Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Senyum Tersirat


__ADS_3

"Apa kata Rose?" tanya Reina sembari mengamati pasangan sejenis yang tengah asik menari di lantai dansa.


"Nona mengatakan untuk tetap menjalankan misi sesuai rencana awal, Reina. Dan mengenai kenapa nomornya tidak bisa di hubungi adalah karena Nona lupa untuk mengisi daya baterainya."


"Sudah kuduga."


Resan melirik ke arah Reina yang terus saja memutar-mutarkan minuman di dalam gelas. Sudah beberapa jam sejak mereka berada di club ini untuk mengawasi Eroz dan Zalina. Akan tetapi pasangan tersebut masih belum juga meninggalkan club. Malam ini mereka rencananya akan menghabisi Eroz sebelum akhirnya membawa Zidane agar pria tua tersebut mau membawa mereka ke suatu tempat. Ketua mereka mau agar pria gemulai ini memberitahukan dimana dia menyembunyikan mayat Karina Haque, yang tak lain adalah ibu dari Adamar, suami ketua mereka.


"Cihhh, meskipun aku berasal dari satu spesies yang sama seperti si Zalina itu, entah kenapa bulu kudukku berdiri semua saat melihatnya bermesraan dengan Eroz. Itu terlihat sangat menjijikkan, Res. Seperti aku sedang melihat orang yang menjilati kotorannya sendiri!" ucap Reina sembari bergidik jijik saat dia tidak sengaja melihat ayah mertuanya Rose yang tengah berciuman panas dengan pasangannya di lantai dansa.


"Kalau begitu jangan di lihat. Jangan kotori matamu yang cantik itu dengan pemandangan hina seperti yang kau sebutkan barusan!" sahut Resan santai. "Oh ya Reina, kira-kira berapa lama obat ini akan mempengaruhi alam sadar Zalina? Kalau dia terlalu lama berada dalam pengaruh obat bius, permainannya pasti akan terasa sangat monoton. Akan sangat menyenangkan jika bisa mendengar suara jeritan kagetnya saat kita menunjukkan mayat Nyonya Karina Haque yang tanpa sadar sudah dia bongkar dengan tangannya sendiri. Percaya tidak, itu pasti akan menjadi suara jeritan terindah yang pernah kita dengar."


"Haih, kau ini. Tenang saja Res, selama ini kinerja orang-orang kita tidak pernah mengecewakan. Aku jamin malam ini kita semua akan mendengarkan melodi indah yang keluar dari mulut Zidane. Upss, maksudku... Zalina!" jawab Reina kemudian tertawa dengan sangat puas yang langsung di ikuti oleh beberapa anak buahnya yang lain. Sementara Resan, pria itu hanya menyeringai tipis.


Suara dentuman musik yang mengguncang setiap sisi club membuat Zalina dan Eroz kian tenggelam di dalam uforia mereka. Keduanya terlihat begitu bahagia, seolah melupakan permasalahan besar yang tengah melingkupi keluarga Clarence. Ya, saat berada dalam posisi seperti ini, Zidane sama sekali tidak terfikir akan kehadiran Rose di rumahnya. Yang dia mau hanyalah kebahagiaan dan juga kebebasan yang mana bisa membuatnya melayang setinggi-tingginya. Di tambah lagi malam ini kekasihnya terlihat begitu bersemangat ketika saling meluapkan rasa cinta mereka. Membuat Zidane kian terlena hingga merasa enggan untuk beranjak dari tempat tersebut.


"Apa kau menyukainya, sayang?" tanya Eroz setengah berteriak. Dia sengaja mengeraskan volume suaranya agar Zalina bisa mendengar karena dentuman musik begitu besar di dalam club tersebut.


"Sangat suka," sahut Zalina sambil terus menggerakkan tubuhnya. Satu tangannya berpegangan erat di pinggang Eroz.


"Malam ini kau jangan pulang ke rumah saja, sayang. Aku ingin menghabiskan malam bersamamu."


"Sebenarnya bisa saja aku tidak pulang ke rumah itu. Tapi Eroz, aku tidak mau Vanya banyak bertanya kemudian berfikir kalau aku sedang selingkuh dengan wanita lain. Kau tahu sendiri bukan seperti apa kelakuan wanita tidak tahu diri itu?"


Eroz menghela nafas dalam begitu mendengar jawaban sang kekasih hati. Kecewa, itu sudah pasti. Sudah bertahun-tahun Eroz menjalin hubungan dengan Zalina, jumlah malam yang pernah mereka lewati bersama bisa di hitung dengan jari. Eroz bukannya ingin egois, tapi sebagai pasangan dia tentu sangat ingin memiliki quality time bersama seseorang yang kita inginkan. Benar tidak?


"Jangan marah. Aku janji di lain waktu aku akan mengusahakan waktu agar kita bisa menginap bersama. Bahkan jika perlu kita jangan menginap di hotel, tapi di apartemenmu. Bagaimana, kau mau tidak?" tanya Zalina yang tanggap kalau kekasihnya tengah merajuk.

__ADS_1


"Tentu saja aku sangat mau. Terima kasih, sayang. Cuma kau yang paling tahu apa yang kumau."


Eroz segera menarik tubuh Zalina agar semakin mendekat ke arahnya. Setelah itu dia mengajaknya bertukar saliva, meresapi betapa dia sangat bahagia dengan hubungan ini.


Saat Zalina dan Eroz tengah asik menari dan berpelukan, seorang pelayan datang sambil membawa dua gelas minuman yang berwarna biru cerah. Namun jika mereka tahu apa sebenarnya yang terkandung di dalam gelas minuman tersebut, mereka pasti enggan untuk meminumnya. Karena apa? Karena ....


"Selamat malam Nona Zalina, Tuan Eroz. Saya ingin menawarkan jenis minuman baru hasil karya tangan bartender terbaik kita di club ini. Sebagai tamu tetap di sini, kalian berdua mendapat kesempatan untuk menjadi yang pertama mencicipi minumannya. Jika berkenan, silahkan di nikmati. Jika tidak, itu tidak masalah. Saya akan memberikan minuman ini pada pasangan yang lain."


"Wowww ... ini menarik!" sahut Zalina seraya tersenyum lebar. Dia merasa amat sangat terhormat ketika mendapat tawaran dari pelayan tersebut. "Kami akan mencicipinya. Dan ... terima kasih sudah menjadikan kami sebagai yang pertama. Aku jadi semakin betah untuk berlama-lama di club ini. Iya kan, Eroz?"


"Iya, sayang," jawab Eroz seraya menatap lekat ke arah pelayan yang entah mengapa seperti sedang menyembunyikan senyum tersirat.


"Kalau begitu silahkan menikmati minuman ini, Tuan dan Nyonya."


"Baiklah-baiklah."


Ada apa ini? Kenapa aku merasa seperti ada bahaya besar yang sedang mengancamku dan Zalina? Minuman ini tidak mungkin beracun, kan?


Jika Zalina langsung menikmati minuman tersebut, lain halnya dengan yang terjadi pada Eroz. Dia ragu, dan juga gugup. Meski bukan berasal dari kalangan mafia yang mampu membaca situasi yang sedang terjadi, Eroz tetaplah merasa kalau dirinya tengah menjadi target seseorang. Namun keraguan di diri Eroz terpaksa harus dia kesampingkan terlebih dahulu karena sekarang Zalina tengah memprotes tindakannya yang tidak segera meminum minuman pemberian pelayan.


"Eroz, apa yang kau tunggu. Minuman ini sangat enak, kenapa kau tidak langsung meminumnya?" tanya Zalina heran.


"Em baiklah. Demimu aku akan menghabiskan semua minuman ini. Jangan marah, oke. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu saja tadi," jawab Eroz sambil tersenyum kecil. Setelah itu dia langsung menghabiskan minuman dalam sekali teguk.


Merasa ada yang janggal atas jawaban kekasihnya, Zalina terus menatap Eroz dengan raut wajah penasaran. Dan tatapannya itu baru teralih setelah pria ini menghabiskan minumannya.


"Apa maksud ucapanmu barusan?"

__ADS_1


"Ucapan yang mana?" tanya Eroz bingung.


"Kau bilang demiku kau akan menghabiskan minuman itu. Juga dengan jawabanmu yang menyebut kalau kau tengah memikirkan sesuatu. Ada apa?"


Sebelum menjawab, Eroz memperhatikan ke sekeliling club. Kalau tadi dia hanya merasa seperti ada bahaya yang mengancam, kali ini dia merasa kalau dirinya tengah di awasi oleh seseorang. Saat Eroz tengah menelisik ke seluruh ruangan, ekor matanya tidak sengaja melihat seorang wanita tengah melambaikan tangan ke arahnya. Seketika tubuh Eroz kaku. Eroz kemudian teringat dengan minuman yang baru saja dia dan Zalina minum. Namun, belum sempat Eroz memberitahu Zalina tentang kehadiran Reina di sana, beberapa pria berbadan kekar sudah lebih dulu menghampiri mereka.


"Diam dan patuhi apa yang kami katakan!"


"K-kalian siapa?" tanya Zalina dengan kondisi mata yang mulai berkunang-kunang.


"Jangan banyak bertanya kalau kalian masih ingin hidup. Sekarang ikut kami, ada hal penting yang harus kalian urus bersama dengan Reina!"


"A-APA? Re-Reina?"


Zalina menelan ludah. Dia kemudian menoleh ke arah Eroz yang sedang di papah oleh dua orang pria kekar dalam kondisi setengah sadar setengah tidak.


Apa ini ada hubungannya dengan Rose? Mau apalagi dia? Bukankah aku sama sekali tidak melakukan pelanggaran? Lalu kenapa aku dan Eroz di tangkap? Ada apa ini? Arrrggghhh, kau benar-benar sialan, Rose. Awas saja kau!


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2