
"Grace sayang, kau sedang apa?" tanya Vanya sembari melongok ke dalam kamar putrinya.
Mendengar suara sang ibu, cepat-cepat Grace mematikan rokok yang sedang dia nikmati di dalam kamar mandi. Setelah itu dia membuangnya ke dalam kloset, menyikat giginya dengan terburu-terburu lalu membasuh wajah. Setelahnya barulah dia keluar dari sana.
"Grace, kau dimana sayang?" tanya Vanya lagi sambil melangkah masuk ke dalam kamar.
"Aku di sini Ma" jawab Grace.
Vanya menelisik wajah putrinya yang terlihat gugup. Dia curiga jangan-jangan putrinya melakukan sesuatu yang buruk di dalam kamar mandi.
"Kenapa menatapku sampai seperti itu sih Ma?" protes Grace merasa tak nyaman ditatap sedemikian rupa oleh sang ibu.
"Apa yang sedang kau lakukan di dalam kamar mandi, Grace?" tanya Vanya curiga.
"Shoping,"
Vanya membelalakkan mata. Dia lalu mendesah panjang.
"Mama tidak sedang bercanda ya,"
"So?"
Dengan kesal Grace berjalan menuju ranjang. Dia duduk di tepiannya lalu menatap sang ibu yang terus saja melihat ke arah kamar mandi. Grace merutuki kebodohannya sendiri yang lupa mengunci pintu kamar. Untung saja tadi ibunya tak langsung meringsek masuk, bisa hancur dunia persilatan jika ibunya tahu dia sedang menikmati rokok yang sudah dicampur dengan... errr narkoba. Jujur, hal ini belum lama terjadi. Grace menjadi pecandu karena tidak sengaja mencicipi cemilan haram milik sahabatnya. Sejak saat itu Grace merasa ketagihan dengan sensasi melayang yang diberikannya. Dan selama satu bulan ini dia tak bisa lagi lepas dari cemilan haram tersebut.
"Grace, Mama ingin bicara denganmu" ucap Vanya sembari mendudukkan bokongnya di tepi ranjang. "Bantu Mama menjodohkan kakakmu dengan anak dari teman arisan Mama."
"Ma, Mama tahu sendiri bukan kalau Kak Adam itu bukan orang yang bisa diatur-atur? Bukannya aku tidak mau membantu, tapi ini kedengarannya sedikit mustahil" sahut Grace.
"Tapi Grace, Mama perlu ini untuk melindungi posisi kita berdua di keluarga Clarence. CL Group semakin besar, kalau kakakmu tidak menikah dengan wanita yang bisa Mama kendalikan Mama khawatir kedatangannya akan membuat posisi kita terancam. Kau tahu bukan kalau seluruh aset milik Papamu akan dialihkan untuk Adam? Ini sangat berbahaya asal kau tahu."
Grace menarik nafas panjang. Pikirannya sedikit melayang, dan ini rasanya indah. Namun sebisa mungkin Grace menjaga sikapnya karena tak ingin sang ibu tahu kalau sekarang dia adalah seorang pecandu. Sambil terus mengendus pelan, Grace kembali meladeni perkataan sang ibu.
"Lalu Mama ingin aku bagaimana?"
Grace ini kenapa ya? Sejak tadi aku perhatikan hidungnya terus saja mengendus, tatapan matanya juga terlihat aneh. Dia tidak sedang melakukan sesuatu yang buruk kan?
"Bantu Mama membujuk kakakmu untuk menerima perjodohan ini" jawab Vanya sambil terus memperhatikan gelagat putrinya yang tidak biasa.
__ADS_1
"Itu pekerjaan paling menakutkan untukku" sahut Grace keberatan. "Mama kan tahu bagaimana hubunganku dengan Kak Adam? Kami tidak terlalu dekat, bahkan mengobrol pun jarang. Lalu bagaimana caranya aku bisa membujuknya dengan keadaan seperti ini? Mama melantur ya?"
"Usahakan dulu, Grace. Kali ini Mama benar-benar membutuhkan bantuanmu."
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?.
Vanya dan Grace terperanjat kaget saat mendengar suara Zidane. Mereka berdua sontak menoleh ke arah pintu.
"Papa,"
"Zidane, apa yang kau lakukan di sana? Membuat orang kaget saat" tegur Vanya sedikit kesal.
Mau apalagi pak tua ini. Mengganggu saja.
Zidane melangkah masuk ke dalam kamar kemudian berjalan menghampiri anak dan istrinya. Ekor matanya melirik ke arah Grace, tersenyum samar saat melihat ada yang aneh di raut wajahnya.
"Aku tidak menemukan kalian dimana-mana. Jadi ya sudah aku datang kemari saja" sahut Zidane. "Grace, ini kan libur. Tumben sekali kau tidak pergi bermain dengan teman-temanmu."
Di tanya seperti itu membuat Grace merasa sedikit gelisah. Sebodoh-bodohnya Grace, dia tentu bisa merasakan kalau pertanyaan sang ayah sedang menjurus pada sesuatu hal. Karena selama yang dia tahu, ayahnya jarang sekali bersikap manis kepadanya. Bahkan ada kalanya Grace melihat kilatan yang aneh di mata sang ayah, yang mana hal itu membuat seluruh tubuhnya merinding hebat.
"Bukannya membatasi, Papa hanya tidak ingin kalian semakin berkelakuan tidak baik. Keluarga Clarence adalah keluarga terhormat, kita adalah keluarga konglomerat yang akan selalu di awasi oleh mata semua orang. Karena itulah Papa sedikit mengurangi pergaulanmu yang tidak penting!" jawab Zidane berpura-pura simpatik.
"Itu sama saja Pa,"
Vanya segera menengahi percakapan antara anak dan suaminya. Mumpung Zidane sedang baik, Vanya berencana membahas tentang perjodohan Adam dengan suaminya ini.
"Zidane, anak dari teman arisanku sudah kembali ke Negara S. Bagaimana kalau kita mengatur pertemuan untuk Adam dan gadis itu. Bukannya ingin memaksakan kehendak, hanya saja sekarang sudah waktunya bagi Adam untuk membina rumah tangga. Sebagai orangtua, wajar bukan kalau kita memikirkan masa depan putra kita?"
Untuk beberapa saat Zidane hanya diam tak menanggapi perkataan Vanya. Dia sedang memikirkan keuntungan dari perjodohan ini. Terbayang akan kedekatan Adamar dengan Rose, tiba-tiba saja membuat darah Zidane mendidih. Dia tentu tidak ingin gadis tanpa asal-usul yang jelas itu masuk ke dalam keluarganya. Zidane akhirnya memutuskan untuk setuju dengan niatan Vanya yang ingin menjodohkan Adamar dengan anak temannya. Dengan begini segalanya akan selalu berada dalam pantauan Zidane.
"Apa kau sudah melihat rupa dari anak temanmu itu?" tanya Zidane.
Bola mata Vanya langsung berbinar cerah saat suaminya memberikan tanggapan yang baik. Cepat-cepat Vanya mengeluarkan ponselnya untuk memperlihatkan foto gadis yang akan dia jodohkan dengan Adam.
"Sudah, namanya Ghea. Dia dari keluarga Lesham."
Zidane mengambil ponsel dari tangan istrinya lalu menatap lekat ke arah gadis bernama Ghea itu. Ada raut tidak suka ketika Zidane melihat kecantikan di diri gadis tersebut. Namun dia berusaha untuk menutupinya sambil mengangguk-anggukkan kepala.
__ADS_1
GHEANA LESHAM
"Kelihatannya gadis ini tidak bodoh. Kau yakin akan menjodohkan Adamar dengannya?" tanya Zidane setelah puas memandangi foto gadis tersebut.
"Yakin sekali. Selain cantik, Ghea juga menyandang gelar sebagai master desain di salah satu universitas terbaik di Aussy. Temanku bilang Ghea adalah gadis yang baik dan penurut, alur hidupnya selalu positif" jawab Vanya dengan bangga.
"Ya sudah, kalau begitu kau atur saja perjodohan mereka. Nanti aku yang akan meminta Adamar untuk menemui Ghea,"
"Baiklah,"
Setelah berkata seperti itu Zidane berjalan keluar dari dalam kamar putrinya. Tanpa disadari oleh Vanya dan Grace, seulas seringai licik muncul di bibirnya. Satu masalah telah teratasi, hanya tinggal memoles Ghea agar menjadi gadis sekaligus menantu yang bisa dia kendalikan. Zidane benar-benar terpuaskan kali ini.
"Nah Grace, kita selamat sekarang" ucap Vanya penuh kegembiraan.
Grace menarik nafas. Dia sebenarnya merasa aneh dengan sikap ayahnya barusan.
"Kenapa sayang? Kau kelihatannya tidak senang dengan kabar ini?"
"Ma, apa Mama tidak merasa aneh dengan sikap Papa? Selama ini kan Papa tak pernah suka tiap kali Mama ingin menjodohkan Kak Adam. Tapi kenapa tadi Papa langsung setuju ya? Firasatku bilang ada yang sedang direncanakan oleh Papa, Mama harus hati-hati" ucap Grace mengungkapkan kekhawatirannya.
"Ck, kau ini bicara apa sih Grace. Papa-mu seperti itu pasti karena sudah terpesona oleh Ghea, makanya dia langsung setuju!" omel Vanya. "Sudahlah, Mama mau pergi dulu menemui ibunya Ghea untuk membahas tentang perjodohan ini. Kau bersihkanlah tubuhmu dulu. Mama lihat beberapa minggu ini auramu terlihat meredup, seperti orang yang kurang istirahat."
Grace segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia baru menoleh lagi ketika mendengar suara pintu kamar yang ditutup.
"Huftttt, hampir saja ketahuan."
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1