Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Sedikit Melunak


__ADS_3

“Baiklah!” sahut Adam pada seseorang yang sedang berbicara dengannya lewat telepon. “Pastikan Royce tidak bisa menemukan kunci ke ruangan itu. Biarkan saja kalau dia mau menguasai bagian luar gudang, itu tidak masalah.”


“Baik, Tuan Marcellino. Mereka mungkin sebentar lagi akan segera tiba, haruskah kami mengendurkan keamanan di tempat ini?”


“Jangan. Kalian tetaplah berjaga seperti biasa dan usahakan menghindar dari serangan mereka. Buatlah seakan keadaan di sana sangat terdesak lalu tarik semua penjaga yang ada di sana dan bersembunyilah. Kalau kalian tiba-tiba bersikap santai, Royce dan anak buahnya pasti akan curiga. Dan aku tidak mau kecurigaan mereka sampai menyasar pada keselamatan anak dan istriku. Paham?”


Adamar diam mendengarkan perkataan anak buahnya yang mencegah agar panggilan itu jangan dimatikan dulu. Jujur, Adam sebenarnya agak kaget saat anak buahnya mengirimkan pesan dengan mengatakan kalau saat ini Royce berniat menyerang gudang harta karun yang telah dipersiapkan khusus oleh Adam untuk istri tercintanya, Rose. Namun bukan berarti Adam tak menduga kalau hal ini cepat atau lambat akan terjadi. Di awal Adam mulai mencaritahu tentang Rose, itu adalah karena Royce yang meminta bantuannya untuk menyelidiki latar belakang wanita misterius yang kala itu begitu irit bicara. Karena menghargai persahabatan mereka, Adam tanpa ragu menyetujui keinginan Royce. Namun siapa yang akan menyangka kalau Adam malah jatuh cinta pada wanita yang sedang diintainya, lalu tak sengaja mengetahui rencana jahat Royce yang ternyata ingin membunuh Rose. Dia syok, itu sudah pasti. Saat Royce meminta bantuannya, Royce hanya mengatakan kalau Royce merasa sangat amat penasaran tentang organisasi mana yang menjadi dekingnya Rose sehingga data-data pribadi milik Rose bisa begitu sulit ditembus. Dan begitu Adam mengetahui semua penderitaan Rose yang di sebabkan oleh Royce dan Tuan Eden, pikiran Adam perlahan-lahan mulai berubah. Dia merasa ditipu, tapi juga tak bisa menyalahkan Royce sepenuhnya. Alhasil Adam memutuskan untuk bersikap netral sebelum akhirnya Adam memilih untuk tetap berpihak pada Rose setelah tahu kalau Rose hamil. Juga setelah anak buahnya berhasil mengumpulkan tentang bukti-bukti kecurangan yang coba Royce sembunyikan darinya. Royce Xia, sahabat yang sudah seperti bayangannya sendiri ternyata memiliki niat untuk mengambil alih semua hal yang Adam miliki. Awalnya Adam menolak untuk mempercayai informasi tersebut. Tapi sekarang, sekarang Adam benar-benar sudah sangat yakin akan berperang melawan keserakahan Royce. Ya, Adam ada di pihak kelompok Ma Queen Rose yang dipimpin oleh istrinya sendiri.


“Tuan Marcellino, apakah Nona Rose akan menerima status anda yang sebenarnya?”


“Dia sudah lama mengetahui tentangku. Aku sebenarnya juga tidak mengerti kenapa Rose bahkan tak pernah menyinggung tentang masalah ini. Namun dibalik sikap diamnya itu, aku tahu kalau Rose sudah lama mengetahui statusku sebagai Marcellino. Kau jangan khawatir. Istriku pasti mempunyai alasan tersendiri kenapa tetap membiarkan aku berada di sisinya. Sekarang aku harus segera pergi, kau awasi saja keadaan di sana!”


Setelah berkata seperti itu Adam memutuskan panggilan. Saat ini dia tengah berada di taman, beralasan ingin mencari udara segar pada Rose saat anak buahnya menelpon. Sambil menatap langit, Adam menarik nafas dalam-dalam mengenang persahabatan antara dia dengan Royce. Dan ternyata dikhianati itu rasanya sangat tidak menyenangkan.

__ADS_1


“Kalau kau merasa tak tenang, pergi dan datangi saja sesuatu yang membuatmu merasa tidak tenang itu, Dam. Tidak perlu menahannya karena rasanya pasti akan sangat sesak sekali!”


Terdengar suara langkah kaki datang mendekat ke arah Adam yang mana kedatangan orang ini membuat Adam merasa aneh. Karl, saudara kembarnya Bern. Sepupu Rose satu ini terkesan aneh di mata Adam. Bibirnya selalu menampilkan senyum ramah dan wajahnya selalu memberikan tampilan jenaka. Namun entah kenapa Adam merasakan hawa tak biasa di diri laki-laki ini. Entahlah, terlalu rumit untuk Adam tebak karena dia belum sepenuhnya mengenal anggota keluarga di sini.


“Apakah terjadi sesuatu di perusahaanmu?” tanya Karl seraya menepuk pelan bahunya Adam.


“Tidak seperti yang kau bayangkan, Karl. Hanya masalah kecil saja,” jawab Adam berkilah. Semacam ada perasaan untuk berhati-hati saat bicara dengan orang ini.


Karl terkekeh. “Aku tahu kau mewaspadaiku. Tapi kau tenang saja, aku bukan dalang dibalik kecurigaan yang sedang kau rasa. Dan aku berani jamin kalau aku ini bersih dari semua hal yang sedang kau pikirkan.”


Sebelah sudut bibir Adam berkedut. Dia kemudian menoleh, menatap penuh penasaran ke arah Karl yang baru saja menyatakan kalau dirinya sama sekali tak terlibat dengan tamu yang tadi sempat Adam curigai.


“Kau repot-repot menghampiriku hanya untuk mengatakan kalau kau bukan orang dibalik tamu mencurigakan itu?” tanya Adam setengah mengejek. “Karl, ayolah. Hanya orang-orang yang memiliki niat tertentu yang akan menampakkan wajah aslinya sebagai orang yang bersih dari suatu kejahatan. Dan secara tidak langsung kau baru saja melakukannya. Apa kau pikir aku akan percaya begitu saja, hm? Tidak semudah itu, Tuan Muda. Aku bukan mereka yang bisa dengan mudah kau kelabui. Kau salah mencari musuh kali ini!”

__ADS_1


“Aku tahu kau pasti akan bereaksi seperti ini atas apa yang baru saja aku katakan. Tidak masalah, itu wajar!” sahut Karl santai tanpa merasa tersinggung setelah diejek oleh Adam. “Tapi Adam, bukan tanpa alasan mengapa aku bisa tiba-tiba bicara seperti ini padamu. Saat Rose menyapa dan mengenalkanmu di hadapan para tamu undangan, aku dan semua anggota keluarga kita tahu kalau kau sedang mewaspadai seseorang. Dan satu-satunya orang yang bersikap acuh terhadap hal ini hanyalah Bern, kakakku. Aku datang menghampirimu kemari hanya karena ingin mengingatkan saja kalau kakakku itu memiliki tabiat yang cukup buruk. Yang artinya kalau orang yang tadi kau waspadai adalah orang suruhan kakakku. Jadi sebelum kau dan anak buahnya Rose mengambil tindakan, aku berniat memberitahu kalian semua agar tidak menyakiti Kak Bern. Ada alasan pasti mengapa dia nekad melakukan hal seperti ini!”


“Apa maksudmu?”


“Kau akan tahu apa maksudnya nanti. Yang jelas tolong jangan sakiti kakakku. Jika tindakannya ada yang menurutmu membahayakan, kau cukup menegurnya saja. Kak Bern tidak berdaya, Dam. Dia melakukan ini semua bukan atas kehendaknya sendiri. Jadi aku mohon padamu abaikan saja kakakku selagi itu tidak mengancam nyawa kalian, terutama Rose. Oke?”


Tanpa menunggu persetujuan dari Adam, Karl melenggang masuk ke dalam ruangan pesta. Tugasnya untuk mengamankan keselamatan sang kakak sudah selesai dia lakukan, jadi sudah tidak ada alasan lain untuk Karl berbincang terlalu lama dengan Adam.


Kenapa Karl tiba-tiba bicara seperti itu tentang Bern ya? Apa jangan-jangan ada rahasia di keluarga ini yang belum aku ketahui? Astaga, membuat kepalaku pusing saja. Haihhh ….


Teringat kalau sudah cukup lama Adam meninggalkan ruangan pesta, dia memutuskan untuk segera kembali ke dalam menemui Rose. Adam mencoba untuk tidak memikirkan dulu permasalahannya dengan Royce karena dia tak ingin membuat Rose merasa khawatir. Biarlah. Selagi bukan “itu” yang ingin diambil alih oleh Royce, maka Adam akan sedikit melunak padanya. Namun jika Royce sampai melewati batasan, barulah Adam akan meladeninya. Tahta itu sudah dia peruntukkan khusus untuk menyambut kedatangan Rose dalam dunia yang dia geluti. Jadi siapapun yang coba menyentuhnya maka mereka harus berhadapan dulu dengan Marcellino, yang tak lain adalah dirinya sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2