Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Mengadu


__ADS_3

Cesar dengan perlahan-lahan membukakan pintu apartemen untuk Adamar yang tengah menggendong Rose. Mungkin karena pengaruh hormon ibu hamil, wanita yang biasanya selalu terlihat garang dan juga tenang ini jadi mudah tertidur. Juga berkat kehamilan inilah Rose bisa jauh lebih dekat dengan keluarga kandungnya. Terbukti karena di saat Adam dan Cesar sampai di markas Ma Queen, Rose tengah tertidur di pelukan ibunya.


"Kak Adam, kakak ipar. Kalian sudah pulang?" tanya Gracia yang berdiri sambil berpegangan pada tembok.


"Ssssttt."


Gracia kicep. Dia segera mengangguk paham setelah tahu kalau kakak iparnya sedang tertidur. Pandangan mata Gracia kemudian beralih ke arah Cesar yang dengan santainya berjalan melewatinya. Ya, Gracia mendendam pada pria ini setelah apa yang dilakukannya siang tadi.


Dasar brengsek kau, Cesar. Gara-gara pelatihan yang tidak manusiawi itu aku sampai harus kencing berdiri karena tidak bisa berjongkok. Lihat saja, jangan kau pikir kau bisa terus seenaknya menindasku ya. Sekarang Kak Adam ada di rumah, aku akan langsung mengadukan perbuatanmu padanya. Huh.


"Kak Adam?" panggil Gracia dengan suara yang sangat kecil. Dia lalu menelan ludah ketika sang kakak menoleh dan menatapnya dingin.


"Ada apa?"


Adam bukanlah orang bodoh yang tidak bisa melihat kalau adiknya hendak mengadukan sesuatu yang berhubungan dengan Cesar. Hal ini dia ketahui saat tidak sengaja memergoki adiknya yang tengah menatap bengis ke arah kaki tangannya itu.


"Itu ... em ....


"Bicara yang benar!"


"I-ya, Kak," sahut Gracia tergagap. "Itu, Kak. Aku ingin mengadukan kekerasan fisik yang sudah dilakukan Cesar padaku. Dia memberikan pelatihan seolah aku ini adalah pasukan tentara militer. Aku rasanya seperti akan mati, Kak. Tolong marahi dia."


Setelah berkata seperti itu Gracia menggigit bibir bawahnya. Dia kemudian menunduk, meremas ujung bajunya kuat sambil menahan rasa gugup ketika sang kakak hanya diam saja sambil menatapnya.


"Cesar!"


"Yap. Ada apa?"


"Apa kau tidak mengajarinya agar jangan pernah menundukkan kepala pada siapapun?" tanya Adam merasa tidak puas melihat sikap adiknya yang masih sangat lembek. "Berada di sekitarku haruslah menjadi orang yang tegas dan tidak kenal takut. Tak peduli meski di hadapanku sekalipun."


Cesar segera berjalan menghampiri Gracia kemudian mengelus punggungnya pelan. Namun sedetik kemudian elusan tersebut berubah menjadi sebuah pukulan yang mana membuat Gracia memekik kaget dan kesakitan.

__ADS_1


Bugghhhh


"Akkhhhh!" pekik Gracia. Dia kemudian berbalik dan menatap tajam ke arah Cesar yang baru saja melakukan penyerangan tanpa aba-aba. "Yakk, Cesar. Apa kau berniat merontokkan jantungku dengan cara memukul punggungku seperti tadi? Kau sudah gila ya!"


"Harusnya kau bersikap seperti ini saat ingin mengadu pada kakakmu. Garang, mata menyala, penuh kemarahan, inilah yang sebenarnya di inginkan oleh Adamar. Bukankah dari awal aku sudah memberitahumu kalau kau harus menjadi gadis yang kuat jika ingin tetap bersama kakak dan juga kakak iparmu? Kalau kau bersikap seperti tadi, lebih baik kau pulang dan tinggallah dengan ibumu yang tidak berguna itu di rumah keluarga Clarence. Menyusahkan saja!" sahut Cesar tak tanggung-tanggung dalam menjawab pertanyaan Gracia.


"Tidak mau!" ucap Gracia cepat.


"Kalau tidak mau ya patuh. Tahu tidak!"


Tubuh Gracia berjengit saat Cesar berteriak tepat di depan wajahnya. Setelah itu dia melihat kakaknya yang ternyata tengah membelai perut kakak iparnya. Untuk seperkian detik Gracia merasa kalau kakaknya memancarkan aura yang tak biasa. Semacam seseorang yang mempunyai kedudukan tinggi, sangat tinggi hingga sulit untuk dia capai dengan pikirannya.


Kenapa tiba-tiba aku merasa ada yang berbeda dengan diri Kak Adam, ya? Dia itukan satu ayah denganku, tapi kenapa wajah kami tidak ada kemiripannya sama sekali? Aneh. Dan juga kenapa aura Kak Adam terlihat begitu pekat dan juga gelap? Tidak mungkinkan dia terlahir dari pasangan raja dan ratu iblis? Astaga, kau ini berpikir apa sih, Gracia. Ada-ada saja.


"Kau baik-baik saja?" tanya Adam. Dia bertanya tanpa menatap adiknya sama sekali. Adam terlalu damai memandangi wajah istrinya yang sedang terlelap, juga tengah terbuai merasakan betapa dia yang sebentar lagi akan segera memiliki anak. Sungguh suatu perasaan yang baru kali ini Adam rasakan. Sangat bahagia.


"Kakakmu sedang bertanya, bodoh!" ucap Cesar ketika Gracia tak kunjung menjawab pertanyaan Adamar. Gadis ini melamun.


Mata Gracia mengerjap-ngerjap. Setelah itu barulah dia sadar kalau kakaknya sedang bertanya. "Em, aku baik-baik saja, Kak."


"Grace, Rose sedang hamil. Aku harap kau tidak menjadi beban kami di rumah ini. Jadilah dewasa, mandiri, dan jangan gampang mengeluh. Kau mungkin merasa berat menerima pelatihan dari Cesar, tapi aku jamin kau akan memilih mati jika sampai aku atau Rose yang turun tangan. Kau harus mampu bertahan karena setelah ini kau akan menghadapi orang-orang yang kekuatannya tidak pernah kau bayangkan sebelumnya. Mereka tidak punya hati, mereka juga membunuh tanpa ampun tak peduli meski kau adalah seorang wanita sekalipun. Jadi, Grace ....


Ucapan Adamar terjeda. Dia menarik nafas dalam-dalam kemudian berbalik menatap adiknya. Sebenarnya ada sedikit rasa kasihan juga di hati Adam melihat luka lecet dan juga lebam di tubuh Gracia. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah pilihan Gracia sendiri yang memutuskan untuk tetap hidup bersamanya dan juga Rose. Jadi ya sudah, mau tidak mau Gracia harus tetap melewati semua ini.


"Jadilah kuat kalau kau ingin tetap bertahan di rumah ini, Grace. Aku tidak mau mendengar kau mengeluhkan tentang pelatihan yang di berikan oleh Cesar. Paham?"


"Paham, Kak!" sahut Gracia tanpa ragu.


"Pergilah. Istirahat di kamarmu sendiri."


Adam menggerakkan kepalanya ke arah Cesar, memberi kode agar membantu adiknya pergi menuju kamar. Cesar yang tanggap pun segera menarik tangan Gracia kemudian mengalungkan ke lehernya. Tanpa mempedulikan suara teriakannya yang terkejut, Cesar langsung membopong Gracia kemudian membawanya pergi menuju kamar. Dia datar-datar saja meski wanita ini terus saja mengumpat dan menyumpah-serapahi kelakuannya.

__ADS_1


"Aku tidak keberatan melemparkanmu ke jendela kalau kau masih tidak mau diam juga!" ancam Cesar saat sudah berada di dalam kamar Gracia.


"Kau ... astaga!" sahut Gracia jengkel. "Cesar, kau ini lancang sekali ya. Berani-beraninya kau menggendongku tanpa meminta izin terlebih dahulu. Tadi itu Kak Adam ada di sana. Bagaimana kalau dia sampai berpikir yang tidak-tidak tentang kita? Dasar bodoh!"


Bruugg


Tubuh Gracia kaku ketika Cesar melemparnya ke atas ranjang kemudian menindih tubuhnya. Dia yang tadinya sedang sangat marah mendadak berubah seperti patung saat Cesar terus menatapnya tak berkedip.


"M-mau a-apa, kau?"


"Mau apa?"


Cesar menyeringai. "Aku bahkan bisa menidurimu sekarang juga kalau aku mau, Gracia. Jadi tolong berhenti berpikir kalau Adam akan berpikir yang tidak-tidak tentang kita. Kau tahu kenapa?"


"K-kenapa?"


"Karena aku benci wanita cengeng dan juga lemah. Sekalipun kau berdiri t*lanjang di hadapanku, aku tidak akan berselera untuk menyentuhmu karena kau itu lembek. Aku mau wanita yang agresif dan bisa menyerang balik saat aku melempar umpan. Paham kau?!"


Setelah berkata seperti itu Cesar beranjak dari atas tubuhnya Gracia kemudian melenggang keluar dari sana. Sengaja dia menutup pintu kamar dengan sangat kuat untuk memberi tanda kalau dia benar-benar sangat marah dengan tuduhan yang tadi di layangkan oleh Gracia.


"Brengsek! Otakmu benar-benar sakit, Cesar. Huh, awas saja. Kau sudah merendahkan aku sampai sebegininya. Bukan Gracia Clarence namanya kalau aku tidak bisa membuatmu bertekuk lutut di hadapanku. Tunggu saja tanggal mainnya!" geram Gracia tak terima dengan hinaan yang tadi di ucapkan oleh kaki tangan kakaknya. Gracia mendendam.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2