Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Cambuk Berduri


__ADS_3

Adam menatap lekat ke arah sang ibu yang tengah terlelap di ranjang. Tatapan matanya begitu dalam, sangat dalam hingga mampu membuat orang lain tersesat jika melihat ke arah matanya. Adam murka, emosinya kian bertambah besar setelah melihat luka-luka yang ada di wajah dan juga di tubuh sang ibu. Terlebih lagi luka yang ada di bagian leher. Dan pemandangan ini benar-benar membuat Adamar menggila.


"Nyonya Vanya masih ada di rumah itu, Dam. Apa tidak apa-apa jika dia tidak di buat pingsan dulu?" tanya Cesar sambil terus memperhatikan raut emosi di diri Adamar.


"Dia akan mati jika banyak bicara!" jawab Adam.


"Lalu?"


"Biarkan saja. Selama dia bersih, tidak perlu menghiraukan keberadaannya. Lagipula di rumah sialan itu kan ada mutannya Zidane, harusnya Vanya tidak merecoki urusanku."


Ya, Adamar telah mengganti posisi Zidane asli dengan mutan yang menyerupainya. Hal ini sengaja Adamar lakukan agar dia bebas menyiksa k*parat itu tanpa harus repot-repot berurusan dengan media. Keluarga Clarence cukup ternama, jadi jika Zidane tiba-tiba menghilang tanpa sebab yang jelas, otomatis hal tersebut akan menarik mata banyak orang. Terutama manusia-manusia pemburu berita. Dan tentu saja Adamar sangat tidak mau di ganggu oleh hal-hal seperti itu. Jadilah dia meminta bantuan Nenek Liona agar memberinya mutan yang menyerupai Zidane.


"Kita pergi sekarang?" ajak Cesar.


Adam mengangguk. Setelah itu dia segera melangkahkan kaki keluar dari kamar ibunya. Dia kemudian memberi isyarat pada Cesar agar menutup pintu dengan sangat pelan supaya tidak mengganggu tidur sang ibu. Dan setelahnya barulah mereka sama-sama berjalan menuju mobil sebelum akhirnya pergi meninggalkan markas kelompok Ma Queen.


Selama dalam perjalanan, Adam terus saja memikirkan siksaan seperti apa yang akan dia berikan untuk Zidane. Adam ingin agar siksaan tersebut bisa meninggalkan kesan yang mendalam di diri pria gemulai yang menjadi penyebab terpisahnya dia dari Mama Karina. Sungguh, Adamar bersumpah kalau dia akan mengembalikan semua kesakitan yang selama ini di tanggung oleh sang ibu. Dia tidak akan bisa hidup tenang jika Zidane di siksa dengan cara yang berbeda. Adam tak terima.


Pukk


"Dam, sudah sampai!" ucap Cesar setelah menepuk bahunya Adam. Pria ini melamun, sampai-sampai tidak sadar kalau mereka sekarang sudah berada di halaman rumah keluarga Clarence.


"Di mana mereka?" tanya Adam sambil melepas seatbelt di tubuhnya.

__ADS_1


Cesar mengambil ponsel miliknya sebelum menjawab pertanyaan Adam. Dia tengah mencari tahu di mana Zidane palsu dan Nyonya Vanya berada. "Mereka di dalam kamar, Dam. Kau aman."


Setelah itu Adam dan Cesar bergegas keluar dari dalam mobil. Dengan langkah lebar keduanya berjalan masuk ke dalam rumah kemudian langsung menuju tempat di mana Zidane di kurung.


Malam ini kau tidak akan kubiarkan tidur dengan nyenyak, Zidane. Kau ... akan mulai merasakan pembalasan yang sebenarnya.


Zidane yang saat itu tengah meringkuk kesakitan di atas lantai langsung diam dengan tubuh kaku saat mendengar suara pintu yang terbuka. Dia tahu, sangat tahu kalau malaikat maut tengah datang mendekat. Zidane tak berdaya, dia sangat sadar kalau hidupnya akan segera hancur setelah melihat ada sesosok manusia yang sama persis seperti dirinya tinggal di dalam rumah ini. Hal ini Zidane ketahui dari dinding kaca yang menjadi pembatas antara ruangan gelap ini dengan ruang tengah yang ada di rumahnya. Sayangnya ruangan ini kedap suara, jadi tidak ada seorang pun yang mendengar saat Zidane berteriak meminta pertolongan.


"A-Adamar," panggil Zidane lirih.


"Jangan pernah menyebut namaku dengan mulut jahanammu itu, Zidane!" sahut Adamar sembari berjalan menuju sebuah lemari. Dia ingin mengambil salah satu alat yang akan di gunakannya untuk menyiksa Zidane.


"Maafkan Papa, Nak. Papa khilaf, Papa mengaku salah. Tolong bebaskan Papa dari ruangan ini, Papa kesakitan."


Cesar berdecak pelan. Entah bagaimana ceritanya pria gemulai ini masih berani menyebut dirinya dengan sebutan Papa di hadapan Adamar. Padahal sebelumnya Reina dan teman-temannya sudah menyiksa Zidane lumayan parah, tapi masih saja pria gemulai ini bersikap seakan Adamar bersedia untuk memaafkannya. Sungguh, Zidane benar-benar sangat konyol. Cesar bahkan sampai merasa takjub karenanya.


Ctaaarrrr


"Aarrgghhhhkkkk!! Sakit, Adamaarrr!" jerit Zidane saat tubuhnya tiba-tiba di cambuk menggunakan tali berduri. Seketika kulit di tubuhnya seperti terbakar saat cambukan itu kembali mendarat di tubuhnya.


Dengan beringas Adam terus mencambuki tubuh Zidane menggunakan alat penyiksa di mana di bagian tengah alat tersebut telah tertanam puluhan duri tajam. Sengaja Adam memilih alat ini saat terkenang dengan rantai berduri yang telah melilit leher sang ibu selama puluhan tahun lamanya. Jika kalian penasaran seperti apa keadaan Zidane saat Adam masuk kemari, bajingan ini tengah meringkuk di lantai dengan kaki terikat rantai. Namun rantai itu bukan sembarang rantai karena ada baja berbentuk bulat yang beratnya hampir sama dengan berat satu truk kontainer yang ikut membelunggu Zidane hingga membuatnya tak bisa banyak bergerak. Dengan begini Zidane bisa merasakan seperti apa rasanya di ikat paksa menggunakan alat tak lazim di mana dia dulu juga melakukannya pada Mama Karina. Kalian tidak mungkin lupa bukan kalau Adam pernah bersumpah akan membalaskan rasa sakit yang di berikan Zidane pada ibunya dengan rasa sakit yang berkali-kali lipat rasanya?


"Selama ini kau mengikat Mamaku menggunakan rantai berduri, jadi jangan salahkan aku kalau sekarang aku membuatmu merasakan hal yang sama seperti yang sudah kau lakukan pada orang yang telah melahirkan aku ke dunia ini!" ucap Adam dengan mata berkilat marah. Dia kemudian melilitkan cambur berduri tersebut ke leher Zidane lalu menariknya kuat-kuat. Adam terus saja mengumpat, semakin menggila hingga membuat lidah Zidane sampai terjulur keluar dan matanya memerah.

__ADS_1


Cesar yang melihat kalau Adamar mulai kalap segera datang mendekat. Dia lalu menepuk bahunya, memberi isyarat bahwa Zidane sudah hampir mati karena kehabisan nafas.


Uhuk uhuk uhuk


"Calm down, Marcellino. Bukankah kau tidak mau membuatnya mati cepat? Siksa dia secara perlahan saja, jangan mengeluarkan semua tenaga dalammu karena dia bisa mati. Oke?" bujuk Cesar seraya tersenyum sinis ke arah Zidane yang tengah terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang berdarah.


"Sulit untukku mengendalikan diri melihat wajahnya yang menjijikkan itu, Ces. Aku benar-benar sangat ingin meremukkan semua tulang yang ada di tubuh rentanya itu. Aku ingin dia merasakan semua rasa sakit yang pernah di rasakan oleh Mama selama dia di sekap di ruangan terkutuk ini. Aku sangat ingin membunuhnya, CESAR!" teriak Adamar.


Zidane yang melihat Adamar berteriak seperti itu mencoba untuk beringsut menjauh. Namun, sekeras apapun dia berusaha, tetap saja tubuhnya tidak bisa bergerak jauh. Terlalu berat untuk seorang Zidane menarik baja bulat yang membelenggu kakinya. Di tambah lagi dengan kondisi tubuhnya yang sudah sangat lemah karena terus-terusan di siksa. Membuat Zidane akhirnya pasrah. Dia tak berdaya.


"Hmmm, aku rasa malam ini cukup sebegini dulu kau menyiksanya. Kita kembali ke markas Ma Queen. Anak dan istrimu masih menunggu di sana, Dam. Kasihan mereka. Ini sudah malam, sudah waktunya untuk Rose pulang beristirahat!" ucap Cesar mencoba membujuk Adamar agar bersedia pergi dari ruangan itu.


Mendengar nama istrinya di sebut, seketika emosi Adamar langsung sirna. Segera dia melangkah keluar setelah melemparkan cambuk berduri itu ke wajah Zidane. Sedangkan Cesar, dia berjongkok di samping Zidane kemudian mencekik lehernya pelan.


"Jangan kira malam ini kau bisa memejamkan mata dengan tenang, Zidane. Meski Adamar sudah tidak ada di sini, tapi masih ada orang lain yang akan menggantikannya untuk menyiksamu. Bersantailah, habiskan malammu dengan jerit memilukan. Oke?" ucap Cesar kemudian mendorong Zidane hingga jatuh telentang di lantai.


Dan benar saja. Begitu Cesar pergi, ada seseorang yang masuk ke ruangan itu. Zidane yang melihatnya pun lagi-lagi hanya bisa pasrah. Dia sudah tidak berdaya, jadi memilih untuk tidak melakukan perlawanan apa-apa saat orang itu mulai menyiksanya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...

__ADS_1


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2