
Karena suasana hatinya yang masih kacau, Mona memutuskan untuk pergi jalan-jalan seorang diri. Dia butuh udara segar setelah beberapa hari ini tertekan oleh satu kenyataan tentang cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
"Kau mau kemana, sayang?" tanya Nenek Shiren.
"Aku ingin jalan-jalan sebentar, Nek," jawab Mona lirih. Gurat kekecewaan masih terlihat jelas di matanya.
"Apa perlu Nenek temani?"
Mona menggeleng. Dia kemudian memeluk sang nenek untuk melepaskan sedikit beban yang menggunung di dalam hatinya.
"Aku pergi dulu ya, Nek. Hanya sebentar, oke?"
"Segeralah kembali jika hatimu sudah merasa tenang, sayang. Nenek mengkhawatirkanmu," ucap Nenek Shiren dengan berat hati.
"Iya Nek."
Setelah itu Mona bergegas keluar dari rumahnya. Dia berjalan di pinggir trotoar sembari melamunkan kebersamaannya dengan Rose. Semuanya masih tentang Rose, juga tentang hatinya yang terkoyak.
"Rose, sebentar lagi aku akan berulang tahun yang ke dua puluh empat. Harusnya ini menjadi hari yang sangat membahagiakan untukku karena itu artinya aku telah benar-benar menjadi wanita dewasa. Tapi kenyataan dimana kau telah menikah dengan Adam membuat kebahagiaanku meredup. Aku ingin waktu berhenti saat ini juga, aku ingin ragaku tidak bergerak lagi. Aku mulai lelah, Rose," gumam Mona sembari menekan dadanya yang terasa sesak.
Lama Mona menapaki trotoar hingga akhirnya dia sampai di taman. Dia kemudian berjalan menuju kursi panjang yang ada di sana. Mona termenung, dia memikirkan nasib hidupnya yang sangat tidak beruntung.
Dari kejauhan, sebuah mobil tampak mengawasi Mona sejak dia keluar dari rumah. Namun Mona tidak menyadarinya karena dia sibuk dengan pikirannya yang tidak bisa berhenti memikirkan Rose.
"Reina, kenapa aku merasa kalau Mona tengah di awasi oleh seseorang ya?" ucap Resan sambil memperhatikan daerah sekitar taman.
"Aku sudah merasakannya sejak tadi. Waspada, Res. Rose bisa membunuh kita berdua jika sampai terjadi sesuatu padanya!" sahut Reina tanpa melepaskan pandangannya dari gadis yang kini mulai berjalan-jalan di sekitar taman.
"Hm, kenapa suasananya jadi tegang begini ya? Sebenarnya Mona ini siapanya Nona Rose sih? Aku sungguh bingung melihat Nona yang begitu menjaga gadis ini."
Plaaakkk
"Bersyukur tidak ada Rose di sini. Mulutmu bisa dirobek kalau dia sampai mendengar perkataanmu yang lancang tadi!" tegur Reina sambil memelototkan mata ke arah pria yang duduk di sebelahnya.
Resan meringis sambil memegangi kepalanya yang baru saja di geplak oleh Reina. Dia kemudian kembali fokus memperhatikan Mona yang sudah kembali duduk di kursi panjang yang tadi di dudukinya.
__ADS_1
Rose, aku rindu padamu.
Satu cairan bening menetes keluar di sudut mata Mona saat dia terkenang dengan ucapan Rose semalam. Dia merasa sangat sedih meski Rose mengajaknya bekerja di satu perusahaan yang sama.
"Haruskah aku merelakan hatiku terlukai, Rose? Apakah aku akan sanggup melihat kebersamaanmu dengan Adam? Apa aku bisa kuat melihatmu tertawa bersama pria lain?" isak Mona pilu.
Sambil terisak-isak, Mona kembali berjalan-jalan mengelilingi taman. Rasanya ingin sekali dia menghilangkan perasaan tersebut. Tapi itu terasa begitu sulit. Nama Rose sudah terlanjur melekat erat di relung hatinya.
Bruugghhh
"Awwww!"
Mona meringis kesakitan sambil memegangi bokongnya yang tarantuk bebatuan setelah dirinya terjatuh karena di tabrak oleh seseorang. Tak ingin ketahuan sedang menangis, dengan cepat Mona menyeka air matanya. Dia mendongak saat sebuah tangan terulur ke arahnya.
"Nona, apa kau baik-baik saja? Tolong maafkan aku , Nona. Aku sedang terburu-buru jadi tidak sengaja menabrakmu. Mari, biarkan aku membantumu berdiri."
Bagai tersihir, Mona pun langsung menyambut uluran tangan pria yang menabraknya. Namun sedetik kemudian Mona memekik kaget saat tangannya terasa begitu perih seperti tersayat benda tajam.
"Aih ya ampun, sepertinya jarimu terkena cincinku!"
"Oh, t-tidak apa-apa, Tuan. Aku yang tidak hati-hati," sahut Mona merasa canggung saat tangannya terus di genggam oleh pria ini.
Mona terus memperhatikan pria yang sedang sibuk mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dia menjadi kikuk saat pria ini dengan begitu telaten mengelap darah yang masih menetes dari sela-sela jarinya.
"Ya Tuhan, tolong maafkan aku, Nona. Kali ini aku benar-benar sangat ceroboh. Aku dua kali melakukan kesalahan padamu. Tolong maafkan aku, Nona. Aku sungguh menyesal!"
"Panggil Mona saja," ucap Mona pelan.
"Oh, Mona. Wahh, namamu sungguh cantik. Serasi dengan parasmu."
Mona sama sekali tidak tersipu di puji oleh seorang pria. Yang ada hatinya malah membeku saat dia terbayang dengan wajahnya Rose. Hmm, lagi-lagi semuanya hanya tentang Rose.
"Aku ... Agler!"
Setelah memperkenalkan diri, Agler menatap Mona dengan pandangan yang sangat aneh. Ada tatapan memuja, haus akan sesuatu. Namun sayangnya Mona tidak menyadari keanehan tersebut karena dia sedang melihat ke arah lain.
__ADS_1
"Mona!"
Mona dan Agler menoleh ke arah jalan saat ada seseorang yang memanggil. Seorang wanita yang sangat cantik terlihat keluar dari dalam mobil dan langsung berjalan menghampiri mereka berdua. Kening Mona mengerut, dia bingung darimana wanita cantik ini bisa mengetahui namanya.
"Maaf, kakak ini siapa ya? Darimana kau tahu kalau namaku Mona? Sepertinya kita tidak saling kenal!" tanya Mona penasaran.
"Namaku Reina, aku temannya Rose. Kau kenal dia kan?" jawab Reina kemudian melirik ke arah pria yang masih menggenggam tangan Mona. Mata Reina membelalak lebar ketika dia melihat darah di tangan Mona, juga melihat satu tanda tak asing di tangan pria tersebut.
Sial, dia anggota.
"Mona, Rose memintaku untuk membawamu pergi ke kostnya. Dia sedang tidak enak badan katanya!" ucap Reina kemudian menarik tangan Mona agar terlepas dari cengkeraman pria bajingan ini.
"Rose sakit?" pekik Mona syok. Seketika rasa khawatir langsung memenuhi hatinya.
Reina mengangguk. Dia lalu menatap tajam ke arah pria yang kini tengah tersenyum kecil ke arahnya. Jiwa Reina mendidih, tapi dia coba menahannya karena di sini masih ada Mona. Jika tidak, Reina pasti akan langsung mengajak pria bajingan ini untuk berduel. Dia sangat geram melihat senyuman menjijikkan itu.
"Kak Reina, ayo cepat kita pergi ke kosnya Rose. Kasihan dia!" desak Mona hampir menangis.
"Baiklah. Ayo!"
Sayangnya, Mona dan Reina tidak menyadari kalau mereka telah melewatkan sesuatu hal yang sangat penting. Yaitu....
Darah.
Ya, di tangan Agler masih tertinggal darah yang berasal dari luka di tangan Mona. Pria yang memiliki senyum misterius itu tampak menyeringai jahat ketika Mona dan Reina masuk ke dalam mobil kemudian berlalu pergi dari sana. Bagai seorang psikopat, Agler dengan begitu bern*fsunya menghirup dalam-dalam aroma darah yang menempel di tangan dan di sapu tangannya. Dia seperti orang yang sedang kehausan.
"Hmmm, harummu masih sama seperti dulu, gadis kecilku. Kau sungguh memabukkan!"
Agler, dia adalah salah satu ketua sekte yang sangat menggilai kecantikan. Sebenarnya Agler itu sudah cukup berumur. Namun karena dia selalu melakukan ritual bersama dengan para anggotanya, dia jadi memiliki wajah yang awet muda. Perkumpulan yang Agler dirikan adalah salah satu perkumpulan yang paling di buru di negara ini. Karena apa? Karena kelompoknya selalu menumbalkan wanita cantik dengan darah tertentu dimana darah itu akan di ambil ketika korbannya sedang dalam kondisi sekarat. Mungkin sedikit kejam, tapi dari sinilah Agler dan para anggotanya mendapat keabadian. Sangat menarik bukan?
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
__ADS_1
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...