
Adam keluar lebih dulu dari dalam pesawat sebelum akhirnya dia mengulurkan tangan ke arah Rose. Walaupun tadi saat dalam perjalanan menuju landasan pesawat mereka sempat bersitegang, hal itu tak membuat Adam dan Rose berlarut-larut dalam situasi tersebut. Mereka sadar bukan saatnya lagi untuk mempermasalahkan hal kecil layaknya para abege. Mereka sudah sama-sama dewasa, jadi mereka bisa dengah mudah meredakan emosi yang sering muncul dalam diri masing-masing.
“Selamat datang di tanah kelahiranmu, sayang. Mommy senang sekali,” ucap Grizlle menyambut kepulangan putrinya dengan penuh suka cita. Segera dia datang mendekat kemudian memeluk Rose dengan hangat. “Bagaimana keadaan bayimu, sayang? Kalian baik-baik saja kan selama dalam perjalanan kemari?”
“Kami baik-baik saja, Mom. Jangan khawatir,” sahut Rose balas memeluk sang ibu. Pandangan Rose kemudian teralihkan ke arah tiga sepupunya yang berdiri tak jauh darinya. Satu, ada satu di antara ketiganya yang membuat Rose merasa sangat penasaran. Namun karena tak inginmerusak suasana hangat yang sedang tercipta, Rose memilih untuk mengabaikan rasa penasarannya lebih dulu.
“Rose, apa kau tidak mau memeluk Nenek? Nenek sangat merindukanmu, sayang,” tanya Liona tak sabar ingin segera memeluk cucunya ini.
Grizelle segera mengurai pelukannya lalu meminta Rose untuk bergantian menyapa keluarganya yang lain. Setelah itu Grizelle berjalan menghampiri Adam, menepuk bahunya pelan sebagai tanda ucapan terima kasih karena telah menjaga Rose dengan baik.
“Ugghhhh, Mom. Ternyata perjalanan kemari cukup membuat bokongku menjadi kebas karena terlalu lama duduk di dalam pesawat!” keluh Reina sembari menepuk-nepuk bokongnya. “Resan, nanti tolong carikan klinik kecantikan terbaik yang ada di Negara ini ya. Aku perlu pergi ke sana untuk memastikan kalau implan di bokongku tidak rusak.”
"Baiklah," sahut Resan.
“Oh, jadi bokongmu itu adalah bokong palsu ya, Nona cantik?”
Mulut Reina langsung berkomat-kamit tidak jelas begitu mendengar celetukan sepupu Rose yang bernama Flowrence. Sungguh, Reina sangat amat tersinggung mendengarnya. Namun ketika Reina hendak mengomeli gadis itu, dia di buat terpana oleh dua pria tampan yang berdiri di sisi kanan dan sisi kirinya Flowrence. Mereka adalah Bern dan Karl, dua pewaris di keluarga Ma.
“Nona Reinadelwis, senang bisa bertemu lagi denganmu. Hari ini kau cantik sekali. Sungguh!” sapa Karl seraya mengedipkan sebelah matanya.
“Oh Tuan Muda, aku jadi malu mendengarnya. Tapi jujur, aku senang sekali di puji oleh pria setampan dirimu,” sahut Reina membalas kedipan mata Karl dengan cara memberikan kiss jarak jauh. Hehe.
“Kak Karl, kau jangan mau dengannya. Dia itu meragukan, bokongnya saja palsu. Hati-hati, tampang cantik kadang bisa menipu. Percaya padaku!” ucap Flow dengan polosnya mengingatkan sang kakak tanpa mengetahui kalau orang yang dia maksud sudah kebakaran jenggot menahan kesal.
“Kak Flow benar, Kak Karl. Terkadang wanita cantik adalah wanita yang sangat mematikan. Apalagi Nona Reina adalah anggotanya Rose, dia pasti bisa membunuhmu kapan saja. Iya kan, Rose?" imbuh Brenda tak kalah polos seperti Flowrence. Dia lalu menoleh saat Rolland mengelus pinggangnya pelan. “Ada apa, Kak? Apa kau juga jatuh cinta pada Nona Reina?”
“Malam ini kita akan bertunangan. Jadi mana mungkin aku menyukai gadis lain selain dirimu, hm?” jawab Rolland agak kaget mendengar pertanyaan Brenda.
__ADS_1
Tanpa mempedulikan candaan yang sedang berlangsung, Lorus berjalan menghampiri Nona-nya yang sedang berada dalam pelukan Nyonya Liona. Setelah itu Lorus dengan sopan menyapanya.
“Selamat datang, Nona!”
“Ya,” sahut Rose. Dia lalu menatap lama ke arah Lorus, menantikan laporan penting darinya.
“Nona, itu bukan dia. Tapi ada orang lain yang mengendalikannya!” ucap Lorus paham akan arti tatapan Nona-nya.
“Siapa?”
“Saya tidak tahu, Nona. Yang jelas orang ini sangat licik dan juga kejam. Nanti setelah Nona istirahat saya akan menyerahkan beberapa bukti yang berhasil saya dapatkan beberapa hari ini.”
“Baiklah kalau begitu. Aku akan memintanya nanti.”
Lorus mengangguk. Setelah itu dia mundur ke belakang, tak menghiraukan tatapan penuh penasaran di wajah semua orang. Tak lama setelah itu terdengar helaan nafas panjang yang keluar dari mulutnya Rose. Adamar yang melihat hal itupun segera datang mendekat. Dia lalu mengelus pelan perutnya Rose.
“Tidak,” jawab Rose. Dia lalu melirik ke arah Bern yang sejak tadi hanya diam tak mau menyapa. “Bern, kita ini bukan musuh. Relaks. Kau terlalu tegang dalam menyambut kedatanganku!”
Bern tersenyum.
“Selamat datang kakak sepupu. Senang kita bisa bertemu lagi.”
Rose mengangguk.
“Kak Rose, nanti aku bisa mengobrol denganmu tidak? Aku ingin mengeluh tentang sikap kedua kakakku yang begitu posesif,” tanya Flow dengan tatapan panuh harap.
“Tentu saja bisa. Datanglah kapanpun kau mau, aku pasti akan menyambutmu,” jawab Rose dengan senang hati mempersilahkan sepupunya untuk datang menemuinya.
__ADS_1
Setelah itu Rose teringat kalau dia belum memperkenalkan Gracia ke keluarganya. Dia lalu memanggil adik iparnya yang tengah bersembunyi di belakang tubuhnya Cesar. “Grace, mendekatlah.”
Dengan langkah canggung Gracia berjalan mendekat ke arah Rose. Jujur, Gracia sangat malu sekarang. Gracia yakin sekali kalau keluarganya Rose pasti sudah mengetahui bagaimana sikapnya dulu. Haihhh, memalukan sekali. Gracia jadi takut di tolak.
“Namanya Gracia Clarence. Dia adalah adik tirinya Adamar,” ucap Rose memperkenalkan adik iparnya di hadapan semua orang.
“Halo semuanya. Senang bisa mengenal kalian semua,” ucap Gracia ragu-ragu.
“Halo Gracia. Selamat datang di keluarganya Rose ya. Semoga kau betah berada di sini,” sahut Grizelle menyambut ramah pengenalan diri adiknya Adamar. Dia lalu menghampiri dan memeluknya tanpa ragu.
Cesar dan Adamar memperhatikan bagaimana keluarganya Rose bisa langsung menerima kehadiran Gracia dengan tangan terbuka. Setelah itu mereka sama-sama saling melemparkan pandangan, memberi kode akan sesuatu yang perlu mereka lakukan. Namun, baik Adam maupun Cesar, mereka tidak ada yang menyadari kalau kode yang mereka mainkan tak luput dari pengawasan mata Rose dan anak buahnya.
“Karena semua orang sudah datang bagaimana kalau sekarang kita langsung pulang saja. Rose sedang hamil, dia tidak boleh sampai kelelahan. Rose dan bayinya butuh istirahat yang cukup setelah perjalanan yang cukup panjang!” ucap Greg menyudahi obrolan semua orang.
“Ah, Kakek Greg benar. Sebagai seorang wanita, aku dan Rose memang membutuhkan istirahat extra agar kulit kami tetap cantik setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan ini,” sahut Reina dengan antusias menyambut ajakan Kakek Greg. Dia lalu menjulurkan lidah ke arah dua orang gadis yang baru beberapa detik yang lalu Reina nobatkan sebagai musuhnya. Huh.
“Bilang saja kau sudah tidak kuat menahan lapar, Nona. Benar ‘kan?” tanya Flowrence to the point.
“Hih, anak ini ya!” kesal Reina. Dia lalu berbalik menatap wanita cantik yang wajahnya hampir sama imutnya dengan Flowrence. “Bibi Elea, kau sebenarnya mengidam apa saat sedang hamil Flowrence dulu? Heran, kenapa sih mulutnya bisa begitu tajam. Dia sejak tadi terus saja menyerangku. Aku kan jadi malu.”
“Memangnya kau punya malu ya?” sahut Elea langsung membungkam Reina dengan kata-kata yang begitu menohok.
“Aaaaaaa … aku tidak mau bicara lagi dengan kalian. Tidak ibu tidak anak, kalian berdua sama-sama menyebalkan. Huh!”
Selain Rose dan Bern, semua orang menertawakan Reina yang merajuk setelah bertanya pada Elea. Setelah itu semua orang segera masuk ke dalam mobil masing-masing kemudian pergi dari sana. Sungguh suatu kehangatan yang membahagiakan sekali bukan? Tentu saja. Namun, setelah ini badai besar akan segera menghampiri mereka semua. Entah apa yang akan terjadi nanti. Yang jelas ini akan menjadi akhir dari pencarian jati diri Rose.
***
__ADS_1