Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: MA : Mona-Agler


__ADS_3

Rolland tidak henti-hentinya menarik nafas panjang seraya menatap ke arah Brenda yang tengah asik membongkar barang belanjaan. Dia merasa sangat kesal pada gadis ini karena telah membuatnya gagal kembali ke Negara N sehari yang lalu. Bahkan Rolland harus rela menerima omelan dari sang ibu gara-gara ulah Brenda yang mengadu dengan mengatakan kalau dia telah menyia-nyiakannya. Dan alhasil, di sinilah dia sekarang. Terjebak oleh akal bulus Brenda yang sama sekali tidak merasa takut akan kemarahannya.


"Waahhh lihat Kak Oland, baju ini sangat cantik!" pekik Brenda sembari memperlihatkan satu gaun cantik berwarna pastel ke arah calon suaminya. Eh, calon suami? Hehe, itu menurut Brenda ya.


"Tutup mulutmu dan cepat pergi tidur. Gendang telingaku sudah hampir pecah karena terus mendengar suaramu seharian ini!" sahut Rolland cetus.


Brenda mencebikkan bibir. Dia meletakkan gaun yang tadi di pegangnya kemudian berjalan menghampiri Rolland yang sedang merajuk. Bagai seorang kekasih, dengan santainya Brenda duduk di atas pangkuan Rolland. Dia lalu tersenyum lebar ketika pria ini menatapnya penuh aura intimidasi.


"Besok pagi ayo kita pulang!"


"Pulang?"


Sebelah alis Rolland terangkat ke atas. Dia mulai curiga jangan-jangan gadis ini ingin melakukan sesuatu yang buruk lagi karena mendadak mengajaknya untuk pulang. Aneh.


"Iya, pulang. Kak Oland merajuk gara-gara kepulangannya tertunda kan?" tanya Brenda seraya mengerjap-ngerjapkan mata. Ini adalah jurus membujuk yang tidak sengaja dia dengar ketika sedang berbelanja tadi.


"Kau tidak sedang merencanakan hal jahat bukan?" sahut Rolland balik bertanya. Dia masih curiga.


"Gadis sebaik aku mana mungkin merencanakan sesuatu yang jahat sih, Kak. Kau kejam sekali."


Rolland seperti tersihir ketika melihat Brenda mengerucutkan bibir. Entah dorongan setan darimana tiba-tiba saja Rolland menempelkan bibirnya ke bibir Brenda. Dia hanya diam sambil memandangi mata gadis ini yang terlihat begitu bersinar.


Kau cantik, Brenda.


"Hehehe, Kak Oland kenapa menciumku. Gemas ya?" ledek Brenda.


"Dasar cerewet. Ayo turun. Malam ini kita harus berpamitan pada Rose dulu sebelum kembali ke negara kita!" ucap Rolland.


"Oke."


Dengan patuhnya Brenda turun dari atas pangkuan Rolland. Setelah itu dia mengambil salah satu paperbag yang tadi di belinya. Rolland yang melihat Brenda menenteng barang pun berinisiatif untuk membantu membawanya. Dia hanya tersenyum tipis ketika gadis ini dengan santai langsung bergelayut di lengan.


"Hai sayang, kalian mau kemana?" tanya Grizelle yang kebetulan keluar dari dalam kamar. Dia menatap lucu ke arah gadis yang tengah melekat di lengan putranya. Brenda sungguh sangat lucu.


"Kami ingin pergi mengunjungi adik ipar, Mom. Sekalian berpamitan karena besok aku dan Kak Oland mau pulang," jawab Brenda dengan luwesnya menyebut Rose sebagai adik ipar.

__ADS_1


"Adik ipar?"


Rolland hanya bisa menarik nafas panjang ketika sang ibu melayangkan tatapan penuh goda. Mulut Brenda ini benar-benar. Rolland sampai pusing sendiri di buatnya.


"Iya. Rose adalah calon adik iparku setelah nanti aku menikah dengan Kak Oland."


"Memangnya siapa yang mau menikah denganmu?" tanya Rolland mulai kesal.


"Kak Oland lah, siapa lagi. Memangnya Kak Oland rela jika aku menikah dengan pria lain? Tidak kan?"


Grizelle menahan tawa melihat tingkah lucu Brenda yang mampu membungkam mulut cetus putranya. Dia kemudian menoleh ke belakang saat pintu kamar terbuka. Suaminya yang tampan muncul.


"Halo Daddy, kau tampan sekali malam ini!" seru Brenda dengan tatapan berbinar.


"Dasar mata keranjang," gumam Rolland jengah.


Drax yang menyadari raut cemburu di mata putranya nampak menahan tawa. Sudah jelas-jelas menyukai Brenda, tapi masih saja sok cool dengan berpura-pura tidak mencintainya. Rolland ini jual mahal sekali.


"Halo sayang, terima kasih untuk pujiannya. Kau juga terlihat sangat cantik dengan gaun itu. Mau pergi kemana, hm?" ledek Drax seraya merengkuh pinggang istrinya.


"Aku dan Kak Oland ingin pergi mengunjungi adik ipar, Dad. Karena besok pagi aku dan Kak Oland rencananya akan kembali ke Negara N."


Brenda mengangguk. Dia lalu melihat ke wajah Rolland yang entah kenapa terlihat masam seperti cuka.


"Apa lihat-lihat!" cetus Rolland.


"Ck, Land, Mommy tidak suka kau kasar begitu pada Brenda. Kalau Rose tahu, dia pasti akan langsung memusuhimu!" tegur Grizelle kurang suka dengan sikap cetus putranya.


Rolland diam saja. Dia lalu melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Mommy dan Daddy sudah makan malam belum?" tanya Rolland dengan tatapan penuh maksud.


"Sudah."


"Mommy dan Daddy terlihat sangat rapi. Ada acara apa diluar hotel?" tanya Brenda penasaran.

__ADS_1


Land, malam ini adalah malam yang sangat penting bagi adikmu. Jadi Mommy dan yang lainnya berniat datang ke markas Queen Ma untuk membantu Rose. Mommy khawatir dia terluka jika tidak memiliki pelindung yang banyak. Dan kebetulan kau dan Brenda ingin pergi ke kostnya. Tolong nanti kabari Mommy ya apakah Rose ada di sana atau tidak. Batin Grizelle.


Rolland mengangguk pelan ketika mendengar isi pikiran ibunya. Sebenarnya Rolland sangat ingin ikut bergabung bersama keluarganya karena malam ini adalah malam yang sudah lama di nantikan oleh Rose. Namun karena Brenda ada di sini, sang nenek memintanya agar tidak meninggalkannya sendirian karena waktu itu Brenda pernah di dekati oleh salah satu anggota sekte pemuja kecantikan. Mereka semua khawatir kalau-kalau orang itu akan kembali mengincar Brenda untuk di jadikan tumbal karena malam ini adalah malam purnama penuh. Dimana ini adalah malam paling sempurna untuk melakukan persembahan.


"Kakek Niel mengundang kita semua untuk datang ke rumahnya. Tapi undangan ini hanya di peruntukkan bagi mereka yang sudah menikah," jawab Drax beralasan.


"Wahhh, sayang sekali ya. Padahal aku ingin pergi main ke rumahnya Mona. Aku ingin sekali kenal dekat dengannya," sahut Brenda dengan raut kecewa.


"Tidak apa-apa. Lain waktu pasti masih akan ada banyak kesempatan untuk kau datang berkunjung ke rumahnya Mona. Sekarang kalian pergilah sebelum hari semakin malam!" usir Grizelle dengan lembut.


"Baiklah kalau begitu. Mom, Dad, kami pamit dulu!"


"Hati-hati!"


Grizelle dan Drax memandangi punggung Rolland dan Brenda hingga keduanya masuk ke dalam lift. Setelah itu mereka berbalik, menatap cemas ke arah sang ibu.


"Istrinya Niel sudah tahu kalau Mona menyukai Rose. Sepertinya malam ini Niel tidak akan bisa menjadi penunjuk jalan untuk kita!" ucap Liona dengan tatapan yang sangat datar.


"Ya Tuhan, bagaimana ini Bu. Kakiku lemas sekali!"


"Masalah ini cukup pelik, dan sepertinya Rose sudah lama tahu kalau Mona menyukainya. Atau jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Agler? MA, Mona Agler... Whatt??"


Mata semua orang membelalak lebar begitu teka-teki ini terjawab. Sungguh, tidak ada yang menduga kalau salah satu pondasi dari kelompok MA Queen adalah nama seseorang yang sangat di benci oleh Rose.


"MA Queen Rose. Mona Agler... Mungkinkah Rose menganggap Mona sebagai seorang ratu? Atau bagaimana ya? Ini, teka-tekinya belum terpecahkan semua, Bu. Mona, Agler, Rose... mereka bertiga pasti terhubung oleh suatu kejadian. Tapi apa? Apa yang sebenarnya telah terjadi di antara mereka bertiga?" ucap Grizelle gelisah.


"Jawaban dari teka-teki ini hanya Rose yang bisa menjawab!" jawab Liona mulai resah. "Zel, coba kau hubungi Rose dan tanyakan dimana dia berada. Dan Ibu akan menelpon Niel untuk mencari tahu dimana keberadaan Mona. Entah kenapa Ibu memiliki firasat kalau malam ini akan terjadi sesuatu hal yang sangat buruk pada gadis itu. Cepat Zel!"


"Baik, Bu!"


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss...

__ADS_1


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2