
Di dalam rumah, Kakek Frans tampak diam melamun. Dia bahkan sampai lupa kalau saat ini cucunya sedang menunggunya di ruang tamu. Rasanya ingin sekali Kakek Frans membongkar semua rahasia yang selama ini dia sembunyikan. Akan tetapi dia khawatir kalau-kalau orang misterius itu masih mengincar cucunya. Rose adalah gadis lemah yang tidak memiliki kemampuan apa-apa. Dia lugu.
"Kakek sedang apa di sini?" tanya Rose seraya mengelus bahu sang kakek yang sedang duduk sendirian. "Apa ada masalah?"
Kakek Frans terhenyak kaget. Dia menatap linglung ke arah cucunya kemudian menggelengkan kepala.
"Kalau tidak ada apa-apa kenapa melamun?"
Rose kemudian duduk di sebelah kakeknya.
"Tidak baik memendam masalah, Kek. Ayo cerita, aku akan mendengarkan,"
Dengan tangan tuanya Kakek Frans menulis kata di atas kertas. Dia bertanya tentang kuliah cucunya, juga bertanya apakah di kota ada orang asing yang mengikutinya atau tidak. Sungguh, firasat Kakek Frans mengatakan kalau nyawa cucunya sedang dalam bahaya. Jadi dia ingin memastikan semua itu dulu sebelum Rose kembali ke kota.
"Sekolahku baik-baik saja dan sebentar lagi acara wisuda akan segera di gelar," ucap Rose sambil membaca tulisan tangan sang kakek. Keningnya kemudian mengerut. "Orang asing? Maksud Kakek apa?"
Kakek Frans menjawab dengan membuat gerakan tangan. Dia berkilah dengan menyebut kalau Rose sangat cantik dan dia khawatir ada pria-pria gatal yang ingin mendekatinya. Rose yang melihat hal itupun tak kuasa untuk tidak tersenyum. Dia lalu menjelaskan kalau di kota tidak ada yang berminat untuk mendekatinya karena dirinya berasal dari desa. Padahal yang sebenarnya tidaklah seperti itu. Bahkan sekarang Rose sudah memiliki seorang suami. Namun dia masih belum berniat untuk memberitahukan hal itu pada sang kakek karena waktunya belum tepat.
"Ada apa?" tanya Rose saat menyadari keberadaan Lorus di sana.
"Resan mengirim pesan agar kita segera kembali ke kota, Rose. Ada beberapa tugas dari kampus yang harus kita selesaikan malam ini juga," jawab Lorus sedikit canggung saat memanggil nama nonanya secara langsung.
Ya, Rose memang sengaja meminta Lorus untuk bersikap seperti temannya di hadapan sang kakek. Dia melakukan hal itu karena tak ingin kakeknya tahu kalau selama ini dia memiliki organisasi rahasia dimana dia menjadi ketuanya. Jika hal ini sampai ketahuan, bisa-bisa kakeknya syok.
"Kalau begitu tunggu sebentar lagi."
"Baik, Non... em, Rose."
Kakek Frans menatap lekat ke arah cucunya. Dia masih rindu, tapi gadis ini sudah akan kembali ke kota.
"Kek, apa aku boleh bertanya tentang sesuatu?" tanya Rose dingin.
__ADS_1
Kakek Frans mengangguk. Namun dadanya berdebar kuat melihat raut wajah cucunya yang terlihat begitu serius.
"Apa aku sebelumnya memiliki kalung bernama?"
Deg
Bibir Kakek Frans bergetar hebat. Waktunya sudah tiba. Ya, akhirnya Rose menyadari juga tentang masalalunya. Dengan mata berkaca-kaca Kakek Frans menganggukkan kepala. Dia kemudian menulis, bertanya alasan kenapa cucunya menanyakan hal tersebut.
"Ada satu keluarga yang tiba-tiba menganggapku sebagai anak mereka yang hilang tujuh belas tahun lalu. Namanya Rolland, dan marga keluarga mereka adalah Osmond dan marga Ma," jawab Rose kaget.
Ini bagaimana mungkin terjadi. Kenapa kakeknya bisa sampai memiliki kalung bernama yang di maksud oleh Rolland? Rose sungguh tidak mengerti. Siapa dia sebenarnya?.
Dada Kakek Frans kian berdebar saat nama keluarga itu di sebut. Tak ingin cucunya terus penasaran, diapun segera mengambil kalung bernama yang dia sembunyikan di satu tempat rahasia.
Rose yang melihat sang kakek pergi memutuskan untuk mengikutinya. Dia ingin tahu rahasia apalagi yang di sembunyikan oleh sang kakek. Mata Rose kemudian menyipit ketika melihat kakeknya membuka sebuah kotak yang ternyata berisi satu stel pakaian dan juga sebuah kotak kecil berwarna hitam.
"Apa itu, Kek?"
"Mustahil!" pekik Rose syok saat membaca tulisan tangan sang kakek.
Bagaimana mungkin ada hal semacam ini. Dia bukan cucu kandung kakeknya, tapi keluarga Rolland adalah keluarga yang sebenarnya. Dipikir dengan akal sehat pun rasanya sangat tidak masuk akal. Rose mempunyai orangtua sendiri yang bernama Avon dan Murni. Kedua orangtuanya itu sudah meninggal dunia saat dia berumur lima tahun. Juga usianya dan usia Rolland berbeda dua tahun, tidak mungkin mereka kembar. Geram memikirkan hal tersebut, Rose berniat untuk pergi dari sana. Pikirannya kacau, dia sungguh tidak mengerti kenapa kakeknya tega memberitahukan hal gila semacam ini kepadanya.
Namun saat Rose hendak melangkah keluar dari sana, lengannya di tahan oleh sang kakek. Mata Rose membulat lebar begitu membaca goresan pena yang di arahkan kepadanya.
Rose, jangan marah. Kakek terpaksa menyembunyikan hal ini karena tak mau ada orang yang menyakitimu. Orang itu mengancam akan membunuhmu jika Kakek sampai memberitahu keluargamu kalau kau masih hidup. Tolong maafkan Kakek Nak, semua kejadian ini ada ceritanya sendiri. Tapi sekarang Kakek belum berani menceritakan segalanya, Kakek khawatir kalau orang itu masih mengawasi kita.
"Siapa orang itu, Kek? Siapa orang yang sudah berani mengancam Kakek seperti ini!" teriak Rose murka.
Lorus yang saat itu sedang duduk di ruang tamu langsung berlari masuk saat mendengar suara teriakan dari arah dapur. Dia lalu membelalakkan mata begitu membaca tulisan yang ada di tangan nonanya.
"Rose, siapa yang ingin membunuhmu?" tanya Lorus sambil menahan emosinya.
__ADS_1
Cepat-cepat Kakek Frans mengibaskan tangan ke arah Lorus dan juga cucunya. Dia melarang kedua orang ini agar tidak berbuat macam-macam, apalagi sampai mencari tahu tentang identitas orang misterius itu. Kakek Frans sungguh tidak ingin cucunya terluka, dia tidak mau Rose-nya kenapa-napa.
"Ambil kotak ini lalu masukkan ke dalam mobil kita. Katakan pada Resan untuk mencari tahu siapa orang yang sudah berani mengancam kakekku!" perintah Rose pada Lorus. "Kakek, maaf. Sepertinya aku tidak bisa menuruti keinginanmu kali ini. Orang itu harus bertanggung jawab karena sudah berani mengancammu. Dan untuk masalah kenapa aku bisa menjadi anggota keluarga mereka, kita bicarakan lain hari. Entah itu adalah kebenaran atau bukan, bagiku Ayah Avon dan Ibu Murni adalah kedua orangtuaku. Karena di dalam kepalaku sama sekali tidak ada ingatan apapun tentang mereka. Di mataku mereka semua adalah orang asing, berbeda denganmu. Dan satu lagi Kek. Jika setelah ini ada orang asing datang kemari dan menanyakan tentangku, tolong jangan katakan apapun pada mereka. Bisa?"
Kakek Frans ragu.
"Kek, aku melakukan ini semua demi melindungi dirimu. Aku juga ingin tahu kalau memang benar mereka adalah keluargaku, harusnya mereka bisa membuat aku mengingat tentang mereka meskipun hanya serpihan kecil. Kakek jangan khawatir, aku pasti baik-baik saja. Aku pastikan orang misterius itu tidak akan bisa menyakitiku karena di kota aku mempunyai banyak teman yang hebat. Orang misterius itu akan langsung mati jika berani macam-macam denganku. Jadi Kakek tidak perlu merasa risau. Oke?" ucap Rose sembari memeluk tubuh tua kakeknya.
Ya Tuhan, sebenarnya apa yang sedang di rencanakan oleh cucuku? Kenapa dia terkesan seperti tidak menginginkan keluarganya? Tolong bantu aku, Tuhan. Bantu aku menyadarkan Rose kalau keluarga Osmond dan keluarga Ma adalah benar keluarga kandungnya. Nyonya Liona, Tuan Greg, tolong temukan cara agar kalian bisa sesegera mungkin membuka ingatan masa lalunya Rose. Dia adalah cucu kalian, dan kalian harus segera datang untuk menjemputnya sebelum orang misterius itu datang lebih dulu. Firasatku mengatakan kalau orang misterius itu sedang merencakan sesuatu pada cucu kalian. Aku mohon cepatlah datang.
"Kakek baik-baik di sini ya. Aku pergi!" pamit Rose kemudian melangkah keluar menuju mobil.
Tatapan mata Rose begitu dingin. Amarahnya sudah tersulut sejak kakeknya memberitahu kalau ada seseorang yang sedang mengincarnya.
"Kau sudah memberitahu Resan?" tanya Rose setelah masuk ke dalam mobil.
"Sudah, Nona. Beberapa dari mereka akan segera tiba di desa ini untuk mengawasi sesuatu," jawab Lorus kemudian mulai melajukan mobil.
"Aku akan menghabisi kalian semua jika kakekku sampai kenapa-napa. Ingat itu!"
Lorus mengangguk. Dia kemudian fokus mengemudi sambil berpikir siapa gerangan yang sudah berani memprovokasi kemarahan nonanya. Sungguh, nasib orang itu sangat sial. Berurusan dengan nonanya adalah sesuatu yang sangat membahayakan. Bahkan Lorus dan Resan saja tidak pernah sekalipun berani bersinggungan dengan wanita dingin ini. Petaka, atau mati. Hanya itu yang akan terjadi jika si Queen Rose sudah menunjukkan taringnya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1