
📢📢📢 BESTIE, LANGSUNG MAMPIR KE NOVEL ANAKNYA ROSE DAN ADAM YA. Hari ini sudah publish. KLIK PROFIL EMAK AJA KARENA DI PENCARIAN BELUM KELUAR. JANGAN LUPA DUKUNGANNYA JUGA YA 💜
***
“Mona, bagaimana perasaanmu setelah pindah ke Negara ini?” tanya Rose sambil menatap wajah Mona yang terlihat berseri-seri saat sedang bermain dengan kelinci pemberian Dante.
“Em, sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik, Rose. Dan juga ….
Ucapan Mona terjeda. Dia kemudian menoleh, menatap Rose dengan tatapan yang sangat dalam. “Aku telah menemukan jalan keluar untuk mengakhiri perasaanku kepadamu. Aku minta maaf ya karena baru sekarang aku berani melakukannya. Kebersamaan kita waktu itu benar-benar membuatku terjebak oleh rasa yang begitu dalam padamu. Tapi setelah Kakek dan Nenek membawaku pergi ke makam Ayah dan Ibuku, aku seperti mendapat hidayah tentang arti sebuah kehidupan. Mungkin memang benar kalau darah yang mengalir di tubuhku adalah darah yang sudah terikat perjanjian dengan iblis. Dan aku sudah memutuskan apapun yang terjadi aku tidak akan membiarkan mereka merebut kehidupanku. Mereka ya mereka, aku ya aku. Jadi aku tidak akan membiarkan rencana mereka berjalan dengan mulus”! ucap Mona dengan penuh keyakinan.
“Apa maksud ucapanmu, Mona?” tanya Rose yang mendadak resah mendengar perkataan Mona. “Kau … kau jangan berpikir untuk melakukan sesuatu yang tidak-tidak ya. Aku tidak akan pernah mau memaafkanmu jika kau sampai nekad melakukannya!”
“Rose, apapun yang kulakukan percayalah … itu aku lakukan untuk melindungi kalian semua. Sudah aku putuskan untuk mengakhiri perjanjian iblis ini dengan mengorbankan nyawaku sendiri. Hanya ini, Rose. Hanya dengan cara membakar tubuhku hingga menjadi abu aku baru bisa terbebas dari terror mereka. Tolong kau terima keputusanku ya. Aku tidak mau orang-orang yang kusayangi terluka karena melindungiku. Kau pasti sudah pernah bertemu dengan mereka bukan?” jawab Mona sambil tersenyum manis. “Tolong jaga Kakek dan Nenekku ya, Rose. Dan tolong sampaikan juga salamku pada Dante. Bilang padanya aku minta maaf karena belum bisa membalas perasaannya. Jika Tuhan memberiku takdir untuk bereinkarnasi, aku pasti akan meminta pada Tuhan agar di jodohkan dengannya. Bantu aku sampaikan hal ini padanya ya, Rose.”
***
__ADS_1
Rose hanya bisa terisak sedih di pelukan Adam saat peti jenazahnya Mona dimasukkan ke ruang kremasi. Sesuai dengan amanah yang di tulis Mona sebelum mengakhiri hidup dengan cara memotong urat nadi di tangannya, dia meminta agar jenazahnya langsung di kremasikan dan abunya di sebar ke tengah laut agar orang-orang dari sekte sialan itu tidak bisa menguasai jiwanya. Sungguh, Rose tak pernah menyangka kalau Mona akan memilih jalan seextreme ini untuk melarikan diri dari cengkeraman para iblis sesat. Andai saja Rose tahu kalau mimpi yang dilihatnya akan menjadi kenyataan, dia pasti akan melakukan segala macam cara untuk menghentikan Mona. Sayang, Rose terlambat menyadari sehingga kini dia harus rela kehilangan sahabat sekaligus dewi yang telah menyelamatkan hidupnya.
“Hiksss, maafkan aku, Mona. Aku gagal melindungimu hingga akhir. Maafkan aku,” bisik Rose sambil menangis sesenggukkan.
“Honey, jangan sedih. Mungkin menurut Mona ini adalah keputusan terbaik yang bisa dia lakukan agar dirinya tidak bersekutu dengan para iblis sialan itu. Walaupun caranya salah, kita harus tetap merelakannya. Kau harus ikhlas agar Mona bisa segera sampai ketempatnya dengan tenanga. Ya?” hibur Adam tak tega melihat Rose yang tak berhenti menangis sejak Mona ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di dalam kamar mandi. Agak miris memang. Namun apa daya, Mona memiliki hak penuh atas hidupnya. Adam bisa apa.
“Haruskah dengan cara seperti ini, Dam? Ini sangat menyakitkan untukku dan untuk Kakek Neneknya Mona. Hati kami sama hancurnya karena kami sangat menyayangi Mona,” sahut Rose lirih. “Harusnya Mona mau bersabar menunggu kita berhasil mematahkan perjanjian sesat itu. Kenapa dia harus bunuh diri? Kenapa dia meninggalkan aku? Kenapa, Dam? Kenapa?!”
Karena sangat tertekan, Rose akhirnya jatuh tak sadarkan diri setelah berteriak dengan begitu histeris. Rolland yang melihatnya pun sigap membantu Adam untuk memindahkan Rose ke sofa yang ada di sana. Jangan tanya lagi seperti apa sedihnya semua orang saat ini. Bahkan Kakek Niel dan Nenek Shireen sampai harus duduk di kursi roda karena tak memiliki tenaga lagi saat akan mengantarkan Mona ke ruang kremasi. Sedangkan semua anggota Queen Ma, raut wajah mereka terlihat murung karena simbol pesakitan dari kelompok mereka telah pergi dengan cara yang tidak terduga. Mona pergi dengan membawa perasaan sakit yang tak terhingga di diri semua orang, terutama Rose. Dia yang paling kehilangan, dan dia juga yang paling menderita.
“Dante, kau baik-baik saja bukan?” tanya Drax sambil menepuk pundak Dante yang sama sekali tak mau bicara begitu mendengar kabar kalau Mona telah meninggal dunia.
“Jangan berpikiran seperti itu, Dan. Tidak ada yang tahu apakah Mona masih mencintai Rose atau tidak saat dia bunuh diri. Tolong kau jangan terburu-buru menghakiminya. Ruhnya Mona pasti merasa sedih jika sampai mengetahuinya,” tegur Drax tak tega melihat Dante yang seperti frustasi di tinggal mati oleh Mona.
“Kalau dia tidak mencintai Rose lagi, dia pasti tidak akan melakukan hal ini. Aku sudah berjanji pada Mona akan terus menemaninya sampai masalah sekte itu terselesaikan. Tapi apa, Dad? Dia memilih pergi dengan cara seperti ini. Aku kecewa sekali padanya. Dia telah mempermainkan perasaanku, Dad!”
Setelah berkata seperti itu Dante menepis tangan ayahnya kemudian pergi dari sana. Dante tak menghiraukan panggilan semua orang yang memintanya agar tidak pergi. Masa bodo, dia sedang sangat kecewa sekarang. Hatinya sakit di tinggal tanpa ada kepastian.
__ADS_1
“Jangan dikejar. Dante sedang butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya. Kau cukup mengawasinya dari jauh!” cegah Liona saat Grizelle ingin pergi menyusul Dante keluar.
“Apa tidak apa-apa kita membiarkannya sendirian, Bu? Aku takut dia nekad,” tanya Grizelle cemas.
“Dante bukan orang yang berpikiran dangkal. Dia tidak mungkin mengakhiri hidupnya hanya karena merasa di kecewakan oleh Mona. Sekarang lebih baik kau minta seorang penjaga untuk mengawasinya. Kita sedang berduka, kau tidak boleh kemana-mana,” jawab Liona.
“Baiklah, Bu.”
Selain Dante, semua orang menunggu sampai jenazah Mona selesai di kremasikan. Setelah itu mereka membawa abunya menuju lautan. Tepat ketika matahari hampir terbenam, Rose menjadi orang pertama yang menyebarkan abu tubuhnya Mona. Dia tak henti menangis sampai akhirnya seluruh abu habis tak bersisa.
Tak jauh dari tempat semua orang memarkirkan mobil, terlihat ada dua orang yang sedang memperhatikan mereka. Raut wajah keduanya terlihat sangat tenang. Namun, aura mereka terlihat begitu gelap dan mencekam.
“Sepertinya kita perlu menjemput anak-anak lainnya lagi, sayang. Mona sungguh bodoh. Dia memilih menjadi abu daripada hidup abadi seperti kita.”
“Biarlah, kita harus hargai keputusannya. Ayo pergi!”
“Baiklah.”
__ADS_1
***