
"Wawww, tidak kusangka ternyata kau mempunyai bangunan semewah ini, Nona Rose. Aku takjub," ucap Marlyn memuji kemewahan bangunan tempat dia datang bertamu. Matanya tak bosan memperhatikan setiap hiasan unik yang terpasang di bangunan megah ini.
"Silahkan duduk Nyonya Marlyn, Tuan Paolo. Adalah kehormatan yang sangat besar untuk kami menerima tamu agung seperti kalian!" sahut Reina sambil tersenyum ramah.
Aku tidak percaya mereka masih tetap awat muda meskipun usia mereka sendiri hampir 150 tahun. Pantas saja para gadis perawan selalu saja hilang secara misterius di bulan-bulan tertentu. Ternyata ini alasannya. Hmmmm.
"Nona Reina, kalau kau tertarik memiliki kecantikan abadi sepertiku, aku tidak keberatan untuk berbagi rahasianya padamu," ucap Marlyn tanggap akan apa yang sedang di pikirkan oleh wanita cantik bergaun merah ini. Dia lalu mendekatkan wajah ke samping telinganya. "Kau hanya perlu datang padaku sambil membawa beberapa gadis suci yang nantinya akan menjadi penjamin kecantikan abadimu. Percayalah, setelah itu kau akan menjadi manusia paling bahagia di muka bumi ini. Kau akan menjadi ratu di atas ratu, dan juga akan menjadi makhluk abadi seperti aku dan suamiku. Sungguh!"
Seringai licik muncul di bibir Reina setelah dia di bisiki kata-kata yang membuat emosinya tersulut. Namun sebisa mungkin Reina menahan diri agar tidak terpancing karena memang inilah yang di harapkan oleh Marlyn dan Paolo. Setelah itu Reina mendorong kasar tubuh Marlyn agar menjauh darinya. Dia jijik.
"Cihhhh, daripada aku harus menghilangkan nyawa para gadis yang tidak bersalah hanya demi sebuah kecantikan abadi, aku lebih memilih untuk mati membusuk di dalam perut bumi. Lagipula untuk apa aku bersusah payah bersekutu dengan para iblis kalau kecantikanku saja jauh lebih menonjol di bandingkan dengan kecantikanmu. Heh!" ucap Reina dengan ketus.
Marlyn terkekeh. Dia kemudian duduk di atas pangkuan suaminya yang sejak tadi terus saja memandangi si tuan rumah yang memang sangat cantik. Namun, Marlyn tahu kalau sikap suaminya ini bukan berdasarkan atas rasa ketertarikan, melainkan karena ada sesuatu yang dilihatnya.
"Aku tahu kau mungkin tidak bisa mati dengan mudah, tapi jika aku memasukkan bom ke dalam mulutmu kemudian meledakkannya, dengan raga siapa kau akan melanjutkan hidup, hah?" tanya Adam emosi saat Paolo dengan tidak sopannya terus menatap Rose.
"Kelak anakmu akan terlahir dengan sebuah kesakitan yang sangat luar biasa. Dia seperti kayu, keras dan juga kaku. Ini bukan kutukan, tapi adalah pecahan sumpah-serapah atas dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh keluargamu di masa lalu. Tapi percayalah, bayi itu nantinya akan menjadi pemimpin yang begitu tegas. Kalian harus percaya itu!" ucap Paolo sembari memainkan bibirnya.
Sungguh wanita yang sangat istimewa. Bahkan para iblis yang bersemayam di tubuhku menolak untuk melihat masa lalumu. Hmmm, kau siapa sebenarnya, Nona?
"Lepaskan Mona!" Rose bicara langsung tanpa ada basa basi. Dia berusaha untuk tidak termakan hasutan yang tadi di ucapkan Paolo tentang nasib masa depan anaknya.
__ADS_1
"Hmmm, kau meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa kami berikan, Nona Rose!" sahut Marlyn dengan santai. "Aku dan Paolo hanyalah sepasang suami-istri biasa yang mendiami sebuah rusun sederhana. Jadi kami mana mungkin rela melepaskan seekor domba yang bisa menghantarkan kami ke peradaban dunia yang baru. Mona istimewa. Karena hanya dia satu-satunya keturunan yang bisa terbebas dari kejaran anggota kami. Mona sangat berharga untuk kami berdua, Nona Rose. Jadi maaf, keinginanmu tidak bisa kami kabulkan. Benar begitu kan, sayang?"
"Ya, kau benar, Marlyn," jawab Paolo dengan sangat tenang. "Kami dan kalian berjalan di alur yang berbeda, dan kami tidak tertarik untuk ikut campur dalam hidup kalian. Ada baiknya jika kalian bisa mempunyai pemikiran yang sama juga seperti kami agar keberlangsungan dunia ini bisa terus seimbang. Biarlah kami menangani orang-orang yang memang sejak awal sudah terlibat dengan kami, jangan di ganggu. Kami ini tidak suka mencari musuh, kami hanya ingin ketenangan. Sungguh,"
"Dengan cara menumbalkan nyawa seorang gadis yang tidak tahu apa-apa? Iya?" tanya Rose.
"Nona Rose, kau salah jika menganggap kami seperti itu. Yang kami kejar adalah mereka yang telah menikmati kemakmuran pemberian LuxFeer. Walaupun kami seperti ini, kami juga memiliki adap untuk tidak mencelakai orang yang tidak bersalah. Kami masih memiliki hati nurani seperti kalian!" jawab Marlyn seraya tersenyum manis.
Note: (LuxFeer 👉 adalah bahasa Latin dari iblis yang biasa di kenal dengan sebutan iblis Lucifer. Kalau ada yang salah pengertian, mohon di bantu untuk koreksi)
"Nyonya Marlyn, Mona adalah sahabatku. Tidakkah ada jalan yang bisa membuatnya terlepas dari perjanjian dengan yang di puja oleh kalian?"
"Tidak ada!"
"Karena dia di takdirkan untuk menjadi istrinya LuxFeer," jawab Paolo. "Darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah suci, dan LuxFeer menginginkannya. Tapi jika kau tetap memaksa, silahkan berurusan dengan LuxFeer. Kami tidak bisa membantumu!"
Reina menggigit ujung kukunya ngeri setelah mendengar perkataan Paolo. Yang benar saja mereka yang manusia diminta untuk berurusan dengan iblis. Seperti apa bentuk LuxFeer saja Reina tidak tahu, ya kali mereka harus berurusan dengan makhluk tak kasat mata. Hiiiii.
"Nona Rose, LuxFeer pernah mengatakan kalau dia tak serta-merta menerima penyerahan diri dari para manusia yang putus asa secara asal. Ada masa di mana LuxFeer mengingatkan mereka tentang resiko menjual diri pada sekelompok setan di mana jika mereka sudah terlanjur menyanggupi, maka selamanya dan semua keturunannya akan terikat dengan perjanjian tersebut. Dan Mona adalah garis keturunan terakhir di keluarganya. Sebenarnya bisa-bisa saja untuk Mona tetap hidup. Akan tetapi dia harus bersedia bergabung dengan kami untuk melanjutkan perjanjian yang seharusnya diwarisi oleh ibunya. Tapi dari pengamatan yang kami lakukan selama ini, sepertinya Mona tidak berkenan untuk menjadi bagian dari kami. Karena itulah dia di buru. Semua anggota berlomba-lomba agar bisa mempersembahkan darah yang sangat di inginkan oleh LuxFeer dengan tujuan agar mereka bisa mencapai kemakmuran seperti yang kami dapatkan. Lihatlah, sedikit lagi kami akan segera menjadi makhluk abadi!" ucap Marlyn menjelaskan dengan sedikit mendetail tentang keistimewaan kelompoknya.
"Dasar biadap kalian semua. Bagaimana bisa iblis sialan itu mengunci kehidupan manusia dengan perjanjian yang sangat tidak masuk akal. Harusnya dia tidak mengambil nyawa para keturunan yang menolak untuk menjadi bagian dari kalian. Tidak ku sangka ternyata para iblis bisa egois juga. Menjijikkan. Ciuhhhh!" amuk Reina tak tahan mendengar penjelasan Marlyn. Emosinya seketika memuncak setelah mengetahui fakta kalau Mona bisa tetap hidup dengan syarat bersedia untuk bergabung menjadi anggota sekte. Benar-benar k*parat.
__ADS_1
"Bukan LuxFeer yang bersalah, tapi manusia itu sendiri yang bodoh. Saat sedang putus asa, kenapa mereka tidak datang dan memohon pada Tuhan saja. LuxFeer tidak pernah meminta mereka untuk datang padanya, tapi para manusialah yang datang dengan kemauan dan keserakahannya. Termasuk kami!" sentak Paolo tak terima saat junjungannya di hakimi. Matanya sampai berkilat marah.
"Tapi kalian ....
"Reina, tahan emosimu!" ucap Adam mencegah Reina agar tidak semakin terpancing amarah yang memang sengaja dimainkan oleh kedua tamu menjijikkan itu.
Rose menghela nafas. Inilah kenapa Rose sangat amat membenci aliran sesat yang berkedok sekte. Namun, di balik itu semua ucapan Marlyn ada benarnya juga kalau perjanjian sesat tersebut tidak mungkin terjalin jika bukan si manusia itu sendiri yang mendatangi LuxFeer. Rasa keputus-asaan terkadang memang bisa membuat seseorang menjadi gelap mata. Dan salah satu contohnya ya dengan cara menggadaikan kehidupan mereka pada iblis tanpa memikirkan nasib para keturunannya kelak. Jika sudah seperti ini maka Rose tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk menyelamatkan Mona. Harapannya pupus di tengah jalan.
"Nona Rose, aku sarankan lebih baik kau biarkan Mona kembali ke tempat yang seharusnya. Karena jika kalian terus menahannya, LuxFeer pasti marah dan kemarahannya itu bisa merenggut kehidupan dari orang-orang yang berada di dekatnya Mona. Tapi kalau kau tidak percaya, kau boleh mencobanya!" ucap Paolo penuh penekanan.
"Jangan mengancam istriku!" hardik Adam tak terima.
"Hmmm, aku rasa pertemuan kita cukup sampai di sini saja karena kami harus segera pergi mengawasi calon istrinya LuxFeer. Sampai jumpa!"
Setelah berkata seperti itu Marlyn mengajak Paolo untuk pergi meninggalkan kediaman Rose. Wajah keduanya terlihat sangat bahagia karena setelah ini sudah tidak ada orang yang akan menghalangi rencana mereka untuk mendapatkan keabadian.
"Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucap Rose gelisah.
"Honey, jangan sedih. Sampai di titik ini kau sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi Mona. Aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi kita tidak mungkin melawan sesuatu yang memang sudah di takdirkan memiliki garis hidup yang seperti itu. Mona adalah bagian dari mereka, dan rela tidak rela kita harus bisa merelakannya. Oke?" sahut Adam mencoba untuk menguatkan Rose. Keputusan ini sangatlah sulit, tapi hanya ini jalan satu-satunya untuk melindungi keselamatan anggota keluarga yang lain.
Rose diam tak menyahut. Wajahnya murung. Rose kecewa karena pada akhirnya dia tetap gagal untuk melindungi Mona-nya.
__ADS_1
Maafkan aku, Mona. Aku hanya bisa sampai di batas ini untuk menjagamu. Maafkan aku,
***