Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Ingin Memberi Pelajaran


__ADS_3

Gracia langsung pergi mencari buah kelapa begitu mendapat pesan dari kakaknya. Dia terlihat begitu bersemangat saat membawa buah berwarna hijau itu masuk ke dalam apartemen.


"Tolong letakkan di dapur saja ya kelapanya," ucap Gracia pada penjaga yang membantunya membawa barang.


"Baik, Nona."


Setelah selesai dengan tugasnya, para penjaga segera berpamitan untuk keluar. Gracia sendiri kini tengah di sibukkan dengan melihat video di dalam ponsel untuk mencontoh cara menyajikan minuman yang berbahan dasar kelapa. Sebagai calon bibi yang baik, Gracia tentu tahu kalau kakak iparnya sedang mengidam. Dia harus bisa siaga agar calon keponakannya nanti tidak meneteskan air liur akibat keinginannya yang tidak terpenuhi.


"Rose pasti akan sangat suka jika aku meracik minuman seperti yang ada di dalam video ini," gumam Gracia kegirangan.


Namun belum sempat Gracia bertempur dengan pisau di dapur, pintu apartemen sudah lebih dulu terbuka. Dia melongokkan kepala untuk melihat siapa yang datang.


"Kak, kalian sudah datang?" tanya Gracia sambil berjalan cepat menuju sang kakak yang tengah membaringkan Rose di atas sofa. "Dia pingsan atau tidur, Kak?,


"Kakak ipar, Grace. Kau jangan membuatku mengulang perkataan untuk yang kedua kali!" tegur Adam tak suka saat adiknya memanggil Rose dengan sebutan dia.


"O-oh, maaf, Kak. Aku masih belum terbiasa memanggil Rose dengan sebutan kakak ipar. Tolong maklumi sedikit ya," sahut Gracia merasa takut kalau kakaknya akan marah.


Adam mendengus. Setelah itu dia berjongkok sembari membelai pipi istrinya yang terasa begitu lembut. Adam tersenyum, bahagia bisa memiliki wanita secantik dan sehebat Rose dalam hidupnya.


"Em Kak Adam, tadi aku pergi melabrak Gheana di kantornya. Aku ... aku merasa kesal karena dia dan Mama bersekongkol untuk merusak pernikahanmu dengan R ... maksudnya pernikahanmu dengan kakak ipar!" ucap Gracia dengan cepat meralat kata-katanya. Hampir saja dia mengulangi kesalahan yang sama. Untung dia segera sadar, jika tidak ... kakaknya pasti akan langsung memarahinya.


"Hmm, apa ada orang yang menyuruhmu untuk pergi ke sana?" tanya Adam yang memang sudah tahu kalau adiknya baru saja mengunjungi Gheana. Bahkan Adam juga sudah tahu kalau preman-preman yang tadi mengganggu Gracia di jalanan adalah suruhan wanita bermuka dua itu.


"Tidak ada, Kak. Itu adalah inisiatifku sendiri setelah aku mendengar percakapan Mama dan Papa yang ingin tetap menjodohkan Kakak dengan Gheana. Aku sengaja datang menemuinya untuk memberi peringatan agar jangan menggangu hubungan kalian lagi. Tapi Gheana adalah wanita yang sangat bebal, Kak. Dia bahkan balik mengancamku!" jawab Gracia sambil berdecih kesal saat teringat dengan perkataan Gheana.

__ADS_1


"Dan tiga lelaki yang tadi menyerangmu adalah orang bayaran Gheana!" ucap Adam. "Grace, kau sebaiknya jangan bertindak gegabah jika tidak tahu siapa lawan yang ingin kau serang. Kalau saja tadi aku dan Cesar tidak ada di sana, hidupmu pasti sudah berakhir dengan cara yang menyedihkan. Selama ini yang kau tahu hanyalah bersenang-senang dengan temanmu, kau mana mungkin sadar kalau Gheana bukanlah orang yang bisa kau gertak sesuka hati. Dia nekad, jiwanya sakit!"


Mulut Gracia ternganga lebar begitu dia tahu seperti apa rupa asli Gheana. Nekad dan jiwanya sakit? Bukankah itu sama artinya kalau Gheana adalah seorang psikopat?


"Eugghhhh, suara kalian terlalu keras. Aku sampai tidak bisa tidur."


Rose menatap Adam dan Gracia secara bergantian. Dia diam-diam menguping pembicaraan mereka yang sibuk membahas tentang Gheana. Tadi Rose cukup kaget saat mendengar ucapan Gracia yang dengan berani datang melabrak Gheana di perusahaannya. Sayangnya anak ini tidak tahu kalau apa yang dilakukannya itu sangat mengundang bahaya.


"Eh Ro... em maksudku kakak ipar, kau sudah bangun?" tanya Gracia yang lagi-lagi hampir salah menyebut.


"Mataku sudah terbuka dengan sebegini lebar. Apa kau kira aku masih tidur?" sahut Rose balik bertanya. Setelah itu dia menelan ludah. "Mana es kelapaku?"


"Itu ... kelapanya sudah ada di dapur, kakak ipar. Tapi aku belum sempat meraciknya karena kalian sudah lebih dulu pulang kemari. Mau menunggu sebentar tidak? Aku akan segera menyajikannya untukmu."


"Baiklah, aku akan menunggu. Jangan lama-lama ya, aku sudah menahannya sejak tadi."


"Kenapa kau tersenyum, hm? Apa yang sedang kau lamunkan?" tanya Adam sembari mengusap pelan perut Rose yang masih terlihat rata.


"Hanya sedang tidak menyangka kalau Gracia bisa berubah menjadi sebegini baik. Dulu dia sangat membenciku, siapa sangka sekarang keadaannya malah berbalik dengan dia yang berubah menjadi seorang Bibi yang siap siaga. Jika di pikir-pikir nasib ini sungguh lucu ya, Dam?" jawab Rose seraya melayangkan pertanyaan.


Seulas senyum samar muncul di bibir Adam saat mendengar perkataan Rose. Posisinya yang sedang berjongkok di sebelah Rose membuatnya bisa menatap wajah istrinya dari jarak yang sangat dekat.


"Apa yang dilakukan orang suruhan Gheana, Dam?"


"Meminta mereka untuk memberi pelajaran pada Gracia. Untung saja tadi aku dan Cesar sedang berada di jalan yang sama. Jika tidak, anak manja itu pasti akan pulang dengan wajah babak belur," jawab Adam.

__ADS_1


"Hmmm, sepertinya Reina perlu menyapa wanita itu. Aku sedikit tidak suka melihat cara dia mengganggu gadis selemah Gracia. Adik kita bukan tandingan Gheana, sudah pasti akan langsung kalah begitu mantan calon jodohmu itu mengeluarkan wajah aslinya. Aku perlu mengambil tindakan kecil untuk menegurnya, Dam!" ucap Rose dengan tatapan mata yang begitu dalam. Dia gerah.


"Biar aku saja yang mengurus wanita itu, Honey. Kau sedang hamil, aku takut kalian kenapa-napa!"


Rose menggeleng. Dia kemudian bangun, lalu menarik tangan Adam agar masuk ke balik bajunya. Rose mencoba meyakinkan Adam kalau dia dan bayinya akan baik-baik saja.


"Dam, aku tahu kau mengkhawatirkan keselamatan kami. Akan tetapi akan sangat tidak pantas jika seorang laki-laki menyerang seorang wanita. Kau bisa di anggap pengecut jika orang-orang sampai mengetahui hal ini."


"Aku tidak peduli dengan ucapan orang lain, Honey!" sahut Adam. Dia semakin intens mengelus perut rata istrinya. "Karena yang terpenting bagiku adalah keselamatan kalian berdua. Aku akan menjadi pria terburuk di muka ini jika sampai kehilangan salah satu dari kalian. Dan aku sangat tidak mau itu terjadi. Paham?"


"Bukan aku yang akan bertindak melawan Gheana, Adam. Tapi orang lain yang menyerupai aku. Reina bilang Nenek Liona mempunyai pasukan robot yang bisa menyerupai siapa saja. Dan aku berniat memakai salah satu dari mereka untuk mengecoh Ghean. Atau anggaplah ini sebagai suatu trik dimana kita akan menang tanpa harus mengeluarkan keringat. Bagaimana? Ini tidak terlalu beresiko bukan?" tanya Rose yang kekeh ingin memberi pelajaran pada Gheana.


Gracia keluar tepat sebelum Adam memberikan jawabannya. Rose yang melihat sajian kelapa muda yang di bawa oleh adik iparnya seketika langsung menelan ludah. Saking tidak sabarnya dia, Rose sampai mendorong Adam agar menyingkir dari dekatnya. Dia tidak mau ada yang mengganggu datangnya minuman yang membuat air liur Rose seakan tidak berhenti menetes.


"Pelan-pelan, kakak ipar. Tidak akan ada orang yang berani merebut minuman itu dari tanganmu!" ucap Gracia yang khawatir melihat kakak iparnya meminum es kelapa seperti orang kerasukan.


"Biarkan saja. Mungkin memang cara seperti itu yang di inginkan oleh keponakanmu. Terima kasih sudah mau membuatkan minuman itu, Grace. Aku berhutang budi padamu," sahut Adam sambil terus memperhatikan istrinya yang begitu lahap saat menyantap minuman yang sejak tadi sudah sangat di inginkannya.


Whaaattt??? Apa aku tidak salah dengar? Kak Adam mengucapkan terima kasih padaku? Oh God, aku harus menandai hari ini sebagai hari bersejarah dalam hubungan kami. Harus.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...

__ADS_1


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2