
Rose menatap lama ke arah Mama Karina yang tengah duduk melamun di atas ranjangnya. Tatapan mata Rose begitu dalam, seolah mampu menembus apa yang sedang di pikirkan oleh ibunya Adam.
"Maaf,"
Terdengar untaian kata maaf dari mulutnya Rose ketika Mama Karina menatapnya. Jika kalian penasaran di mana Adam berada, suaminya itu tengah menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor di ruangan lain. Dan Rose mengambil kesempatan ini untuk menemui ibu mertuanya. Ada sesuatu yang perlu dia pikirkan tentang wanita ini.
"Rose, kenapa kau meminta maaf? Apa yang salah?" tanya Mama Karina bingung.
Tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulutnya Rose saat di tanya seperti itu oleh ibu mertuanya. Dia hanya diam sembari terus melayangkan tatapan yang sangat dalam.
"Sebentar lagi. Sebentar lagi semuanya akan segera usai dan Mama bisa menikmati kehidupan dengan bebas tanpa ada yang membelenggu. Aku janji!"
Setelah berucap seperti itu Rose langsung pergi dari sana. Sebentar lagi? Mengapa Rose mengatakan kata seperti itu pada mertuanya sendiri? Mungkinkah ada something yang tersembunyi di balik diri seorang Karina Haque? Entahlah, hanya Rose seorang yang tahu.
Akhirnya, apa yang tersembunyi sebentar lagi akan segera muncul ke permukaan. Cepat atau lambat aku akan segera tahu ke pihak siapa Ayahmu akan berpihak, Nak. Bersabarlah.
Sembari membatin, Rose berjalan menuju ruangannya. Di belakang Rose ada Reina. Kini gaunnya tak lagi berwarna merah, pertanda bahwa dia sudah tak kesal lagi.
Sraakkkk
"Sayang, kau merindukannyakah?" tanya Reina sambil menatap Rose yang baru saja menyibak tirai biru tempat satu rahasia besar tersembunyi.
__ADS_1
"Untuk sekarang tidak, Reina. Aku hanya ingin membayangkan saja kira-kira pilihan mana yang akan Adam ambil setelah mengetahui rahasia ini," jawab Rose dengan raut wajah yang begitu tenang. Dia kemudian menoleh, menatap lembut ke arah Reina sambil tersenyum kecil. "Royce. Ternyata dia dalang di balik apa yang terjadi padaku!"
Kedua alis Reina saling bertaut saat mendengar satu nama yang cukup asing baginya. Sambil memainkan rambutnya Rose, Reina pun menanyakan tentang siapa pria tersebut. Jujur, Reina agar bingung karena selama ini tak sekalipun nama orang tersebut muncul dalam pencarian.
"Apa kau mendengar nama tersebut dari Adam?"
"Bukan. Dia nyaris tak pernah menyebutkan satu namapun ketika sedang bersamaku. Nama Royce sendiri aku dengar dari seekor burung yang tidak sengaja berbisik padaku. Dia mengatakan kalau ada hubungan tak biasa antara Adam dengan pria bernama Royce, dan ini sangat erat kaitannya dengan hilangnya ingatanku!"
"So, apa yang akan kau lakukan pada pria itu? Menghabisinya, atau meminta pertanggungjawaban atas apa yang kau derita selama ini, hm?" tanya Reina lagi. Dia tak perlu tahu siapa burung yang di maksud oleh Rose. Reina cukup tahu batasan untuk tidak menanyakan sesuatu yang sudah di isyaratkan oleh Rose dalam bentuk sebuah kode. Ya, seekor burung yang berbisik itu adalah julukan untuk seseorang yang bisa Rose perintah untuk menyusup ke kandang musuh tanpa di ketahui keberadaannya. Bahkan sampai detik ini Reina dan rekan-rekannya yang lain masih belum bisa mengenal seberapa dalamnya pikiran Rose yang entah kenapa selalu saja mengetahui semua hal tanpa ada yang terlewat. Aneh sekali bukan?
"Bukan aku yang akan melakukan semua itu, Reina. Tapi Adam. Dia yang akan memutuskan apakah ingin menghabisi Royce atau malah berkhianat padaku," jawab Rose sembari mengelus perutnya.
"Jika Adam memutuskan untukberkhianat?
"Woaaahh,"
Reina bertepuk tangan setelah mendengar jawaban dari Rose. Setelah itu mereka berdua terdiam saat mendengar suara pintu di ketuk. Segera Rose menutup kembali tirai yang tadi dia buka kemudian menatap dalam ke arah pintu yang perlahan-lahan mulai terbuka.
"Honey, aku pikir kau hilang ke mana tadi. Kau tidak ada di kamar Mama saat aku datang ke sana," ucap Adam seraya menghela nafas setelah mengetahui keberadaan istrinya. Dia lalu berjalan mendekat, mengabaikan keberadaan Reina yang tengah duduk manis di atas meja.
"Aku lelah, jadi memutuskan untuk istirahat dulu di sini. Saat aku pergi ke kamar Mama beliau sedang tidur. Makanya aku memilih untuk ke sini saja," sahut Rose. Dia lalu merebahkan kepalanya ke dada Adam, mendengarkan dengan seksama bunyi detak jantungnya yang terdengar begitu merdu.
__ADS_1
"Adam-Adam, sudah tahu kalau Rose sedang berada di markasnya sendiri, bisa-bisanya ya kau berpikir kalau dia hilang," ejek Reina sembari memilin ujung rambutnya. Dia lalu memperhatikan tubuh Adam dari bagian atas hingga bawah kakinya. "Perfect. Namun sayang, masih diragukan. Belum ada kejelasan ke mana kau akan berlabuh!"
"Apa maksudmu bicara seperti itu, Reina?" Adam menatap lekat ke arah Reina. Dia merasa ada yang janggal dengan kata-katanya. "Jelaskan!"
Bukannya menjelaskan, Reina dengan santai malah melenggang pergi dari sana. Dia cukup ngeri melihat lirikan singkat Rose yang mengisyaratkan agar dirinya jangan terlalu banyak bicara. Karena mau sedekat apapun mereka, Rose tetaplah Rose, si mawar berduri tajam dengan seribu kegelapan di baliknya. Jadi melarikan diri adalah yang jalan terbaik agar kecantikan Reina tetap terjaga.
"Hon, kenapa Reina bicara seperti itu padaku. Memangnya apa yang meragukan dariku?" tanya Adam keheranan.
"Tidak usah di ambil hati. Kau seperti tidak kenal Reina saja, Dam. Kau dan dia kan tak pernah akur, bisa saja dia hanya ingin mempermainkanmu. Jadi tidak perlu menanggapi omongannya dengan serius," jawab Rose dengan tenang. Satu tangannya dia gunakan untuk mengelus punggungnya Adam, berharap kalau kekesalan suaminya ini tidak berkelanjutan.
"Tapi kata-katanya terdengar sangat mengganjal, Honey. Aku meragukan, apanya coba?"
Wajar kalau Reina menyebutmu seperti itu, Dam. Karena memang benar kalau gelagatmu selalu memancing orang lain untuk berpikir yang tidak-tidak tentangmu. Apalagi soal Royce. Sepertinya kau cukup hati-hati dalam menjaga hubungan kalian, makanya informasi ini bisa sampai lolos dari pemeriksaan anak buahku.
"Apa pekerjaanmu sudah beres?" tanya Rose mengalihkan pembicaraan.
Adam mengangguk. Dia lalu mencium puncak kepala Rose penuh sayang. "Aku tidak mau membiarkanmu terlalu lama sendiri. Jadi sebisaku ku selesaikan secepat mungkin semua pekerjaan yang ada."
"Ingin pergi mengunjungi Zidane tidak? Besok kita semua akan pergi ke Negara N, dan kemungkinan besar kita cukup lama tinggal di sana. Anggaplah sebagai salam perpisahan sebelum besok dan beberapa waktu ke depan Zidane mendapat cuti dari hukuman yang seharusnya dia terima. Bagaimana? Aku menantu yang baik bukan?"
Seringai tipis muncul di bibir Adam saat dia mendengar ide yang di ucapkan oleh Rose. Setelah itu dia mengangkat tubuh Rose kemudian membawanya keluar dari sana. Rose yang tanggap pun segera melingkarkan tangan ke leher Adam kemudian tersenyum. Mereka tak lagi bicara sampai akhirnya Adam membawa Rose masuk ke dalam mobil. Dan ... mereka pun pergi meninggalkan markas Queen MA.
__ADS_1
***