aku suka semua hal yang kau beri, Dam. Terima kasih," sahut Rose dengan senang hati menerima pemberian suaminya.


Sambil terus tersenyum, Rose memindahkan bunga-bunga tersebut ke dalam sebuah vas berukuran sedang. Dia lalu mengisinya dengan air agar bunga mawar tersebut tetap segar hingga esok hari.


Adam yang melihat tingkah lucu istrinya menjadi sangat gemas. Dia membuka jasnya lalu berjalan perlahan ke arah Rose kemudian memeluknya dari belakang. Mata Adam terpejam saat indra penciumannya menangkap aroma wangi memabukkan yang berasal dari rambut panjangnya Rose. Dia terbuai.


"Apa kau sudah makan malam, Dam?"


"Tapi aku sedang merasa sangat lelah. Bisakah malam ini kita hanya berpelukan saja?" tanya Rose sedikit tak enak hati.


Ya, tubuh Rose seperti meriang-meriang setelah memuntahkan semua makanan yang dia makan tadi. Dia juga merasa sangat lemas seperti tidak memiliki tenaga. Jadi dengan berat hati terpaksa dia meminta izin pada Adam kalau malam ini mereka tidak bisa bercinta dulu. Bukan karena dia ingin lari dari kewajiban, tapi tubuhnya memang benar-benar sedang tidak bisa di ajak kerjasama.


"Honey, apa kau sedang sakit? Tidak biasanya kau menolakku seperti ini?" tanya Adam heran.


"Sebenarnya tadi aku sempat muntah-muntah, Dam. Mungkin aku masuk angin karena beberapa hari lalu kurang tidur. Dan sekarang tubuhku terasa begitu lemah, kakiku seperti tidak ada tulangnya," jawab Rose jujur.


Tanpa memberi komando apa-apa, Adam dengan cepat mengangkat tubuhnya Rose kemudian membawanya ke ranjang mereka. Dia lalu merebahkannya dengan sangat hati-hati.


"Kenapa tidak menghubungi aku, Hon? Bagaimana kalau tadi kau sampai pingsan? Aku bisa mati jika sampai terjadi sesuatu padamu."


Satu tangan Rose bergerak mengusap alis mata suaminya yang begitu tebal. Dia tersenyum, Rose selalu suka melihat cara Adam mengkhawatirkannya.


"Aku melakukannya karena tahu kau sedang dalam perjalanan pulang. Kau pasti akan langsung meminta Cesar untuk menyetir gila-gilaan jika tahu aku sedang muntah-muntah," ucap Rose menjelaskan.


"Itu wajar untuk aku lakukan, Hon. Kau adalah hidupku. Aku mana bisa tenang jika ada hal buruk sedang terjadi padamu. Meski aku sedang berada di negara lain sekalipun, aku pasti akan langsung pulang saat tahu kau sedang membutuhkan aku. Jadi tolong lain kali jangan menahannya lagi ya? Aku sangat mencintaimu, Honey. Aku tidak rela kau kenapa-napa!" sahut Adam dengan tatapan yang begitu khawatir.

__ADS_1


"Maaf. Lain kali aku tidak akan melakukannya lagi, Dam."


"Promise?"


"Yah, i'm promise."


Adam menghela nafas sebentar. Dia kemudian mencium keningnya Rose lalu turun ke kedua matanya.


"Apa perlu aku panggilkan dokter untuk memeriksamu?" bisik Adam.


Rose menggeleng.


"Aku lebih membutuhkan pelukanmu daripada ocehan dokter."


"Kalau begitu biarkan aku memelukmu."


"Tidak mandi dulu?"


"Tubuhku tidak akan berbau meski aku tidak mandi dua hari."


Adam terkekeh. Dia lalu berbaring di sebelah Rose kemudian memeluknya dengan erat.


"Aroma tubuhmu membuat mataku menjadi mengantuk, Dam," ucap Rose sambil menutup mulutnya yang ingin menguap.


"Tidurlah kalau begitu, Hon. Aku akan menjagamu sampai kau benar-benar terlelap di alam mimpi."


Dengan lembut Adam membelai-belai punggung istrinya. Hingga tak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus yang menandakan kalau istrinya ini sudah benar-benar terlelap ke dunia mimpi.


"Kenapa sejak semalam sikapmu sedikit berbeda, Hon? Semua ini terjadi bukan karena ada hal buruk yang kau sembunyikan dariku bukan? Aku sangat khawatir padamu, Honey. Aku takut kehilanganmu," gumam Adam sambil memandangi wajah istrinya yang terlihat begitu cantik. Rose begitu damai dalam tidurnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2