
Dari dalam sebuah mobil mewah, keluar empat orang dengan balutan pakaian yang sangat mahal. Dialah Rose, Reina, Resan dan Luros, para pentolan dari kelompok Ma Queen yang sangat misterius. Sayangnya tidak ada orang yang bisa mengenali identitas mereka karena sekarang mereka muncul dengan tampilan yang berbeda. Selama ini kelompok Ma Queen di kenal sebagai kelompok yang selalu memakai topeng. Hal ini sengaja Rose lakukan agar kehidupan pribadinya tidak terekspos. Rose sangat benci dengan keramaian, dan paling tidak suka jika dirinya menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Bar ini sangat besar dan mewah. Pantas saja keberadaan mereka tak bisa di endus," ucap Reina sambil memandangi bangunan mewah di hadapannya.
"Kau urus para penjaga itu, Reina!" perintah Rose kemudian mulai melangkah masuk ke dalam bar.
Dan seperti yang di katakan oleh Falcon kalau orang-orang yang ingin masuk ke bar ini harus memiliki kartu anggota. Rose yang saat itu hendak melewati pintu masuk langsung di hadang oleh tiga orang penjaga bertubuh besar. Namun belum sempat mereka menyentuh tubuhnya, Reina sudah lebih dulu menunjukkan kartu anggota mereka. Dia memperlihatkan kartu tersebut dengan gaya yang sangat ikonik. Reina menempelkan kartu di dekat mulutnya sambil menyeringai penuh goda. Setelah itu dia mengedipkan mata ke arah penjaga agar mereka membukakan jalan untuk kesayangannya.
"Pria-pria yang baik baik," puji Reina.
Resan dan Luros menggeleng pelan melihat kelakuan Reina yang malah menggoda para penjaga itu. Sementara sang ketua, saat ini sudah duduk di salah satu meja yang ada di dalam bar.
"Ekhmm nona cantik, butuh teman untuk minum?" tanya salah seorang pria sembari mengangkat botol ke arah Rose.
"Maaf, dia milikku!" ucap Resan seraya menahan pundak pria yang ingin duduk di sebelah nonanya.
"Oh, oke oke. Santai saja bung, aku tidak tahu kalau dia sudah mempunyai pawang."
"Menyingkirlah. Kekasihku tidak terlalu menyukai orang asing."
Lorus dan Reina tersenyum samar melihat pria itu yang pergi sambil bersungut-sungut. Mereka berdua kemudian duduk berhadapan dengan sang ketua. Sementara Resan, dia sudah tenggelam dengan ponsel di tangannya.
"Awasi pria yang tadi. Sepertinya dia tahu kalau kita bukan anggota yang sering datang kemari," ucap Rose sambil terus mengedarkan pandangan ke sekeliling bar.
"Dia tangan kedua dari pemilik tempat ini, Nona," sahut Resan kemudian memberikan ponsel yang berisi data pria yang tadi datang menggoda sang nona.
"Astaga Res, otakmu ini terbuat dari apa sih. Baru lewat satu detik Rose bicara kau sudah dapat saja identitas pria itu. Cepat sekali," ucap Reina takjub akan kemampuan rekannya dalam mengotak-atik urusan seperti ini.
"Kita harus bergerak cepat supaya tidak kecolongan, Reina. Dan semua orang asing yang tiba-tiba datang mendekat patut untuk kita curigai," sahut Resan.
Reina mengangguk paham. Dia lalu memperhatikan Rose yang sedang fokus membaca informasi di dalam ponsel.
__ADS_1
Saat Rose sedang mencermati data tentang pria itu, tiba-tiba saja satu bayangan melintas cepat di matanya. Hal ini membuat Rose kaget hingga ponsel di tangannya terjatuh ke lantai.
"Nona, ada apa?" pekik Lorus dan Resan berbarengan.
Pletakk pletakkk
"Bukankah Rose sudah mengingatkan kalian untuk tidak memanggilnya Nona? Kalian bodoh atau bagaimana sih? Kalau kita sampai ketahuan bagaimana coba?!" omel Reina setelah menjitak kepala Resan dan Lorus.
"Maaf, kami lupa."
"Lupa-lupa. Seperti orangtua saja kalian ini."
Rose tercengang dengan apa yang baru saja melintas di matanya. Dia bingung kenapa bisa bayangan seperti itu tiba-tiba muncul.
"Ada apa, Rose? Kenapa ponselnya kau banting ke lantai?" tanya Reina sembari mengusap bahu kesayangannya yang sedang termenung.
"Tidak ada apa-apa. Mungkin aku hanya sedikit tidak sehat," jawab Rose beralasan.
Tepat ketika Rose selesai bicara, dari dalam lift muncul seorang pria yang langsung membuat kilat kemarahan di mata Rose menyala. Agler, bajingan itu benar-benar ada di tempat ini. Gelap mata, Rose dengan cepat berdiri dari duduknya kemudian berniat menghampiri bajingan itu. Dia menggeram marah saat Reina dan Lorus menahan tangannya yang ingin mengambil pistol dari balik bajunya.
"Tidak sekarang, Rose. Ingat, saat ini kita berada di wilayahnya. Akan sangat beresiko jika kita sampai membuat kegaduhan di sini!" sahut Reina mencoba menenangkan amarah Rose.
"Aku tidak bisa menahannya lagi, Reina. Bajingan itu harus mati malam ini juga!" geram Rose sambil terus menatap nyalang ke arah Agler yang kini tengah berpesta minuman bersama dengan beberapa pria di meja lain.
Reina menggerakkan kepala ke arah Resan saat ekor matanya menangkap pergerakan penjaga yang ingin datang mendekat. Rupanya reaksi Rose yang tidak biasa mengundang perhatian mereka. Resan yang tanggap akan maksud Reina pun segera datang menghampiri para penjaga sambil membawa segepok uang untuk menyuap. Dan entah apa yang dia bicarakan, tiba-tiba saja Resan sudah menjadi sangat akrab dengan para penjaga itu.
"Rose, kau tidak boleh gegabah. Kita datang kemari bukan untuk membunuhnya, tapi untuk mengawasi situasinya lebih dulu. Kalau kita sampai membuat pergerakan yang mencurigakan , mereka pasti akan langsung menyadari keberadaan kita di sini. Dan aku khawatir Mona-lah yang akan menjadi korban!" ucap Reina masih terus membujuk.
Begitu nama Mona di sebut, tubuh Rose langsung melemah. Dia mencoba untuk kembali tenang tanpa melepaskan tatapan matanya dari arah meja dimana musuh besarnya berada.
"Kali ini kau masih selamat, Agler. Tapi nanti, sekalipun kau menangis darah aku tidak akan pernah melepaskanmu!" ucap Rose. "Beri aku vodka."
__ADS_1
Lorus dengan cepat memesan vodka terbaik dari pelayan di sana. Dia kemudian melihat ke arah Resan, memberi tanda kalau nonanya sudah berhasil di tenangkan.
"Mereka itu apa sudah tua semua?" tanya Reina penasaran melihat rombongan Agler yang masih muda.
"Ada beberapa yang memang masih berusia muda, Reina. Perhatikan dengan benar, aura di wajah mereka terlihat sedikit berbeda bagi yang telah mengikuti ritual sesat itu. Cihhh, mencari keabadian dengan mengorbankan nyawa para gadis muda. Mereka benar-benar jelmaan iblis neraka!" jawab Rose kembali jengkel.
"Apa mereka itu tidak memiliki rasa kasihan ketika menyiksa para korbannya? Bayangkan saja. Saat kita sedang sekarat mereka malah berlomba-lomba mengambil darah yang bisa membuat mereka awet muda. Tidak terbayangkan betapa pedihnya penderitaan gadis-gadis itu saat di paksa menemui ajal mereka. Benar-benar sangat keji, Rose."
"Itulah kenapa kita harus sesegera mungkin memusnahkan mereka. Sampah-sampah itu sangat tidak layak untuk hidup di bumi. Pantasnya mereka itu tinggal di kerak neraka menemani para iblis yang tinggal di sana."
Tak lama kemudian pelayan datang sambil membawa minuman yang telah di pesan. Namun ketika Reina hendak minum, dengan cepat Rose menahannya. Dia kemudian mengambil tisu yang telah dia persiapkan dari rumah.
"Kenapa Rose?" tanya Reina bingung.
"Bukankah tadi Resan sudah bilang padamu kalau kita harus mewaspadai setiap orang-orang yang ada di sini? Dan kau hampir saja menjadi korban dari kejahatan mereka," jawab Rose sembari mengelap pinggiran gelas.
Lorus, Resan, dan Reina langsung menatap seksama ke arah tisu yang kini berubah warna menjadi kekuningan. Setelah itu mereka bertiga menyeringai samar.
"Sepertinya ada yang tahu kalau kita bukan anggota lama di sini. Cari orangnya. Bunuh!"
"Baik, Nona!" sahut Lorus dan Resan bersamaan.
Rose menarik nafas dalam-dalam. Dia kemudian memandangi gelas-gelas minuman yang masih belum tersentuh.
"K*parat!"
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
__ADS_1
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...