
"Honey, besok malam aku akan membawamu pulang ke rumah untuk aku kenalkan pada Papa. Kau tidak keberatan bukan?" tanya Adam sambil membelai rambutnya Rose. Dia tersenyum melihat sikap istrinya yang lagi-lagi menjadi begitu manja.
"Terserah kau saja, Dam. Jika kau memang sudah siap untuk mengenalkan aku pada keluargamu, maka aku dengan senang hati akan ikut pergi ke sana," jawab Rose dengan lembut.
"Hmm, istriku patuh sekali. Aku jadi semakin cinta."
Rose tersenyum. Dia terus menggesekkan ujung hidungnya ke dada bidang suaminya. Entahlah, dia bagai menggila dengan aroma khas yang menempel di tubuh pria ini. Wanginya bagai candu yang sulit untuk di hempas dari ingatan.
"Hon, kau ini kenapa jadi manja sekali sih. Bukannya tidak suka, aku hanya cemas saja kalau-kalau ini adalah trik yang kau gunakan untuk menutupi sesuatu dariku. Benar tidak?" tanya Adam yang kembali dibuat heran oleh kelakuan istrinya. Dia senang, tapi juga takut. Rose-nya selalu penuh dengan kejutan. Tak jarang Adam di buat hampir mati jantung dengan hal-hal tak terduga yang dilakukan oleh istrinya ini.
"Aku juga tidak tahu, Dam. Setiap detik rasanya aku ingin selalu menempel padamu. Aku sangat suka aroma tubuhmu, tapi aku tidak tahu apa alasannya," jawab Rose sembari memejamkan mata. "Aneh kan?"
"Tidak."
"Kenapa tidak?"
"Karena aku adalah suamimu, dan kau adalah istriku. Hehe," ....
Adam dan Rose sama-sama tertawa. Setelah itu Rose melepaskan pelukan, merapihkan kemeja di dada suaminya agar tidak kusut setelah dia rebahi.
"Berangkatlah. Jika ada waktu, siang ini pulang ke apartemen ya. Aku ingin makan siang bersamamu," ucap Rose dengan lembut.
"Emmm, apa ini semacam undangan pribadi?" ledek Adam sambil menoel dagu lancip istrinya.
"Kalau kau memiliki waktu lebih maka aku tidak akan keberatan," sahut Rose kemudian berjinjit agar kepalanya bisa mendekat ke telinga Adam. "Anggap saja ganti rugi untuk yang tadi malam. Dua ronde."
Glukkk
"Honey, nanti aku pasti akan makan siang di rumah. Pastikan aku melihatmu memakai kemeja putih seperti semalam ya. Tahu tidak kalau kau terlihat begitu menggoda dengan penampilan seperti itu," ucap Adam dengan semangat empat lima.
Rose mengangguk. Matanya terpejam saat Adam mencium keningnya. Dia lalu terkekeh lucu saat suaminya ini mencium bibirnya bertubi-tubi.
"Haihhh, kenapa kau begitu menggemaskan sih, Hon. Aku kan jadi malas pergi ke kantor," keluh Adam yang tak rela berpisah dengan istrinya. Dia lalu memainkan bibirnya Rose tanpa mengalihkan pandangannya dari sana.
"Sudah sana berangkat. Aku masih perlu banyak waktu untuk bersibuk ria di dapur, Dam. Sana!"
"Apa aku baru saja di usir?"
__ADS_1
"Ya."
"Jahat sekali."
Adam baru berhenti mengeluh setelah dia mendapat kecupan lembut di bibirnya. Dia lalu menyeringai, sangat puas dengan cara Rose membujuknya.
"Hati-hati ya," ucap Rose.
"Siap, my queen."
Setelah mendapat pesangon, barulah Adam pergi meninggalkan apartemennya. Wajahnya terlihat berseri-seri ketika memikirkan jamuan makan siang yang kemungkinan akan berakhir dengan dia dan Rose yang terkapar di atas ranjang. Membayangkan hal-hal panas yang akan segera terjadi membuat tubuh Adam sedikit gerah. Dia lalu membatalkan untuk memakai jasnya saat akan memasuki lift.
Sementara itu di dalam apartemen, Rose terlihat sedang menerima panggilan dari anak buahnya. Dan posisinya masih sama seperti tadi, belum berpindah dari depan pintu apartemen.
"Tuan Adamar baru saja masuk ke dalam mobilnya Tuan Cesar, Nona. Dan sekarang Nona Gracia sedang berjalan masuk ke gedung apartemen. Sepertinya dia ingin ke kamar Nona."
"Biarkan saja," jawab Rose sambil tersenyum samar. "Dia tahu kemana kakinya harus melangkah. Kalian tidak usah mengawasinya lagi selama dia ada di sini bersamaku."
"Baik, Nona."
Dan panggilan pun terputus. Tak lama kemudian, bel apartemen berbunyi. Rose yang masih berada di sana sengaja membiarkan Grace menunggu sedikit lebih lama. Dia tentu saja tahu mengapa gadis ini datang kemari. Apalagi jika bukan karena niatan Adamar yang ingin membawanya pulang ke kediaman Clarence.
Grace terpaku saat matanya bertabrakan dengan manik matanya Rose yang terlihat begitu tajam. Mendadak tenggorokannya terasa sangat kering saat dia melihat senyum miring di sudut bibir wanita tersebut.
"Sampai kapan kau akan berdiri di situ, Grace?" tanya Rose.
"Em, ak-aku ... aku ....
"Kau datang kemari tanpa ada yang memaksa. Kenapa sekarang malah jadi gugup begitu?" ledek Rose kemudian membuka pintu dengan sangat lebar. "Masuklah. Jangan takut, aku tidak akan membunuhmu."
Manusia mana yang tidak akan gemetar jika mendatangi rumah yang di diami oleh seorang wanita cantik yang sangat mengerikan. Grace tentu belum lupa saat Rose dengan begitu tenang menodongkan senjata ke arahnya. Tapi meskipun begitu, kakinya masih saja bergerak masuk ke dalam apartemen. Dia langsung menahan nafas saat si tuan rumah menggerakkan jarinya ke arah sofa.
"Duduklah. Atau kau ingin membantuku memasak di dapur?" tanya Rose menawarkan.
"A-aku tidak bisa mem-memasak," jawab Grace terbata-bata.
"Semua orang awalnya juga tidak ada yang bisa memasak. Tapi kejadiannya akan berbeda kalau kau mau belajar dan berusaha. Ayo, nanti aku akan mengajarimu bagaimana cara menaklukkan makanan di atas kompor."
__ADS_1
Sadar kalau adik iparnya masih merasa terintimidasi dengan kejadian waktu itu, Rose berusaha untuk melunak. Dia lalu menarik pelan tangannya Gracia kemudian membawanya masuk ke bagian dapur.
"Nanti kakakmu akan makan siang di rumah. Jadi sekarang tugas kita adalah menyiapkan makanan yang dia suka."
"Rose," ....
"Hm?"
"Em itu, kedatanganku kemari adalah untuk memberitahumu kalau Mamaku ingin ...
"Ingin memberitahu Gheana kalau Adam akan membawa seorang wanita pulang ke rumah kalian. Benar?" tanya Rose menyela perkataan Gracia.
"Darimana kau tahu kalau aku ingin mengatakan hal itu padamu?"
Gracia menatap lekat ke arah Rose yang kini sedang mengeluarkan sayur-sayuran dari dalam kulkas. Penasaran, dia segera meletakkan tasnya di atas pantry dapur kemudian ikut memilih sayuran seperti yang sedang dilakukan oleh kakak iparnya.
"Kau tidak perlu tahu darimana aku mengetahuinya, Gracia. Yang jelas, Adamar adalah suamiku. Setiap kata yang keluar dari mulutnya aku akan selalu tahu. Karena apa? Karena kami satu hati, satu pikiran, dan satu tujuan. Dan tentang Gheana ....
Jeda sejenak.
"Dari awal aku sudah tahu kalau Mamamu dan Mamanya Gheana ingin menjodohkannya dengan Adamar. Tapi Grace, bisakah kau memberitahuku seperti apa kau memandang calon kakak iparmu itu, hm?" tanya Rose dengan santai. Dia tersenyum samar saat Gracia berjingkat kaget karena tidak sengaja menyentuh cabai yang sudah sedikit lembek. Benar-benar devinisi anak konglomerat yang tidak pernah menginjakkan kaki di dapur.
"Omong kosong. Kakak iparku hanya satu, yaitu kau, Rose. Dan menurut pandanganku, Gheana tidaklah sebaik dan sepolos yang aku lihat. Sejak awal melihatnya aku tidak pernah menyukainya. Bagiku dia itu seperti wanita yang mempunyai dua kepribadian. Berpura-pura baik hanya untuk menutupi jati dirinya yang sangat busuk!" jawab Gracia jujur. Toh dari awal dia memang tidak menyukai wanita yang ingin di jodohkan dengan kakaknya itu. Gracia sangat tidak suka pada Gheana.
"Seyakin itu?"
"Tentu saja."
Rose lagi-lagi tersenyum samar. Ternyata Gracia lumayan asik juga jika sedang bicara normal. Dia lalu mengajak gadis ini untuk mulai memisahkan sayuran yang masih layak untuk dimakan maupun yang sudah tidak layak. Lalu setelahnya Rose juga mengajari bagaimana cara untuk mencuci dan memotong sayuran tersebut. Sungguh hari yang sangat menyenangkan, begitu pikir Rose.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
__ADS_1
...๐นFb: Rifani...