
Setelah pekerjaan kantor selesai, Adam buru-buru pulang ke kos istrinya. Tapi di saat dia hampir sampai, tiba-tiba ayahnya menelpon dan memintanya untuk segera pulang ke rumah utama.
"Pulang dulu ke rumah Papa, Dam. Ada hal penting yang harus kita bicarakan."
"Apa tidak bisa besok saja, Pa? Aku ada urusan sekarang," jawab Adam kesal.
Sejak sore tadi Adam sudah berusaha menahan diri untuk tidak langsung pulang setelah tahu kalau istrinya sedang cemburu. Masa iya sekarang dia harus menuruti keinginan sang ayah yang memaksanya agar segera pulang ke sana. Adam benar-benar dibuat sangat kesal sekarang.
"Tidak bisa, Dam. Harus sekarang. Cepatlah!"
Adam mengumpat kasar saat panggilan di putus sepihak tanpa sempat dia menolak. Kesal karena keinginannya untuk bertemu dengan Rose harus tertunda, dengan marah Adam meninju stir mobil. Setelah itu dia segera berputar arah menuju rumah ayahnya.
"Sebenarnya hal penting apa sih yang mau di bicarakan? Tidak tahu apa kalau aku sedang menahan rindu. Menjengkelkan."
Ingat kalau Rose tengah menunggu kepulangannya, Adam pun segera mengiriminya pesan. Dia tidak mau kalau istrinya sampai merajuk gara-gara dia yang telat pulang ke rumah.
Adam: "Honey, sepertinya aku akan sangat terlambat malam ini. Papa tiba-tiba memintaku untuk pulang ke rumahnya. Kau jangan marah ya?"
Sambil terus mengomel, Adam menunggu balasan pesan dari istrinya. Kemarahannya sedikit mereda setelah ada pesan masuk yang isinya sangat manis.
Rose: "Jangan marah pada Papa, turuti saja kemauannya. Dan jika itu berhubungan dengan Gheana, tolak dan segeralah pulang kemari. Tapi kemungkinan besar aku tidak ada di rumah. Ada urusan genting yang harus segera aku bereskan. Kalau kau lapar, aku sudah menyimpan makanan di dalam kulkas. Kau hanya perlu menghangatkannya sebentar. Satu lagi, jangan mengemudikan mobil dalam keadaan emosi. Bahaya."
"Urusan apa ya yang ingin di selesaikan oleh Rose ya? Ah, biar saja. Aku sebaiknya tidak perlu ikut campur terlalu jauh dalam masalah pribadinya, dia berhak memiliki ruang sendiri," gumam Adam.
Tak berselang lama, Adam akhirnya sampai di kediaman ayahnya. Keningnya mengerut ketika dia mendapati beberapa mobil polisi di sana. Khawatir terjadi sesuatu, Adam pun bergegas masuk ke dalam rumah untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Oh, kau akhirnya pulang juga, Dam!" ucap Zidane lega begitu melihat kedatangan putranya.
"Ini ada apa, Pa? Kenapa banyak polisi di sini?" tanya Adam keheranan.
Ada sekitar belasan polisi yang kini memenuhi ruang tamu rumah ini. Mata elang Adam segera menatap curiga ke arah si wanita medusa yang tengah memeluk Grace, adik tirinya.
"Tuan Adamar, Nona Gracia Clarence tertangkap sedang melakukan transaksi narkoba bersama salah seorang bandar yang selama ini kami cari. Dan menurut pengakuannya, dia baru beberapa bulan mengkonsumsi barang h*ram tersebut. Nona Gracia di tangkap bersama dua orang temannya yang sekarang sedang berada di kantor polisi," ucap salah satu polisi menjelaskan situasi.
"Transaksi narkoba?" tanya Adam dingin. Dia sama sekali tidak kaget mendengar hal ini.
Zidane terlihat sangat marah pada putrinya yang tengah menangis ketakutan di pelukan Vanya. Sungguh, ini adalah pertama kalinya keluarga Clarence tercoreng. Selama ini Zidane mati-matian menjaga nama baik keluarga ini, bahkan sampai rela menutupi aktifitas s*ksualnya yang memang tidak biasa. Tapi Grace, gadis sialan ini dengan mudahnya membawa pulang belasan polisi yang datang sambil membawa surat penangkapan atas keterlibatan Grace dengan salah seorang bandar narkoba. Andai saja Zidane tahu kalau gadis ini akan membawa sial, Zidane lebih memilih untuk menghabisinya sejak bayi. Dia sangat malu sekarang.
__ADS_1
"Benar, Tuan Adam. Sebenarnya Nona Gracia sudah tertangkap sejak siang tadi. Tapi beliau menolak saat kami ingin menghubungi anda dan keluarga. Karena sekarang statusnya masih sebagai saksi, pihak kami mengizinkannya untuk pulang dan membantu menjelaskan pada kalian semua."
"Tuan, apakah putriku akan di penjara?" tanya Vanya cemas. "Dia ini kan hanya pemakai, bukan pengedar. Harusnya kami masih mempunyai kesempatan melakukan rehabilitasi untuk menyembuhkannya dari kecanduan itu kan?"
"Itu semua tergantung dari pengakuan bandar itu sendiri, Nyonya Clarence. Jika tidak terbukti kalau Nona Gracia adalah pengedar, maka kalian bisa membawanya ke tempat rehabilitasi. Akan tetapi jika bandar itu mengakui kalau Nona Gracia adalah salah satu rekannya dalam bertransaksi, maka dengan terpaksa Nona Gracia harus berurusan dengan hukum."
Adam menarik nafas panjang setelah mendengar penjelasan polisi tersebut. Meski tidak memiliki hubungan yang dekat, Adam sedikit merasa kasihan jika adiknya sampai masuk penjara. Masa depannya bisa hancur. Dan yang pasti ayahnya akan sangat terluka karena hal ini.
Setelah melalui perbincangan yang cukup panjang, para polisi itu akhirnya pergi dari sana. Grace yang saat itu sedang sangat ketakukan pun langsung berlari masuk ke dalam kamar. Dia tidak menyangka kalau kecanduannya ini bisa berakhir dengan dia yang tertangkap basah tengah membeli barang h*ram itu di sebuah hotel tempat si bandar menginap.
"Apa mungkin yang melaporkan aku adalah Rose? Tapi darimana dia tahu kalau aku sedang berada di hotel untuk membeli barangnya? Rose itu bodoh, mustahil dia tahu kalau aku sedang berada di sana. Tapi kalau bukan dia siapa lagi karena tidak ada orang luar yang tahu selain dia. Aarggghh, sialan!" umpat Gracia gelisah.
Tok tok tok
"Buka pintunya. Aku mau bicara!"
Wajah Grace memucat saat dia mendengar suara sang kakak dari luar kamar. Dia sangat takut kalau kakaknya akan mengamuk.
"Buka, atau aku akan mendobraknya sekarang juga!"
Ceklek
Dengan tatapan yang sangat dingin Adam mendorong Grace agar masuk ke dalam kamar lagi. Setelah itu dia menariknya ke arah kamar mandi.
"Masuk!" perintah Adam sambil menunjuk ke arah bath-up.
"K-Kakak mau apa?" tanya Grace ketakutan.
"Aku bilang masuk!"
"T-tapi ....
"MASUK!"
Tubuh Grace gemetar saat mendengar suara bentakan sang kakak. Dia dengan perlahan-lahan masuk ke dalam bath-up kemudian duduk di sana. Grace terperanjat kaget saat tubuhnya tiba-tiba di guyur dengan air yang sangat dingin. Dia bahkan sampai gelapan tak bisa bernafas saat sang kakak menahan kepalanya agar tidak menghindar saat air shower di arahkan ke wajahnya.
Hahhh hahhh hahhh
__ADS_1
Adam baru mematikan air shower setelah membuat sang adik hampir mati kehabisan nafas. Dia marah, kecewa, juga kasihan. Adam tidak tahu apa yang membuat adiknya bisa menyentuh barang h*ram itu. Padahal selama ini semua kebutuhan adiknya selalu terpenuhi dengan sangat baik.
"Puas setelah membuat nama baik keluarga kita tercoreng?" tanya Adam setelah terdiam cukup lama.
"M-m-maaf, Kak. Ak-aku tidak sengaja melakukannya," jawab Grace sambil terisak. Dadanya sangat sakit karena kejadian barusan.
"Beri alasan yang kuat agar aku tidak membunuhmu sekarang."
Grace menelan ludah. Lidahnya serasa kelu saat di minta untuk memberi alasan yang membuatnya terjerat dengan serbuk putih itu.
"Jangan membuatku bicara dua kali, Grace!" desak Adam tak sabar.
"A-apa Kakak akan memaafkan aku jika aku bicara jujur?" tanya Grace takut.
"Tergantung alasan yang kau katakan."
Gelagat Grace yang terlihat aneh membuat Adam curiga. Dia mulai menebak apakah adiknya ini mengetahui sesuatu yang membuatnya tertekan atau bagaimana hingga memutuskan untuk mencari pelarian.
"Mama ... dia p*lacur. Dia memelihara kakak dari salah satu temanku dan aku pernah menyaksikan sendiri betapa menjijikkannya Mama saat berciuman dengan pria itu di dalam mobil. Aku malu, Kak. Aku malu!"
"Jadi kau tahu semua ini?" tanya Adam kaget.
Grace mengangguk. Dia lalu menatap wajah kakaknya dengan sendu.
"Rumah ini adalah neraka. Mama dan Papa tidak pernah memperhatikan aku, mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri. Aku lelah, Kak. Tapi aku tidak ingin mati."
Setelah berkata seperti itu Grace memejamkan mata. Rasa lelah, takut, sakit, dan juga tertekan membuat Grace terlelap dalam sekejap.
"Ternyata kau tidak seburuk yang aku lihat selama ini, Grace," gumam Adam tak tega.
Tanpa mempedulikan pakaian adiknya yang basah kuyup, Adam segera membopongnya keluar dari bath-up. Dia lalu memanggil pelayan untuk mengganti pakaian Grace sebelum akhirnya keluar untuk menemui sang ayah.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangab lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
__ADS_1
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...