Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Misi Gagal


__ADS_3

Plakk plaakk plaak


Dengan geram Gheana menampar pipi ketiga preman yang tadi di sewanya untuk memberi pelajaran pada Gracia. Dia menjadi sangat marah ketika preman-preman ini malah kembali dengan wajah babak belur. Di tambah lagi dengan laporan mereka yang mengatakan kalau misi telah gagal dilakukan.


"Badan saja yang besar dan gahar, tapi kekuatan kalian nol besar. Percuma aku membayar kalian mahal-mahal kalau endingnya malah menyebalkan seperti ini. Dasar sampah!" umpat Gheana sembari menggebrak meja. Dadanya bergerak naik turun saking emosinya dia pada para bodoh sialan ini.


"Maafkan kami, Nona. Tadinya kami sempat menarik dan memukul wajah wanita itu. Akan tetapi tiba-tiba ada dua orang pria yang datang menolongnya. Salah satu dari pria tersebut kemudian berkelahi dengan kami. Dan ....


"Dan?"


"Dan kami kalah, Nona."


"Cihhh!"


Gheana berdecih jengkel. Setelah itu dia duduk di atas meja kerjanya kemudian mengambil sebatang rokok dari dalam tas. Sambil memejamkan mata, Gheana menghisap dalam-dalam rokok tersebut kemudian menghembuskan asapnya ke atas. Dia benar-benar sangat kesal sekarang.


"Apa kalian mengenal siapa kedua pria itu?" tanya Gheana setelah agak tenang.


"Tidak, Nona. Tapi pria yang menyerang kami memiliki tenaga yang sangat kuat. Tatapannya terlihat seperti binatang buas yang sedang kelaparan. Sangat mengerikan," jawab salah satu preman sambil bergidik takut ketika menceritakan pria yang telah membuat dia dan teman-temannya menjadi babal belur seperti ini.


"Lalu dimana hebatnya? Apa kau merasa keren setelah membanggakan kekuatan dari orang yang telah menggagalkan rencana kita? Iya?" hardik Gheana sengit. Dia lalu melemparkan rokok yang masih menyala hingga mengenai mata salah satu preman suruhannya.


Tanpa merasa kasihan sama sekali, Gheana turun dari atas meja kemudian mengambil pistol yang selalu dia simpan di dalam laci meja. Bak seorang psikopat, Gheana menempelkan ujung pistol ke kepala preman yang sedang memekik kesakitan karena matanya yang terkena api rokok.


"Kau tahu siapa aku bukan? Gheana Luther, aku pantang kalah dalam suatu tujuan. Gracia telah mengolok-olok harga diriku, dan aku sangat tidak terima dengan perlakuannya. Tapi kenapa kalian tidak bisa membalaskan apa yang telah dia lakukan padaku? Apa kalian sudah bosan hidup? Hah!" teriak Gheana dengan tatapan yang begitu bengis. Sesuatu yang tak pernah dia tunjukkan di hadapan orang lain. Entah itu klien maupun keluarganya.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan mengapa Gheana bisa memiliki kepribadian seperti ini. Dulu Gheana pernah mengalami sesuatu hal yang sangat buruk dimana hal tersebut membuatnya menjadi sosok yang serakah dan juga gila setiap keinginannya tidak segera terpenuhi. Sebenarnya di keluarga Lutfer, Gheana bukanlah anak semata wayang. Dia mempunyai seorang kakak, tapi sudah meninggal karena suatu kejadian. Dan dari kejadian itulah muncul sosok mengerikan di diri Gheana yang begitu betah mengendalikan pikirannya. Kalian pasti berpikir kalau Gheana adalah pelaku dari kematian kakaknya bukan? Jawabannya adalah bukan. Alasan kenapa kakaknya bisa meninggal adalah karena perebutan hak waris akan kepemilikan seluruh harta di keluarga Lutfer. Karena sesuatu hal, kakaknya menjadi korban dari keserakahan dari orang-orang yang terlibat. Hingga pada akhirnya terciptalah seorang Gheana yang seperti sekarang. Arogan, jiwa yang sakit, terluka, egois, dan juga tamak akan kebahagiaan seseorang. Gheana selalu dan selalu ingin memiliki segala hal yang bisa membuatnya terlihat menawan. Dan menjadi Nyonya Clarence adalah tujuan akhirnya. Namun tujuannya itu kini telah terhalang semenjak ada nama satu wanita yang hampir membuat Gheana menjadi gila. Satu wanita belum selesai Gheana bereskan, kini muncul satu wanita lagi yang dengan begitu berani mempermainkan emosinya. Siapa yang tidak marah jika ada manusia yang ingin menghalangi tujuan mulia kita? Tidak salahkan kalau Gheana bersikap tegas untuk menindak Gracia agar tidak macam-macam lagi padanya. Tapi sayang, semuanya gagal berkat kebodohan preman-preman tidak berguna ini.


"N-Nona, t-tolong maafkan kami bertiga. Kami mengaku salah, tolong beri kami kesempatan sekali lagi untuk memberi pelajaran pada wanita itu!" ucap si preman dengan bibir gemetaran. Wajahnya yang babak belur kini di banjiri keringat dingin saat nyawanya sedang berada di ujung tanduk.


"Kesempatan?" tanya Gheana. "Apa kau pikir kita sedang tawar-menawar tentang pakaian, hah? Seenaknya kalian meminta kesempatan. Tidak ada!"


"Kami mohon, Nona. Satu kali saja. Kami masih ingin menyelesaikan urusan untuk membalas orang yang telah menggagalkan pekerjaan kami. Pria itu harus menerima balasan setimpal atas apa yang sudah dia lakukan. Tolong beri kami satu kesempatan, Nona. Kami mohon!"


Gheana terdiam sejenak. Mendadak pikirannya jadi tertuju pada dua orang pria yang telah menyerang orang suruhannya. Pikiran Gheana kemudian tertuju pada Adam dan Cesar, yang tak lain adalah kakaknya Gracia. Dia gusar, takut kalau-kalau tebakannya adalah benar.


Kartu as-ku bisa terbongkar jika yang menolong Gracia adalah Adamar dan Cesar. Bagaimana ini? Bagaimana caranya aku mencari tahu apakah mereka yang telah menolong Gracia atau bukan? Ah gawat. Kenapa jadi begini sih.


Panik dengan apa yang dia pikirkan, Gheana memutuskan untuk menghubungi nomor Cesar. Dia harus segera mencari tahu apakah pria ini terlibat dengan kejadian tadi atau tidak. Jika tidak, harusnya Cesar masih mau menerima panggilan darinya. Tapi jika iya, maka matilah dia. Gheana masih belum percaya seratus persen kalau sekertarisnya Adam bersungguh-sungguh mau bekerjasama dengannya. Dia masih dalam mode siaga.


"Kau ada dimana sekarang? Aku hanya ingin bertanya tentang rencana kita malam nanti," tanya Gheana beralasan. Dia merasa sedikit lega karena ternyata Cesar masih mau menerima panggilannya.


Lama Gheana menunggu jawaban Cesar. Dia yang tadinya sudah merasa lega kini kembali resah karena Cesar tak kunjung bersuara.


"Tuan Cesar, apa kau masih ada di sana? Kau mendengarku tidak?"


"Adam sedang menuju ke arahku. Matikan dulu panggilannya. Jangan lupa kirim alamatnya, aku akan langsung pergi ke sana setelah pulang dari kantor."


Klik.


Panggilan terputus. Namun hal tersebut tak serta merta membuat Gheana merasa senang. Entah kenapa Gheana merasa ada yang janggal dengan sikapnya Cesar. Pria ini seolah sedang menutupi sesuatu yang berhubungan dengannya.

__ADS_1


"Apa Cesar berniat mempermainkan aku?"


Karena tak mendapat jawaban dari apa yang dia takutkan, Gheana akhirnya memilih untuk percaya saja. Toh segala bentuk percakapan dan juga pesan yang dia terima dan kirimkan ke nomor Cesar sudah dia copy untuk di jadikan bukti jika seandainya pria tersebut mengkhianatinya. Gheana tidak bodoh, dia selalu rapih dalam bertindak.


"Kalian pergilah. Tapi jangan lupa untuk terus mengawasi Gracia. Begitu ada celah, langsung sikat saja. Aku tidak peduli meski kalian ingin membunuhnya sekalipun. Karena yang aku inginkan hanyalah cerita kesuksesan misi yang aku berikan. Paham?" usir Gheana seraya melambaikan tangan ke arah preman yang masih berada di ruangannya.


"Apa ini artinya Nona mau memberikan kesempatan pada kami bertiga?"


"Apa kau berharap mati di tanganku detik ini juga? Jika iya, maka aku tidak keberatan untuk melakukannya. Bagaimana? Kalian ingin mati dengan cara apa? Di tembak, atau aku dorong keluar melalui jendela itu? Ayo cepat pilih!"


Bagai melihat setan, ketiga preman tersebut langsung lari terbirit-birit saat keluar dari ruangannya Gheana. Sungguh, wanita yang menjadi bos mereka benar-benar sangat gila. Dia psikopat.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


HAI GENGSS.. MAMPIR YUKK KE NOVEL ANAK EMAK. CERITANYA SERU LOH. YUK LAH MAMPIR... DI TUNGGU KOMENTAR KALIAN SEMUA YA GENGSS πŸ’œπŸ’œ



...🌹Jangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss πŸ”ͺπŸ”ͺπŸ”ͺ...


...🌹Ig: rifani_nini...


...🌹Fb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2