
Di saat Zidane tengah bersenang-senang dengan Reina and the geng, di kediaman Clarence terlihat Vanya yang sedang kebingungan melihat seisi rumah yang kini di penuhi oleh orang-orang asing. Entah kemana perginya para penjaga dan juga pelayan yang sebelumnya bekerja di rumah ini. Bisa-bisanya mereka membiarkan orang asing masuk kemari. Dan yang lebih membuat Vanya merasa semakin bingung adalah orang-orang tersebut yang seperti sedang membangun suatu ruangan dimana dulunya lokasi itu menjadi tempat favorit Zidane diam memandangi foto keluarga mereka. Sebenarnya sebelum Vanya pulang, dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal. Tiba-tiba saja dia tidak di izinkan kembali ke rumah oleh daun muda peliharaannya. Vanya yang saat itu sangat haus akan belaian pria pun tak kuasa untuk menolak kenikmatan yang ingin di berikan oleh peliharaannya tersebut. Jadilah dia menginap di luar rumah menikmati kebahagiaan yang tak pernah dia dapatkan dari Zidane dan baru sekarang dia kembali setelah memaksa untuk pergi.
"Hei, berhenti. Siapa kalian? Apa yang sedang kalian lakukan di rumahku? Dimana suami dan putriku, juga pelayan dan para penjaga yang tinggal di rumah ini. Kalian apakan mereka hah!" tanya Vanya sambil menahan lengan pria asing yang tengah berjalan sambil membawa alat-alat tukang.
"Kami diminta datang ke rumah ini oleh seseorang yang tidak kami ketahui namanya, Nyonya. Dan mengenai para penghuni rumah yang anda sebutkan tadi, kami tidak tahu. Karena saat kami datang rumah ini sudah dalam kondisi kosong."
Aneh. Siapa yang menyuruh mereka masuk kemari ya? Zidane. Rasanya sangat tidak mungkin dia memakai tukang abal-abal seperti mereka untuk memperbaiki bangunan yang rusak di rumah ini. Apa mungkin Adamar? Tapi untuk apa? Dia kan sudah punya rumah sendiri. Atau jangan-jangan ini adalah permintaannya Rose? Waahhhh, brengsek. Kalau benar dia, awas saja. Aku bersumpah akan membuat perhitungan dengannya nanti. Dasar pelac*r busuk. Huhh.
"Apa yang meminta kalian masuk ke rumah ini adalah seorang wanita yang mempunyai paras ... cantik?" tanya Vanya sedikit tidak rela mengakui kecantikan Rose.
"Bukan, Nyonya. Yang membawa kami masuk kemari adalah seorang pria."
"Pria?"
"Benar, Nyonya."
Kening Vanya mengerut tebal saat tukang tersebut menyatakan kalau yang membawa mereka datang adalah seorang pria. Itu artinya Rose tidak terlibat.
"Maaf, Nyonya. Masih ada banyak pekerjaan yang harus segera kami selesaikan. Permisi."
__ADS_1
"Tunggu tunggu tunggu!" cegah Vanya. "Kalian sedang membangun apa di rumahku?"
Tak ada jawaban. Pria tersebut hanya diam sambil menatap Vanya dengan tatapan yang sangat aneh. Sadar kalau pertanyaannya barusan merupakan privasi yang tidak boleh dia ketahui, Vanya memilih untuk membiarkan tukang tersebut pergi. Bulu kuduknya sampai merinding saat melihat punggung pria tersebut yang ternyata di penuhi oleh banyak luka dan juga tatto.
"Mereka ini sebenarnya tukang atau tukang jagal sih? Seram sekali," gumam Vanya sembari berjalan menaiki anak tangga.
Dalam kebingungannya, Vanya mencoba menghubungi nomornya Zidane. Dia mendengus, kesal karena panggilannya tak mendapat jawaban.
"Ck, kau sebenarnya pergi kemana, Zid. Rumah kita di datangi oleh orang-orang asing, kenapa kau malah menghilang begini sih. Ini seperti bukan sikapmu yang biasanya."
Kesal karena panggilannya tak di jawab, Vanya akhirnya masa bodo dengan kehadiran orang-orang asing tersebut. Dia bersenandung penuh kebahagiaan sambil melucuti baju seksinya sebelum masuk ke dalam kamar mandi untuk berendam.
Sementara itu di ruang tamu, pria yang tadi mengobrol dengan Vanya segera menghubungi nomor seseorang. Matanya yang tajam terus mengawasi ke arah tangga.
"Resan, kau bilang wanita murahan itu belum akan pulang sebelum pekerjaan di sini selesai. Tapi kenapa dia bisa ada di rumah sekarang? Hampir saja kami ketahuan sedang membangun ruang rahasia di sini. Tolong bantu bereskan sebelum Tuan Adamar dan Nona Rose membunuh kami semua!" ucapnya.
"Oke."
Panggilan terputus. Segera pria tersebut kembali bergabung dengan teman-temannya yang lain. Tak peduli siang dan malam, mereka bekerja keras untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang ada. Mungkin di pemikiran kalian Tuan Adamar dan Nona Rose adalah ketua yang kejam karena menguras keringat mereka seperti sedang bekerja rodi. Jangan salah. Justru hal seperti inilah yang di sukai oleh mereka. Bekerja mati-matian untuk menjemput suatu kesenangan yang bisa memuaskan dahaga mereka. Bayangkan, nanti setelah ruangan ini selesai di renovasi, mereka semua akan mendapat giliran untuk menyiksa seorang Zidane Clarence yang selama ini terkenal sombong dan suka menindas orang yang lemah. Belum lagi kesenangan lain yang akan mereka dapatkan dari seorang Marcellino Altezza Lorenzo.
__ADS_1
Bertahun-tahun menjadi bagian dari anggota kelompok Queen Ma, membuat hati nurani mereka seakan terkubur dari hal-hal yang berbau kemanusiaan. Ya, mereka adalah orang-orang yang hanya akan di panggil jika ketua mereka membutuhkan. Atau dengan kata lain mereka adalah mesin pembunuh tak kasat mata yang selama ini di sembunyikan dengan sangat rapi. Sebenarnya, kelompok Queen Ma itu seribu kali jauh lebih mengerikan dari apa yang di ketahui oleh orang-orang. Memang benar kalau Nona Rose adalah otak dari semua keberhasilan mereka di dunia hitam. Namun, dukungan paling dominan datang dari mereka yang tak terlihat. Dan barusan, barusan wajah salah satu dari mereka terlihat oleh si nyonya rumah yang tidak seharusnya pulang kemari sebelum pekerjaan mereka selesai. Wajar saja kalau mereka marah dan merasa terganggu karena kehadirannya.
"Hei, apa tidak sebaiknya kita habisi saja wanita itu? Bisa kacau jika dia sampai membocorkan keberadaan kita di rumah ini. Kalau hanya kita yang mati sih tidak masalah. Aku khawatir kalau masalah ini akan berdampak pada Nona Rose. Apalagi sekarang Nona sedang mengandung calon pewaris, bisa gawat jika Nona sampai terancam bahaya!"
"Kita tunggu saja kabar dari Resan. Kalau sampai besok pagi wanita itu masih tetap ada di rumah ini, maka kita harus langsung menghabisinya. Wajahnya memang tidak terlihat membahayakan, tapi siapa yang tahu isi hati dan pikirannya. Bisa saja diam-diam dia merekam wajahku kemudian melaporkannya pada seseorang. Rambut boleh sama hitam, tapi dalamnya hati manusia siapa yang tahu!"
"Kau benar sekali. Tapi malam ini kita harus tetap mengawasinya. Aku tidak mau mengambil resiko berbahaya jika benar wanita itu berada di pihak musuh. Kalau perlu kita bius saja dia, kemudian sadap ponselnya. Untuk jaga-jaga saja sebelum ada hal buruk yang terjadi."
"Idemu boleh juga. Aku jadi kasihan pada pria muda yang waktu itu di temui Lorus. Malam ini dia pasti mati di tangannya karena tidak bisa melakukan tugas dengan baik."
"Itulah akibat jika berani main-main dengan seseorang yang selalu haus membunuh orang. Sampai saat ini saja aku masih segan untuk mencari masalah dengan Lorus. Auranya sangat tidak baik untuk di ajak bercanda."
Kedua pria tersebut sama-sama tertawa senang saat membicarakan kegilaan seorang Lorus. Di kelompok Queen Ma, Lorus di kenal sebagai seseorang yang begitu tempramental. Akan sangat sial bagi orang yang berani memancing kemarahannya. Karena begitu pria tersebut di rasuki iblis, satu-satunya orang yang bisa menenangkannya hanyalah Nona mereka. Ya, Lorus hanya takut pada Nona Rose, sang mawar indah yang memiliki duri beracun.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss๐ช๐ช๐ช...
__ADS_1
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...