
Prraaannggg
Gheana langsung membanting ponselnya begitu selesai mengobrol dengan ibunya Adam. Marah, dia benar-benar sangat marah sekarang. Dugaannya ternyata benar kalau Adam akan membawa Rose pulang ke rumah orangtuanya. Tadinya Gheana sempat berharap kalau Adam akan menghubungi kemudian memintanya untuk ikut pergi ke sana. Siapa yang menyangka kalau apa yang dia khawatirkan menjadi kenyataan. Kini Bibi Vanya, Paman Zidane dan Gracia sudah tahu kalau Rose adalah istrinya Adam. Hilang sudah kesempatannya untuk menjadi Nyonya Clarence di rumah itu.
"Kau benar-benar brengsek, Rose. Berani-beraninya kau memaksa Adam untuk memperkenalkanmu pada keluarganya. Dasar tidak tahu diri. Kau itu sangat tidak pantas menjadi bagian dari keluarga mereka. Kau hanya gadis desa miskin yang tidak mempunyai apa-apa. Aku ... akulah yang pantas menyandang gelar sebagai Nyonya Clarence. Aku punya segalanya. Aku cantik, aku kaya, dan aku berasal dari keluarga terhormat. Kau tidak pantas menjadi istri dari seorang Adamar Clarence, Rose!"
Tidak-tidak. Ini tidak bisa di biarkan. Secepat mungkin aku harus segera mencari cara untuk merebut Adam sebelum pernikahan mereka di umumkan ke publik. Aku harus mencari tahu apa kelemahan Rose untuk mengancamnya. Dengan begini Rose akan kuminta membujuk Adam agar tidak mengumumkan pernikahan mereka ke media. Tenang Gheana. Kau tidak harus menjadi istri pertamanya Adam. Tidak apa-apa menjadi yang kedua asalkan di mata orang kau adalah yang pertama dan satu-satunya. Apapun yang terjadi keberadaan Rose tidak boleh sampai terbongkar. Dia harus tetap di posisinya sekarang sebagai istri rahasianya Adam. Ya, harus tetap seperti sekarang.
Sambil bermonolog dengan dirinya sendiri, Gheana berjalan mondar-mandir di dalam ruangan kerjanya. Dia kemudian terpikirkan ide untuk mencari tahu tentang keluarganya Rose yang tinggal di desa.
"Ah ya, ide bagus. Jika aku bisa menyandra keluarganya, Rose pasti akan patuh dengan apa yang aku inginkan. Ya, benar. Aku yakin kelemahan Rose pasti adalah keluarganya," gumam Gheana seraya menyeringai licik.
Karena ponselnya sudah hancur, Gheana terpaksa mengubungi seseorang menggunakan nomor kantor. Dia menunggu dengan tidak sabaran saat panggilannya lama mendapat respon.
"Halo?"
"Ck, lama sekali kau menjawab teleponku. Membuat kesal saja!" gerutu Gheana. "Begini. Aku punya tugas penting untukmu. Aku ingin kau menyelidiki seseorang yang bernama Rose. Cari tahu, apapun tentangnya. Dia lulusan mahasiswa terbaik di negara ini. Kau pasti tidak akan sulit untuk menemukan data-datanya."
"Lalu apa yang harus aku lakukan padanya? Dan satu lagi, kau siapa? Seenaknya memberi perintah tanpa menyebutkan nama terlebih dahulu."
Gheana memutar bola matanya jengah. Tapi wajar saja sih kalau preman langganannya ini tidak mengetahuinya. Karena dia menelpon bukan menggunakan nomor miliknya, melainkan memakai nomor kantor.
"Gheana Lutfer. Apa sekarang sudah tahu siapa aku?"
"Oh, Nona Lutfer. Aku pikir siapa karena kau menelpon tidak memakai nomor yang biasanya. Maafkan aku, Nona. Aku tidak tahu itu kau."
"Tidak masalah, aku bisa maklum. Oh iya, setelah kau menemukan data-data tentang Rose, aku ingin kau segera mencari tahu keluarganya yang tinggal di pedesaan. Setelah itu culik dan bawa kemari. Aku perlu orang desa itu untuk menggertak Rose. Paham?" perintah Gheana dengan kejam.
"Jika orang itu melawan? Perlukah aku menghabisinya dulu?"
Kening Gheana mengerut. Kalau keluarganya Rose sampai meninggal, yang ada dia akan sulit untuk menekan wanita itu. Tapi jika tiba-tiba keluarganya melawan, masa iya dia tidak mengizinkan preman ini untuk tidak membalas?
"Begini saja. Kalau keluarganya melakukan perlawanan, hajar mereka sampai tidak sadarkan diri. Tapi jangan sampai mati. Aku perlu nyawanya untuk terus mengancam Rose. Mengerti tidak?"
__ADS_1
"Baiklah. Sesuai dengan yang kau mau, Nona."
"Bayaran akan aku transfer sekarang juga. Aku harap kau tidak membuatku kecewa."
Setelah itu Gheana langsung memutuskan panggilan. Dia lalu tersenyum sambil mengusap bibir bawahnya.
"Maafkan aku melakukan hal ini pada keluargamu, Rose. Aku terpaksa karena kau tiba-tiba ingin menghalangi jalanku. Padahal aku sudah berbaik hati dengan rela menjadi yang kedua di hidup Adam. Tapi kau malah selangkah lebih maju untuk mengambil bagianku. Jadi ya sudah, terpaksa aku menggunakan keluargamu untuk mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku. Begini adil kan?"
Kenekatan yang coba dilakukan oleh Gheana sebenarnya adalah suatu kegagalan yang sangat nyata. Dia ceroboh. Harusnya Gheana mencari tahu lebih dulu siapa wanita yang ingin dia sentuh. Gheana tidak tahu kalau orang yang ingin dia culik adalah satu dari dua orang yang paling berjasa dalam hidupnya Rose. Bisa kalian bayangkan sendiri bukan akan seperti apa murkanya Rose jika preman suruhan Gheana berani macam-macam pada Kakek Frans? Mari kita tunggu tanggal mainnya gengss ๐
Sementara itu di markas Queen Ma, terlihat Mona yang sedang berjalan-jalan seorang diri. Dia tidak bisa tidur. Hatinya gundah gulana setelah tahu kalau Rose sedang mengandung anaknya Adam. Mona berusaha mati-matian untuk tidak memikirkan hal itu lagi, tapi tidak bisa. Pikiran Mona terus tertuju pada Rose dimana dia membayangkan bagaimana Adam yang akan semakin mencintainya begitu anak mereka lahir. Hal ini tentu saja membuat Mona semakin tidak bisa menghabiskan waktu bersama Rose. Memikirkan hal tersebut membuat dada Mona terasa sangat sesak. Dia lalu memutuskan pergi keluar kamar untuk mencari udara segar.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Resan. Dia menatap lekat ke arah wanita yang tubuhnya di penuhi bekas luka. Iba.
"O-oh kau Resan. Aku pikir siapa," sahut Mona sambil mengelus dada. Dia sangat kaget di tegur oleh pria kaku ini.
"Ini sudah tengah malam, Nona. Kenapa kau malah keluyuran di sini? Mau kabur?"
Mona menggeleng. Dia lalu melihat tulisan yang berada di belakang tubuhnya Resan. Keningnya mengerut.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Nona."
"Em begini. Aku lelah terus berbaring di ranjang itu dan aku memutuskan untuk jalan-jalan sebentar. Lagipula setelah kejadian mengerikan yang aku lewati di hutan itu apakah masih mungkin untukku pergi melarikan diri dari tempat ini. Aku tidak sebodoh itu untuk kembali membahayakan nyawaku sendiri, Resan," jelas Mona sedikit berkilah.
"Baguslah kalau kau bisa menyadari situasinya dengan baik," sahut Resan lega. "Apa kau ingin makan sesuatu? Aku akan memesankannya kalau kau mau."
"Tidak, Resan. Aku masih kenyang," jawab Mona. "Kalau boleh tahu apa benar ruangan yang di belakangmu adalah ruangan untuk membuat racun?"
Resan menoleh ke belakang. Setelah itu dia mengangguk.
"Benar. Apa kau ingin melihat ke dalam? Siapa tahu itu bisa membuatmu takut kemudian mendatangkan rasa kantuk di matamu," kelakar Resan.
"Memang apa saja isi di dalam ruangan itu?"
__ADS_1
Mona penasaran. Dia lalu berjalan mendekat ke arah pintu.
"Ruangan ini dibuat khusus untuk meracik sesuatu, Nona. Tidak hanya racun, tapi juga obat-obatan. Pil yang sering kau minum juga berasal dari dalam sini."
"Oh, begitu ya. Kalau begitu aku ingin masuk ke dalam. Aku ingin lihat kecanggihan yang ada di sana."
"Boleh, tapi Nona harus ingat kalau di dalam sana Nona tida di izinkan menyentuh barang apapun. Itu bisa berbahaya!" ucap Resan memberi peringatan.
Mona mengangguk. Setelah itu dia segera mengikuti langkah Resan untuk masuk ke dalam ruangan. Sesampainya di dalam, Mona dibuat tercengang dengan alat-alat canggih yang menyerupai labolatorium. Matanya kemudian tertuju ke arah mangkuk kristal dimana ada beberapa butir obat berwarna ungu di sana.
"Resan, itu apa? Warnanya indah sekali?" tanya Mona penasaran.
"Yang mana?"
"Yang di dalam mangkuk kristal."
Resan segera melihat ke arah yang di maksud oleh Mona. Dia lalu memberi sedikit penjelasan tentang obat tersebut.
"Obat itu di buat khusus untuk membunuh orang-orang besar seperti bangsawan dan orang dari pemerintahan, Nona. Dan harganya juga sangat mahal. Satu pilnya bisa di tukar dengan lima buah mobil sport mewah. Obat itu juga mempunyai kinerja yang sangat unik karena tidak bisa di deteksi dengan alat medis biasa sebelum mayatnya berusia lebih dari lima belas tahun. Yang artinya tidak akan ada yang bisa menemukan siapa pembunuhnya dalam kurun waktu yang lumayan lama!"
"Se-semengerikan itu?"
"Ya. Karena itulah sebaiknya kau jangan dekat-dekat dengan obat itu. Nanti kau mati tanpa di ketahui penyebabnya," jawab Resan dengan sengaja menakut-nakuti.
Mona langsung merapat ke sisi Resan begitu mendengar peringatannya. Dia takut, itu tentu saja. Setelah itu dia dan Resan kembali melihat-lihat racun yang ada di ruangan tersebut. Melupakan si manis ungu yang bisa mendatangkan kematian tanpa di ketahui siapa pelakunya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
__ADS_1
...๐นFb: Rifani...