Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Alat Terbaru


__ADS_3

Lorus menatap ke arah ranjang di mana ada seorang wanita yang cantik karena operasi plastik tengah berbaring lelap di sana. Vanya, ya. Sudah sehari semalam ini dia terkapar tak sadarkan diri karena Lorus terus menyuntikkan obat bius ke tubuhnya. Tak lupa juga Lorus menyuntikkan cairan yang bisa menghapus memori ingatan Vanya tentang kejadian terakhir yang dia lihat sebelum pingsan. Hal ini sengaja dilakukan agar orang-orang rahasia Queen Ma tidak terancam bahaya. Bisa gawat nanti jika Vanya sampai memberitahu pihak musuh tentang ciri-ciri anggota Queen Ma yang dia lihat di rumah ini.


"Aku sungguh tidak mengerti kenapa Tuhan bisa menciptakan wanita semenjijikan dirimu, Nyonya Vanya. Tapi setelah membongkar segala kejahatan yang pernah dilakukan oleh Zidane, aku jadi paham dan mengerti akan maksud Tuhan menghadirkanmu ke dunia ini," ujar Lorus dingin. "Zidane adalah seonggok sampah yang sangat bau dan juga kotor. Sedangkan kau, kau adalah tempat sampahnya. Sangat serasi. Heh!"


Hari ini adalah hari terakhir ruangan pribadi milik Zidane di renovasi. Dan Lorus dengan begitu gembira langsung datang kemari setelah memastikan kalau keadaan Nonanya baik-baik saja. Ya, pagi tadi Nonanya tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri setelah mendengar nama Tuan Dante, yang tak lain adalah saudaranya sendiri. Sekali lagi, Lorus harus menyaksikan sang nona kesakitan karena ingatannya yang hilang. Andai ada cara yang bisa di gunakan untuk menghilangkan rasa sakit tersebut, ke ujung dunia pun pasti Lorus akan mencarinya. Rasanya sungguh tidak enak melihat dewa penolong kita menjerit kesakitan seperti pagi tadi.


"Queen Ma adalah kelompok yang bisa melakukan apa saja. Bahkan mampu membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi sesuatu yang mungkin. Tapi kenapa tidak ada satupun dari kami yang bisa membuat obat untuk menyembuhkan Nona Rose? Ini kita yang bodoh atau Tuhan yang masih enggan membocorkan apa obatnya?" geram Lorus sembari meninju udara dengan satu tangannya. Dia benar-benar gemas, juga merasa tidak berguna karena setiap sang nona kesakitan, baik dia maupun anggota yang lain tidak bisa melakukan apa-apa. Sekalipun mampu membuat obat, itu hanya menghilangkan rasa sakitnya untuk sementara saja. Sungguh sangat sialan bukan?


Puk


"Apa kau sedang mengangumi kecantikan Nyonya Vanya?" tanya Resan.


"Singkirkan tanganmu sebelum aku mematahkannya!" sahut Lorus sarkas. "Aku lebih baik kehilangan nyawa daripada harus mengakui kecantikan mak lampir itu. Cuiihh!"


Resan terkekeh. Dia kemudian menoleh ke arah ranjang, menatap lekat wanita yang tengah tertidur lelap di sana.


"Dia beruntung karena Nona masih membiarkannya tetap hidup. Jika itu aku, aku pasti akan langsung memasukannya ke dalam tong lalu mengecornya hidup-hidup. Dia mungkin tidak memiliki kekuatan apa-apa dan bersih dari segala organisasi, tapi segala kemungkinan bisa saja terjadi jika kita sampai lengah!" ucap Resan penuh maksud.


"Kau benar, Resan. Tapi kita tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya Nona Rose pikirkan tentang Nyonya Vanya. Aku yakin Nona pasti mempunyai alasan kuat yang membuatnya mengambil sikap seperti ini. Lebih baik kita tunggu saja karena biasanya di balik kejadian seperti ini ada permainan seru yang coba Nona mainkan!" sahut Lorus kemudian tersenyum samar.


Resan mengangguk. Dia kemudian mengambil ponselnya, tersenyum ketik membaca sebuah pesan yang di kirimkan Reina.

__ADS_1


"Apa arti senyummu itu, Res?"


"Artinya adalah kabar baik," jawab Resan. "Ayo pergi dari sini. Kita harus membuat penyambutan karena peti yang membawa Zidane akan segera datang. Reina memberitahu kalau pria gemulai itu sedang sekarat setelah menjadi korban pelampiasan dari kemarahan Tuan Adamar."


"Benarkah? Hahaha, ini baru permainan. Nanti setelah dia di pindahkan ke ruangan itu, aku akan sedikit bermain-main dulu dengannya. Malam itu aku belum mendapatkan jatah apapun, jadi akan aku tuntaskan hari ini juga."


"Jangan kasar-kasar. Zidane tidak boleh mati dengan mudah. Dia harus merasakan apa yang dulu di rasakan oleh Nyonya Karina sebelum di kirim ke alam baka sana. Bermainlah dengan halus, sayangi setiap tarikan nafasnya. Paham kau?"


Lorus menujukkan sebuah smirk licik di sudut bibirnya ketika di peringatkan oleh Resan. Bermain dengan halus, bukankah kata ini terdengar begitu lembek? Lorus adalah tipikal orang yang sangat kasar dan juga ganas. Dia mana bisa menuruti kata-kata Resan. Sudah gila apa.


"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, Lorus. Terserah, yang penting Zidane tidak boleh mati dulu sebelum apa yang di inginkan oleh Tuan Adamar terpenuhi. Kau harus mengingat hal ini baik-baik!" ucap Resan yang sangat amat paham akan emosi terpendam di diri rekannya ini. Lorus terlalu mengerikan. Dia bagaikan mesin pembunuh yang baru akan berhenti jika berhadapan dengan nona mereka saja. Mengerikan sekali bukan?


"Lalu kau? Kapan kau akan mati? Kau tim orang jahat atau orang baik?"


Lorus menyeringai.


"Aku sangat berharap Tuhan akan memberiku umur panjang agar bisa selalu menjaga Nona. Semenjak dia menarikku dari jurang kegelapan itu, aku sudah menyerahkan raga dan nyawaku hanya untuknya. Aku tidak rela mati jika belum melihat dewa penolongku hidup dengan sangat bahagia."


Mungkin inilah hebatnya orang-orang yang ada di organisasi Queen Ma. Mereka benar-benar menjunjung tinggi seorang wanita yang telah menjadi dewa penolong di hidup mereka. Aneh memang, karena tidak seharusnya manusia terlalu mengagungkan sesama manusia. Tapi mereka tidak peduli. Karena bagi semua anggota Queen Ma, Rose adalah titik nafas yang mereka punya. Sakitnya sang Nona, adalah kemurkaan mereka semua. Dan kebahagiaannya adalah sesuatu yang bisa membuat mereka merasa lega.


"Aku dengar Nyonya Liona dan Tuan Greg telah menyiapkan sebuah pulau harta karun untuk Nona Rose dan Tuan Rolland. Jika nanti kita semua di pindahkan ke sana, apa yang akan kau lakukan?" tanya Resan seraya menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Di mana pun itu asalkan masih bisa menjadi bawahannya Nona Rose, maka aku tidak peduli," jawab Lorus masa bodo.


"Sepupunya Nona Rose adalah pemilik Organisasi Grisi. Mungkinkah kita bisa berteman dengannya? Tuan Gerald sangat dingin dan juga tidak tertebak. Pasti akan sangat seru jika kita bisa datang berkunjung ke Labolatoriumnya yang misterius itu!"


"Kalau dia menolak berteman dengan kita, aku tidak keberatan untuk adu mekanik dengannya. Nona sudah mendidik kita dengan keras, memalukan kalau kita tidak bisa menaklukkan seorang Gerald Thampson, Res."


Setelah berkata seperti itu Lorus dan Resan pergi dari sana. Mereka perlu memeriksa apakah tempat yang akan menjadi tempat tinggal Zidane sudah tertata sesuai dengan yang di inginkan Tuan Adamar atau belum. Sambil melihat-lihat ruangan, Resan berbicara dengan salah satu orang rahasia organisasi Queen Ma yang kebetulan belum pergi dari sana. Tanpa di duga-duga, orang ini ternyata telah membuat satu ruangan sempit yang membuat Resan merasa sangat puas setelah mengetahui apa kegunaannya.


"Saat memasukan bajingan itu kemari, pastikan tangan kalian tidak bersentuhan dengan dinding ini. Jangan tanya seperti apa rasanya. Karena itu pasti akan sangat menyakitkan. Ini adalah alat penyiksaan terbaru yang kami buat, jadi berhati-hatilah sedikit agar kalian tidak menjadi kelinci percobaan yang pertama!"


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...Maaf ya gengss lama update. Hehehe πŸ™πŸ™...


...🌹Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss πŸ”ͺπŸ”ͺπŸ”ͺ...


...🌹Ig: rifani_nini...


...🌹Fb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2