Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Suatu Kebetulan Atau...


__ADS_3

Terdengar siulan panjang saat Reina berjalan keluar dari dalam pesawat. Bibirnya yang merah merona tampak mengembangkan senyum ketika wajahnya di terpa angin yang berhembus.


"Hmm, ternyata udara di Negara N cukup segar. Sepertinya aku akan betah berburu di negara ini, Lorus," ucap Reina girang.


"Berburu ya berburu saja, Rein. Untuk apa kau sibuk membahas tentang udara," sahut Lorus dengan nada yang sedikit cetus.


"Hei kau ini kenapa selalu bersikap sensitif sih? Kau punya masalah apa denganku?"


Lorus menghela nafas panjang. Meski sebenarnya dia sedikit takut akan perubahan emosi di diri Reina, tapi itu tak membuatnya jera untuk terus memancing kekesalan wanita jadi-jadian ini. Lorus kemudian memperhatikan mobil yang sedang bergerak mendekat. Dia lalu berdiri menghadang sambil mendorong tubuh Reina ke belakang.


"Apa mereka adalah orang-orang kita?" bisik Reina mulai waspada.


Baru saja Lorus hendak menjawab, tiba-tiba saja ponselnya bergetar. Dia segera mengangkat panggilan tersebut begitu tahu siapa yang menelpon.


"Halo Nona,"


"Apa mereka sudah datang untuk menjemput kalian?"


Lorus langsung melihat ke arah Reina saat dia mendengar suara asing dari balik telepon. Dia sedikit bingung kenapa ponsel nona-nya bisa berada di tangan orang lain. Khawatir terjadi sesuatu, Lorus segera mencecar orang tersebut dengan nada penuh kecurigaan.


"Siapa kau? Kenapa kau bisa menelpon menggunakan nomor ini? Dimana Nona kami?"


"Aku Liona, neneknya Nona kalian. Kenapa? Apakah tidak boleh jika aku menelpon menggunakan ponsel milik cucuku?"


Reina dengan cepat merebut ponsel dari tangan Lorus. Pikirannya sudah melayang kemana-mana, khawatir kalau kesayangannya tengah berada dalam bahaya.


"Hei, kau jangan main-main ya dengan Rose. Mana dia? Aku mau bicara!" sentak Reina geram.


"Rein, itu Nyonya Liona. Neneknya Nona Rose," bisik Lorus.

__ADS_1


"Haaa???"


"Ada apa Rein? Sepertinya kau sangat syok setelah mendengar bisikan temanmu. Kira-kira sekarang kau masih ingin membentakku lagi tidak?"


Reina meringis pelan. Dia lalu menggaruk-garuk keningnya karena merasa sedikit canggung setelah membentak orang yang tidak salah.


"Hehe, maafkan aku Nenek Liona. Aku bersikap seperti itu karena khawatir Rose kesayanganku kenapa-napa. Biasalah, sebagai seorang wanita wajar bukan kalau mudah merasa panik?" jawab Reina kemudian berjalan mendekat ke arah mobil yang kini pengemudinya telah membukakan pintu untuknya. "Oh, terima kasih tampan. Upss, sepertinya kau bukan manusia ya. Tatapan matamu kosong dan tidak ada raut kehidupan di wajahmu. Ck, kau sungguh membuatku syok, Nenek Liona. Kenapa malah mengirim mutan untuk menjemput kami sih? Memangnya di negara ini sudah tidak ada pria tampan lagi ya?"


Terdengar suara tawa laki-laki dari balik telepon. Reina yang mendengar hal itu hanya bisa mendengus kesal. Dia jengkel sekali karena keluhannya malah di sambut dengan gelak tawa yang dia yakini adalah suara Adamar.


"Pastikan kau membawa Flyn hidup-hidup karena aku ingin Rose yang menghabisinya. Kalau kalian sampai membuatnya lecet meski hanya sedikit, maka bersiaplah untuk berurusan denganku!"


Sebuah seringai muncul di bibir merah Reina saat dirinya di ancam oleh Nenek Liona. Sambil menyibakkan gaunnya yang berbelahan tinggi, Reina merespon ancaman tersebut dengan sangat santai. Dia tidak akan pernah takut pada apapun selain pada Tuhan dan juga pada Rose kesayangannya.


"Nenek Liona, siapapun dirimu terima kasih karena sudah mengancam aku. Tapi maaf, seorang Reinadelwis tidak akan pernah takut pada ancaman siapapun. Termasuk juga dengan ancaman yang baru saja kau katakan. Jadi Nenek... jagalah kata-katamu karena akupun tidak akan segan berurusan denganmu jika suasana hatiku sampai terasa tidak baik."


Bulu kuduk Lorus berdiri saat pandangannya bertabrakan dengan mata tajam Reina. Dia yang saat itu memutuskan untuk duduk di kursi samping kemudi tidak sengaja melirik ke arah kursi belakang melalui kaca spion mobil. Jujur saja, Lorus sebenarnya merasa sangat penasaran mengapa Reina bisa begitu berani pada nenek nonanya yang jelas-jelas bukan orang sembarangan. Namun rasa penasaran Lorus harus segera dia kubur dalam-dalam begitu mendapat tatapan mematikan dari wanita setengah pria yang duduk di kursi belakang.


Ekpresi di wajah Reina langsung berubah begitu dia ditegur oleh tuannya. Cepat-cepat Reina memasang wajah semanis malaikat walaupun Rose tidak bisa melihatnya.


"Rose, aku sedih karena di ancam oleh Nenek Liona. Tolong bela aku Rose. Aku merasa di bully," rengek Reina mengadukan kelakuan si nenek galak.


Lama Reina menunggu jawaban dari Rose. Bibirnya yang merekah bahkan sampai mengerucut karena aduannya di abaikan.


"Seharusnya besok pagi aku sudah harus bertemu dengan pria bernama Flyn itu, Reina. Aku lelah dengan teka-teki di dalam kepalaku. Jadi lekaslah memburu!"


"Sesuai yang kau inginkan, sayangku. Kalau begitu aku matikan dulu ponselnya. Dan aku pastikan besok pagi kami semua sudah ada di Negara S. Kau istirahat saja, tidurlah dengan nyenyak agar besok pagi kita bisa puas bermain!"


Setelah berkata seperti itu Reina langsung mematikan ponselnya. Dia bersiul, memberi tanda pada Lorus kalau dia tak mau ada kegagalan.

__ADS_1


"Sudah terlacak keberadaan bajingan itu?"


"Sudah. Sungguh tidak di sangka kalau Flyn memilih untuk tinggal tak jauh dari kediaman keluarga Osmond," jawab Lorus kemudian menyerahkan tablet miliknya pada Reina. "Dia benar-benar sangat licik, Reina. Keluarga Nona Rose pasti tidak ada yang mengira kalau Flyn ternyata berada di sekitar mereka. Sungguh suatu strategi yang sangat cerdik!"


"Kau macam tidak tahu saja, Lorus. Di mana-mana tempat persembunyian paling aman adalah berada di dekat musuh. Mereka sudah pasti tidak akan ada yang mengira kalau orang yang mereka cari ternyata ada di sekitar mereka. Trik-trik seperti ini terlalu mudah dibaca jika seandainya Flyn adalah musuhku sejak dulu!" sahut Reina sembari memilin rambut.


"Tapi Rein....


"Reina, Lorus. Rein-Rein terus kau ini!"


Lorus menarik nafas panjang ketika Reina memprotes cara memanggilnya. Entahlah, Rein ataupun Reina menurut Lorus itu sama saja. Sama-sama nama yang cocok di peruntukan untuk manusia jadi-jadian seperti rekannya itu. Tapi tetap saja si Reinadelwis ini tidak kau menerima. Ingin marah tapi tida berani, jadi Lorus hanya bisa pasrah menerima protes panjang yang tiada hentinya.


"Keluarga Nyonya Liona bukanlah keluarga sembarangan, Reina. Dari informasi yang aku dapat, keluarga Ma dan juga orang-orangnya Nyonya Liona di kenal seperti udara yang bisa muncul dimana-mana. Rasanya sedikit mustahil kalau mereka sampai tidak menyadari pergerakan Flyn. Benar tidak?"


Reina mendengus. Temannya ini benar-benar sangat bodoh, membaca situasi seperti ini saja tidak mampu. Apa jadinya nanti jika Reina membiarkannya berburu sendirian? Bisa-bisa seluruh anggota Queen Ma habis di bunuh oleh kesayangannya karena gagal menangkap bajingan tengik itu.


"Lorus, sebelum bicara apa kau tidak berpikir dulu tentang kemungkinan yang menjadi penyebab lolosnya Flyn dari mata anak buahnya Nenek Liona? Dari hal ini saja harusnya kau sudah bisa menebak kalau selama ini Flyn sama sekali tidak pernah melakukan tindakan gegabah yang bisa memancing kecurigaan mereka. Dia pasti sudah merencanakan hal ini dengan sangat matang sebelum memutuskan untuk bersembunyi di sekitar tempat tinggal musuhnya. Sampai sini paham?" tanya Reina gemas.


Mendengar jawaban Reina yang begitu masuk akal membuat Lorus terperangah. Benar-benar tidak bisa di ragukan lagi cara berpikir Reina. Pantaslah wanita jadi-jadian ini menjadi orang kedua di kelompok Queen Ma.


Haa, Ma? Kenapa nama belakang kelompok Queen Ma bisa sama dengan nama marga kakeknya Nona Rose ya? Ingatan Nona Rose kan sudah di hapus paksa oleh Flyn sejak usianya tujuh tahun. Lalu darimana dia tahu kalau nama belakang kakeknya adalah Ma? Ini hanya kebetulan saja atau ada rahasia lain yang belum terungkap?


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...

__ADS_1


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2