Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Deritaku, Nerakaku


__ADS_3

Di markas Queen Ma, saat ini Adam dan Zidane, maksudnya Zalina, saling duduk berhadap-hadapan. Keduanya tampak diam tanpa ada kata apapun. Zidane syok, benar-benar sangat syok begitu dia tahu kalau putranya sudah lama mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Di tambah lagi sekarang Adamar juga sudah tahu kalau dialah yang telah menyembunyikan keberadaan ibunya selama ini.


"Bicara!"


Adam akhirnya mengucapkan satu kata untuk memulai pembicaraan. Dia sekuat hati menahan tangannya agar tidak mencongkel bola mata bajingan yang sedang duduk di hadapannya.


"B-bicara apa? Kau ingin Papa bicara apa, Dam?" tanya Zidane tergagap.


"Katakan dengan nama siapa aku harus memanggilmu? Zidane atau Zalina? Ah, atau malah aku harus memanggilmu iblis k*parat yang berbau busuk. Cepat jawab, nama mana yang pantas untuk menggambarkan manusia keji sepertimu?" jawab Adam sarkas.


Zidane menelan ludah. Dia lalu menyembunyikan kedua tangannya yang gemetar di balik gaun seksi yang sudah sobek sana sini. Ini yang selalu Zidane khawatirkan jika Adam sampai mengetahui keberadaan Karina. Wanita yang telah mematahkan hatinya hingga membuat Zidane mendendam sampai seperti ini.


"Jawab, atau aku akan merobek mulutmu sekarang juga, k*parat. Jawab pertanyaanku!" teriak Adam yang akhirnya tak mampu lagi membendung amarahnya.


Brraaakkk


Dengan marah Adam menendang meja yang ada di hadapannya kemudian menarik rambut Zidane dengan sangat kuat. Sambil menggeretakkan gigi, Adam mencecar pria gemulai ini dengan satu pertanyaan. Mengapa.


"Kau iblis jahanam, terbuat dari apa sebenarnya hatimu itu, hah? Mengapa, mengapa kau tega memperlakukan wanita yang telah melahirkan aku dengan sebegitu hina. Kalau memang kau sangat membenci Mama Karina, harusnya kau itu langsung menghabisinya saja. Bukan malah mengurung serta mengikatnya seperti anjing yang tidak layak untuk hidup. Kau ... kau benar-benar sangat k*parat, Zidane!"


"Akhhhh, Adamar. Tolong lepaskan cekikan di leher Papa, Nak. Papa tidak bisa bernafas. Kit-kita, kita bisa membicarakan masalah ini baik-baik. Tolong lepaskan ya!" ucap Zidane memohon sambil menahan sakit di lehernya.


"Lepaskan katamu? Hahaha, Zidane-Zidane. Di saat Mamaku memohon seperti ini padamu, apa kau pernah terfikir untuk melepaskannya? Pasti tidak kan?" tanya Adam. "Jadi kau jangan pernah berharap kalau aku akan mengabulkan apa yang kau inginkan. Sekarang mungkin baru cekikan saja yang kau terima. Tapi setelah ini, aku bersumpah akan memberikan siksaan yang jauh jauh lebih menyiksa dari apa yang sudah kau lakukan pada Mamaku. Ingat ini baik-baik, Zidane!"


"Adamar Clarence, aku ini Papamu. Harusnya kau bisa mendengarkan penjelasan Papa dulu sebelum mengambil kesimpulan sendiri. Papa juga punya alasan kuat kenapa sampai melakukan hal itu pada Mamamu. Papa tidak ....


Buggghhh buggghhh


Belum sempat Zidane menyelesaikan ucapannya, perut dan wajahnya sudah lebih dulu di hadiahi bogem mentah oleh Adamar. Dia yang tidak siap dengan serangan tersebut langsung jatuh terbangkang hingga menabrak kursi yang tadi dia duduki. Sebelum sempat Zidane menarik nafas, Adam sudah kembali menyerang dengan menginjak kuat di bagian dadanya. Seketika nafas Zidane seperti terputus. Matanya sampai membeliak lebar ketika Adamar semakin menguatkan pijakan kakinya.

__ADS_1


"Ugggghhhhh ... s-sakit, Daaaam. T-tolong j-jangan seperti ini pada Papamu, Nak!" rintih Zidane sambil menepuk pelan sepatu Adam agar segera menyingkir dari atas dadanya. Nafasnya kini semakin sesak.


"Papa? Sejak kapan kau menjadi Papaku, Zidane? Apa kau pikir aku tidak tahu kalau ayah kandungku adalah Philippe Lorenzo, pria yang dulu kau perintahkan untuk meniduri Mama Karina, hah! Aku benar-benar tidak habis fikir dengan kebusukan yang telah kau lakukan, Zidane. Apa salah Mamaku sebenarnya, hah! Kau yang menikahinya, kau juga yang meminta laki-laki lain naik ke atas ranjang untuk menikmati tubuhnya. Tapi bagaimana bisa kau membalas perlakuan keji itu dengan menjadikan Mama sebagai anjing tahanan selama bertahun-tahun lamanya? Jiwamu sakit atau bagaimana, hah! B*ngsat kau!" umpat Adam dengan mata berkilat marah. Dia lalu ganti menginjak leher Zidane untuk memelampiaskan kemarahannya.


Kalau saja Adam tidak ingat dengan segala penderitaan yang telah di tanggung ibunya selama di sekap, dia pasti akan langsung meledakkan kepala Zidane saat ini juga. Tapi semua itu tidak bisa dia lakukan sekarang karena iblis keji seperti Zidane tidak boleh mati dengan cepat. Mata di bayar mata, nyawa di bayar nyawa. Itu yang akan Adam lakukan pada pria yang kini tengah merintih kesakitan di bawah injakan sepatunya.


"Adam?"


Kepala Adam langsung tertoleh ke belakang saat dia mendengar suara lembut milik istrinya. Dia lalu menarik nafas dalam-dalam saat Rose mengelus punggungnya dengan penuh perasaan. Lonjakan emosi yang tadi menggeliat di hati dan pikiran Adam luluh seketika saat dia menerima perlakuan lembut tersebut.


"Jangan membunuhnya sekarang, oke? Ingat segala penderitaan yang selama ini Mama rasakan. Aku yakin Mama pasti akan merasa sangat kecewa jika tahu kalau bajingan ini sudah kita kirim ke neraka!" ucap Rose menghibur hati suaminya agar tidak termakan luapan emosi.


"Hon, apa kau sudah menemui Mama?" tanya Adam khawatir.


Rose mengangguk. Dia lalu melirik ke arah Zidane yang sedang berusaha menurunkan kakinya Adam dari lehernya. Rose menyeringai samar.


"Mental Mama sangat terguncang. Dia ketakutan saat melihatku, Mommy, Nenek dan yang lainnya. Sepertinya bajingan ini telah melakukan sesuatu yang sangat buruk pada Mama saat dia berada dalam penyekapan. Jika tidak, Mama tidak mungkin bereaksi seperti itu pada kami semua!" jelas Rose seraya menghela nafas dalam. Dia sangat prihatin akan kondisi fisik dan juga mental dari ibu mertuanya. Sungguh, sekejam-kejamnya kelompok Queen Ma, tidak pernah sekalipun Rose dan anggotanya berpikir untuk menyiksa orang lain hingga seperti ini. Terkecuali jika orang tersebut melakukan kesalahan yang sangat fatal. Barulah Rose memerintahkan anak buahnya untuk melakukan tindakan extreme yang mana jauh lebih mengerikan dari apa yang dilakukan Zidane pada ibu mertuanya.


"RESAN!"


Hanya dalam hitungan detik, Resan sudah muncul di hadapan orang yang meneriakan namanya. Dia menyempatkan diri melirik ke arah Zidane yang keadaannya sudah cukup mengenaskan dimana dari sudut bibirnya meneteskan darah, sedangkan lehernya masih dalam posisi terinjak sepatunya Adam. Sungguh kasihan.


"Suruh semua orang keluar dari rumah bajingan ini. Setelah itu kau bersihkan ruangan tempat kalian menemukan Mamaku!" perintah Adam dengan nafas menderu.


"Lalu apalagi?" tanya Resan.


"Hancurkan dinding yang menutupi ruangan itu kemudian ganti dengan kaca yang tak tembus pandang. Aku ingin mengurung anjing tua ini di dalam sana, sekaligus ingin membiarkannya menonton bagaimana nanti Mama dan kita semua hidup bahagia. Ah, satu lagi. Jangan lupa sediakan alat-alat yang bisa aku gunakan untuk menyiksanya di dalam nanti. Harus yang menyakitkan. Kau paham kan apa yang harus kau lakukan?" jawab Adam.


Resan mengangguk.

__ADS_1


"Pergilah, Resan. Urus semuanya sebaik mungkin untuk menyambut calon penghuni baru di ruangan gelap itu. Oh, satu lagi. Jangan lupa pasang CCTV agar aku bisa melihat betapa bajingan ini akan sangat menderita di setiap detiknya. Mama Karina menerima perlakuan yang begitu hina dari perempuan jadi-jadian ini. Jadi aku mau dia mendapatkan balasan beribu kali lebih menyakitkan dari apa yang di rasakan oleh Mama Karina. Ingat ya Res, kacanya harus kualitas yang paling bagus. Karena kita harus memastikan Tuan Zidane Clarence yang terhormat ini bisa melihat dengan jelas kejutan yang akan kami beri. Paham?" imbuh Rose kemudian tersenyum ke arah Zidane yang tengah ternganga syok.


"Paham, Nona. Kalau begitu saya pamit mengurus semuanya!"


Rose mengangguk.


"Papa mertua, tolong maafkan aku karena sudah lancang menggantikan dirimu dengan orang lain. Ini terpaksa aku lakukan demi menjaga nama baik yang selama ini kau junjung tinggi. Tolong jangan benci padaku ya?"


"A-a-apa maksudmu, Rose? O-orang lain siapa?" tanya Zidane gugup. Ini pertanda buruk, Zidane yakin itu.


Prokk prookk


Adam dan Rose sama-sama tersenyum semringah melihat kedatangan seorang laki-laki yang wajahnya sama persis seperti Zidane. Apa kalian tahu siapa orang ini? Jawabannya adalah mutan.


"Selamat menjalankan tugasmu, Tuan Zidane. Tolong jangan kecewakan harapan kami!" ucap Rose menyambut calon pengganti ayah mertuanya.


"Baik, Nona Rose. Saya akan menjalankan tugas sesuai dengan apa yang di perintahkan."


Jangan tanya bagaimana reaksi Zidane asli begitu dia melihat seorang laki-laki yang menyerupai dirinya. Kaget, syok, mati rasa, semuanya bercampur menjadi satu.


Apa ini adalah awal dari deritaku? Jika iya, maka pria ini adalah nerakaku. Di mata semua orang dia adalah aku. Sementara aku yang asli, akan terjebak dalam kegelapan yang penuh dengan siksaan. Mengapa kau begitu kejam padaku, Tuhan?


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...

__ADS_1


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2