
Kesal karena Rolland terus mengacuhkannya, Brenda memutuskan untuk berjalan-jalan keluar hotel. Dia kemudian duduk di dekat pancuran air sambil menikmati udara sore di negara ini.
"Hmm, andai saja Kak Rolland bisa sedikit peka, aku pasti tidak akan kesepian seperti ini," gumam Brenda. "Tapi ya sudahlah. Meskipun cuek begitu aku tetap mencintainya."
Seolah tak memiliki rasa kecewa, Brenda dengan senangnya mengenang kejadian saat dia tidur dalam satu kamar yang sama dengan Rolland. Memang sih pria kaku itu sama sekali tidak menyentuhnya, tapi diam-diam Brenda telah mencuri satu ciuman saat pria itu terlelap. Karena membayangkan tentang ciuman itu, mendadak tubuh Brenda terasa gerah. Dia lalu melepas jaket yang di kenakannya hingga menyisakan tanktop berwarna hitam.
"Fyuhh, begini jadi semakin segar. Kalau Kak Rolland melihatku, kira-kira dia marah tidak ya. Hihihi," ucap Brenda sembari mengibas-ngibaskan rambut panjangnya.
"Selamat sore nona cantik."
Brenda menatap heran ke arah seorang pria yang baru saja menyapanya. Bulu kuduknya berdiri saat Brenda tidak sengaja mendapati satu seringai aneh di bibir pria tersebut.
"Siapa kau? Sok kenal sekali," tanya Brenda waspada.
"Aku hanya seorang pria biasa yang terpesona begitu melihat kecantikanmu," sahut si pria tanpa menyebutkan nama.
"Benarkah? Kalau begitu artinya matamu bisa berfungsi dengan baik. Semua pria yang pernah melihatku selalu mengatakan hal yang sama seperti yang kau ucapkan barusan. Ck, pesonaku memang sangat memikat," sahut Brenda bangga dengan pujian pria asing ini. Dia lalu kembali memakai jaketnya.
"Apa aku boleh duduk di sampingmu?"
Senyum Brenda langsung hilang saat pria itu tiba-tiba saja duduk sebelum dia sempat menjawab. Dia menatapnya jengkel saat jarak mereka begitu dekat.
"Hei kau pria tak bernama, menjauh sedikit dariku. Aroma tubuhmu membuat perutku mual."
Amis, bau ini begitu menusuk indra penciuman Brenda saat berada dekat di sisi pria asing tersebut. Tak tahan menahan gejolak dari dalam perutnya, Brenda memilih untuk bergeser menjauh. Lagi-lagi dia tidak sengaja melihat seringai di bibir pria itu yang mana di barengi dengan tatapan yang sangat aneh.
Kenapa aku merasa takut ya di dekat pria ini? Jangan-jangan dia adalah psikopat yang ingin menangkapku karena terpesona dengan kecantikan yang ku miliki. Iyuhhh, menjijikkan sekali.
"Nona cantik, tubuhku bau amis begini karena aku bekerja di tempat pelelangan ikan. Maaf ya jika membuatmu merasa tidak nyaman."
"Pelelangan ikan? Pantaslah kalau tubuhmu bau. Tapi ngomong-ngomong tempat pelelangan ikan itu jauh tidak? Aku penasaran ingin pergi ke sana," tanya Brenda ingin tahu.
"Tempatnya tidak terlalu jauh kok. Kebetulan aku juga mau pergi ke sana karena sebentar lagi para nelayan akan pulang dari tengah laut. Kau bisa melihat ikan-ikan segar yang di bawa oleh mereka nanti."
"Woaahhh, benarkah? Itu pasti akan sangat menyenangkan."
__ADS_1
Namun ketika Brenda hendak menjawab iya pada pria ini, tiba-tiba saja dia ingat kalau sekarang dia sedang berada di negara orang. Brenda kemudian menatap lekat ke arah pria yang kini tengah tersenyum penuh harap ke arahnya.
"Maaf Tuan tak bernama, sepertinya aku tidak jadi ikut pergi denganmu. Nanti suamiku marah."
"Apa? Jadi kau sudah menikah?" pekik pria itu kaget.
"Iya. Aku sebenarnya bukan penduduk asli negara ini, dan kami datang kemari hanya untuk berbulan madu. Maaf ya."
Wajah pria itu tiba-tiba berubah merah padam saat Brenda menyebut jika dirinya sudah menikah. Dia terlihat sangat marah.
"Dasar j*lang. Kenapa tidak bilang dari tadi kalau kau sudah menikah. Membuang waktu saja!"
Setelah memaki Brenda dengan kasar, pria asing tersebut langsung pergi dari sana. Brenda yang kaget mendapat makian seperti itu hanya terbengang diam di tempatnya duduk. Dia bingung kenapa pria itu bisa begitu marah hanya gara-gara kebohongan yang dia ucapkan.
"Brenda!"
Dari arah pintu hotel, terlihat Rolland yang sedang berjalan cepat ke arah gadis yang sedang duduk sendirian. Dia bergegas memeluk Brenda begitu sampai di dekatnya.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Apa?"
"Barusan ada pria yang memakiku. Dia mengataiku j*lang karena aku memberitahunya kalau aku sudah menikah. Hatiku sakit sekali, Kak. Bagaimana ini?" ucap Brenda mengadukan apa yang baru saja dia alami.
Rolland menarik nafas dalam-dalam saat mendengar aduan Brenda. Dia tadi sedang membicarakan hal penting dengan keluarganya sebelum di beritahu oleh anak buahnya kalau Brenda sedang bersama pria asing di depan hotel. Khawatir pria asing itu melakukan hal yang buruk, dengan sangat tergesa-gesa Rolland berlari menyusul keluar. Dan di sinilah dia sekarang. Memeluk gadis pecicilan ini sambil mendengarkan aduannya yang baru saja di maki oleh pria asing tersebut.
"Kak Rolland, jangan diam saja. Calon istrimu baru saja di hina oleh pria lain, Kakak harus turun tangan. Panggil dan marahi balik pria jahat itu!" rengek Brenda sambil memasang aegyo lucu di wajahnya.
Pletaakk
"Awwww," ...
"Itulah akibatnya jika berani keluar sendiri tanpa aku. Masih untung kau hanya di maki, apa jadinya jika tadi dia sampai menculikmu. Saat ini tubuhmu pasti sudah di potong-potong olehnya," ucap Rolland menakut-nakuti Brenda setelah memberi satu jitakan di keningnya.
"Isshh, apalah Kak Rolland ini," gerutu Brenda sambil mengerucutkan bibir. "Tapi Kak, aku merasa ada yang aneh dengan pria itu. Aroma tubuhnya sangat amis, benar-benar sangat amis sampai membuat perutku mual."
__ADS_1
"Amis?" beo Rolland.
Brenda mengangguk. Dia mengernyitkan hidung saat terkenang dengan aroma menjijikan yang menguar dari pria asing itu.
"Dia bilang bau amis itu berasal dari pekerjaannya sebagai tukang lelang ikan. Tapi aku sedikit tidak percaya karena bau itu lebih cocok dengan bau amis tukang jagal sapi. Tubuhnya bau amis darah."
Aku tidak boleh menggampangkan perkataan Brenda. Aku yakin pasti ada yang salah dengan pria asing itu. Sebaiknya hal ini segera aku laporkan pada Mommy dan Nenek. Aku khawatir ini ada hubungannya dengan mereka.
"Lain kali kau jangan sembarangan bicara dengan orang asing, Brenda. Karena kau tidak akan tahu motif apa yang mereka sembunyikan dengan mendekatimu. Di negara ini ada banyak organisasi rahasia yang menjadikan manusia sebagai persembahan ritual. Kau harus lebih hati-hati lain kali!" ucap Rolland sambil menggandeng tangan Brenda masuk ke dalam hotel.
"Persembahan ritual? Maksudnya bagaimana Kak, aku kurang paham?" tanya Brenda kebingungan.
"Organisasi rahasia itu semacam sekte-sekte yang memuja sesuatu hal. Biasanya orang akan menggunakan sekte-sekte ini demi kejayaan, kemakmuran, kesuburan, dan bahkan kecantikan. Dan di antara organisasi itu sekte pemuja kecantikanlah yang paling berbahaya karena mereka menumbalkan darah manusia yang masih hidup!"
Tubuh Brenda kaku setelah mendengar jawaban Rolland. Dia menjadi parno saat bertemu dengan dua orang pria di dalam lift. Rolland yang menyadari kalau gadisnya ketakutan pun segera merangkul bahunya agar mendekat. Eh, gadisnya?
"Kak, yang di belakang kita itu anggota sekte bukan?" bisik Brenda.
"Yang benar saja kalau mau bertanya, Brenda. Memangnya kau tidak lihat seragam yang mereka kenakan? Mereka itu adalah pegawai hotel ini, bukan anggota sekte. Ada-ada saja kau ini," sahut Rolland sambil terkekeh pelan.
"Oh, aku pikir mereka adalah anggota, Kak. Ya ampun, gara-gara pria tadi sekarang semua pria jadi terlihat menakutkan di mataku. Benar-benar mengerikan."
"Ssstt, diamlah. Jangan di bahas lagi, nanti ada yang dengar."
Brenda langsung mengangguk patuh. Sungguh, dia baru tahu ada hal-hal yang begitu menyeramkan di negara ini. Brenda lalu membatin untuk menarik kata-katanya yang sempat memuji kalau negara ini adalah negara yang sangat indah dan juga menenangkan. Andai saja tahu sejak awal, Brenda pasti tidak akan berpikiran seperti itu. Dia menyesal sekarang.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1