Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Peluru Beracun


__ADS_3

Setelah menyelesaikan tugas menyiksa Gheana, Reina dan Lorus pergi dari rumah sakit dengan raut wajah yang begitu gembira. Di bibir keduanya terus tersungging senyum semringah karena mereka pulang ke markas dengan membawa kabar baik untuk sang ketua. Sembari merapihkan kemeja yang di pakainya, Reina meminta Lorus mengantarkannya pergi ke tempat orang yang menjual rujak. Dia ingin membelikan oleh-oleh untuk kesayangannya.


"Apa kau berniat menyuap Nona Rose dengan makanan itu, Rein?" tanya Lorus sambil melajukan mobil.


"Ya ampun, Lorus. Berapa kali harus aku katakan padamu jangan memanggilku Rein. Panggil Reina, brengsek!" sahut Reina dongkol.


Lorus acuh. Dia dengan sengaja menambah kecepatan mobil yang mana membuat kepala Reina terantuk ke depan. Bukannya meminta maaf, Lorus malah kembali menambah kecepatan mobil dengan harapan kalau Reina akan berhenti mengoceh.


"Lama-lama aku bisa mati cepat kalau terus berdekatan dengan manusia kejam sepertimu, k*parat! Kau ini punya dendam apa sih padaku. Kenapa kau selalu saja membuat emosiku membludak setiap kali kita menjalankan tugas bersama. Kau iri padaku ya!" omel Reina setelah memasang seatbelt ke tubuhnya.


Dooorrrr


Belum sempat Lorus membalas omelan Reina, dari arah belakang tiba-tiba ada yang menembak mobil mereka. Lorus yang tidak tahu akan di serang seperti itupun hampir lepas kendali. Segera dia membanting stir ke arah lain saat mobilnya hampir menabrak kendaraan roda dua yang saat itu melaju pelan di depan mobilnya.


"S*iitttt! Siapa yang berani mencari masalah dengan kita, Reina!" umpat Lorus emosi.


Tanpa di suruh dua kali, Reina langsung berpindah duduk ke belakang. Dia sedikit merunduk saat akan mengintip siapa orang yang telah menembak mobilnya.


"Gawat, Lorus. Mereka dari organisasi gelap!"


"Apa?"


Organisasi gelap adalah salah satu organisasi yang selama ini menjadi musuh besar kelompok Queen Ma dalam memperjualbelikan senjata api. Dan bulan lalu kelompok ini baru saja bersitegang hebat gara-gara ketua mereka menolak untuk memberi pasokan senjata yang rencananya akan di tujukan pada pemberontak negara. Tapi jujur, baik Lorus maupun Reina, mereka tidak menyangka kalau organisasi ini akan datang kemari dan menyerang mereka secara tiba-tiba.


"Sial, kita kalah jumlah, Lorus. Mereka membawa pasukan cukup banyak!" pekik Reina kaget. Segera dia menghubungi Resan untuk mengabarkan kalau keadaannya tengah terdesak.


Sambil mengulur waktu, Lorus membawa orang-orang ini berpacu andrenalin di tengah-tengah keramaian jalanan. Akibat tembakan yang terjadi tadi, membuat beberapa mobil polisi membuntuti mereka. Bukannya takut, Lorus malah dengan senang hati mengikutsertakan para polisi tersebut agar ikut berkejaran dengan kelompok organisasi gelap. Sementara Reina, dia terus berusaha menghubungi Resan yang entah kenapa tak kunjung menjawab panggilan darinya.


"Halo, Reina. Ada apa?"

__ADS_1


"Kami di serang organisasi gelap, Res. Dan di belakang mereka ada beberapa polisi yang ikut mengejar karena mereka tadi sempat melepaskan tembakan!" jawab Reina dengan menggebu. "Kita kalah jumlah. Aku dan Lorus bisa menjadi sasaran peluru mereka jika kami sampai tertangkap. Tolong kirim beberapa orang untuk membantu kami, Res. Sekarang!"


"Oke!"


Klik. Panggilan terputus. Reina mengumpat kasar saat kaca mobil pecah terkena tembakan. Kalau saja dia terlambat menunduk, mungkin serpihan kaca tersebut akan memenuhi kepalanya.


"Kenapa, Rein?" tanya Lorus santai.


"Kenapa? Kau tanya kenapa di saat kepalaku hampir saja terkena tembakan? Woaahhh, kau benar-benar rekan yang sangat kejam, Lorus. Aku membencimu!" jawab Reina penuh emosi.


Sambil bersungut-sungut, Reina kembali pindah ke kursi depan. Dia lalu merogoh kotak yang tersembunyi di bawah kursi yang di dudukinya. Sembari bersiul, Reina merakit senjata api kemudian memasukkan peluru ke dalamnya. Setelah itu dia tersenyum, menoleh ke arah Lorus sambil menggerakkan dagu.


"Waktunya bermain, kawan!"


"Hati-hati. Nanti bulu matamu rusak terkena serangan mereka!" ledek Lorus sambil membuka bagian atas mobil, memberi jalan untuk Reina agar bisa bermain tembak-tembakan.


"Kalau kau berani meledekku lagi, aku pastikan bola matamu terbang keluar. Dasar sialan kau, Lorus!"


"Lorus, kenapa rombongan mereka seperti beranak-pinak ya. Banyak sekali. Kau jangan sampai lengah, perhatikan juga dari seberang sisimu!" teriak Reina sambil mengisi peluru ke dalam senjatanya.


Baru juga Reina selesai bicara, Lorus langsung mengumpat keras saat sebuah peluru bersarang di lengannya. Dia kemudian mengeluarkan senjata, balas membidik dengan satu tangan menyetir mobil. Mungkin karena kekuatan Lorus yang tidak seimbang, membuat laju mobil menjadi oleng. Kalau saja kaki Reina tidak mengait kuat di kursi yang tadi di dudukinya, dia pasti sudah terpelanting jatuh ke aspal saat Lorus mengerem mendadak. Reina ingin murka, tapi kiriman timah panas terus saja memburunya.


"Ck, mana kiriman dari Resan. Lama sekali!" keluh Reina kesal.


"Sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi mereka akan segera tiba. Kau teruslah mengulur waktu dulu, Rein. Tanganku mulai kebas!" ucap Lorus sambil mengernyit menahan sakit karena ternyata peluru yang masuk ke tubuhnya sudah di bubuhi racun. Sepertinya orang-orang ini sudah melakukan persiapan dengan cukup baik.


"Kau jangan mati sekarang, Lorus. Bisa rugi banyak aku kalau di tinggal sendirian!"


Lorus mendengus.

__ADS_1


Tak lama berselang, ada satu mobil polisi yang berhasil menyusul mobil milik Lorus. Mereka berteriak sambil mengacungkan senjata meminta agar Lorus segera menepikan mobil. Reina yang tahu kalau polisi-polisi ini sudah bersekongkol dengan organisasi gelap tersebut tanpa pikir panjang langsung menembak kepala keduanya. Dia lalu mengacungkan jari tengah ke arah mobil musuh dengan maksud memprovokasi mereka.


"Cihhh, bodoh sekali kalian. Apa gunanya mengajak anjing-anjing itu untuk bekerja sama? Kalau aku mau, aku bisa menggunakan kekuatan Marcellino untuk mengusir kalian dari negara ini. Tapi sayang, kelompok kami tidak selemah itu sampai harus mengemis bantuan dari orang lain. Aku pastikan setelah ini kalian semua akan kembali tanpa nama. Aku bersumpah untuk itu!" geram Reina. "Arahkan ke tempat yang sepi, Lorus. Tanganku gatal ingin meremukkan ginjal para bedebah itu!"


"Jangan macam-macam dulu, Rein. Tunggu setelah anak buah kita tiba, baru kita membawa mereka ke sana. Peluru mereka beracun, kau jangan sampai tertembak!" sahut Lorus dengan mulut yang mulai mengeluarkan darah segar.


Mendengar Lorus yang di racuni, membuat Reina memutuskan untuk kembali duduk di sebelahnya. Dia terkekeh melihat banyaknya darah yang keluar dari mulut rekannya ini.


"Aku rasa kau terkena karma dari kemarahan ketua kita, Lorus. Belum juga di hukum, sekarang kau malah sekarat duluan. Kasihan sekali!"


"Jangan sombong, atau aku akan mengumpankanmu pada mereka!" sahut Lorus seraya mengambil pisau di sakunya.


Tahu kalau Lorus hendak mengeluarkan peluru beracun dari tubuhnya, dengan sigap Reina mengambil alih kemudi. Dia menyetir sambil sesekali mengarahkan tembakan ke belakang. Sedangkan Lorus, dia mengoyak kulit lengannya tanpa membiusnya terlebih dahulu. Seketika udara dalam mobil langsung di penuhi aroma amis saat darah mulai mengucur deras dari luka Lorus. Dan di saat yang bersamaan, rombongan yang di kirim Resan akhirnya tiba. Kesempatan ini di gunakan Reina untuk membantu Lorus mengeluarkan peluru. Dia dengan santai menyiram luka tersebut dengan alkohol sebelum akhirnya mencungkil keluar peluru beracun yang sukses membuat Lorus menjadi tidak berdaya.


"Kau istirahat saja. Mereka biar aku dan lainnya yang mengurus!" ucap Reina seraya membungkus luka.


Lorus mengangguk. Dia hanya duduk diam sambil mengamati jalannya pertikaian antar dua kelompok di mana kelompoknya kini mulai mengambil alih kemenangan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


GENGSS... JANGAN LUPA MAMPIR KE LAPAKNYA GERALD YA. CERITANYA LUMAYAN KOK... LUMAYAN BIKIN DARAH TINGGI, HEHEHE



...๐ŸŒนJangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...

__ADS_1


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2