
"Reina, siapa mereka?" tanya Liona seraya menatap lekat ke arah dua orang pria yang di ikat dalam kondisi terbalik.
Di tanya seperti itu oleh Nenek Liona membuat Reina terpaksa menghentikan kegiatannya. Dia sedang sibuk mengganti warna pada kukunya yang rusak akibat perburuan semalam.
Sambil meniup jari-jari tangannya, Reina memberitahu Nenek Liona tentang siapa dua orang pria yang dia maksud.
"Nenek, pria yang masih cukup segar itu bernama Lionel. Kemudian pria yang sudah bau tanah itu namanya Joshua. Mereka adalah orang-orang yang sudah membuat Rose-ku merasa tidak senang. Itulah kenapa mereka berdua bisa ada di sini," jelas Reina dengan gayanya yang kemayu.
Sebelah alis Liona tertarik ke atas. Dia kemudian tersenyum, tapi bukan sembarang senyum seperti yang kalian pikirkan. Dengan langkah pasti Liona berjalan mendekati dua orang yang masih terlelap dalam mimpi mereka. Sungguh menarik. Di saat nyawa mereka sedang berada di ujung tanduk, bisa-bisanya kedua orang ini masih bisa tertidur dengan begitu nyenyak. Liona sungguh takjub melihatnya.
"Bawakan seember air dingin untukku!" perintah Liona.
"Baik, Nyonya!" sahut Hansen kemudian segera pergi menjalankan perintah.
Reina diam-diam mengawasi apa yang akan dilakukan oleh Nenek garang ini. Dia khawatir kalau-kalau dua tawanannya akan di bunuh olehnya.
Aku harap kau tidak menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya kau sentuh, Nenek Liona. Lionel dan Tuan Joshua adalah bagiannya Rose, dia bisa murka jika kedua orang ini mati di tanganmu.
Mendengar isi pikiran Reina membuat Liona mengurungkan niat yang ingin menghabisi kedua bajingan ini. Dia sangat marah, tak terima karena mereka berani mengusik kenyamanan hidup cucunya.
"Nenek Liona, kau ....
"Aku tahu," sela Liona cepat. "Kau jangan khawatir, Reina. Aku hanya akan sedikit bermain dengan mereka."
"Rose bisa marah besar kalau kita mengusik batasannya!" ucap Reina tanpa ragu memperingatkan Nenek Liona.
"Aku tahu itu. Jadi diamlah agar kedua orang ini tidak merasa terganggu."
Meski merasa was-was, Reina mencoba untuk bersikap tenang di hadapan Nenek Liona. Dia berusaha untuk meyakini kalau nenek garang ini tidak akan membuatnya berada dalam masalah.
"Ini air dinginnya, Nyonya!" ucap Hansen sembari meletakkan satu ember air yang sudah di campur dengan es batu di atas lantai. Dia kemudian mundur ke belakang, memberikan ruang untuk sang nyonya bersenang-senang.
Liona segera mengangkat ember tersenyum lalu menatap lama ke arah dua pria tersebut. Dia lagi-lagi tersenyum, lalu setelahnya ....
Byuuuurrrrrr
"Uhukk-uhukkk-uhuukkkk!"
__ADS_1
Terdengar suara batuk yang saling bersahutan begitu Liona menyiram wajah Lionel dan Joshua menggunakan air dingin. Posisi mereka yang di gantung terbalik sudah bisa di pastikan kalau sebagian dari air dingin tersebut masuk ke dalam lubang hidung mereka.
"Selamat pagi, tuan-tuan!" sapa Liona dengan sangat ramah.
"Brengsek! Siapa kau, hah! Beraninya membangunkan kami dengan cara seperti ini!" teriak Lionel murka. Dia kemudian meludah saat matanya tidak sengaja melihat keberadaan sosok wanita yang telah membuatnya jadi seperti ini.
"Aku?"
Liona terkekeh.
"Aku adalah Nenek dari orang yang kalian incar," ucap Liona santai. "Ya, aku adalah Nenek dari pemilik kelompok Ma Queen. Kenapa memangnya?"
Jika Lionel terkejut begitu tahu siapa wanita tua yang baru saja menyiram wajahnya, ekpresi berbeda muncul di wajah Joshua. Dia terlihat sangat takut begitu matanya melihat siapa sosok yang ada di dekatnya. Ya, Joshua tahu kalau wanita ini bernama Liona Serra, istri dari Greg Ma, cucu pendiri Organisasi Grisi.
Sial. Pantas saja ketua kelompok Ma Queen begitu cerdik dan tidak kenal rasa takut. Ternyata ini penyebabnya. Argghhh, to lol. Bagaimana bisa aku melewatkan informasi sepenting ini? Bisa mati konyol aku di tangan Nyonya Liona. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
"Ada apa, Tuan Joshua? Apa kau mengenaliku?" tanya Liona santai.
"N-Nyonya L-Liona, bisakah kau mengampuniku? Aku berjanji tidak akan pernah mengganggu kelompok ini lagi. Aku mohon tolong lepaskan aku, Nyonya!" sahut Joshua memohon.
Hansen tersenyum kecil saat sang nyonya melihat ke arahnya. Bagi seorang Liona Serra, tidak akan pernah ada ampun untuk seseorang yang berani mengusik ketenangan keluarganya. Terlebih lagi orang yang di incar oleh Joshua adalah cucunya yang baru saja di temukan. Mustahil untuk Joshua dan Lionel bisa selamat. Hansen berani jamin itu.
"Nenek Liona, bagaimana bisa bajingan itu mengenalmu? Apa sebelumnya kalian sudah pernah bertemu?" cecar Reina merasa heran karena ternyata Tuan Joshua mengetahui nama neneknya Rose.
"Nah, Tuan Joshua. Reina sedang bertanya darimana kau bisa mengenalku. Bisa tolong bantu menjelaskan padanya tidak? Siapa tahu hal ini bisa menyelamatkan nyawamu," ucap Liona dengan seribu maksud terselubung.
"Tentu saja sangat bisa, Nyonya Liona," sahut Joshua dengan begitu semangat. Tidak masalah untuk sekarang dia patuh pada wanita ini dulu. Begitu dia keluar nanti, Joshua bersumpah akan menghancurkan kelompok ini sampai ke akar-akarnya.
Jleeebbbbb
"AARRRGGGHHHHH!!"
"Jangan pernah kau berpikir untuk menghancurkan apa yang sudah menjadi milik cucuku, Joshua. Sekalipun hanya dalam pikiran, jangan pernah kau lakukan!" geram Liona sambil menusukkan jepit rambut ke telinga Joshua hingga tembus ke bagian belakang telinganya. Posisinya yang terbalik membuat darah mengucur deras di sana.
"Sakit, Nyonya. Tolong ampuni aku!" teriak Joshua kesakitan. Dia hanya bisa menggeliat saja karena seluruh tubuhnya di ikat dengan sangat kuat.
"Hei kau, Nenek tua. Jangan coba-coba menyakiti Tuanku. Cepat singkirkan benda sialan itu dari sana atau aku akan membunuhmu sekarang juga!" teriak Lionel tak terima.
__ADS_1
Bugghhh bugghhh
"Dasar bodoh. Kau pikir kau itu siapa berani meneriaki Nenek Liona?" omel Reina setelah meninju matanya Lionel. "Aaaaa, cat kukuku rusak lagi. Ya ampun, kalian ini memang pembawa sial ya. Lihat, aku harus kembali mengukir polanya agar bisa terlihat cantik seperti semula."
Sambil bersungut-sungut Reina kembali ke tempat duduknya lagi. Dia kemudian menghapus cat di kukunya yang sudah rusak, lalu kembali mengukirnya dengan warna yang sama. Kendati demikian, ekor mata Reina tetap mengawasi gerak-gerik Nenek Liona. Dia sadar betul kalau Nenek garang ini sedang emosi.
"Dengar, Joshua. Kali ini aku tidak akan membunuhmu karena kematianmu bukan menjadi tanggung jawabku. Akan tetapi kau jangan senang dulu. Sambil kita menunggu malaikat pencabut nyawa datang, aku akan mengajakmu dan juga anak buahmu itu untuk sedikit bersenang-senang. Kau dan kelompokmu berani menargetkan cucuku, jadi tidak ada salahnya kan kalau aku memberi cicilan balasan agar nanti kau tidak terlalu merasa kesakitan. Bagaimana? Kau setuju bukan?"
Tanpa merasa iba sama sekali, Liona menarik jepit rambut itu dari telinga Joshua kemudian menancapkannya lagi ke bagian bahu. Hal itu terus Liona ulangi sampai-sampai lantai di bawah tubuh Joshua berubah menjadi kolam darah.
Jangan di tanya lagi seperti apa tersiksanya Joshua dalam menahan rasa sakit dan juga ngilu. Sangat luar biasa. Sedangkan Lionel, pria ini sama sekali tidak bisa menolong bosnya karena tubuhnya di ikat dengan sangat kuat oleh kelompok Ma Queen.
Srreeettt srreeeettt
"Akhhh. Dasar kau perempuan jahannam. Cepat hentikan tindakan gilamu ini atau aku akan meludahi wajahmu yang menjijikkan itu. Hentikan bodoh!" teriak Lionel kesakitan saat kulit di bahunya terus di sayat oleh wanita yang di panggil dengan sebutan Nenek Liona.
"Hansen!"
"Iya, Nyonya!"
Hansen segera datang mendekat.
"Cabut semua kuku yang ada di jempol bajingan ini. Buat agar mulutnya diam karena telingaku sudah sakit mendengar suaranya!" perintah Liona tanpa menghentikan tangannya yang masih terus menyayat bahu Lionel.
Tanpa membuang waktu lagi Hansen segera berbalik untuk mengambil tang. Tak sampai satu menit Hansen sudah kembali lagi kemudian berjalan mendekat ke arah Lionel yang terlihat pucat pasi.
"T-Tuan Hansen, tolong jangan lakukan itu padaku. Aku mohon!" ucap Lionel memohon dengan raut wajah yang sangat ketakutan.
"Maafkan saya, Tuan Lionel. Saya hanya melakukan perintah. Tolong tahan sebentar karena saya hanya akan mencabut empat kuku saja dari dua puluh jari yang ada di tubuh anda. Permisi!"
Dan tanpa menunggu lama lagi, suara lengkingan kesakitan langsung terdengar memenuhi hampir seluruh ruangan yang ada di markas Ma Queen begitu Hansen mulai melaksanakan tugasnya. Joshua yang melihat Lionel tengah di siksa hanya bisa terdiam pasrah tanpa bisa melakukan apa-apa. Dia sudah lemah, apalagi darahnya sudah lumayan banyak terkuras. Hal ini membuat Joshua memilih untuk diam saja sembari menikmati rasa sakit yang ada di tubuhnya.
Tuhan, apakah ini adalah akhir dari hidupku? Haruskah aku mati di tangan wanita mengerikan ini? Haruskah?
🔪🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🔪
BOM KOMENTAR GENGSS BIAR ENTAR SORE EMAK UP LAGI BUAT NEMENIN MALAM MINGGUAN KALIAN PARA JOMBLO😅
__ADS_1